
"Sayang, aku ingin bicara denganmu." Pagi itu Vano dengan tiba-tiba sudah ada di belakang Andara ketika Andara baru saja memasuki kelasnya.
Andara yang tidak siap dengan panggilan Vano yang tiba-tiba menjadi sangat terkejut dan gugup.
"Gak ada lagi yang perlu kita bicarakan, Vano. Aku sudah tau semuanya." Andara berlalu menuju mejanya.
"Sayang, izinkan aku menjelaskan semuanya." Vano terus membuntuti Andara dan ikut duduk di samping Andara.
"Aku udah gak mungkin lagi untuk pindah tempat duduk, jadi aku mohon kerjasamanya untuk kedepannya. Tinggal sebulan lagi kita ujian, tolong jangan menggangguku dan memecah konsentrasiku." Andara berkata dengan ketus.
"Dara, sayang. Semua itu gak seperti yang kamu kira sayang, aku juga terpaksa." Vano masih terus berusaha menjelaskan dengan gigih.
"Bagian mana yang gak sesuai perkiraanku, Van? Apa bagian yang kamu telah membohongi aku karena menutupi pertunanganmu?" Jawab Andara dengan sinis.
"Itu bukan kemauanku sayang. Percaya padaku. Aku sayang kamu, cantik." Ujar Vano.
"Jangan panggil aku cantik, aku udah jijik mendengarmu memanggilku cantik. Panggilan itu milik Vanya, bukan milikku." Andara sedikit berteriak, sambil menahan air matanya agar tidak mengalir.
Vano tampak terdiam. Bingung harus menjawab apa. Semua yang dikatakan Andara benar adanya.
"Vano, sedari awal, cinta itu bukan untukku, hatimu bukan untukmu. Jadi, terima kasih untuk waktu yang sudah kamu berikan padaku selama ini. Terima kasih sudah memberi ku kesempatan untuk bersamamu dan mengenal seorang Alvano Pradana. Sekarang kita tempuh jalan kita sendiri." Andara mengungkapkan semua yang ingin dia katakan selama ini. Andara menutup celah untuk Vano berbicara agar hatinya tidak goyah.
"Apa yang udah Kenzo ceritakan padamu, cantik?" Vano berbicara dengan nada yang ditekan. Menuntut untuk mendapat jawaban.
Andara bergeming. Menatap tajam mata Vano. Mencoba memilih kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Vano. Kata yang dapat membungkam pertanyaan Vano.
"Pertama, jangan panggil aku cantik. Dan kedua, Kenzo--"
"Dara!!" Panggilan dari Karla sontak menginterupsi kalimat Andara.
Dengan serempak Andara dan Vano menoleh ke arah Karla yang masih berada di ambang pintu.
"Heh, ngapain kamu dekat-dekat Dara lagi?" Karla bertanya dengan nada kasar, begitu ia tiba dihadapan Vano.
"Karla, ini urusanku dengan Dara. Tolong beri kami kesempatan menyelesaikan urusan kami." Vano menjawab.
"Heh, urusan Dara jadi urusan kami sekarang. Kamu ga ada urusan apapun dengannya mulai sekarang." Amel ikut menimpali.
"Kalian bodyguard Dara?" Vano berkata sambil tersenyum dengan memiringkan sebelah mulutnya, terlihat jelas sedang mengejek Karla dan Amel.
"Udah, jangan bicara dengannya lagi. Urusan kita dengannya udah selesai. Kalian duduklah, bentar lagi masuk. Fokus aja sama ujian kita." Andara mencoba menengahi pembicaraan.
"Cantik, beri aku kesempatan menjelaskan. Ku mohon." Vano terus memohon pada Andara.
"Cih, cantik? Gak salah manggil tuh? Bukannya itu panggilan sayang untuk gadis di sebelah sana tuh. Vano mulutmu manis kalau ada maunya. Gak inget kemarin ngomong apa waktu berdampingan sama si Vanya?" Karla tegas menyindir Vano.
"Kau!!" Mata Vano melotot sambil menunjuk tepat di wajah Karla. Wajahnya merah karena amarah.
"Hahahaha.." Seketika Andara tertawa terbahak-bahak. Membuat seluruh mata melihat ke arahnya.
"Dara, kamu kenapa?" Amel menggoyang lengan Andara.
