NOVEMBER RAIN

NOVEMBER RAIN
PILIHAN



Setelah perjalanan 15 menit yang cukup menguras tenaga, akhirnya Andara dan Vano tiba di Danau Biru.


"Wooooww ini keren!!" Teriak Andara setibanya di bibir Danau. Rasa lelahnya terbayar dengan melihat pemandangan indah di depannya.


Sebuah Danau dengan air berwarna biru jernih, dikelilingi hamparan pohon pinus yang berjejer dan tinggi menjulang. Di pinggir Danau terdapat hamparan padang rumput yang luas. Terlihat, beberapa masyarakat sekitar sedang menebar jala di pinggir Danau menggunakan rakit.


"Gimana kamu menemukan tempat ini? Kamu sering ke sini sayang?" Andara berbalik dan menatap Vano. Matanya berbinar.


"Hmm ini sebenarnya tempat rahasiaku. Setiap kali aku merasa marah, sedih atau senang, aku selalu ke sini. Sekarang, aku memilikimu, aku ingin membocorkan sedikit rahasiaku padamu," Terang Vano sambil tersenyum penuh arti pada Andara.


"Wah benar nih? Makasi sayang," Ujar Andara sambil memeluk Vano. "Tapi apa nama Danau ini?" Imbuh Andara, memalingkan wajah melihat Danau.


"Masyarakat sekitar menyebutnya, Danau Pinusan. Mungkin karena di sini banyak pohon pinus," Terang Vano. "Tapi aku menyebutnya, Danau Biru." Lanjut Vano sambil memeluk Andara dari belakang.


Tiba-tiba Vano meletakkan keningnya di bahu Andara, membenamkan wajahnya di lekukan lehernya.


Deg..


Andara mematung. Jantungnya kembali berdetak sangat cepat. Sial, Vano kerasa gak ya kalau jantungku ga santai lagi bunyinya. Batin Andara kaget.


"Sebentar. Tolong diamlah seperti ini sebentar aja," Lirih Vano berujar, semakin membenamkan wajahnya di leher Andara dan mengeratkan pelukannya.


Kenapa dia ya? Sepertinya telepon tadi memberitahunya sesuatu. Batin Andara. Ia merasakan nafas Vano yang semakin menderu.


Setelah 20 menit dengan posisi yang sama, Andara mulai merasakan nafas Vano yang semakin tenang.


"Ada apa sayang? Kamu bisa cerita sama aku. Bukankah kamu udah membagi sedikit rahasiamu? Kamu bisa membagi lagi rahasiamu yang lain kalau kamu mau" Ujar Andara dengan sabar. Tangan kanannya mengusap rambut Vano dan tangan kirinya masih memegang tangan Vano yang melingkat di pinggangnya.


"Aku belum siap untuk mengatakan padamu cantik. Aku masih sangat takut." Vano menjelaskan.


"Hah? Apa itu sesuatu yang mengancam? Kenapa kamu takut? Apa mengancam nyawa? Keselamatan? Apa kita perlu lapor polisi?" Dengan lugunya Andara bertanya.


"HAHAHA.. Tidak ada yang mengancam seperti itu cantik," Vano menjawab sambil mengusap-usap puncak kepala Andara.


"Pantas aja Ayah, Bunda dan kak Willy suka menjahilimu. Reaksimu lucu banget. Liat wajah ini, menggemaskan!!" Imbuh Willy tersenyum sambil memegang wajah Andara dengan kedua telapak tangannya.


Andara hanya bisa cemberut. Bibirnya sedikit maju. Alisnya berkerut. Tiba-tiba saja sesuatu yang hangat menyentuh bibirnya.


Cup..


Andara membeku. Dirinya kembali mematung. Matanya menutup. Ini hangat, ini bibirnya, Vano menciumku, batin Andara coba menyadarkan diri.


Vano mencium bibirnya lembut. Tangannya masih memegang wajah Andara. Dan tak lama, ia pun menyudahi ciumannya.


Vano melihat Andara yang masih membeku. Ia tersenyum melihat wajah Andara yang bersemu merah.


Andara akhirnya tersadar. Ia membuka matanya dan memandang Vano bingung, kemudian bertanya, "Apanya?"


