NOVEMBER RAIN

NOVEMBER RAIN
MENDATANGI KALIAN



Aku segera melangkah menuju laboratorium setelah mobil Bang Arka tak tampak lagi. Dengan senyum kemenangan, kakiku terasa sangat ringan untuk digerakkan.


Yes! Aku mampu meruntuhkan keegoisan suamiku itu. Dan aku, tentu saja tahu senjata ampuh untuk melumpuhkannya. Tawaku benar-benar ingin meloloskan diri dari mulut saat otakku kembali menampilkan kilasan perjanjian kami malam itu.


Bang Arka dan sekumpulan egonya. Hahaha.. Tapi tetap saja, lelaki yang kini menjadi suamiku itu tetaplah seorang lelaki yang tak mampu menahan hasratnya.


Ya, Bang Arka dan hasrat kelelakiannya, selain membuatku melayang namun itu juga memberiku satu keuntungan besar. Aku mulai bisa bernegosiasi dengan Abang dan itu menggunakan kelemahan Bang Arka.


Eh, itu kelemahan atau kelebihannya ya? Entahlah, yang jelas, itu menguntungkan kami berdua dan tentu saja, aku lebih diuntungkan.


Ku buka pintu laboratorium dengan senyum yang sejak tadi belum juga surut dari bibirku.


"Napa kamu senyum-senyum sendiri, Kay?" Aku terlonjak saat mendengar suara yang menyapaku dari belakang tubuhku.


"Astaga!" Aku mengusap dadaku yang berdebar dengan kencang, "kaget tau!" Suaraku sudah meninggi saking terkejutnya.


Dan wanita di depanku justru terbahak-bahak melihatku. Eh tunggu, kok dia disini sih?


"Kok--" Aku menjeda ucapanku sambil memikirkan kemungkinan yang terjadi, "kamu bisa disini sih?" Imbuhku.


"Emangnya kenapa? Aku gak boleh kesini gitu? Kan ini jurusanku juga. Emang kalau aku gak di sini, kamu mau ngapain Kay? Mau iya-iya sama kak Al? Inget suami Kay. Aku laporin kamu ke Abang." Astaga! Mulut gadis ini benar-benar minta ditabok. Dia mencercaku tanpa henti sampai aku tak sanggup membalasnya.


"Idiiihh, aku di sini juga atas seizin tuh orang. Dia yang nganterin juga kok," Jawabku setelah bisa mengumpulkan kembali kesadaranku, "beneran deh Win, kamu kenapa bisa sampai sini sih? Kan aku belum jemput kamu? Kita kan udah janjian mau nyoba gaun buat resepsiku. Kamu gak lupa kan?" Aku yang kini mencerca gadis itu, Winda, sabahat baikku. Yang entah sejak kapan sudah berada di laboratorium.


"Iya, aku gak lupa. Cuma lagi suntuk aja di kos sendirian." Jawab Winda.


"Gitu tuh kalau lagi galau." Ada suara bariton yang menyela perbincanganku dan Winda.


Sontak kami menoleh pada sumber suara yang baru saja keluar dari ruang yang digunakan untuk sterilisasi media tumbuhnya mikroba.


"Kak Al." Sapaku dengan tersenyum pada lelaki berjas putih, yang kini semakin mendekati kami.


Aldrich membalas senyumku dan mengusap puncak kepalaku sebagai balasan.


"Belum bisa dihubungi juga?" Aldrich melemparkan pandangan pada Winda, aku mengikuti arah pandangannya.


Kepala Winda menggeleng saat pertanyaan Aldrich selesai terucap. Ada apa lagi sih ini?


"Kenapa?" Tanyaku dengan berbisik pada Aldrich.


Aldrich menarik sudut bibirnya dengan mimik wajah yang lucu.


"Dari semalam kekasihnya gak bisa dihubungi, gak tahu kemana. Tadi pagi kakak jemput aja dia di kosnya, kakak ajak bantuin analisa disini, lumayan dapet tenaga gratisan. Kasihan, kakak takut dia depresi mikirin pacarnya yang tiba-tiba hilang." Aldrich menjawab dengan berbisik juga.


Tapi dasar Aldrich, bisikannya sengaja dibuat dengan suara yang bahkan dari seberang pintu pun masih terdengar.


"Aku dengar ya Kak!" Nah benarkan? Si obyek yang dibicarakan mulai protes.


Aldrich terbahak-bahak mendengar suara Winda yang terdengar sangat jengkel.


"Pacar Winda kan kakak kandungmu, kak Al? Emangnya kakak gak tau kemana kak Ken?" Aku ikut gemas melihat tingkah Aldrich.


