NOVEMBER RAIN

NOVEMBER RAIN
PERTANDINGAN



"Mampir yuk Ken? Makan malem sekalian." Ujar Andara setibanya mereka di rumah Andara.


Kenzo diam, tidak menjawab. Ia langsung keluar dari mobil dan membukakan pintu penumpang untuk Andara.


"Besok ya sayang. Hari ini aku capek banget, pengen istirahat." Kenzo menjawab pertanyaan Andara yang tertunda, tepat setelah Andara keluar dari mobil.


"Kamu masih marah ya Ken sama aku? Aku beneran gak ada maksud nyakitin kamu Ken. Tadi beneran cuma becanda. Cuma mau godain Pak Ijay." Cerocos Andara, yang mengira Kenzo marah karena kejadian siang tadi di SMA Langit Biru.


"Gak sayang. Aku gak marah kok. Malah aku seneng. Entah karena apa alasanmu gak segera menjawab pertanyaanku, tapi aku yakin, hatimu udah untukku. Tapi aku masih akan tetap nunggu, kata itu keluar dari bibirmu. Aku ingin sekali mendengarnya sayang." Ujar Kenzo sambil tangannya menarik lengan Andara dan menuntunnya masuk ke rumah.


"Anak SMA jam segini baru pulang, mau jadi apa kamu?" Suara Willy terdengar dari belakang punggung mereka.


"Mau jadi orang sukses yang ganteng Kak." Jawab Kenzo tegas.


"Dih," Willy mencibir namun terhenti. "kamu sakit Ken?" Imbuhnya saat melihat wajah Kenzo yang sedikit pucat.


"Kamu beneran gak kenapa-napa Ken? Aku anter ke Rumah Sakit yuk?" Andara yang ikut memperhatikan wajah pucat Kenzo mulai panik lagi.


"Aku gak papa kok Yang. Santai aja Kak. Istirahat bentar juga beres." Kenzo menjawab dengan santai.


"Masuk ke dalam gih. Tiduran sana di kamar tamu. Atau kamarku." Ajak Willy.


"Aku pulang aja deh Kak. Istirahat di rumah aja. Pamit Bunda dulu lah ke dalam. Yuk Yang." Kenzo hendak masuk ke dalam rumah.


"Ayah Bunda lagi keluar, ada kondangan, sekalian mau nonton katanya." Willy menjelaskan.


"Lha nonton?" Kenzo tampak kaget.


"Udah gak usah sok kaget gitu. Mereka sih biasa kayak gitu. Pacaran kayak gak inget umur pokoknya." Cerca Willy.


"Dih Kak Willy aja yang sirik. Dasar jomblo! Yang kayak gitu tuh yang romantis. Dara juga pengen gitu, biar udah lama bersama tapi tetap selalu romantis. Keren kan?!" Ujar Andara sambil tersenyum.


"Aku bakal kayak gitu terus kok Yang. Beneran deh." Janji Kenzo.


"Hmm emang kalian ada hubungan? Yakin?" Willy menggoda.


"Dasar jomblo, sirik aja!" Andara memukul bahu Willy.


"Kayak situ gak jomblo aja." Willy membalas.


"Emang gak jomblo kok. Enak aja." Andara balas menjawab.


"Kalau gak jomblo, siapa dong pacarmu sekarang? Udah ngomong emangnya? Udah diproklamirkan?" Cerca Willy.


"Kakak." Desis Andara yang sudah tidak bisa menahan amarahnya menyadari Willy sedang mengusiknya.


Tawa pun menggema di halaman depan rumah Andara. Tawa dari Willy dan Kenzo jelas yang paling kencang.


"Aku traktir kopi Kak, besok gimana?" Kenzo bersuara dengan tawa yang masih terdengar dari mulutnya.


"Malem aja ya?" Jawab Willy.


"Siap Kakak ipar." Sahut Kenzo sambil mengangkat tangannya untuk mengajak Willy ber-hi five.


Andara pun melotot melihat interaksi kedua lelaki di hadapannya ini. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan kesal dia menghentakkan kaki dan beranjak masuk ke dalam rumah.


"Eh sayang, tunggu dong. Jangan ngambek lah." Teriak Kenzo mengejar Andara dan memeluk tubuh Andara dari belakang.


Andara memberontak, mencoba melepas pelukan Kenzo.


