
Dari tatapan matanya, Mama dan Ibu sepertinya saling bertukar kode. Dan benar saja, tak lama Ibu mengangguk.
"Silakan anda keluar." Ujar Ibu, yang samar ku dengar dari ruang keluarga.
Tak terdengar bantahan atau kalimat apapun dari Ibu Adinda dan hanya terdengar suara pintu tertutup.
Tak berselang lama, Ibu sudah bergabung denganku dan Mama.
"Ada apa jeng Mia?" Tampaknya Ibu sudah tak bisa membendung rasa penasarannya.
Ku lihat Mama dan Ibu saling memandang. Namun dari matanya terlihat sangat penuh makna. Apa jangan-jangan...
"Ma, apa itu orang yang merusak rumah tangga Mama dulu?" Entah keberanian dari mana yang aku dapatkan hingga mulut ini sangat luwes mengungkapkan luka lama Mama.
Astaga! Mulutmu Mikhayla! Apa kamu tak memikirkan perasaan Mama? Dewi batinku menatap nyalang padaku, merutuki setiap kebocoran dari bibirku.
Ah sial!
"Maaf Ma. Kay gak bermaksud menyakiti hati Mama. Lupakan ucapan Kay ya Ma. Kay gak sengaja." Sambil menunduk aku terus berucap, menyadari kesalahan fatal yang sudah ku lakukan.
Mama menarik tubuhku dan membelai lembut rambutku.
"Kay, Mama sama sekali tidak menyesal dengan masa lalu Mama. Dan tak ada rasa sakit yang tertinggal di hati Mama. Bahkan Mama malah berterima kasih dengan masa lalu Mama itu, karena dari masa lalu itulah, Mama bertemu Papa dan tentu saja Mama mendapat bonus luar biasa. Mama diberi kesempatan untuk menjadi Mamamu, seorang anak yang cantik dan luar biasa baik hati. Jadi, Mama tidak ada penyesalan sama sekali Kay." Mama semakin mengeratkan pelukannya padaku.
Otakku langsung menampilkan kilasan masa laluku bersama Mama. Pertemuan pertama kami terjadi di rumah makan. Di sana Papa mengenalkan kami dan bertanya padaku, apakah aku mau jika memiliki Mama seperti Mama Mia ini?
Tanpa banyak berpikir, aku langsung menyetujuinya. Entah bagaimana, saat itu yang aku tahu aku harus segera memiliki wanita hebat di depanku. Aku merasa Mama sangat tulus menyayangi dan memperhatikan aku. Dan hatiku merasakan kebahagiaan yang belum pernah ku rasakan.
Dari situlah kami semakin dekat dan bersatu sebagai keluarga. Aku juga mendapat bonus berupa seorang kakak yang luar biasa hebat.
Ah aku merindukan semua itu.
"Kay, apa kamu tahu jika selama ini Mama sangat mencintaimu? Meski kamu tak terlahir dari rahim Mama, tapi kamu harus tau Kay, bahwa Mama menyayangimu dengan segenap hati Mama. Bagi Mama, kamu separuh hidup Mama. Kamu tahu itu kan Kay? Mama sangat menyayangimu, nak." Air mata Mama seketika ku rasakan menetes di bahuku.
Astaga, apa aku sungguh menyakiti hatinya?
"Mama, jangan menangis," Aku mengurai pelukan kami dan menghapus air mata di pipi Mama, "Kay juga sayang banget sama Mama. Bagi Kay, Mama satu-satunya Mama untuk Kay. Kay hanya mau Mama." Imbuhku sambil terisak.
"Terima kasih sayang. Tetaplah bersama Mama dan sayangi Mama terus ya Kay." Mama semakin terisak.
Kami kembali berpelukan dengan erat.
"Jadi, Mikha gak menganggap Ibu nih? Padahal Ibu udah seneng banget lho dapet anak perempuan yang cantik dan baik kayak gini. Tapi ternyata Ibu gak dianggep Mama juga sama Mikha. Sedihnya." Suara Ibu terdengar merajuk di belakangku.
Seketika aku langsung berbalik dan menatap wajah Ibu, yang ku tahu hanya sedang berpura-pura cemberut. Segera ku hapus air mataku dan tersenyum padanya.
