
"Astaga Mikha, apa sih yang kamu pikirkan? Apa kamu pikir Abang hanya bisa marah-marah saja?" Suara Bang Arka menyambut makan pagi bersama kami.
Ayah, Ibu, aku dan Bang Arka menyantap masakanku yang entah bagaimana rasanya, sambil berbincang dan membicarakan kejadian tadi.
"Abang aneh sih. Kay jadi takut. Sumpah! Kayak bukan Abang gitu deh." Ujarku cuek sambil memakan sayurku.
"Wajahmu gampang terbaca, tapi isi otakmu itu sungguh membuatku pening Mikha. Sangat luar biasa mengagetkan."
"Abang sih pakai sok-sokan ngomong puitis. Kay kira kesambet di jalan."
"Astaga Mikha, Abang mau nyoba romantis-romantisan sama istri Abang, eh malah dikira kesurupan. Bukannya biasanya cewek-cewek suka dengan hal seperti itu?"
"Mungkin cewek-cewek Abang yang dulu suka digituin kali. Tapi kan Kay bukan mereka." Dih, kenapa harus mengungkit wanita lain sih? Apa dulu Bang Arka suka melakukan itu pada wanita-wanitanya?
Tanpa mempedulikan yang lainnya, aku terus saja menghabiskan makanku. Meski hatiku sedikit meradang mendengar ucapan Bang Arka, tapi aku memilih menyembunyikan dengan memasang tampang tak acuhku.
"Mikha." Panggil Bang Arka
"Hmm." Sungguh aku malas menanggapinya.
"Kalau cemburu bilang aja."
"Idih, siapa yang cemburu? Abang kepedean!" Aku tak terima dong kalau ketahuan.
"Itu di jidat ada tulisannya." Ujar Abang sambil menunjuk dahiku.
Dan bodohnya aku, kenapa aku justru memberinya respon yang malah menyulut tawanya menggelegar memenuhi ruang makan kami?
"Itu, kenapa tangannya langsung mengusap jidadmu? Ah Mikha, kamu itu gak pandai berbohong. Bilang aja kalau cemburu, kenapa harus malu?" Bang Arka merengkuh tubuhku dengan bibir yang masih terus mengumandangkan tawa sumbangnya.
Cih!
"Abang itu seneng kalau di cemburui. Jadi jangan malu. Oke?" Bang Arka mengusap pelan punggungku.
Oh astaga. Bagaimana bisa makan pagi dengan menu minimalis ini menjadi sangat romantis dengan perlakuan Bang Arka? Dia sangat pandai merubah suasana. Dia lelakiku, kekasihku, suamiku. Ya, aku akan terus membanggakannya.
Cup.
Kecupan hangat yang singkat ku terima di bibirku. Ah bahkan dewi batinku salto ke belakang saking senangnya.
"Ehm..."
Dehaman dari Ayah membuyarkan pelukanku bersama Bang Arka. Lebih tepatnya aku yang melepaskan diri. Aku lupa, jika ada Ayah dan Ibu disini.
"Maaf Yah, Bu." Ujarku sambil menunduk.
"Kenapa harus minta maaf?" Aku membelalak saat Bang Arka dan Ayah mengucapkan kalimat yang sama.
Oh benar-benar kompak Ayah dan anak ini.
Ibu tampak mengulum senyum. Dan aku pun ikut tersenyum.
"Ayah senang melihat kalian seperti ini. Kalian, teruslah bersikap seperti ini. Jaga pernikahan ini. Pastikan hubungan ini sampai akhir usia." Ucap Ayah sambil bergantian menatapku dan Bang Arka.
"Ayah benar. Ibu juga menyukai suasana ini. Arka, jaga Mikha dengan baik. Dan Mikha, bersabarlah dengan Abangmu. Ibu mencintai kalian. Suasana seperti ini sungguh menghangatkan hati Ibu." Ibu menyentuh tanganku yang berada di atas meja sambil tersenyum hangat.
Sungguh beruntung aku, kini memiliki dua orang Ibu yang sangat luar biasa. Meski keduanya tak ada hubungan darah denganku, tapi aku bisa memastikan ketulusan cintanya.
"Ibu, Ayah. Terima kasih. Kay bahagia menjadi bagian dari kalian."
Cup.
Kecupan di pipi dari Bang membuatku semakin merona. Puncak kepalaku diusap penuh kelembutan oleh Bang Arka. Lelakiku itu menatapku penuh cinta. Cinta yang tak hanya di ucapkan di mulut, tapi di buktikan dengan hati.
"Terima kasih sudah mendampingiku. Teruslah berada di sisiku dalam keadaan terbaik maupun terburukku." Ucapan Bang Arka sukses membuat air mataku menetes tanpa permisi.
