
Papa dan Ayah berjalan berdampingan saat akan keluar dari restoran ini. Aku berjalan sambil memeluk Mikha dibelakang Kendrick.
"Tapi bagaimana dengan anak kita sayang? Dia butuh kamu, butuh perhatianmu! Dia anak kamu!" Adinda berteriak lantang yang langsung membuat perhatian dan langkah kami terhenti.
Oh tidak, bukan hanya kami, tapi sebagian besar orang di restoran ini menatap kami penuh minat dan menghentikan aktivitasnya.
****! Bolehkan aku mengeluarkan kata kotor padanya? Aku mengepalkan tangan dan langsung membalik badan. Dengan segera kakiku melangkah mendekati Adinda dan ibunya.
Namun entah bagaimana kini tubuhku malah banyak yang menyentuhnya. Sialan! Ada apa dengan mereka semua? Bahkan Mikha ikut menahan lenganku!
"Anak mana yang kamu maksud, hah? Aku bahkan tidak pernah menyentuhmu!" Aku tak bisa lagi menahan amarahku. Suaraku sudah naik beberapa oktaf.
"Abang." Mikha merengek sambil mengusap lenganku.
Maaf sayang, amarahku kali ini sangat sulit ku bendung.
"Bro, tempat umum nih, jangan menggila disini." Kendrick berujar dari belakangku sambil tangannya mencengkeram bahuku dengan erat.
Double sialan! Mereka sekongkol menahanku.
"Seharusnya dia tahu diri! Anak itu jelas bukan anakku. Dia bahkan sudah hamil saat menikah denganku! Dia pembohong!" Mulutku semakin kuat berteriak.
"Arka!" Papa dan Ayah kompak meneriakkan namaku dengan mata yang menatapku tajam.
Kenapa? Apa salahku? Aku membela diriku dan tentu saja istriku!
"Diamlah Arka! Jangan membuka aib apapun di tempat umum!" Papa melotot padaku.
Aku ingin tertawa tapi takut dicoret dari daftar menantu idaman. Mengingat status itu baru beberapa saat ini ku dapatkan. Bukankah Papa tadi juga telah membuka sedikit cerita lalunya? Lalu apa bedanya denganku?
"Jangan mengungkapkan penyebabnya Arka. Tutupi itu! Itu aib rumah tanggamu, jangan kamu umbar!" Cerca Ayah sambil menatapku, yang seakan tahu isi otakku.
Dan memang sepenuhnya benar. Mulutku yang biasanya tertutup rapat untuk masalah ini, entah kenapa saat ini dengan mudahnya terbuka.
Aku memilih diam dan memeluk Mikha. Aku butuh dia, butuh penenangku. Ku ciumi puncak kepalanya dengan rakus. Aku harus mendapatkan bau tubuhnya dengan segera agar amarahku sedikit mereda.
"Kita selesaikan ini di pengadilan. Sampai ketemu di pengadilan Adinda, Nyonya Febrina." Tanpa mengucapkan apapun, Ayah langsung memutuskan segala perdebatan ini.
Kami kembali melangkah keluar dari restoran tanpa mempedulikan lagi teriakan Adinda dan juga ibunya.
"Mikha akan ikut bersamaku Pa." Ucapku dengan segera saat kami tiba di parkiran.
"Dia istrimu, bawalah kemanapun kamu suka." Papa menjawab ucapanku.
"Jangan kamu tinggalkan dia. Dan jangan menyakitinya. Lebih baik biarkan Mikha bersama kami, akan kami antar Mikha menemui Mama dan Ibu saja." Ayah menyela ucapanku.
"Tidak, dia bersamaku." Aku bersikeras dan menarik tubuh Mikha untuk mengikutiku.
Tubuh Mikha menegang dan menahan lenganku yang menariknya.
"Abang kan harus mengajar. Jangan melupakan kewajibanmu, Bang." Mikha menolak ajakanku.
"Kamu juga harus ke kampus sayang dan setelah itu ikut aku." Ujarku dengan tegas tanpa ingin dibantah.