"Idih Ibu kejauhan mikirnya. Bahkan sekarang Kay benar-benar bersyukur udah diberi dua Ibu yang luar biasa. Kay punya dua Ayah yang juga luar biasa. Dan tentu saja, Kay juga punya suami yang luar biasa. Kay udah gak kepingin apapun lagi."
Mama dan Ibu memelukku bersamaan. Perih dan sakit yang tadi mencengkeram erat hatiku, kini terlepas begitu saja. Hangatnya pelukan kedua wanita hebat ini benar-benar memberikan energi pada setiap inchi tubuhku. Aku merasa menjadi individu yang baru.
"Terima kasih Mama, Ibu."
"Semua untukmu sayang." Ibu memelukku erat.
"Hmm Kay, kamu gak kuliah? Sana siap-siap dulu." Ucapan Mama seakan menjadi angin segar untukku.
Otakku langsung memberi sinyal jika aku mendapat jalan keluar dari apapun rencana Ibu. Rasanya aku ingin bersorak saat ini juga.
"Iya Kay ada kuliah siang ini. Bolehkah Kay kuliah aja? Boleh ya Bu?" Aku merengek pada Ibu.
Dan ajaibnya, tanpa bantahan apapun Ibu langsung menyetujuinya. Tidak seperti drama pagi tadi. Senyumku langsung merekah dengan sempurna.
"Pergilah kuliah. Ibu dan Mama yang ada mengurus semuanya." Ibu menjawab dengan mulut yang selalu tersenyum.
"Yes!" Aku bersorak dan langsung melesat masuk ke kamar untuk bersiap.
Mama dan Ibu tersenyum menatapku.
"Tapi kamu ingin pesta yang gimana Mikha?" Teriak ibu sesaat sebelum kakiku masuk ke kamar.
"Kay hanya ingin pesta kebun Bu. Sederhana saja dan gaunnya, Kay udah punya. Kak Farel yang membelikan. Nanti Kay ceritakan ya. Sekarang Kay mau siap-siap dulu." Aku segera masuk kamar sebelum para wanita hebat itu berubah pikiran.
***
"Hati-hati kalau nyetir." Ujar Ibu.
"Jangan ngebut Kay. Fokus!" Ucap Mama.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh kalau nyetir." Ujar ibu lagi.
"Pokoknya selalu berdoa Kay. Ingat yang menunggu dirumah." Ucap Mama lagi.
"Nanti jangan lupa makan siang." Ini suara Ibu.
"Atau nanti sepulang kuliah langsung kabari Mama aja, kita makan siang bersama. Bagaimana jeng Ratna?" Kali ini suara Mama.
"Gitu juga pas banget. Hubungi kami ya Mikha." Sahut Ibu.
Tubuhku hanya mematung di balik pintu keluar apartemen ini. Mataku bergantian menatap Mama dan Ibu yang tak henti-hentinya memberiku petuah atau sekedar mengingatkan untuk ini dan itu.
Bukankah ini sangat menyenangkan dan membahagiakan? Aku merasa diberi perhatian yang bertubi-tubi.
"Oke, baiklah. Semua udah Kay inget. Jadi, Kay berangkat sekarang ya." Dengan bergegas aku membuka pintu.
Setengah berlari aku langsung memasuki lift yang kebetulan sedang terbuka. Jika tidak segera keluar dari apartemen ini, sepertinya sampai siang nanti Mama dan Ibu masih saja betah memberiku petuah.
Aku terus tersenyum menjalankan mobilku menuju kampus. Sakit di pipi dan hatiku yang sempat kurasakan tadi, saat ini tak berbekas sama sekali.
Apa benar Bu Febrina tadi benar-benar orang yang merusak rumah tangga Mama sebelumnya? Masa bodoh lah siapa dia. Aku tak ingin berhubungan dengannya maupun anaknya.
Ku parkir mobil Bang Arka di tempat biasa aku parkir. Dari balik kaca aku melihat beberapa pasang mata senior menatap ke arahku. Ah bukan ke arahku sih, lebih tepatnya ke arah mobil Bang Arka. Mereka pasti menyadari ini milik Abang.
Duh, bagaimana aku keluar dari mobil ini? Pasti akan banyak tanya dari mereka.