"Lepas Ken. Udah sana, sama Kak Willy aja." Suara Andara terdengar sangat kesal.


"Kan aku udah bilang, aku gak bakal ngelepasi kamu sayang." Bisik Kenzo dari belakang.


"Kak aku pamit ya, nitip Dara. Jangan di godain mulu. Kalau dia marah, aku rugi banget nih." Rengek Kenzo.


"B*d* amat Ken. Kan kamu yang rugi bukan aku." Ujar Willy tak acuh.


"Yah Kak, kita sekutu bukan sih?" Tanya Kenzo.


"Aku sih sekutu sama siapa pun yang sekiranya menguntungkan." Sahut Willy sambil tertawa dan melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.


"Dasar." Andara mengumpat.


"Yang, aku balik ya. Kamu cepet istirahat. Besok ku jemput ya. Ikut aku latihan lagi ya." Ujar Kenzo.


"Kamu istirahat yang bener Ken. Jangan sakit ya. Hmm kamu punya utang cerita ke aku lho. Aku gak mau ada yang ditutupi." Andara mencicit.


"Gak ada yang aku tutupi Yang. Percaya sama aku."


"Aku selalu percaya sama kamu Ken. Kamu tau sendiri kan? Jadi aku gak pengen tau dari orang lain. Aku mau tau dari kamu sendiri."


"Iya Yang. Besok aku ceritain. Sekarang tubuhku beneran minta di istirahatkan."


"Kamu bisa nyetir sendiri? Atau aku anter aja. Nanti biar aku dijemput Ayah Bunda ke rumahmu. Aku ganti dulu deh, trs aku yang nyetir."


"Serius kamu mau? Tau gitu dari tadi aja Yang kita berangkat. Sekalian langsung ke tempatku aja lah kalau tau gini. Ya udah yuk sekarang." Suara Kenzo jadi bersemangat.


"Cowoknya ya? Aku cowokmu ya sayang? Kok aku jadi seneng gini sih. Benerkan perkiraanku, alam bawah sadarmu itu udah nerima aku jadi pasanganmu Yang." Mata Kenzo berbinar, mendengar Andara yang tanpa sengaja mengucapkan kalimatnya.


"Eh kapan aku bilang gitu?" Andara pura-pura lupa.


"Besok-besok bakal aku rekam biar kamu gak lupa. Udah yuk, katanya mau nganter aku. Biar udah di rumah sebelum gelap. Aku kabari Bunda dulu ya, kamu pamit Kak Willy." Kenzo yang tahu Andara tidak akan mengaku hari ini, segera mengalihkan pembicaraannya.


Andara mengangguk dan segera masuk rumah untuk berganti pakaian dan pamit pada Willy. Kenzo pun segera memberi kabar pada Bunda Rania. Senyum hangat tak pernah lepas dari bibir lelaki itu. Hatinya berbunga-bunga mengetahui respon gadis pujaannya. Meski yang diinginkannya belum terwujud, namun hatinya telah yakin akan satu hal. Gadisnya, telah menerimanya. Entah berapa persen dirinya masuk dalam hati Andara, tapi Kenzo yakin, namanya telah terukir di hati gadis itu.


***


"Kenapa jadi kamu yang nyetir Ken?" Andara protes saat dirinya didudukkan di kursi penumpang.


"Aku sehat dan baik-baik aja. Jadi kamu cukup duduk tenang disana." Jawab Kenzo.


"Lha kalau udah sehat, kenapa tadi kamu mau waktu aku bilang mau anter kamu pulang?" Cerca Andara.


"Kan kamu yang nawarin, aku sih mau banget. Kirain selama ini kamu gak mau ikut aku, jadi pas kamu nawarin ya aku iyain aja." Jawab Kenzo sambil terkekeh.


"Ih ngambil kesempatan. Ini sih namanya gak nganter kamu Ken. Tapi pindah tempat nongkrong aja." Andara sewot.


"Gak papa Yang. Sekali-kali kamu makan malem di tempatku." Kenzo mengusap lembut rambut Andara.


Andara terdiam. Bingung dengan hatinya. Bingung dengan apa yang akan terjadi di rumah Kenzo. Ini pertama kalinya dirinya mendatangi rumah lelaki. Entah akan memperkenalkan diri sebagai apa nantinya jika keluarga Kenzo bertanya. Andara berusaha menenangkan dirinya.