"HAHAHAHA!! Kamu bener-bener menggemaskan ya kalau bingung gitu? Aku sepertinya gak akan melepaskanmu sampai kapan pun cantik," Jawab Vano sambil terbahak.


Vano memperhatikan perubahan raut wajah Andara. Aku sunguh-sungguh tidak bisa melepasmu kali ini cantik, aku sungguh ingin memilikimu. Batin Vano. Dia menatap mata Andara dengan tajam. "Jangan menjauh dariku. Seterusnya tetaplah di sampingku cantik." Lirih Vano berujar.


Andara hanya membalas dengan tersenyum. Meskipun ia sangat bahagia mendengar semua perkataan dari Vano, namun hatinya menyimpan banyak tanya pada setiap perubahan raut wajah dan perkataan Vano. Aah biarin deh, nanti kalau uda waktunya dia pasti akan cerita sendiri. Batin Andara menepis rasa penasarannya.


"Tapi itu tadi ciuman pertamaku." Lirih Andara berkata, mencoba memecah kebekuan diantara mereka.


"Hah? Serius cantik? Pas sama si itu gak pernah ciuman? Wah aku mencuri ciuman pertamamu!!" Vano yang ternyata mendengar gumaman lirih Andara, bertanya sambil tertawa terbahak-bahak.


"Udah lupain aja. Jangan ketawa terus. Kita duduk di sana aja yuk," Andara mencubit gemas pinggang Vano dan menunjuk ke arah pohon pinus yang terdekat dengan bibir Danau.


Vano menoleh mengikuti jari telunjuk Andara. Kemudian menggandeng tangan Andara dan berjalan bersama menuju tempat tersebut.


"Hari ini sepertinya kamu harus rela mengotori mini dress mu yang cantik, karena kita tidak membawa persiapan apapun," Ujar Vano sambil tersenyum. Mengajak Andara duduk di tanah berumput.


"Gak masalah. Pakaian kotor bisa dicuci. Tapi menikmati Danau Biru kan ga bisa setiap hari." Andara langsung duduk tepat di samping Vano.


Vano tersenyum senang. Tangannya membuka jaket yang tadi dipakainya. Kemudian diletakkannya jaket itu di lutut Andara.


"Aahh ini bantal yang paling nyaman," Vano meletakkan kepalanya di atas jaket yang sekarang sudah ada di lutut Andara. Sambil berbaring membelakangi Andara, dia memandang Danau Biru.


Kemudian ia mengambil handphone yang ada di saku jaketnya. "Tau gak, ini foto pertama yang aku ambil di Danau ini. Ini foto ketika aku pertama kali datang ke sini," Ujar Vano sambil menunjukkan wallpaper di handphonenya.


Andara mengambil handphone Vano, mengamati foto tersebut. Kemudian tersenyum dan berkata, "cantik. Danaunya benar-benar biru."


"Karena itu aku menyebutnya Danau Biru. Ini foto tiga tahun lalu. Waktu itu aku diam-diam mengendarai mobil papaku tanpa tujuan dan tanpa sadar aku udah sampai di sini," Vano menjelaskan.


"Kenapa kamu menyetir tanpa tujuan? Kenapa kamu tiba-tiba sampai di sini? Kamu ngelamun ya nyetirnya?" Tanya Andara penasaran.


Vano terdiam. Ia merasa bingung dengan jawaban yang akan diberikannya. Ia hanya mendesah dan berkata lirih, "aku juga tidak tahu kenapa dulu bisa sampai di sini."


Andara melihat ada sedikit keraguan dalam jawaban Vano. Dia ingin bertanya lagi tapi diurungkannya. Suasana hening menyelimuti mereka. Masing-masing terhanyut dalam pikirannya.


Tiba-tiba Vano bangkit, mengulurkan tangannya. Andara menatap bingung.


"Karena bajumu udah sedikit kotor, gimana kalau sekalian kita kotorkan lebih banyak? Dan sedikit dibasahi mungkin?" Ujar Vano sambil menaikkan alisnya.


Andara semakin bingung. "Apa maksudnya?" Akhirnya Andara mampu bertanya.


Vano tidak menjawab. Ia menarik tangan Andara dan menuntunnya lebih dekat dengan bibir Danau Biru.