
Setelah tragedi promnight yang dialami Andara, mereka yang terlibat tidak pernah lagi mengungkit hal itu. Mereka bungkam dan menutupi semuanya. Bukan hanya agar Ayah Josh dan Bunda Rania tidak tahu, melainkan juga untuk menjaga pikiran mereka. Karla dan Amel yang hanya menyaksikan sekilas peristiwa tersebut, menjadi sangat khawatir dan takut, melihat perangai Vano yang sangat berbeda dari yang biasa mereka lihat.
Pun dengan Andara, pelecehan dari seseorang yang pernah mengisi hatinya, menjadi pukulan telak di hatinya. Rasa sakit yang belum sembuh, mendadak ditambah lagi dengan rasa sakit baru dan semua itu berakumulasi menjadi rasa benci.
"Pagi sayang." Sapa Kenzo dengan tersenyum sambil mulutnya sibuk mengunyah makanan yang ada di hadapannya.
Andara mengangkat kedua alisnya, kaget melihat lelaki itu sepagi ini sudah berada di meja makan rumahnya.
"Pagi banget absennya. Kalah deh karyawan Ayah di kantor." Sindir Andara.
"Tau nih anak, udah main nyelonong aja tidur di kamarku dari semalam." Willy menimpali.
"Hah?" Andara menganga, masih mencoba mencerna yang dikatakan kakaknya.
"Kan mending aku nyelonong ke kamar Kak Willy, kalau langsung nyelonong ke kamar Dara kan bahaya Kak." Sahun Kenzo santai.
"Auto digaplok Ayah dong kalau gitu." Willy terkekeh.
"Hehehe tapi Kenzo gak gitu kan yah." Sahut Kenzo dengan segera.
Ayah Josh dan Bunda Rania hanya bisa menggelengkan kepala melihat pemandangan pagi hari yang sudah sering kali mereka lalui.
"Jadi Kenzo dari semalem udah tidur sini?" Andara yang baru paham ucapan Willy langsung bertanya dengan membelalak.
"Lha baru sadar dia! Upgrade tuh otak!" Willy menggelengkan kepala melihat kelakuan adiknya. Andara hanya bisa tersenyum.
"Eh Ken, kok kamu tidur di sini sih? Kamu kok ga persiapan ke sekolah? Emang anak pemilik yayasan gitu, ijazahnya bisa jalan sendiri ke rumahmu ya?" Ujar Andara setengah menyindir.
Kenzo memutar bola matanya, jengah dengan ucapan gadis itu.
"Kenapa itu terus yang dibahas sih Yang? Aku tuh mau jemput Ayah Bunda. Hari ini aku pinjem Ayah Bunda dulu ya." Kenzo menjelaskan.
"Eh iya Ken, Ayah lupa bilang, Ayah hari ini gak bisa datang. Ada pernikahan karyawan di perusahaan Ayah, rasanya kayak gimana gitu kalau Ayah Bunda gak datang." Ayah Josh berkata dengan nada menyesal.
Seketika Kenzo menghentikan makannya. Raut wajahnya jelas menunjukkan kekecewaan. Ia menarik. Nafas panjang, dan menyunggingkan senyum sebelum mengangkat kepala dan berkata,
"Oh gitu ya Yah. Hmm ya udah Yah, santai aja. Mau gimana lagi, kasian juga karyawan Ayah kalau bosnya gak datang di hari pentingnya." Nada kekecewaan memenuhi suara Kenzo.
"Gini aja deh Ken, nanti Bunda sama Ayah ke tempat resepsi sebentar terus ke Granatala ya. Semoga masih belum kelar ya acara di Granatala." Bunda Rania yang melihat raut kekecewaan di wajah Kenzo, mendadak tidak tega.
"Bunda tenang aja, Kenzo gak papa Bun. Nanti Kenzo sama Kakek dan Nenek aja." Sahut Kenzo.
Andara yang menyaksikan semua itu, ikut merasakan kesepian yang dirasakan Kenzo. Entah mengapa, hatinya mendadak nyeri melihat wajah Kenzo yang tidak lagi berseri.