Aku memutuskan untuk sejenak berdiam diri di mobil. Ku ambil ponselku dan berniat untuk menghubungi Winda. Niatku menunggu keadaan aman baru aku keluar.
Aha, tanpa perlu ku hubungi gadis bar-bar yang sekarang menjelma menjadi gadis anggun, malah sudah mendatangi mobil ini sendiri.
Winda mengetuk kaca mobil Bang Arka.
"Turun Kay! Ngapain kamu diem aja di situ." Ujarnya saat kaca mobil ku turunkan.
Aku cengengesan sambil celingukan. Tapi tetap saja tak beranjak dari kursi pengemudi.
"Jangan aneh deh Kay." Winda sudah siap menarik lenganku.
"Tunggu Win. Para senior pada ngelihatin ke arah sini. Sumpah! Aku belum siap."
"Bodo amat deh! Buruan keluar. Lagian udah sah juga, emangnya mau disembunyiin sampai kapan? Paling bentar lagi Bang Arka bakal koar-koar." Cerocos Winda tanpa mau mendengar keluhanku.
Dengan pasrah aku keluar dari mobil dan benar saja semua mata menatapku dengan pandangan menyelidik. Ah sial, baru beberapa bulan menyandang gelar mahasiswa, kini aku bakal jadi hot topic.
Mahasiswa baru mengendarai mobil dosen terfavorit di jurusan.
Aku mendesah membayangkan munculnya berita-berita itu.
"Win, anterin aku ke ruang Pak Samiran dong. Aku mau lapor nih."
"Lapor apaan Kay?"
"Lapor yang kita bikin huru hara di jurusan tempo hari itu."
"Nanti-nanti aja sama Bang Arka kalau masalah itu. Udah ah, ayo masuk kelas dulu."
Winda terus menyeretku menuju kelas. Dengan patuh aku mengikutinya. Kami bersama sepanjang mata kuliah ini. Winda masih terus saja bercerita tentang apapun dengan mulut blongnya itu.
Perkuliahan hari ini berjalan dengan baik. Kami memutuskan untuk pergi ke cafe. Sekedar untuk berbagi cerita dan menghirup udara bebas.
"Kakak ipar."
Suara bariton yang ku kenal itu terdengar dari balik punggungku, saat aku dan Winda baru saja menjejakkan kaki di lobi jurusan.
"Kak Al ih, jangan manggil gitu tau. Risih nih dilihatin senior cewek-cewek penggemar Kak Al." Protes Winda.
Aku terkekeh mendengarnya. Memang lucu melihat mereka. Dulu, aku sangat ingin Winda menjadi pasangan Aldrich, tapi siapa sangka malah Winda tergoda oleh Kendrick, kakaknya Aldrich.
Cinta memang tak melihat ke mana akan berlabuh. Seperti aku dan Bang Arka.
"Pada mau ke mana sih? Ikut dong." Aldrich bertanya.
"Ikut aja, kita mau ke cafe kak." Jawabku.
"Beneran? Oke deh," Wajah Aldrich tampak berbinar, "eh tunggu, sama siapa aja nih?" Imbuhnya dengan wajah yang tiba-tiba terlihat kaku.
"Kay sih janjian sama Winda doang. Tau nih kalau Winda."
Kami mengalihkan pandangan pada Winda.
"Hehehe aku janjian sama Kak Ken." Winda cengengesan saat menjawabnya.
Aku memutar bola mataku malas. Kalau sudah begini, pasti Winda menyuruhku menjadi pengawal mereka.
"Ceritanya aku disuruh ngawasin kalian pacaran gitu kan?" Protesku pada Winda.
"Nah itu pinter. Ya udah yuk berangkat." Winda segera menarik tanganku.
"Kak Al, ayo ikutan. Ogah banget aku sendirian." Teriakku pada Aldrich yang tak kunjung mengikuti kami.
Sambil tersenyum, Aldrich melangkahkan kakinya mengikuti kami. Aku balas tersenyum padanya. Setidaknya, jika ada Aldrich aku tak akan bengong sendiri.
"Eh tunggu Win, kita mau ke mana? Mobil Bang Arka disana." Aku menahan lengan Winda yang terus menarikku di tempat parkir. Membawaku menuju ke arah berlawanan.