"Kelasku hampir selesai Bang. Kita ke kampus pun tetap aja Kay telat. Jadi, Kay mau ikut Papa aja." Astaga, dia bisa tersenyum pada situasi ini. Bolehkan ku nikmati mulut seksinya itu?
"Mikha--"
"Sudahlah, biarkan Mikha bersama kami. Itu lebih baik. Kamu kembalilah ke kampus. Tenangkan dulu hatimu dan redakan amarahmu," Ayah menyela omonganku, "Ken, bawa anak nakal ini bersamamu. Tenangkan dia. Jangan biarkan dia kembali bertingkah." Imbuhnya sambil menatap pada Kendrick.
Astaga! Mereka benar-benar bersekongkol untuk menjauhkanku dari istriku sendiri.
"Tapi--"
"Diamlah, jangan banyak membantah. Sana kembalilah ke kampus." Lagi-lagi Ayah menyelaku dan langsung membawa Mikha pergi.
Dengan nanar ku tatap Mikha yang patuh memasuki mobil bersama Ayah dan Papa. Aku hanya bisa menghela nafas pasrah. Bagaimana bisa aku membantah kedua Ayahku itu yang benar-benar...hah entahlah.
"Sabar bro. Ini yang terbaik. Ayo ku temani kamu kembali ke kampus. Tenang saja, masalah ini segera selesai." Ku tatap Kendrick yang sedang berbicara sambil menepuk ringan bahuku.
Tanpa menjawabnya aku segera memasuki mobil yang langsung diikuti olehnya.
"Aku yang menyetir." Ujar Kendrick yang langsung merebut kunci mobilku yang baru saja ku keluarkan.
Aku mengernyit dan menatapnya dengan sinis, "pakai mobilmu sendiri."
"Masuklah, atau ku tinggalkan kamu disini."
"Bagaimana mobilmu Ken? Bawa saja sana mobilmu. Jangan menggangguku."
"Otakmu yang terganggu! Mana tega aku membiarkan orang dengan gangguan pemikiran sepertimu mengendarai mobil sendirian."
Aku mengumpat dengan seluruh kata kotor yang ku ketahui tepat diwajah Kendrick. Tapi lelaki itu hanya terkekeh mendengarnya. Dengan geram ku tendang kakinya dan segera masuk ke kursi penumpang.
"Woi sialan! Aku sedang membantumu dan kamu malah menendangku!" Ujar Kendrick dengan berapi-api.
Kami menuju kampus dalam diam. Aku tahu, dia pasti akan menjemput Winda. Siang ini aku akan menyelesaikan dulu tugas mengajarku. Baru aku akan memberikan pelajaran untuk orang-orang yang telah mengusik ketenanganku. Lihat saja, mereka akan merasakan bagaimana kemarahan seorang Arka. Cih!
"Apa kamu serius berhubungan dengan Winda?" Tanyaku sesaat sebelum aku keluar dari mobilku yang dikendarai Kendrick.
"Sangat serius! Bahkan aku tak pernah menyentuhnya lebih dari mencium keningnya." Kendrick terkekeh.
"Hah, entah kenapa kita terlihat sangat mirip satu sama lain."
"Apa kamu juga seperti itu, Ka?"
"Mikha masih perawan hingga saat ini." Ucapanku ini menyulut tawa menggelegar dari Kendrick.
Ku lirik sekilas Kendrick yang tampaknya tak ada keinginan menghentikan tawanya.
"Diamlah Ken!"
"Kamu sangat konsisten dan kuat, Ka. Aku salut!" Kendrick masih terbahak.
"Hah, diamlah Ken! Aku masuk dulu. Aku harus mengajar kelas adikmu! Kemarikan kuncinya! Kamu pulanglah dengan menggunakan taksi." Aku merebut kunci mobilku dengan segera.
"Baiklah. Baiklah. Tak perlu malu, Ka." Kendrick segera keluar sambil terus tertawa.
Tanpa mempedulikan Kendrick akan kembali ke perusahaannya dengan menggunakan apa, aku terus saja berjalan meninggalkannya. Tapi aku yakin, orang suruhan Kendrick pasti sudah dalam perjalanan mengantar mobilnya yang tadi ditinggal di restoran.