Aku tak tahu lagi bagaimana mendeskripsikan perasaanku kali ini. Jika ada kalimat yang lebih tinggi artinya dari bahagia, maka di situlah letak perasaanku saat ini.
"Kay sayang Abang." Lirih ku ucapkan kalimat itu.
"Abang lebih mencintaimu."
Kami melanjutkan makan pagi kali ini diiringi gelak tawa dan obrolan-obrolan ringan.
"Arka berangkat sama Ayah ya?" Bang Arka kembali membuka percakapan.
"Mobilmu kenapa?" Tanya Ayah dengan bingung.
"Memangnya Arka gak boleh bareng Ayah?" Bang Arka tampak cemberut, "Mikha gak mau diantar sopir. Mobil Arka dipakai Mikha kuliah siang ini, Yah. Mobil Mikha masih di rumah." Imbuh Bang Arka.
"Kenapa gak mau dianter sopir Mikha?" Kali ini Ibu yang bertanya.
"Kay suka nyetir sendiri, Bu. Lebih bebas." Aku menjawab tanpa berpikir. Toh kenyataannya memang seperti itu.
"Apa sayang? Lebih bebas? Maksudnya?" Astaga, aku lupa memperhitungkan si posesif yang ada di sisi kananku. Ucapannya terasa sangat pedas.
"Maksudnya gak ngerepotin orang lain, Abang sayang." Ku usap pelan lengan Bang Arka. Masa bodoh aku merayunya meski ada Ayah dan Ibu, yang penting aku selamat dulu.
"Aku akan terus mengawasimu Mikha. Kalau kamu seperti ini, bagaimana Abang bisa meninggalkan kampus?" Keluh Bang Arka.
"Kamu beneran mau pensiun jadi dosen? Mulai kapan? Bagus itu, jadi kamu bisa fokus pada perusahaan Ayah dan Papamu." Ayah menyambar ucapan Bang Arka.
"Ah benar, kenapa Ibu jadi lupa? Mumpung sekarang Ibu udah disini, nanti kita siapkan resepsi pernikahan kalian ya Kay. Kamu bisa memilih gaun, bunga dan dekorasi sesukamu. Ah iya, Ibu harus menghubungi Mama Mia. Ya sudah kalian selesaikan makan kalian, Ibu harus segera mendiskusikan ini dengan Mama Mia." Aku belum mengeluarkan jawaban apapun tapi Ibu sudah meluncur menuju kamar tamu. Entah apa yang akan dilakukannya dengan Mama.
"Ibu, hari ini Kay ada kuliah." Aku berteriak sebelum Ibu masuk ke kamar.
"Izin saja sayang."
"Kay keseringan izin Bu."
"Gak masalah, kan istri dosen." Aku melongo mendengar jawaban Ibu. Apa bisa seperti itu?
"Tapi mata kuliahnya bukan Abang yang mengajar Bu."
"Gak masalah. Bisa mengulang tahun depan sayang." Ujar Ibu sambil menutup pintu kamar.
Mulutku membeku saat mendengar jawaban Ibu. Aku menatap nanar pada Bang Arka yang sedang tertawa bersama Ayah.
"Abang." Aku berniat meminta pertolongan.
Bang Arka tersenyum lebar sambil mengangkat tangannya.
"Maaf sayang, kalau masalah ini Abang tidak sanggup mengatasi."
Aku berbalik menatap Ayah.
"Ayah." Ku pasang wajah sendu terbaik yang bisa ku lakukan.
"Ayah suka suasana seperti ini. Hangat dan ramai. Tak bisakah kalian tinggal di rumah Ayah saja? Ayah sungguh menikmati pemandangan pagi seperti ini." Bukannya menolongku, Ayah malah mengajukan permintaannya.
"Oh tidak bisa. Arka dan Mikha akan hidup mandiri. Biar adil. Ayah dan Ibu, Mama dan Papa, Mikha dan Arka. Pas." Bang Arka yang menimpali ucapan Ayah.
Ayah terkekeh bersama Bang Arka tanpa mempedulikan protesku.
"Ayah." Aku mencoba kembali keberuntunganku setelah Ayah dan Abang menyelesaikan tawanya.
Dan entah kenapa tawa Bang Arka dan Ayah menggelegar setelah ucapan Ayah berakhir. Memangnya ada apa sih?
Kami menyelesaikan makan pagi ini dengan segera. Ayah dan Bang Arka bersiap menuju perusahaan. Beberapa saat yang lalu, Pak Ali sudah menjemput sambil membawakan pakaian ganti untuk Ayah dan Ibu.
