
Tingtong... Tingtong...
Bel apartemen berbunyi saat aku baru selesai menyusun masakan yang telah selesai ku masak sejak setengah jam yang lalu.
Aku menatap pintu keluar dan pintu kamarku bergantian. Dari dalam kamar, sejak tadi Abang masih bertingkah aneh. Ia masih tetap melontarkan banyak kalimat yang sebenarnya sangat indah. Entah apa yang ada di otaknya, tapi aku yakin dia kesurupan.
Selama beberapa bulan aku mengenalnya, Bang Arka tidak pernah bertingkah seperti ini. Bagaimana bisa seorang Bang Arka yang biasanya bersikap tegas, angkuh dan kaku, kini menjelma menjadi sosok pujangga.
Aku belum pernah mendengar Bang Arka memiliki kegemaran pada karya sastra. Sumpah demi apapun, ini pertama kalinya aku mendengar Abang mengeluarkan kata-kata romantis tapi terdengar sangat mistis jika diucapkan olehnya. Apa Bang Arka kesurupan hantu mantan sastrawan?
Seketika aku mengingat kakak, jika kakak yang mengucapkannya, aku baru akan merasa terbuai. Sejak kecil, kakak memang pecinta karya sastra. Apa jangan-jangan, kakak... Ah tidak, tidak mungkin.
Aku langsung menepis pikiran konyolku. Kakak sudah tenang dalam tidur panjangnya.
Tingtong... Tingtong...
Suara bel yang berbunyi kembali menarik kesadaranku. Kakiku segera melangkah menuju pintu.
"Hei sang pemilik hati, pernahkah kamu menyadari? Bahwa cinta ini, sejak awal memang untuk kamu miliki."
Nah, benar kan? Suara Bang Arka kembali mengiringi langkah kakiku. Dengan bergegas aku membuka pintu.
"Ibu!" Aku langsung menghambur pada tubuh yang telah berdiri di depan pintu dengan wajah kebingungan.
"Ada apa sebenarnya Mikha?" Wanita paruh baya itu bertanya dengan suara bergetar.
Aku menggiring Ibu untuk masuk ke dalam apartemen. Samar masih terdengar teriakan Bang Arka dari dalam kamar.
"Mikhayla, kekasihku. Bagiku kamulah poros dunia. Kamulah sang surya. Dan kamulah yang mampu meruntuhkan ruang rindu di hatiku."
Bulu kudukku makin meremang, lenganku terus mengapit lengan Ibu.
"Apa yang kalian makan semalam?" Ibu bertanya dengan wajah yang sama bingungnya denganku.
"Mikhayla, kamu menggilas seluruh ruang hampa. Hatiku kini penuh oleh cinta. Kemarilah sayang, kita bagi canda tawa ini bersama." Suara Bang Arka masih terdengar nyaring.
"Pak Ali, kemarin kembali kesini lewat jalan mana?" Aku dan Ibu sontak menoleh saat mendengar suara bariton dari balik punggung kami.
Astaga, saking tegangnya aku tak menyadari jika Ayah pun ikut kemari. Kini Ayah terus berbincang dengan Pak Ali untuk mengorek informasi darinya.
Ceklek..
Pintu kamarku terbuka lebar. Menampilkan Bang Arka dalam balutan baju tidur dan rambut yang masih acak-acakan.
Hah, lelaki itu bahkan sangat tampan meski dalam keadaan seperti ini.
Wajahnya tampak tersenyum lebar dengan binar kebahagiaan yang jelas terpancar.
"Apa dia benar anak kita, sayang?" Ayah berbisik lirih pada Ibu.
Bang Arka berjalan mendekati kami. Reflek aku melangkah ke belakang dan bersembunyi di punggung Ibu. Entahlah, Bang Arka pagi ini sungguh membuatku takut. Apa dia sedang menjahili aku?
"Lho, Ayah? Ibu? Kenapa kalian kesini sepagi ini?" Tanya Bang Arka dengan wajah bingung.
Ya, Bang Arka baru menyadari kehadiran mertuaku yang sejak tadi tubuhnya terhalang pembatasan ruangan.
"Kamu siapa?" Ibu bertanya dengan sangat ketus.
Ku lihat wajah Bang Arka semakin bingung. Dahinya berkerut dan menatapku seolah meminta penjelasan.
Hening menyerang kami berempat. Astaga, ini momen yang sangat mendebarkan.
"Apa-apaan ini? Ibu ngomong apa sih?" Bang Arka balik bertanya.
"Mikha, kesinilah sayang." Suara lembut Bang Arka menyapaku.
"Eh, Kay dari sini aja Bang." Suaraku sudah mulai bergetar.
"Mikha!" Kali ini Bang Arka memasang wajah yang sangat ku kenal. Suara rendahnya pun sangat ku kenal baik sebagai petunjuk kemarahannya akan segera dimulai.
"Nah ini baru Arka kita." Ayah ikut menimpali.
Bang Arka tampak kebingungan. Ia menoleh dan menatap kami satu per satu.
"Ada apa ini?" Dahi Bang Arka semakin dalam kerutannya, "Mikha, ada apa?" Pandangan Bang Arka langsung menghunus ke arahku.
Jika seperti ini, aku yakin dia baik-baik saja. Dia tetap lelaki yang menikahi aku beberapa hari yang lalu.
"Abang tadi bukannya kesurupan?" Aku membalik pertanyaan untuknya.
"Mikhayla!" Mata Bang Arka sudah membulat sempurna.
Ah syukurlah. Abang baik-baik saja. Aku sudah memastikan dari teriakannya yang menggema dan dari sorot matanya yang siap mengulitiku.
Maafkan aku Bang. Aku belum terbiasa kamu rayu seperti itu.
***