"Kan udah pernah kakak bilang, meski darah kami sama, tapi Bang Arka jauh lebih mengenal dekat Kak Ken." Aldrich membela diri.


"Ya tolonglah kak, kamu bantu Winda hubungi nomor kak Ken." Aku semakin gemas.


"Yeee, emangnya dari tadi aku ngapain aja? Udah ku hubungi tapi tetap gak bisa. Ku tanya asistennya, dia bilang kak Ken belum datang ke kantor." Sergah Aldrich.


Aku manggut-manggut, berusaha mengerti situasi ini. Kemana lagi si Kendrick itu? Apa aku menghubungi Bang Arka saja ya untuk menanyakan keberadaan Kendrick?


Tapi jika itu ku lakukan, Abang pasti sewot padaku. Si pencemburu itu kan tak mengizinkan aku menyebut nama lelaki lain selain dirinya. Cih, posesif!


"Ya udah deh, daripada kamu mikir yang aneh-aneh, ikut aku aja yuk Win." Ajakku pada Winda.


Kini giliran dua pasang mata yang ada di ruangan itu menatapku penuh tanya.


"Kamu baru datang, belum bantuin apapun di laboratorium, sekarang langsung main cabut aja. Mana kontribusimu untuk penelitian ini Kay?" Aldrich mulai protesnya.


"Kak Al tenang aja, masih ada hari esok. Karena bantuanku akan ku mulai dari esok." Aku terkekeh saat mengucapkannya.


Aldrich membulatkan matanya sambil menggeleng-geleng.


"Emangnya Kak Al gak kasihan sama kakak iparnya. Tuh lihat, mukanya aja udah sepet banget dilihat. Bentar lagi udah kayak kertas kusut tuh. Gak lama setelah itu, mak byuuurr, air matanya mulai menetes tanpa bisa dibendung." Aku mulai berpidato.


"Enak aja!" Si korban mencoba protes, tapi tetap tak ada gairah dalam suaranya.


Kemana lagi si Kendrick ini? Mendadak aku ikut merasa kesal.


"Haduuuhh.. Ya udah deh, sana pergi. Tapi inget Kay, besok bantuin." Aldrich akhirnya mengalah. Entah karena alasan apa. Mungkin dia ikut kesal dengan kelakuan kakaknya, atau bisa jadi dia bosan mendengar ocehanku.


"Nah gitu dong. Sekarang mana kuncinya?" Lagakku sudah mirip preman yang minta setoran.


"Kunci apaan?"


"Kunci mobil kakak lah."


"Hah?" Aldrich terkejut dengan ucapanku.


Aku terkekeh, "Kay tadi dianter Abang. Masa iya kita mau jalan tapi gak ada kendaraan. Ini juga demi kakak iparmu lho Kak Al." Aku mencoba merayu Aldrich.


Aldrich mendesah sebelum akhirnya menyerahkan kunci mobilnya sambil berujar, "sial banget nasibku, udah ditinggal tambatan hati, eh masih juga direpotin urusan percintaan kakak kandung dan sahabat si pemilik hati."


Aku meringis mendengar ucapan Aldrich. Otakku membeku dan tak mampu memikirkan apapun saat ini.


"Yee curhat. Udah ah, yuk berangkat Kay." Sela Winda sambil menarikku keluar dari laboratorium.


"Bye Kak Al, kita pinjem dulu mobilnya ya. Baik-baik di lab ya. Kalau ada yang nyolek-nyolek, jangan panggil kami ya." Ujarku sambil melambaikan tangan pada Aldrich.


Aldrich tertawa mendengar ucapanku dan balas melambai padaku.


"Kalau sempat nanti kakak susul." Teriak Aldrich bertepatan dengan pintu laboratorium yang hampir menutup sempurna. Aku berlagak tak mendengarnya saat memutuskan tak membalas ucapan itu.


Jangan nyusul deh kak, ampun deh kalau sampai Bang Arka tahu. Bisa habis aku ditangan Abang.


***


"Mau duduk di mana Win?" Tanyaku setelah kami sampai di sebuah mall.


Kami masih terus berjalan sambil melihat entah apapun yang tersaji di depan kami. Hari belum terlalu siang, mall baru saja dibuka, jadi pengunjung belum terlalu ramai.


"Sana aja yuk Kay, sambil ngopi. Kayaknya aku butuh banyak kafein deh." Winda menarik lenganku menuju sebuah kedai kopi masa kini.


Aku mengikuti Winda dalam diam, meliriknya perlahan untuk mengamati raut wajahnya. Gadis ini lebih pendiam dari biasanya. Masalah Kendrick pasti sangat mengganggunya. Dia sudah terjatuh terlalu dalam saat ini, mencintai Kendrick dengan sepenuh hati.