"Hmm Ayah, Bunda, boleh gak kalau Dara yang anterin Kenzo aja?" Andara tiba-tiba bersuara.
"Beneran Yang? Kamu mau?" Kenzo yang tidak menyangka Andara akan menawari hal mewah seperti itu, sontak kembali bersemangat.
"Uhuuukk.. Uhuuukk.." Bunda tersedak saat mendengar Andara bersuara.
"Ehmm.. Dara, kamu hari ini jelas ikut Ayah Bunda dong. Gak enak Dara kalau kamu gak ikut." Ayah Josh menyela.
"Biasanya juga gak ikut kan Yah? Cuma beberapa kali aja kan Dara ikutnya." Elak Andara.
"Lha semalam yang bilang mau daftar les persiapan ujian masuk Universitas siapa? Yang bener kamu Dara kalau bilang. Jangan kemarin bilang kedelai sekarang udah jadi tempe." Willy ikut berkomentar.
"Aku bilang gitu ya Kak semalam?" Andara tampak berpikir.
Kenzo memicingkan matanya menatap Ayah dan Willy yang terlihat sangat berbeda hari ini.
"Apa ada sesuatu yang aku lewatkan hari ini?" Kenzo menatap serius pada Willy.
Willy yang sedang dicurigai hanya mengangkat alisnya dan menyahut asal.
"Kamu tau sendiri kemampuan Dara, bisa lulus SMA aja uda syukur. Mumpung dia niat banget mau ikutan les, jadi kenapa gak sekalian aja di dukung."
Ayah Josh dan Bunda Rania mengangguk. Lalu menambahkan.
"Daftarnya habis ikut kondangan dulu Wil, kamu juga bersiaplah nanti."
"Willy juga Yah? Kan tugas Willy cuma anter Dara daftar les aja." Willy mulai protes.
"Sekalian aja, biar gak bolak balik." Sahut Bunda Rania yang langsung menutup perdebatan suami dan anak lelakinya.
Kenzo menatap satu per satu wajah yang sedang duduk di meja makan. Ia tersenyum. Merasa malu karena telah berpikir buruk tentang mereka.
"Hmm baiklah kalau begitu, nanti Kenzo sama Kakek dan Nenek aja." Ujar Kenzo lirih, ada nada kecewa di suaranya.
"Mami dan Papi gak jadi pulang Ken?" Tanya Andara dengan polos.
Kenzo menolehkan wajahnya, menatap Andara dengan bingung memdengar gadis itu memanggil orang tuanya dengan panggilan yang sangat akrab.
"Sejak kapan kamu memanggil mereka Mami dan Papi? Kamu udah ketemu mereka? Atau udah pernah ngobrol dengan mereka?" Cerca Kenzo.
Kenzo memicingkan mata, mendekatkan dirinya ke arah Andara, mencoba mencari bias kebohongan yang bisa ia temukan.
"Kamu juga kan manggilnya Ayah dan Bunda, emangnya aku gak boleh manggil Mami dan Papi?" Tanya Andara setelah mendapat tatapan mematikan dari Willy.
Kenzo mengusap lembut puncak kepala Andara sambil tersenyum hangat.
"Kata siapa gak boleh, aku malah seneng kamu manggil gitu. Rasanya kayak kamu udah jadi menantu mereka." Goda Kenzo.
Andara membelalakkan matanya dan dengan segera memukul bahu Kenzo.
"Aaw.. Kenapa sih Yang? Bener gitu kan ya Yah?" Tawa Kenzo terdengar menggema yang disahut oleh tawa lain dari seluruh penghuni meja makan.
"Yah, Bun.. Kenzo berangkat sekarang ya kalau gitu. Hmm kalau nanti malam, jadwal Andara kosong kan Yah?" Kenzo meyakinkan lagi pada Ayah Josh.
Ayah Josh menghela nafas berat lalu menatap Kenzo.
"Kalau nanti malam Ayah bilang ada acara, apa kamu bisa nerima?" Sahut Ayah.
Kenzo membelalakkan mata.
