NOVEMBER RAIN

NOVEMBER RAIN
MEMULAI



Langkahku terus mengikuti langkah kaki wanita paruh baya di depanku. Pandanganku terus menatap punggung yang bahkan sama sekali tak menoleh padaku. Punggung yang dengan angkuhnya berjalan dengan tegap mendahuluiku. Apakah aku sungguh keluar dari rahimnya? Bagaimana mungkin dia terlihat sangat arogan dihadapanku? Apa aku sebegitu tak berharganya di matanya?


"Hoi Mikha!" Aku mencari sumber suara yang tengah berteriak memanggil namaku.


Ah bodyguard baru sahabatku tengah melambai padaku. Badannya baru separuh yang masuk ke dalam mobilnya.


"Mau ke mana kamu, Mikha?" Sahabat suamiku itu sudah keluar dari mobilnya dan segera mencegat langkahku.


"Nyonya, tunggu sebentar." Ucapku pada wanita di depanku yang sedikit menoleh saat namaku ada yang memanggilnya.


Wanita itu menatapku sambil mengangguk.


Aku kembali menatap kekasih sekaligus sopir dadakan sahabatku. Ah entahlah, para pria matang ini kenapa suka sekali memperlakukan kami, maksudku aku dan Winda, seperti anak balita. Kemana pun harus memberi laporan dan harus ada yang mengantar. Apa mereka terkena sindrom tertentu di usia matangnya? Sindrom bucin mungkin?


"Mau kemana kamu dengannya?" Ujar Kendrick, lelaki yang memanggilku tadi, dengan dagunya ia menunjuk ke arah wanita itu, "bukannya kelasmu akan segera di mulai? Cepat masuk!" Imbuhnya dengan wajah sangar.


Astaga, aku dan Winda benar-benar terjebak oleh pesona para pria matang dengan segala keposesifannya. Dan entah mengapa, kami malah jatuh cinta pada mereka.


"Kay mau ada perlu dulu Kak Ken. Tenang aja, aman." Jawabku dengan senyum lebar.


Aku harus bisa mengecoh Kendrick jika tak ingin dia segera menghubungi suami rasa bodyguard ku itu.


"Arka mana? Dia tau? Kamu udah bilang padanya?" Cerca Kendrick.


Nah benarkan? Dia itu sebelas dua belas kelakuannya dengan Bang Arka.


"Abang sedang ngadep kepala jurusan Kak. Sama Mama, Papa, Ayah dan Ibu."


"Buset! Pada ngerumpiin apaan kok kesini semua?"


"Idih, kepo! Udah ah Kay mau berangkat dulu."


Aku melambai pada Kendrick dan hendak melanjutkan langkahku saat tangan kokoh Kendrick menahan tubuhku.


"Kamu mau dimakan singa bulat-bulat? Jangan nekat deh Mikha. Cepat masuk kelas. Kamu belum tahu jika Arka sudah sangat marah. Jadi jangan cari masalah. Cepat naik. Winda dari tadi meneleponmu tapi tak kamu angkat, dia menunggumu dan dia sudah naik ke atas tadi untuk mencarimu." Wajah Kendrick sudah berubah menjadi sangat keras dan gelap.


Aku segera mengambil ponselku dan melihatnya. Astaga, kenapa aku lupa mengisi bateraiku sih?


"Kak, Kay gak lama kok, bentar doang. Biar masalah cepat kelar." Aku membujuk agar Kendrick melepas cengkeraman tangannya.


"Kamu tahu siapa wanita itu Mikha? Jangan cari masalah kalau tak ingin suamimu memindahkan tempat kuliahmu." Aku terbahak mendengar ucapan Kendrick.


"Kay tahu siapa dia, sangat tau. Dan tau gak kak, Kak Ken becandanya garing ah." Cibirku.


Kendrick mendengus dan berkata, "kamu berarti belum mengenal Arka dengan baik. Dia sangat bisa melakukan apapun jika itu berhubungan dengan keselamatan orang yang dicintainya, dan itu kamu!" Aku langsung terdiam mendengar ucapan Kendrick.


Masa sih Abang sampai segitunya? Memangnya benar-benar akan melakukan hal seperti itu? Saat aku masih berpikir besarnya peluang kuliahku akan dipindahkan oleh Bang Arka, otakku kembali menampilkan hal-hal yang telah dilakukan Bang Arka. Termasuk mengawasiku.


"Ah tapi Abang mah bakal tau Kay kemana pun. Tuh kakak gak lihat," Ujarku sambil menunjuk ke sembarang arah dengan daguku, "disana, disana, disana dan disana. Semua mata pada ngawasin Kay. Lihat aja, gak lama pasti Abang udah nerima laporannya kemana Kay pergi dan dengan siapa. Jadi Kay pasti aman. Tenang saja." Imbuhku dengan suara yang coba ku tahan agar tidak bergetar.


Aku harus benar-benar mengecoh Kendrick agar segera memberiku jalan agar aku bisa pergi sebelum Abang selesai dengan urusannya. Jika Abang tahu yang akan ku lakukan, aku sangat yakin Abang tak akan mengizinkan.


