NOVEMBER RAIN

NOVEMBER RAIN
JANGAN TERLALU KENTARA



"Mikha, minggu depan sidang terakhir Abang di gelar. Abang harap kamu mau datang." Ujar Bang Arka saat kami sudah berada di mobil.


Kini mobil Bang Arka melaju ke arah jalanan kampus.


"Apa Kay harus ikut Bang? Nanti disana kan ada mereka semua Bang." Jawabku.


Aku bukannya takut bertemu lagi dengan para wanita itu. Aku hanya berusaha menjaga nama baik keluargaku.


"Tentu saja ada mereka Mikha. Tapi kamu gak perlu khawatir, Abang akan melindungimu. Lagian, kamu istri sah Abang, apa yang kamu takutkan?"


Entahlah, apa aku harus mengatakannya? Sebagai sesama wanita, aku tahu rasa sakit yang akan diterima Adinda. Tapi sebagai wanita yang berstatus istri Bang Arka, hatiku justru menginginkan semua itu cepat selesai.


Katakan aku egois, tentu saja! Aku juga memiliki hati yang enggan ku bagi. Aku bahkan ingin melarang Bang Arka untuk menemui Adinda lagi.


"Mikha!" Panggilan dari Bang Arka membuatku tersadar lagi dari lamunan.


Dengan ragu-ragu akhirnya aku memutuskan untuk berkata jujur.


"Hmm... Bang... Maafkan Kay. Tapi Kay gak mau ikut. Bukan hanya karena ada wanita-wanita itu sih."


"Lalu apa alasan lainnya Mikha? Abang butuh kamu untuk menguatkan Abang dan menenangkan Abang sayang."


"Bang, jika Kay disana untuk menguatkan Abang, lalu siapa yang akan menguatkan Kay?"


"Apa maksudmu Mikha?"


Dengan mengambil nafas panjang, aku mencoba menenangkan diri sebelum membuka kelemahanku.


"Bang, Kay juga wanita. Kay juga punya rasa cemburu. Kay rasa, Kay cemburu pada Adinda. Rasanya, Kay gak rela jika Abang dekat dan bertemu dengannya lagi. Kay takut Abang terpikat lagi dengan Adinda." Ucapku dengan lirih dan kepala tertunduk.


Jika ada lubang di depanku saat ini, ku pastikan aku akan langsung meloncat ke dalamnya untuk menyembunyikan rasa maluku.


Bang Arka segera menepikan dan menginjak rem mobilnya.


"Bilang sekali lagi sayang?" Ucap Bang Arka sambil menarik daguku. Ia menginginkan aku melihatnya.


"Apa?" Tanyaku sok lugu.


"Katakan yang barusan kamu bilang pada Abang."


"Kay cemburu Bang lihat Abang bersama Adinda. Bahkan dengan tatapan penuh minat dari para fans Abang di jurusan juga Kay cemburu. Abang kan milik Kay. Tapi kenapa mereka juga bisa menikmati Abang? Tatapan kagumnya pada Abang itu membuat Kay kesal banget deh Bang!" Aku terus mencerocos tanpa henti. Menumpahkan segala kesal yang selama ini ku pendam.


Bang Arka tersenyum sambil mengecup singkat bibirku.


"Akhirnya Abang dicemburuin juga. Abang seneng banget. Terus cemburuin Abang kayak gini ya sayang."


"Abang sehat? Gak salah minum obat kan?" Tanyaku beruntun.


Bang Arka tertawa mendengar ucapanku.


"Abang cinta banget sama Mikha. Hati Abang cuma milikmu sayang. Jangan khawatir, Abang gak akan tergoda siapa pu. Abang kan udah punya istri yang lucu dan menggemaskan kayak gini." Ujar Bang Arka sambil menarik pelan hidungku.


"Aneh, dicemburuin malah seneng. Idih kalau Kay sih ogah."


"Cemburu itu tanda sayang Mikha. Dan itu juga yang Abang rasakan saat kamu dikelilingi para teman lelakimu itu." Gerutu Bang Arka.


Bang Arka kembali menjalankan mobilnya sambil mulutnya terus saja berucap tentang keharusanku untuk menjaga jarak dengan teman lelaki. Hah, selalu saja hal yang sama.


"Iya Bang, Kay tahu. Kay juga bakal jaga jarak, pakai masker, cuci tangan. Biar lengkap sekalian. Siapa tahu Kay bisa jadi duta protokol kesehatan." Jawabku sedikit melenceng.


"Abang serius Mikha! Abang gak ingin milik Abang dinikmati lelaki lain. Meski hanya berbagi udara, Abang gak rela. Tapi mau gimana lagi? Ini kan dunia kita bersama." Ujar Bang Arka dengan suara lemahnya.


Astaga, berbagi udara pun dia cemburu? Karungin aja Kay Bang! Aku mengumpat Bang Arka dalam hati.


Aku memilih diam daripada urusanku semakin panjang.


"Baiklah, kamu gak perlu ikut masuk ruang sidang. Kamu tunggu Abang di mobil aja."


Kepalaku sontak menoleh dan menatap Bang Arka penuh tanya. Jadi pembahasan tadi belum selesai?


"Lha Bang? Kenapa gitu? Kay tunggu di rumah aja deh. Lagian kan minggu depan Kay masih harus kuliah." Protesku dengan keras pada Bang Arka.


"Ayolah sayang. Kamu tahu pengendalian diri Abang sangat buruk. Dan kamu yang bisa menenangkan Abang. Lagi pula, Abang butuh dukunganmu."


"Meski gak hadir disana, Abang tau kan kalau Kay selalu mendukung Abang?"


"Hah, Abang gak mau tahu, pokoknya kamu temani Abang sidang sayang. Urusan lainnya, terlebih keselamatanmu, itu menjadi urusan Abang. Kamu hanya tinggal berdiri di sisi Abang dan memberi semangat untuk Abang. Oke sayang?"


Apa aku masih bisa menolak jika Bang Arka sudah membuat keputusannya? Mungkin memang aku harus datang. Bagaimanapun juga, ini hal penting untuk Bang Arka. Aku harus bisa menjadi apapun yang diinginkan suamiku asal itu tidak merubah jati diriku.


"Baiklah, Kay ikut."


Sebuah jawaban singkat dariku, mengembalikan binar kebahagiaan di wajah Bang Arka. Apa aku begitu berarti untukmu, Bang?


Rasanya cintamu padaku sangat besar Bang, hingga kadang hati ini terasa sangat kewalahan menerima limpahan kasih sayang darimu.


Semoga cintaku padamu juga sebesar rasa cintamu padaku Bang.