"Gak bisa dong Yah, nanti malam Andara udah Kenzo booking." Tegas Kenzo berkata.
"Jadi Ayah gak punya pilihan kan selain ngebolehin kalian pergi nanti malam?" Jawab Ayah.
"Nah gitu dong Yah. Makasi Ayah yang ganteng dan baik hati." Rayu Kenzo.
"Dih jijik Ken. Lagakmu manis kalau ada maunya, cih, Ayah gak akan termakan rayuan gombalmu. Cukup Dara aja yang bisa kamu gombalin." Cibir Ayah.
"Hahahah Ayah Josh emang yang paling keren deh!" Ujar Kenzo terus menggoda Ayah Josh.
"Pada ngomongin apa sih? Gak ada yang jelas deh. Ken, buruan sana berangkat, nanti kakek nungguin." Bunda Rania mengingatkan.
"Ya udah, Kenzo berangkat ya. Aku ke sekolah dulu ya Yang. Sampai jumpa nanti malam. Ayah, Bunda, Kak Willy, Ken berangkat dulu ya." Kenzo berpamitan pada semuanya.
Ia bergegas beranjak dari meja makan dan berjalan beriringan dengan Andara menuju mobilnya.
"Maaf ya Ken, pagi ini aku gak bisa ikut." Ujar Andara selepas Kenzo masuk di dalam mobilnya.
"Iya, gak masalah sayang. Yang penting nanti malam kamu ikut." Jawab Kenzo.
"Baiklah, nanti malam aku temani. Aku juga pingin lihat penampilan panggungmu secara langsung." Andara berseru penuh semangat.
"Kamu harus lihat. Karena itu untukmu."
"Hah?" Andara kebingungan.
"Lihat aja nanti. Eh tapi yang, pada mencurigakan banget deh semua orang hari ini. Beneran kamu mau daftar les buat ujian masuk Perguruan Tinggi?" Tanya Kenzo.
Andara yang sebenarnya merasa curiga namun tidak tahu harus bersikap seperti apa, hanya mampu mengangguk.
"Ya udah deh Yang. Aku berangkat dulu ya." Ujar Kenzo sambil melambaikan tangan yang dibalas lambaian pula oleh Andara.
"Ada apa sih sebenernya?" Lirih Andara bertanya pada dirinya sendiri.
****
"Bunda sama Ayah nih, kalau mau ngeprank tuh direncanain yang bener. Udah tau anak gadisnya setengah oon gitu, untung aja gak ketahuan Kenzo." Di meja makan, Willy segera buka suara setelah memastikan Andara dan Kenzo benar-benar sudah keluar dari rumah.
"Bunda juga sampai dag dig dug rasanya, Willy. Sampai gak bisa ngomong. Huh hampir aja ketahuan." Ujar Bunda Rania sambil memegang dadanya.
"Dasar Daranya aja yang ngeyel. Pakai acara nolak ikut kondangan juga." Sahut Ayah Josh.
"Dara sih bukan ngeyel Yah, tapi emang suka ga nyambung dia. Ayah aja yang ga sadar anak gadisnya agak oon." Cela Willy.
"Enak aja, anak Bunda gak ada yang oon. Semua pinter. Cuma kadang Dara emang sedikit sulit mengerti." Bela Bunda Rania.
"Ya elah Bun, itu cuma bahasa alusnya dari oon Bun." Willy bersikeras.
"Gak lah, beda pokoknya." Bunda Rania gak mau kalah.
Willy hendak membantah omongan Bunda rania, tapi dipatahkan ucapan Ayah Josh.
"Kalau mau hidupmu tenang dan nyaman, kamu iyain aja apa kata Bunda Willy." Sahut Ayah dengan tenang.
Willy tertawa. Bunda Rania melotot dan langsung melayangkan tatapan membunuh pada Ayah Josh, ia tampak ingin mengomel tapi Andara sudah memanggil.
"Bun."
Semua mata menatap Andara dengan wajah cemas. Hanya Ayah Josh yang menunjukkan raut bahagia.
"Hah, datang tepat waktu, aman." Lirih Ayah Josh bersuara.