"Lihat Amel. Sekarang tampak jelas wajah asli lelaki pembohong ini. Sifat aslinya langsung keluar ya. Kasar!" Andara menatap sinis pada Vano dengan bibirnya menyunggingkan senyum meremehkan.
"Cantik, apa maksudmu?" Vano masih mencerna kata-kata Andara.
"Sekarang, duduklah teman. Guru akan segera masuk. Dan tolong kerjasamanya sampai ujian akhir nanti." Andara menutup perdebatan mereka.
Amel dan Karla menatap heran pada Andara. Dengan tenang Andara duduk dan mengeluarkan bukunya. Dia diam sampai guru datang mengajar.
Hari itu pun dilalui Andara dengan banyak berdiam diri. Segala rengekan Vano maupun permintaan maafnya tidak lagi ia dengarkan. Andara mencoba untuk meneguhkan hatinya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, cukup malam itu saja dia melihat dan merasakan sendiri bagaimana khawatirnya orang-orang di sekitarnya yang ikut terluka karena dirinya dan Vano.
Andara benar-benar berusaha menutup hatinya untuk Vano. Bukan karena dia ingin bersama Kenzo tapi lebih ingin melindungi hati orang-orang terkasih.
***
Tengnong.. Tengnong.. Tengnong..
Bel tanda berakhirnya jam sekolah sudah berbunyi. Bergegas Andara membereskan peralatan dan juga bukunya, kemudian digendongnya tas merah kesayangannya.
"Karla, Amel yuk kita beli cilok dulu." Ajak Andara sambil berlalu pergi.
Mata Vano lekat mengawasi tiap langkah Andara hingga gadis itu menghilang di balik pintu.
"Karla, tunggu. Maafkan aku atas tingkahku tadi." Vano menarik lengan Karla, menahannya untuk tidak menjauh darinya.
Karla diam, hanya melirik lengannya yang di cengkeram Vano.
"Tolong, bantu aku agar aku punya kesempatan berbicara dengan Dara. Ku mohon." Vano terus berbicara.
"Udahlah Vano. Gak usah bahas masalah itu lagi. Apa yang mau kamu sampaikan? Kenzo udah menyampaikannya semua." Karla menjawab dengan sinis.
"Apa yang disampaikan Kenzo?" Vano berusaha mencari tahu.
"Semua yang Kenzo tau, dia udah menyampaikannya semua." Karla mulai jengah.
"Bagian mana yang kamu bilang semua itu Karla? Aku bisa menjelaskan semuanya dengan sejelas-jelasnya." Vano masih berusaha menahan Karla.
"Kami semua udah sangat jelas dengan kondisi ini Vano. Cukup, kamu gak perlu menjelaskan lagi. Kamu ingin tau Kenzo menjelaskan apa? Semua di mulai dari persahabatan kalian jaman kecil, menghilangnya cinta pertamamu beserta keluarganya, sampai kejadian tempo hari. Mana yang menurutmu bisa kamu bantah? Huh?!!" Karla sudah mulai kehabisan kesabaran.
Vano bergeming. Tatapan matanya kosong. Pikirannya mengembara entah ke mana. Yang ada di benaknya hanya kilasan senyum Andara saat bersamanya. Kini Vano tahu, tak ada lagi kesempatan untuknya. Namun, Vano tak ingin menyerah. Rasa cintanya mulai mengalahkan logika.
"Kami? Maksudnya apa Karla?" Vano hanya mampu bertanya itu.
"Kami adalah aku, Amel, Ayah Josh dan Bunda Rania. Termasuk kak Willy." Dengan enteng Karla menjawab.
Diluar dugaan, jawaban Karla langsung membuat Vano terduduk. Ia melepaskan tangannya yang mencengkeram lengan Karla. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Karla, aku sungguh mencintai Andara." Vano berbisik lirih. Menatap meja kosong di sampingnya, yang menjadi tempat Andara duduk selama ini.
"Udah Vano, jangan menambah luka lagi. Cukup sampai disini. Lepaskan Dara, agar di hatimu tidak ada lagi beban."
"Aku mencintainya dengan sungguh-sungguh, bagaimana mungkin aku bisa melepaskannya, Karla?" Suara Vani bergetar hebat. Tampak jelas lelaki itu mencoba menahan tangisnya.
"Van--"
"Karla, cepat! Dara!"
Suara Amel dari ambang pintu mengagetkan Karla. Menginterupsi pembicaraan Karla dan Vano.