Segera aku melangkah memasuki kelas terakhirku hari ini. Setelah dari sini aku akan memberi pelajaran yang lainnya. Lihat saja.
***
Aku segera melangkah memasuki mobilku setelah selesai mengajar sore ini. Hari hampir gelap saat kelas terakhirku selesai.
Ku arahkan mobilku menuju jalanan yang ku hafal dengan baik. Jalanan yang menuju ke rumah mantan mertuaku. Aku yakin, Adinda ada disana.
Tak butuh waktu lama sampai mobilku memasuki halaman rumah itu, rumah yang dulunya sempat membuatku rindu untuk bertamu.
Segera ku bunyikan bel yang ada di pintu itu dan tak butuh waktu lama hingga seorang pelayan di rumah itu membukakan pintu.
"Papa ada?" Tanyaku segera.
Ah sial, kenapa aku masih memanggilnya dengan sebutan itu? Tapi lelaki mantan mertuaku itu, dia lebih bijaksana dari istrinya, jadi biarlah aku memanggilnya seperti itu.
"Ada Den Arka, sepertinya masih mandi, baru saja datang. Silakan masuk dulu." Pelayan itu berkata dengan ramah.
Aku menurutinya dan mendudukkan tubuhku di ruang tamu.
"Tidak langsung masuk ke dalam saja Den? Atau mau makan dulu sambil nunggu Bapak?" Pelayan itu menatapku penuh tanya saat aku malah dengan santainya duduk di ruang tamu.
Sebuah kebiasaan yang membuat pelayan itu terkejut. Ya, aku biasanya langsung melenggang masuk ke dalam rumah. Itu dulu, saaf statusku masih menantu di rumah ini. Saat ini semua beda dan pelayan disini, aku yakin tak ada yang mengetahuinya.
"Saya disini aja, Bi." Jawabku pada wanita yang tak lagi muda itu.
"Dinda ke mana Bi?" Tanyaku ketika pelayan tadi mulai membalikkan badan.
Ia kembali menatapku dan menjawab, "belum pulang sejak tadi siang Den."
Alisku bertaut. Astaga, kemana saja mereka belum pulang hingga larut begini. Ah masa bodoh dengannya!
Kini pelayan itu meninggalkanku sendiri di ruang tamu. Aku menatap rumah itu. Tak ada lagi debaran di jantungku saat menjejakkan kaki disini. Dulu sekali, aku gugup saat akan masuk rumah ini. Bahkan melihatnya dari luar saja keringat dinginku sudah menetes.
"Sudah lama menunggu, nak?" Papa Adinda menyapaku sambil berjalan mendekat dari arah dalam rumah.
Aku berdiri dan menyambut uluran tangannya.
"Baru sebentar Pa."
Kami saling berdiam diri beberapa menit sampai suara Papa memecahkan keheningan yang ada.
"Sepertinya ada yang mau kamu omongkan, Ka. Ada apa?"
Mendengar Papa yang tak lagi berbasa basi, aku pun tanpa sungkan langsung menceritakan semua kejadian siang tadi. Semuanya! Tanpa terkecuali. Termasuk masa lalu istrinya. Biarkan saja Papa Adinda tahu, dia berhak atas semua itu. Lagi pula, aku mengatakan ini semua agar lelaki yang ada di hadapanku ini bisa menjaga dan mengontrol pergerakan anak istrinya.
Tampak jelas rasa terkejut di wajahnya. Mungkin lelaki ini tak pernah berpikir jika istrinya akan melakukan tindakan sekeji itu. Tindakan yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.
"Jadi seperti itu. Pacarmu sekarang adalah saudara tiri Adinda dan anak kandung istriku?" Tanya Papa Adinda dengan suara yang lemas.
Oh ****, aku lupa mengatakan statusku saat ini.
"Dia bukan pacarku, Pa. Dia istriku. Kami menikah beberapa minggu lalu di negara S." Ralatku.
Mata laki-laki itu langsung terbuka lebar, "istrimu?"
Suaranya jelas menunjukkan keterkejutan. Aku menganggul sebagai jawaban.
"Ah baiklah. Papa mengerti. Maafkan tingkah laku Adinda dan Mamanya ya." Ucapnya dengan penuh sesal.