"Yang, gak usah tegang. Kakek dan nenek suka sama kamu. Mereka juga sayang kamu." Ujar Kenzo seperti bisa membaca pikiran Andara.


"Hah? Kok bisa?" Sontak Andara terkejut mendengar perkataan Kenzo.


"Mereka mengenalmu Yang. Mereka sering ketemu sama Ayah dan Bunda, bahkan sebelum kita saling mengenal. Mereka tidak sadar, jika gadis yang aku sukai itu adalah kamu, yang merupakan anak Ayah Josh. Sampai beberapa saat lalu, waktu--" Kenzo menghentikan ucapannya, seakan dia keceplosan berbicara.


"Waktu apa Ken?" Andara menatap Kenzo.


Kenzo diam tak menjawab. Mencoba mengulur waktu dan mengalihkan pembicaraan.


"Ken? Waktu apa?" Tanya Andara lagi.


Kenzo menarik nafas panjang dan menjawab.


"Waktu Kakek tau aku berkelahi dengan Vano hingga babak belur." Kenzo akhirnya mengakui.


"APA?? KAPAN?" Andara berteriak kencang, tampak jelas raut wajahnya terkejut.


"Dulu, pas waktu dulu lah pokoknya." Kenzo malas menjelaskan.


"Kapan Ken?" Andara terus mendesak.


"Ya kamu inget-inget lah sayang. Hari di mana Vano pernah gak masuk sekolah, mungkin hari itu dia lagi bonyok mukanya." Kenzo menjawab santai.


"Astaga Ken. Terus kamu gimana? Gak kenapa-napa?" Andara balik bertanya. Ia enggan untuk mengingat kapan tepatnya Vano pernah tidak masuk sekolah. Gadis itu benar-benar sudah menutup hatinya untuk Vano.


"Eh, kamu nanyain aku? Bukan Vano?" Kenzo kebingungan.


"Emangnya kamu mau aku nanyain dia?" Andara enggan mengucapkan nama Vano.


Kenzo tersenyum mendengar jawaban Andara.


"Aku baik-baik aja selama kamu baik-baik aja sayang."


Entah apa yang ada di pikiran Andara. Gadis itu selalu merasa nyaman dan tenang saat bersama Kenzo. Namun, dalam hatinya masih ada ganjalan hingga dirinya enggan untuk membalas cinta Kenzo dengan gamblang.


"Ayo turun." Ucap Kenzo tiba-tiba.


Andara mengerjapkan matanya berkali-kali. Bingung karena ternyata dirinya sudah tiba di rumah Kenzo. Kepalanya melihat ke kiri dan kanan terus menerus.


"Kamu kebanyakan ngelamun Yang. Sampai gak sadar udah di rumah." Kenzo menjawab kebingungan Andara.


Andara pun mengikuti Kenzo masuk ke dalam rumah.


"Nenek, Kenzo pulang. Bawa cucu menantu nih Nek." Teriak Kenzo begitu kakinya masuk ke dalam rumah.


Andara memukul pelan lengan Kenzo sambil memelototinya. Seketika kepala Andara terangkat, menatap sosok wanita yang baru saja turun dari lantai dua rumah itu. Andara terperanjat. Nenek yang di maksud Kenzo bukanlah sosok tua renta yang ada di cerita-cerita anak. Tapi nenek yang ini meski memang usianya sudah tua namun wajahnya masih terlihat cantik dan menawan. Senyumnya ramah dengan lesung pipi yang menambah kecantikanya.


"Udah pulang Ken? Kenapa lagi wajahnya gitu?" Nenek memperhatikan wajah pucat Kenzo.


"Tadi kumat habis dari tempat Kakek. Terus latihan bentar dan pulangnya dianter cucu menantu nenek nih." Ujar Kenzo.


Andara yang mendengar itu hanya bisa menunduk malu sambil tangannya meremas tangan Kenzo yang masih menggandengnya.


"Jadi ini, cewek yang bikin cucu Nenek babak belur beberapa kali?" Ucap Nenek Kenzo sambil menatap Andara tajam.


Deg.. Deg.. Deg..


Astaga.. Kenapa jadi gini? Takut banget sumpah!! Pulang sekarang boleh kan ya? Andara semakin menunduk, tanpa berani menatap wajah Nenek.