"Selamat bersenang-senang sayang. Kalau bisa, datanglah ke perusahaan siang ini. Kita makan siang bersama. Oke?" Bang Arka menciumku sebelum ia berangkat.
Ayah tampak mengulum senyumnya dan melangkah keluar apartemen lebih dulu setelah berpamitan dengan Ibu yang masih berada di dalam kamar.
Aku menatap kepergian kedua lelaki itu hingga menghilang di balik lift. Kakiku kembali ke dalam untuk membereskan kekacauan yang sudah ku lakukan di dapur pagi. Aku memang tak pandai memasak, meski hanya masak sedikit, tapi entah mengapa rasanya dapur sudah sangat berantakan sekali.
***
"Hari ini kita ke mana sih Bu?"
Aku duduk disamping Ibu di ruang keluarga, setelah aku selesai membersihkan diri dan membereskan seisi apartemen ini.
"Tadi Ibu dan Mama Mia udah sepakat menggunakan WO flower. Jadi kita hari ini ke kantornya ya. Kamu pilih dekorasi dan semuanya sesuai keinginanmu. Kita segera berangkat ya setelah Mama Mia datang." Ibu menjawabku sambil tangannya terus mengirim pesan entah pada siapa.
"Mama mau kesini?" Astaga, aku bahkan belum menghubungi Mama sejak semalam. Tragedi tadi pagi sungguh membuat otakku membeku.
"Iya sayang. Mama Mia juga punya rekomendasi toko roti terbaik. Jadi kita juga akan memilih kue pernikahan kalian disana."
Aku hanya melongo mendengar ucapan Ibu. Astaga, Mama dan Ibu benar-benar setipe. Gemar merencanakan hal-hal semacam ini.
"Kamu tenang aja Mikha. Mama dan Ibu akan memilih yang terbaik untukmu." Ujar Ibu masih dengan tangan yang sibuk mengutak atik ponselnya.
"Baiklah." Aku tak tahu apa ada yang bisa aku bantah dari ucapan Ibu. Aku tak tega jika menghancurkan antusiasme mereka.
Tingtong... Tingtong...
Aku mengernyit saat mendengar bunyi bel apartemen. Siapa yang kemari? Sepertinya belum ada temanku yang tahu tempat ini kecuali Aldrich. Dan tidak mungkin dia akan muncul disini.
"Ibu menunggu seseorang?" Tanyaku sebelum membuka pintu.
Ibu pun menatapku dengan bingung.
"Ibu hanya janjian dengan Mama Mia. Dan Mama Mia baru saja berangkat. Jadi itu jelas bukan Mamamu." Ibu menjawabku.
Dengan wajah kebingungan aku berjalan untuk membuka pintu.
"Iya tunggu bentar." Teriakku dari dalam. Entah orang yang di balik pintu itu mendengarnya atau tidak.
Ketika pintu terbuka, seketika mataku membelalak saat melihat siapa yang datang. Jantungku bertalu dengan sangat kencang. Astaga, badai apa yang akan menghantamku kali ini?
"Dasar jal*ng! Bahkan sepagi ini kamu sudah berada di tempat menantuku. Dasar tak tahu aturan. Apa orang tuamu tidak pernah mengajarkan arti kesopanan? Apa orang tuamu tidak mengajarkan bahwa mengambil milik orang lain itu perbuatan yang memalukan? Apa kamu tidak punya orang tua, hah?"
Plaaaakkk...
Caci maki itu terus terngiang ditelingaku seiring rasa panas yang menjalar memenuhi seluruh kulit pipiku.
Detak jantungku semakin kuat berdenyut. Sakit ini sungguh sangat menyiksa. Rasa perih ini bukan hanya terasa di pipi, tapi lebih terasa di hati. Nyeri sekali.
Bukan hanya karena tamparan ini yang membuat air mataku menetes, tapi hinaan wanita paruh baya ini terhadap orang tuaku yang membuat hatiku tersayat. Perihnya hingga ke relung hati terdalamku.
Mama, Papa, maafkan Kay. Karena pilihan Kay, Mama dan Papa jadi ikut terkena semburan kata yang memekakkan telinga.
"Hei jal*ng, apa yang kamu lakukan di tempat tinggal menantuku, hah? Apa kamu sudah pintar menaiki ranjangnya? Dasar murahan! Anak dan istrinya sedang menunggu di rumah, tapi kamu malah seenaknya menyekapnya disini. Pergi kamu dari sini! Pergi!" Entah bagaimana awalnya, wanita yang ku tahu sebagai Ibu dari Adinda, kini sedang menunjuk-nunjuk wajahku dengan jarinya.
Dengan refleks aku melangkah mundur dan kini kami sudah berada di dalam ruang tamu.