"Udah jadi satu aja, naik mobil kak Ken semuanya. Tuh udah ditungguin." Jawab Winda dengan santai sembari dagunya menunjuk sebuah mobil berwarna putih mengkilap.
Aku menatap Aldrich meminta persetujuan yang hanya dijawab dengan mengangkat bahu. Hah, sangat membantu sekali anda ini kakak senior!
Mataku menatap Aldrich dengan sorot mencibir. Dengan pasrah aku ikuti saja langkah kaki Winda.
"Mikha."
Langkahku terhenti saat mendapati suara seseorang yang ku kenal baik sedang memanggilku.
"Abang." Gumamku sangat lirih.
Bang Arka, yang masih memakai setelan kerja tadi pagi, berjalan menghampiriku dengan sangat cepat. Tubuh tegapnya terbalut kemeja hitam dengan dasi perak dan jas abu-abu gelap yang terlihat sangat pas di tubuhnya. Ini bukan pakaian yang biasa di kenakan Bang Arka saat mengajar. Sontak, kehadirannya dalam balutan busana ini mengundang banyak pasang mata lapar mahasiswa untuk berhenti dan menatapnya. Dan tanpa aba-aba lelaki itu langsung memelukku dengan erat.
Dia merengkuh tubuhku dengan sangat kuat tepat di depan Winda dan Aldrich. Dan tentu saja, dihadapan berpasang-pasang mata lapar yang sedang menantap kami di lahan parkir gedung jurusan dengan pandangan terkejut dan menyelidik.
Aku memejamkan mata. Sekedar menikmati kehangatan pelukannya sembari menyembunyikan debaran jantungku. Kali ini bukan karena rindu tapi karena tatapan ingin tahu yang terus menghujaniku.
Astaga, apa yang akan terjadi kali ini? Apa aku sungguh harus mengikuti saran Abang untuk pindah kampus saja? Sungguh aku belum siap untuk membuka hubungan kami saat ini.
"Abang. Hentikan! Banyak yang melihat." Ucapku lirih dari dalam dekapan Bang Arka.
"Diamlah Mikha. Aku butuh dirimu saat ini. Tolong tenangkan aku sayang." Jawab Bang Arka.
"Apa yang terjadi Bang?" Pikiranku sudah berkelana jauh, membayangkan hal buruk terjadi di perusahaan.
"Diamlah sayang, ku mohon. Jika kamu tidak segera menenangkan aku, detik ini juga aku akan mendatangi rumah Adinda dan membalas semua perlakuan ibunya padamu."
Oh ternyata berita itu sudah sampai ke telinga Bang Arka. Pantas dia bertingkah seperti ini.
"Abang, kita pulang aja yuk. Kita bahas di rumah. Jangan disini. Gak enak sama teman-teman. Lagian Kay juga udah baik-baik aja tuh." Aku menjawab dengan cuek sambil melirik kanan dan kiri.
Bang Arka melepas pelukannya dan menatapku nyalang.
"Jangan bilang baik-baik saja Mikha. Ini sudah ketiga kalinya kamu ditampar!" Suara Bang Arka terdengar sangat mengerikan.
Mataku melirik ke kanan dan kiri dengan cepat. Oh sial, kerumunan ini makin besar.
"Ka, jangan menggila di sini. Masuk mobil dulu." Entah sejak kapan Kendrick sudah bergabung dengan kami dan menahan lengan Bang Arka.
Tanpa menggubris Kendrick, Bang Arka kembali berbicara, "kamu bisa baik-baik saja Mikha, tapi tidak denganku! Aku berusaha memberi mereka toleransi dan tetap menghormati mereka. Tapi jika mereka melebihi batas, maka aku akan lebih melanggar batas itu. Ini sudah yang ketiga kalinya mereka melewati batasku. Dan mereka belum tahu, aku bukan orang yang sabar. Jadi berhentilah berlagak baik-baik saja sayang. Aku yang akan mengatasi mereka."
Aku mendesah. Jika sudah begini, sangat sulit menenangkan Bang Arka. Satu-satunya cara yang aku tahu sangat ampuh untuk meredam amarahnya, yaitu menuruti semua maunya.
"Baiklah, lakukan apapun yang menurut Abang baik. Kay akan mendukung. Tapi tolong jangan saling menyakiti. Kay gak mau semakin dipandang buruk oleh mereka. Abang ngerti kan?" Dengan berani ku usap lengannya.
