NOVEMBER RAIN

NOVEMBER RAIN
KILAS BALIK



Selepas mengantar Ayah Josh dan Bunda Rania ke bandara, Andara dan vano kembali ke rumah dengan diantar pak Ujang.


Sesampainya di rumah, Willy sudah berangkat ke lokasi KKN yang akan dia ikuti. Andara dan Vano masuk ke dalam rumah.


"Bi inah, Dara keluar dulu ya sama Vano." Teriak Andara dari ruang tamu.


Dengan tergesa-gesa, Bi inah berlari ke ruang tamu dan mendapati Andara bersama Vano sudah bersiap untuk keluar rumah lagi.


"Non Dara, Bunda pesen, non Dara gak boleh pulang malam," Ujar Bi Inah kepada Andara.


"Iya Bi Inah sayang. Ga usah khawatir, Dara ga pulang malam kok," Jawab Andara. "Tapi Dara pulang pagi aja." Lanjut Andara tertawa menggoda Bi Inah. Wajah Bi Inah mendadak pucat. Vano terbahak.


"Ih non Dara suka ngagetin Bibi aja. Jangan pulang malam beneran ya non, nanti Bibi dimarahin Ayah Bunda," Wajah Bi Inah memelas.


"Maaf ya den Vano, tolong non Dara diantar pulang sebelum makan malam ya," Ujar Bi Inah memandang Vano.


"Tenang aja Bi, Vano jagain Dara kok. Sebelum gelap ntar kita uda pulang," Jawab Vano tenang sambil tersenyum. Ia tidak tega melihat wajah Bi Inah yang penuh kekhawatiran. Ia tahu Bi Inah sangat menyayangi Andara.


Andara, betapa semua orang menyayangimu. Bahkan aku pun jadi ikut merasakan kasih sayang itu. Aah seandainya... Batin vano. Ia menatap penuh cinta pada kekasihnya.


"Ayo cantik, kita berangkat sekarang," Ujar Vano sambil menggandeng tangan Andara.


Vano menuntun Andara ke mobilnya. Ia membukakan pintu untuk Andara dan menutupnya kembali sebelum ia berputar menuju kursi pengemudi.


"Pakai sabuk pengamanmu cantik," Ujar Vano. Tiba-tiba tangannya sudah meraih sabuk pengaman di kursi Andara. Melihat perlakuan Vano, Andara langsung membeku.


Duh Gusti, kalau kayak gini terus bisa jantungan beneran ini. Please jantung, aku masih pengen hidup, tolong santai dikit ya berdetaknya. Batin Andara. Dengan wajah tersipu ia melirik ke arah Vano yang jarak wajahnya hanya 5 senti darinya.


Vano menatap Andara dengan posisi yang tidak berubah. Ditatapnya wajah Andara yang semakin memerah. Disentuhnya pipi Andara dan tiba-tiba.


Cup.. Vano mencium singkat kening Andara. Ia tersenyum melihat Andara yang menutup matanya.


"Kenapa menutup mata cantik?" Goda Vano saat melihat Andara tak kunjung membuka matanya.


"Eh.. Eh.." Andara gugup. Tidak tahu akan menjawab apa. Ia masih belum melepaskan cengkeramannya pada ujung kursi.


"Hahaha.. Wajahmu lucu cantik. Ya udah kita langsung berangkat aja ya daripada kamu mikir yang iya-iya." Goda Vano.


"Hah? Apa? Gak kok, ga mikir kok," Belum sepenuhnya sadar, Andara menjawab dengan gugup.


Vano terbahak, sambil menyalakan mesin mobil dan mulai melaju.


**


Belum lama sejak mobil Vano meninggalkan rumah Andara, teleponnya berdering.


"Halo.." Vano menjawab panggilan melalui bluebluetooth handsfree miliknya.


"Hmm.. Iya.."


"Hmm.."


"Baiklah.."


"Hmm Terima kasih," Vano terlihat menjawab singkat tiap pertanyaan yang diajukan lawan bicaranya di telepon.


Andara yang sejak meninggalkan rumah hanya berdiam diri saja, penasaran dengan panggilan telepon yang baru saja selesai dilakukan Vano.


"Siapa sayang?" Tanya Andara penasaran.