Kendrick tampak melirik ke kanan dan kiri searah dengan yang tadi ditunjuk daguku.


"Astaga, berapa banyak yang dia pasang?" Ucapnya lirih yang ternyata masih tertangkap telingaku.


"Nah, Kak Ken aja tau. Jadi santai aja bro." Ucapku sambil terkekeh dan menepuk bahunya.


Kendrick mengernyit saat melihat tingkahku.


"Namanya juga--"


Ucapanku belum sepenuhnya selesai saat suara wanita tadi menginterupsi.


"Ayo, cepat!" Ujarnya singkat dan dingin.


Aku hanya memgangkat bahu dengan tak acuh. Masa bodoh dengan sopan santun terhadap wanita itu. Aku sangat tak mau tahu siapa dia, selama dia mengusik aku dan keluargaku, maka dia akan berhadapan langsung denganku.


"Kay cabut dulu ya Bang, eh Kak maksudnya." Aku menyengir saat kelepasan bicara.


"Masuklah, kakak antar."


"Idih gak usah. Kakak gak kerja? Sana kerja, cari uang yang banyak terus nikahin Winda noh." Aku berusaha menolak.


Sejujurnya aku takut Bang Arka mengetahui aku keluar dengan wanita itu, makanya aku berharap Kendrick segera pergi dari sini. Meski aku tahu, Kendrick dengan segera akan menghubungi suamiku.


"Masuk segera Mikha atau tak usah pergi sama sekali." Jawab Kendrick dengan tegas.


Oh gosh, benar-benar ya mereka ini. Sama-sama tak mau dibantah!


"Hei Nyonya," Lihatlah kelakuanku saat memanggilnya, "saya mengikuti anda dari belakang, tunjukkan saja jalannya." Imbuhku sambil memberi kode dengan menunjuk mobil Kendrick dengan kepalaku.


Wanita itu hanya mengangguk dan segera masuki mobilnya. Aku pun dengan segera masuk ke mobil Kendrick. Hah, pada akhirnya Kendrick yang mengawalku. Aku yakin, Bang Arka akan segera murka. Kesalahanku sangat banyak hari ini.


Selama perjalanan yang lumayan lama ini, aku dan Kendrick bercerita banyak hal. Termasuk bagaimana awal mula hubungan dirinya dengan Winda. Mereka ternyata sempat bertemu secara tak sengaja di kota X saat aku berkunjung ke rumah kakak malam itu. Dari situlah semua bermula.


"Kak Ken, jangan lupa ngomong ke Winda ya." Ujarku saat Kendrick selesai bercerita.


"Ngomong apaan?" Tanya Kendrick.


"Ngomong kalau kakak nganterin aku dan tolong bilangin Winda ponselku mati dan tentu saja suruh dia mengabsenkan aku." Ujarku santai sambil terbahak.


"Astaga! Istri dosen berani nitip absen? Kakak bilangin ke Arka kamu ya!"


"Bilangin aja, Kay gak takut sekarang sama Abang."


Padahal dalam hatiku langsung merutuki kebodohan yang dilakukan mulutku. Bagaiamana bisa aku mengatakan tidak takut, sementara baru mendengar deru nafasnya saja jantungku langsung bertalu sangat cepat.


"Kak Ken tau siapa wanita itu?" Tanyaku setelah kami berdiam cukup lama.


"Wanita itu? Mantan mertua Arka kan?" Kendrick melirik bingung ke arahku.


"Iya itu benar. Tapi kakak tau kenyataan yang lain?" Tanyaku dan dijawab gelengan bingung oleh Kendrick.


Hah baiklah, mungkin Bang Arka belum sempat bercerita padanya. Padahal selama ini yang ku tahu, tak ada yang tidak mereka ketahui bersama.


"Kemarin saat Abang bikin heboh jurusan, paginya wanita itu mendatangi apartemen dan menampar Kay," Aku memutus ucapanku untuk melihat respon Kendrick yang ternyata langsung menegang tubuhnya, "dan malamnya, Kay baru tahu, jika wanita itu ibu kandung Kay." Imbuhku santai sambil menatap lurus ke depan. Mengamati mobil yang dikendarai wanita itu.


Sontak mobil Kendrick yang ku tumpangi berhenti mendadak di pinggir jalan dengan bunyi ban berdecit yang sangat kencang.


"Kamu gak lagi kehabisan obat kan Mikha? Kamu kayaknya dendam banget sama kakak, mau buat kakak jantungan ya?" Tanya Kendrick dengan tatapan tajamnya.


Astaga, bagaimana Winda betah dengan lelaki menakutkan ini? Aku bergidik menatap wajah Kendrick.


"Kaget kan? Sama dong Kak. Udah cepet jalan itu mobilnya udah belok." Aku menyuruh Kendrick bergegas.


Kendrick menurutiku dan segera melajukan kembali kendaraannya. Beberapa kali Kendrick menatapku sekilas. Seperti ingin menyampaikan sesuatu.