NOVEMBER RAIN

NOVEMBER RAIN
BAHAGIA DALAM KESAKITAN



"Hmm.. Sepertinya kita tidak bisa kesana," Vano memandangi tubuh Andara dari atas ke bawah. Ia baru sadar bahwa kekasihnya memakai wedges dan mini dress.


Andara mengernyitkan alisnya bingung. Terus ngapain tadi ngajak aku ke sini kalau gak bisa ke Danau itu. Batin Andara.


"Dengan penampilanmu yang kayak gini, aku jamin kamu sampai Danau dalam keadaan terpeleset atau terkilir," Vano senyum simpul, seperti mengetahui yang ada dipikiran Andara.


"Terus gimana dong?" Suara Andara memancarkan kekecewaan.


Tiba-tiba Vano membuka bagasi mobilnya dan mengambil sesuatu.


"Aku gak punya sepatu yang sesuai ukuranmu di mobilku, hanya ada ini, sepatu gantiku. Ini lebih baik daripada memakai wedgesmu," Ujar Vano sambil menyerahkan sepatu sneakersnya.


"Tapi ini kebesaran banget sayang," Jawab Andara enggan.


"Setidaknya ini gak bikin kamu terkilir. Paling cuma kepeleset," Ujar Vano sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Iih jahat!! Gak mau kalau gitu ah, masih kepeleset juga kan ujung-ujungnya," Andara sewot.


"Ya udah, berarti kita gak bisa ke Danau itu. Aku gak mungkin membawamu ke sana dengan tampilan seperti ini," Vano berkata sambil menunjuk pakaian Andara.


"Tapi kan--," Kata-kata Andara terputus.


"Aku gak akan membiarkan kamu terluka cantik. Aku akan menjagamu, selalu. Aku janji," Vano menyela perkataan Andara.


Andara tertegun mendengar kata-kata Vano. Hatinya hangat. "Baiklah, aku akan menggunakan sepatumu sayang."


Sambil duduk di kursi belakang, Andara melepas wedgesnya dan menghadap Vano yang ada di luar mobil. Saat akan meraih sepatu Vano, tiba-tiba Vano membungkuk. Ia memasangkan sneakersnya pada kaki Andara.


Wooiii jantung, santai dong, sabar woi.. Astaga Gusti.. Batin Andara sambil mengelus dadanya. Wajahnya kembali memerah.


Tinggal sepatu sebelah kiri yang belum terikat talinya, namun tiba-tiba telepon Vano berdering.


"Aku bisa sayang, kamu angkat teleponmu dulu, siapa tahu penting." Ujar Andara mengambil tali sepatunya.


"Baiklah kalau begitu. Sebentar ya cantik." Jawab Vano sambil mengambil handphone dari saku jaketnya dan berdiri. Lalu ia menjauh dari Andara begitu melihat nama yang tertera di layar handphonenya.


Sambil mengikat tali sepatunya, Andara memperhatikan Vano.


Sapa yang telepon ya? Kenapa jawabnya singkat-singkat sih. Apa kakaknya yang tadi menelepon? Apa hubungannya dengan kakaknya tidak baik ya? Dan anehnya kenapa menjauh dari aku ya kalau sekedar mengangkat telepon?. Banyak pertanyaan di benak Andara.


Vano terlihat mendekat kembali ke arah Andara. Sambil berjalan ia masih memandang handphonenya. Tiba-tiba ia menghentikan kakinya. Dahinya berkerut.


"Berengsek!!" Umpat Vano lirih. Namun ternyata masih terdengar Andara.


Andara terkejut. Tidak biasanya Vano mengeluarkan kata umpatan, jika tidak ada yang benar-benar mengganggunya. Ia langsung berdiri menghampiri Vano. "Ada apa sayang?"


Vano tidak menjawab. Ia sibuk mengutak-atik handphone di tangannya.


"Eh apa? Ah iya gak ada apa-apa kok cantik. Uda selesai ganti sepatunya?" Vano menjawab dengan gugup.


"Udah dari tadi sayang. Siapa yang telepon tadi?" Tanya Andara dengan tatapan memaksa.


"Pihak bank, telepon terus-terusan nawarin kartu kredit, gangguin orang kencan aja." Ucap Vano.


"Haduh sayang, udah gak usah diladenin. Diemin aja." Andara memutar bola matanya.


Dengan tertawa Vano memeluk Andara erat dan berbisik, "Iya cantik. Udah siap menjelajah?". Kemudian ditatapnya mata Andara lekat. Maaf cantik. Batin Vano.


"Berangkat!!" Teriak Andara sambil mengepalkan tangan ke atas. Vano pun tertawa. Ia menggandeng tangan Andara dan menuntunnya melewati jalan tanah dan berbatu menuju Danau Biru.


**


Tuuut.. Tuuutt..


Pada dering keempat, baru terdengar suara.


"Hmm.."


"Kak Vano, kakak lagi di mana?"


"Hmm.."


"Kakak bersama gadis itu kan?"


"Hmm.."


"Kak, tolong berhati-hatilah!! Aku menerima fotomu di bandara tadi pagi, kak Rizal yang mengirim."


"Hmm.."


"Dia mengirim fotonya kepadamu juga. Tapi belum kamu buka. Kak Rizal memintaku memberitahumu."


"Hmm.."


"Kak, sampai kapan seperti ini?"


"Gak tau"


"Akhirnya kamu mau berbicara. Kak aku--"


Tuuutt.. Tuuutt.. Suara panggilan telepon ditutup..


"Huh, kak Vano, sampai kapan kita seperti ini?" Desah gadis itu memandang layar handphonenya yang gelap karena panggilannya diputus sepihak.