Melirik Andara sekilas, Vano menjawab, "Hanya seseorang yang sudah sepertinya kakak bagiku."


Andara semakin penasaran, "maksudnya?"


Vano menangkap keingintahuan Andara dalam nada bicaranya. Ia sangat ingin menceritakan semuanya pada kekasihnya itu.


Ternyata aku belum siap, maafkan aku sayang. Batin Vano. Ia kembali fokus menyetir.


"Wah, kalau gitu, kamu bisa mengenalkan kita dong, aku juga ingin kenal dengan kakakmu, dia pasti orang yang penting bagimu," Sahut Andara. Kata-katanya mengusik konsentrasi Vano.


Vano terlihat menimbang-nimbang perkataan Andara. "Baiklah, lain waktu saja cantik," Akhirnya Vano memutuskan.


Setelah itu mereka hanya diam di dalam mobil, larut dalam pikiran masing-masing.


"Cantik, kita nonton filmnya lain kali aja ya," Ucap Vano memecah keheningan di antara mereka.


"Lho kenapa? Terus kita mau kemana dong?"


"Tiba-tiba aja aku kepikiran membawamu ke tempat yang lebih menyenangkan daripada nonton di bioskop atau jalan-jalan di mal," Vano menjawab sambil melirik wajah Andara yang penuh pertanyaan.


"Percaya sama aku, ini tempat yang menyenangkan, sangat menyenangkan, apalagi ke sana sama aku," Ujar vano menggoda Andara.


"Oke deh. Tapi di mana tempatnya?" Andara masih penasaran.


Vano hanya tersenyum simpul menanggapi pertanyaan Andara.


Andara pun diam tidak bertanya lagi.


**


Sudah hampir satu setengah jam mereka berkendara tapi tidak terlihat tanda-tanda Vano akan menepikan kendaraannya.


"Sayang, masih jauh ya? Kita mau kemana sih?" Tanya Andara sambil melihat pemandangan dari balik kaca mobil.


Jalanan sudah mulai menanjak, bangunan-bangunan mulai berkurang, berganti dengan rimbunnya pepohonan. Andara pun mulai mendengar suara kicauan burung yang sangat ramai.


"Di mana ini sayang? Kita mau ke mana?" Ujar Andara, ada rasa bahagia dalam suaranya namun terdengar sedikit kekhawatiran.


"Kita mau kesana," Tunjuk Vano ke arah kanan mereka.


Andara mengikuti arah jari Vano. Ia tertegun melihat sesuatu yang ditunjuk Vano.


Sebuah Danau berwarna biru, tersembunyi di balik rimbunnya hutan pinus. Terlihat sangat menawan, dengan kilauan sinar matahari yang memantul di permukaannya.


"Astaga, sayang!!" Andara memekik girang, takjub dengan yang dilihat matanya. Kedua tangannya menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut.


Vano membelokkan mobil, memasuki jalanan tanah yang tidak lagi rata, dan hanya bisa dilalui satu mobil. Kanan kirinya rerumputan dan beberapa pohon pinus.


Jalan yang dilalui mulai mengecil, pohon pinus mulai terlihat mendominasi, memenuhi sebagian besar pemandangan di depan mereka. Di depan mereka ada sedikit tanah lapang. Vano membelokkan mobilnya kesana dan memarkirnya.


Andara mulai mendengar gemercik air, dilihatnya ada sungai kecil yang mengalir di samping tanah lapang itu.


"Masih ingin nonton film di bioskop?" Tanya Vano sambil menatap Andara.


Andara menggelengkan kepalanya. Tidak bisa berucap sepatah kata pun, ia masih mengagumi pemandangan di depannya.


Vano tersenyum, keluar dari mobil dan berputar menuju kursi penumpang.


"Ayo kita turun cantik," Tangan Vano sudah membuka pintu mobil dan terulur pada Andara.


Tersadar, Andara pun membalas uluran tangan Vano. "Ini luar biasa sayang." Akhirnya Andara bisa mengeluarkan suaranya. Matanya menatap sekelilingnya.


"Syukurlah kalau kamu suka," Vano tersenyum sambil membelai rambut Andara lembut.


"Di mana Danau yang kita lihat tadi?" Tanya Andara.


"Hmm.. Sepertinya kita tidak bisa kesana,"