
Air mataku mengalir seirama dengan tetesan hujan yang mengalun merdu di pekatnya malam. Basahnya lembaran sajadah di hadapanku tak menyurutkan posisiku. Aku terus memperdalam sujud ini seiring tangisku yang semakin mengeras. Bahuku semakin berguncang kala namamu kusebut dalam lantunan doa.
Sebuah nama yang tak pernah luput mengiringi setiap helaan napasku. Nama yang menjadikan sosok pemiliknya menjadi penyambung hidupku. Pengantar ragaku melihat warna-warni dunia.
Hatiku sesak kala pikiran ini merefleksikan kejadian senja itu. Hari dimana kau mengantarkan aku menuju masa depan yang belum jelas kulihat. Hari dimana napas baru kuhirup. Hari dimana kau menukar nyawamu untuk kehidupan bagiku.
Sungguh dadaku bergemuruh kala mendengar berbagai cerita tentangmu. Cerita betapa kau mencintaiku. Cerita tentang aku yang akan menjadi belahan jiwamu. Cerita sama yang selalu dilantunkan lelaki pemujamu selama 18 tahun hidupku. Cerita yang setiap malam mengiringi tidur lelapku.
Bibirku selalu bergetar setiap kali namamu kusebut. Bahkan ketika ada nama lain yang serupa denganmu, jiwaku selalu bergejolak. Aku selalu merasa kau ada di sekitarku. Mengawasiku dalam keheningan.
Hanya lembaran foto usang ini yang membuat otakku mengenalimu. Mengenali kecantikan dan keramahanmu. Membuat jiwaku meronta, ingin mengenalmu secara langsung. Sayangnya, aku hanya mampu mengenalmu melalui berbagai cerita indah dari pemujamu.
Biarlah doa ini yang menjadi penyambung sukmaku padamu. Biarlah air mata ini mengalir setiap kali namamu ku sebut. Ini sebagai bukti, betapa aku mencintaimu, betapa aku selalu menanti hari dimana kita bisa kembali bersua dalam kebahagiaan yang hakiki.
****
Pada dinding kamar yang menjadi saksi kebisuanmu sejak hari itu, kau selalu melantunkan simfoni yang terdengar merdu di telingaku. Simfoni tentang keresahan dan penyesalan.
Hari itu juga kisah kita dimulai. Aku dengan jas putihku, yang terus menyuntikkan cairan yang mampu meredakan jerit pilumu.
Dari dinding kamar itu pulalah, aku merasa mengenalmu hampir separuh perjalanan hidupku. Di dinding itulah, aku mendengar denting kesakitan yang kau pendam.
Entah apa yang membuatku mengistimewakanmu. Namun, melihatmu menitikkan air mata dalam keheningan, membuatku tak mampu menghalangi tanganku untuk merengkuhmu. Tak mampu menghalangi bahuku untuk kau sandari.
Terkadang, ada sedikit kebodohan yang tebesit di hatiku. Entah karena rasa iba atau sebuah alunan nada yang baru sekali ini menghinggapiku, sungguh aku ingin membawamu menjauhi rasa sakit ini.
Seperti pagi ini, aku mendadak menemukan jalan keluar yang seketika membuat jiwaku merutuki kebodohan logikaku, kala melihat jiwamu kembali tersesat dalam kegelapan tak berujung.
"Abang, lihat aku! Aku bisa menjadi apapun untukmu asal kau kembali menemukan pangkal jiwamu. Kau bahkan boleh menganggapku sebagai almarhum Viola, tunanganmu, asal kau kembali berjalan untuk masa depan," ujarku lirih dengan air mata yang terus mengalir.
Berhasil! Kau mengalihkan pandanganmu padaku dengan mata penuh harap.
"Viola?" tanyamu singkat.
"Aku Rosita, Bang. Tapi aku akan menjadi Viola jika kau menghendaki. Apapun itu, asal kau kembali," sahutku dengan bibir bergetar.
Bibir yang selama ini hanya bisa bergumam di depan dinding kamar, kini mulai tersenyum samar. Kebodohanku semakin merajai. Bahkan dewa batinku semakin berteriak nyalang merutuki ketidaksinkronan tubuh dan jiwaku.
Ah biarlah, mungkin dengan berada di sampingmu dan menjadi seseorang yang kau cinta, jiwamu bisa kembali. Jangan tanyakan masalah hatiku, karena semua sudah tertutup kebodohan. Bukankah cinta bisa datang karena terbiasa?
"Jangan tinggalkan aku lagi. Kau sudah berjanji menemaniku menatap senja di laut hari itu," kini kau yang berujar sambil merengkuh tubuhku.
"Aku janji akan mengantarmu menatap senja, Bang. Aku juga akan menemanimu menapaki masa depan." Dengan penuh keyakinan, aku membalas ucapannya.