NOVEMBER RAIN

NOVEMBER RAIN
Murid Baru



Sudah lewat satu minggu setelah ulang tahun ku, menjalani kehidupan yang seperti biasanya. Pagi ini ada kuliah Management, seperti biasa aku duduk di samping Evi. Tapi hari ini aku seperti memiliki firasat buruk.


*Dalam Kelas*


"Kamu kenapa Zar? Kaya orang yang lagi gelisah" tanya Evi yang dari tadi melihat gerak gerik Zara.


"Entahlah, pagi tadi aku bertemu kucing hitam, lalu saat ku ingin memegangnya dia malah mencakar ku. Sepertinya aku akan sial hari ini" jawab Zara.


"Hahahaha... Ada ada saja kamu. Kamu seperti nenek ku saja, dia selalu bilang jika kamu bertemu kucing hitam, kamu akan sial seharian" sambil menepuk punggung Zara.


"Aishhh... Semoga saja itu tidak benar" menghela nafas.


•Ramai di Luar Kelas•


"Wahh... Siapa itu?"


"Tampan sekali"


"Dia seperti pangeran"


"Wahh jadikan aku istrimu pangeran ku"


"Apa dia jodoh yang di kirim Tuhan untuk ku"


*Dalam Kelas*


"Pagi-pagi sudah ribut, ada apa si Evi?" keheranan.


"Ehh... Aku mana tau, kan dari tadi sama kamu"


"Hey, kamu, itu ada apa di depan" tanya Evi kepada seorang gadis yang akan keluar dari kelas.


"Ahh, itu katanya ada murid baru di kampus, dan dia sangat tampan, jadi aku ingin melihatnya"


"Ohh, baiklah, sana lihat"


"Zara, apa kita perlu melihatnya?"


"Tidak perlu, aku tau siapa dia, dan kamu juga tau siapa. Ahhh.... Aku benar-benar akan sial" sambil memundukan kepala karena tau siapa murid baru itu.


Tiba-tiba aku mendengar suara memanggil namaku. Suara yang sangat familiar, suara laki-laki bodoh yang dulu selalu menempel pada ku.


"Hai Zara" Sapa Nathan.


"What! Nathan" kaget.


"Oh, hai Evi" sapa Nathan.


"Zara, jadi dia murid barunya. Pantas kamu berkata akan sial" bisik Evi pada Zara.


"Wahh Zara kamu mengenalnya"


"Wah Zara kamu hebat bisa kenal lelaki tampan seperti dia"


(Hebat apanya, akh sungguh sial kali ini) ucap dalam hati Zara.


"Evi, apa boleh aku duduk di samping Zara? dari SMP sampai SMA aku selalu duduk di samping dia" tanya Nathan sembari memohon.


"Ehh, gimana ya" Evi kebingungan.


(Aihh Zara teman ku, tapi Nathan kan menyukai Zara)


"Ehh itu duduk di samping ku saja"


"Nathan Adi Prakasa, lebih baik kamu cari kursi lain, masih banyak lohh" ucap Zara dengan kesal.


"Ahh... Kamu terus saja seperti itu. Tapi tidak apa, aku tidak akan menyerah untuk duduk di dekatmu. Emm... Hei kamu gadis yang di belakang Zara, maukah kamu memberikan tempat duduk itu untuk ku? Jika kamu mau, aku akan memberikan Id Istagaram ku. Setuju!" sambil menunjuk ke arah gadis yang duduk di belakang Zara.


"Itu... Baiklah silahkan tampan" tiba tiba mimisan.


"Bukankan menyenangkan Zara, aku akan selalu di belakang mu. Selamanya" Sambil tertawa meledek.


"Nathan, awas kamu, aku masih kesal pada mu" kesal.


"Selamat pagi anak-anak, kita mulai pelajaran hari ini. Buka buku kalian halaman 120 kita bahas mengenai Management Operasional" ucap Dosen Management yang baru masuk kelas.


○Bunyi Bel○


"Baik anak-anak jangan lupa kerjakan tugas kalian dan kumpulkan di pertemuan berikutnya" ucap Dosen.


"Baik Bu" ucap seluruh murid.


"Zara, hari ini kita mau makan di mana? Kantin kampus atau mau di luar kampus?" tanya Evi.


"Emm... Itu" belum sempat selesai bicara sudah di potong oleh Nathan.


"Makan di luar aja yuk?" memotong kalimat Zara.


"Nathan, lebih baik kamu cari teman yang lain untuk makan siang" ketus.


"Zara, kamu dan Evi kan teman ku dari SMP"


"Hei kalian berdua kenapa si" tanya Evi yang kebingungan dengan dua sahabatnya.


"Aku si tidak ada apa-apa, tapi gadis cantik di depan ku ini selalu saja marah-marah" meledek.


"Sudah cukup. Kamu makan sendiri, aku makan sendiri, dan kamu Evi sana makan sama pacar kamu" sambil membanting buku ke meja dan keluar dari kelas.


"Ehh... Zara tunggu aku. Duluan ya Nathan" menyusul Zara yang sedang marah.


"Aishh... gadis itu masih saja seperti itu. Tapi tenang, kita masih punya banyak waktu untuk lebib dekat. Zara, aku benar-benar akan selalu berada di belakang mu" sambil bergumam.


●●●


*Kantin Kampus*


"Hei Zara, kenapa kamu kesal begini ke Nathan? Padahal pas ulang tahun kemarin kalian baik-baik saja, bahkan Nathan menjenguk mu saat sakit kemarin" tanya Evi yang kebingungan karena sikapnya.


"Nathan itu lohh... Dia aneh. Kenapa harus pindah ke sini, padahal hanya tinggal dua semester kita akan lulus" kesal.


"Sudahlah, kau ingat saat dia berangkat kuliah ke luar Negeri, bahkan setelah kamu mengantarnya ke bandara kamu nangis seharian di rumah" mengingat kejadian tiga tahun lalu.


"Hei, itu karena dia sahabat ku, sama sepertimu. Jika kamu kuliah ke luar Negeri aku juga akan menangis" jawab Zara.


"Emmm... Zara, apa kamu tidak memiliki perasaan apapun selain perasaan sahabat ke Nathan?"


"Tidak. Tidak sama sekali, Itu sangat konyol, mana mungkin aku menyukainya"


"Zara, apa kamu masih ingin menunggu kakak itu? Apa kamu menyukainya?"


Hening.....


Apa aku masih menunggunya? Iya, aku selalu menunggunya. Ada banyak pertanyaan di kepalaku, dan hanya dia yang bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu. Aku ingin bertemu dengannya untuk mendapatkan jawaban itu. Apa akh menyukainya? Mungkin Iya, aku menyukainya. jadi sampai saat itu terjadi aku hanya akan menunggunya.