Dan benar saja, kasak kusuk di sekitar kami makin terdengar nyaring.
"Bang, ayo balik. Malu dilihatin." Ujarku sambil menunduk.
Tanpa menjawabku, Bang Arka malah menatap kerumunan yang sedang menonton kami. Aku mendongak untuk mengamati wajahnya.
Jantungku bukannya makin tenang malah makin bergemuruh dengan hebatnya. Jika melihat wajahnya, aku yakin seyakin-yakinnya, mengingat kelakuan Bang Arka selama ini sebentar lagi akan terjadi kehebohan disini.
"Selamat siang anak-anak. Maaf membuat keributan yang menyebabkan kalian terganggu. Silakan kalau mau melanjutkan perjalanan. Tapi jika belum mau melanjutkan perjalanan silakan diam sebentar disini dan mendengarkan sedikit kata dari Bapak." Senyum Bang Arka terlihat sangat lebar.
Tapi aku tahu, senyumnya akan membuat kegemparan.
"Kalian tahu gadis ini," Bang Arka menarikku hingga tubuh kami bersebelahan, "namanya Mikhayla, dia mahasiswa baru jurusan kita. Mungkin sebagian dari kalian sudah mengenalnya. Bahkan ada yang mengenalnya dengan baik." Bang Arka menatap satu per satu wajah penasaran di depan kami.
Keringat dingin sudah membanjiri seluruh tubuhku. Gugup seketika menyelimutiku. Ih gosh, aku sungguh berharap pingsan saja saat ini.
"Selain sebagai mahasiswa di jurusan ini, Mikhayla ini jika di luar kampus dia memiliki status yang lainnya. Dia istri saya. Istri sah saya. Kami baru menikah beberapa minggu lalu. Dan kalian semua kami undang ke pesta pernikahan kami. Untuk hari dan tempatnya menyusul ya. Tunggu saja undangannya. Terima kasih untuk waktunya dan silakan melanjutkan aktivitas. Jangan telat masuk kelas." Bang Arka mengakhiri pidato singkatnya.
Sungguh aku hanya bisa terdiam, tanpa mampu merespon apapun dari ucapan Bang Arka. Aku melongo menatap satu per satu wajah terkejut di depanku.
"Dasar gila!" Kendrick mencibir Bang Arka dan langsung berjalan mendekati Winda.
Dari ujung parkiran yang tak jauh dariku, ada wajah pucat yang menatapku dengan nanar. Entah apa yang dipikirkannya. Mataku tak mampu lepas dari wajah sendu itu. Bagaimanapun kami pernah menghabiskan tiga tahun bersama.
Danen, aku harap kamu bahagia dengan pilihanmu. Aku tulus mengucapkannya dan aku memutuskan melupakan sakit hatiku yang masih sedikit tersisa.
"Jangan melihatnya terus, Abang cemburu." Suara Bang Arka sontak membuatku menciut. Suara rendah dan tajam yang langsung ku kenali sebagai sirine bahaya.
Aku langsung tersenyum masam sambil menatapnya.
"Udah jadi milik Abang, gak usah khawatir."
"Abang bakal tetap khawatir Mikha. Lihat saja saat ini." Bang Arka mendongakkan kepala.
Aku turut melihat arah pandangannya. Ah sial, aku lupa keberadaan Aldrich.
"Mau kemana kalian bersama istriku?" Tanya Bang Arka dengan angkuh pada Aldrich.
Aldrich terbahak sambil mengangkat bahunya. Jelas dia sedang mencemooh dosennya.
"Itu... Bang, eh Pak Fabian... Winda yang ngajakin mereka." Winda menjelaskan dengan terbata.
"Jangan diurusin manusia yang satu ini. Bikin pusing kepala aja. Yuk sayang." Kendrick segera membawa tubuh Winda menjauh.
"Al, ikutlah bersama mereka dan ganggu saja mereka sesukamu." Kendrick tertawa sambil membukakan pintu untuk Winda.
Tanpa banyak bicara Bang Arka langsung berbalik dan menggandengku untuk memasuki mobil. Aku hanya sanggup melambai dengan lemah pada Aldrich dan juga Winda.
Hah, si posesif!