"Pergi dari sini ******!" Ia berteriak semakin keras.
"Tapi aku--"
Plaaakk..
Belum selesai aku berbicara, lagi-lagi tangannya kembali membungkamku dengan tamparan.
Mama, bisakah Mama kemari? Aku membutuhkan Mama dan tentu saja Papa. Kay sakit Ma. Sangat sakit. Kenapa jalan hidup Kay seterjal ini Ma?
Air mataku luruh dengan deras. Aku merasa sangat hancur. Yang ku takutkan benar-benar terjadi. Abang, ini sangat menyakitkan.
"Apa yang anda lakukan? Beraninya anda menampar menantu saya!"
Teriakan lantang terdengar dari belakang tubuhku. Seketika pelukan hangat yang sedikit menenangkanku, mulai ku rasakan menjalar melalui pinggang dan punggungku.
"Ibu." Lirih ku panggil wanita yang memelukku. Sekedar ingin mendapat perlindungan.
Ibu mengusap punggungku dengan lembut dan mendekapku dengan erat.
"Menantu? Apa Jeng Ratna becanda? Bahkan anak anda masih resmi menjadi suami Adinda!" Ibu Adinda berteriak lantang.
"Apa mereka bisa disebut suami istri? Saat seorang istri yang harusnya menjaga kehormatan suami malah mengandung anak lelaki lain? Bahkan itu terjadi sejak awal pernikahan mereka. Dan dengan bodohnya saya ikut tertipu wajah sok lugu anak anda." Ucapan pedas Ibu terlontar begitu saja.
Mataku membelalak mendengar semua itu. Ibu yang biasanya bertutur kata lembut kini terlihat sangat tegas dalam melindungi miliknya.
"Itu anak Arka. Bahkan dokter sudah mengidentifikasikannya. Bukankah jeng Ratna sudah menerima hasilnya?" Ibu Adinda masih bersuara tinggi.
"Baiklah. Dokter yang mengidentifikasi itu, bisa datang ke pengadilan saat sidang mereka. Biarlah hakim yang menentukan. Jika terbukti dalam tes itu terdapat hal yang melanggar hukum, siap-siap saja terkena kasus pidana." Ibu tak kalah sengit membalasnya.
Ibu Adinda terdiam. Memandang geram pada Ibu. Aku bergeming tanpa tahu harus melakukan apa.
"Asal tahu saja, anak saya, Arka, pernah bersumpah di depan saya, bahwa dia sama sekali tidak pernah memberikan sampel apapun dari bagian tubuhnya untuk diuji DNA. Adinda juga tidak pernah meminta atau mengambil sampel apapun dari tubuh Arka. Jadi, bagaimana bisa hasil DNA itu dikatakan valid? Kecuali, jika sampel pembanding yang dimiliki Adinda saat tes DNA memang sampel dari Ayah biologis bayinya." Ujar Ibu dengan penuh penekanan di setiap katanya.
Oh astaga, aku baru mengetahui jika sedang menyeringai seperti ini, Ibu tampak sangat menakutkan.
Aku sungguh kagum pada Ibu. Meski terlihat tak banyak bicara, tapi sekalinya membuka mulut, blaaammm... Dia membuat gebrakan yang langsung membungkam segala protes ibu Adinda.
Pelukanku semakin ku eratkan. Dengan lirih ku berbisik, "makasih Bu." Dan Ibu menciumku sebagai balasan.
"Kalian sungguh tak tahu aturan!" Wanita keji itu terus saja berteriak.
Kami memandang wanita itu yang masih saja terus mengoceh.
"Kay, ada apa? Jeng Ratna, ada apa ini?"
Pandanganku dan Ibu beralih pada sosok yang baru saja masuk ke apartemenku. Ku lihat wajah teduh dan tenang di hadapanku. Wajah penuh cinta yang selama ini memberiku curahan kasih sayangnya.
"Mama." Panggilku.
"Jeng Mia, kemarilah." Ibu segera memberi kode tangan pada Mama.
Ibu Adinda sontak membalik badannya untuk melihat siapa yang datang.
"Kamu!" Aku melongo saat Mama dan Ibu Adinda berucap secara bersamaan.
Mereka saling menuding satu sama lain. Dengan secepat kilat Mama langsung berlari dan menempatkan diri di depanku. Sungguh aku bingung dengan tingkah laku Mama. Memangnya siapa wanita itu? Apa Mama mengenalnya sebelum ini?
Dan oh lihatlah, wajah Ibu Adinda tampak pucat dan benar-benar terkejut. Matanya membulat dengan sangat kentara.
Ada apa ini? Apa mereka saling mengenal? Tolong beritahu aku yang terjadi!