Apa aku katakan saja sejujurnya? Aku sungguh tak tega melihatnya seperti ini. Tapi kemana juga si Kendrick, kok sampai tidak bisa dihubungi?


"Kay, tolong pesenin dong. Kopi pahit tanpa gula. Makin pahit makin nikmat. Biar hidup tuh gak cuma ngerasain yang manis-manis terus, tar diabet!" Ujar Winda saat kami sudah duduk di dalam kafe.


Aku segera memanggil pelayan kafe itu dan memesan kopi dengan beberapa camilan.


"Ada apa sih sebenarnya Win?" Aku mencoba mengulik cerita dari versi Winda.


"Kendrick ngilang dari sore kemarin. Tau deh kemana. Lagi sama cewek lain kali." Jawab Winda dengan senyum masamnya.


Ingin ku tarik bibirnya saat dia memaksakan senyum padahal hatinya menjerit pilu, sungguh mengenaskan sekali wajahnya. Aku sungguh tak tega.


"Awalnya gimana sih Win?" Aku mencoba bertanya dengan sabar.


"Tau deh Kay." Sahut Winda dengan acuh, kepalanya segera ditundukkan di atas meja.


Astaga, dia benar-benar terluka. Aku segera berpindah untuk duduk di sampingnya. Ku usap punggungnya untuk sekedar memberinya kekuatan. Ingin ku bocorkan segara skenario yang sudah ku susun rapi bersama Bang Arka dan Kendrick, tapi ku urungkan mengingat Kendrick terlihat sangat antusias.


Tapi, apa Kendrick harus seperti ini? Menjauhi Winda dan tak memberinya kabar sama sekali.


"Rasanya sakit banget ya Kay. Sesak banget ni dada. Kayaknya aku butuh menenangkan diri deh Kay. Apa aku pulang aja ya?" Ujar Winda lirih dengan wajah yang masih tertelungkup.


Mataku mendadak membesar saat mendengar ucapan gadis itu. Gila!! Ini tidak bisa dibiarkan. Bagaimana ceritanya jika pengiring pengantinku pulang ke rumahnya? Dimana rumahnya ada di kota yang berbeda.


"Yang benar aja Win. Siapa yang jadi pengiringku nanti? Udah tinggal lusa nih resepsiku. Jangan pulang dong Win, please." Aku memeluk gadis itu dan mencoba merayunya. Bisa bubar jalan nih acara kalau dia benar-benar pulang ke rumahnya.


Winda mengangkat kepalanya, ada bekas tetesan air mata di pipinya. Hah, dia terluka. Kendrick sialan! Kemana lelaki itu? Beraninya menyakiti sahabatku!


"Apa aku kuat bertemu kak Ken di resepsimu Kay? Apa yang harus aku lalukan nanti? Sikapnya berubah akhir-akhir ini dan sejak kemarin tak bisa ku hubungi. Apa yang bisa ku pikirkan selain dia mulai menghindariku, Kay?" Winda menumpahkan isi hatinya.


Aku meringis dan segera ku bawa dia pada pelukanku.


"Aku tanya Abang dulu ya, kemana kak Ken." Aku segera memutuskan untuk menelepon Bang Arka.


Masa bodoh dengan amarahnya saat aku menanyakan keberadaan lelaki lain padanya. Yang penting sekarang sahabatku bisa tenang.


"Jangan. Gak perlu Kay. Biarin aja."


Segera ku tekan nama Bang Arka di ponselku. Pada dering kedua dia langsung menjawabnya.


"Abang, kak Ken kemana?" Tanyaku tanpa basa basi.


"Nyapa suaminya dulu Mikha." Nah benarkan, dia pasti langsung sewot.


Eh tapi salahku juga sih, tak menyapanya dulu.


"Buruan Bang, kasih tau Kay. Kemana Kak Ken, ini Winda frustasi dari kemarin Kak Ken menghilang."


"Menghilang? Ada kok tuh bocah. Tadi pagi baru dari sini."


"Nah kenapa gak bisa dihubungi sama Winda?"


"Ya mana ku tahu Mikha. Kamu di mana ini?"


Astaga! Aku baru ingat jika aku belum sempat izin pada Bang Arka. Suaranya sudah terdengar meninggi.


Ku tarik nafas panjang dan segera ku hempaskan untuk menenangkan debaran jantungku yang tiba-tiba saja meningkat.


"Kay sama Winda ke mall Bang. Kasihan Winda, dia nangisin Kak Ken dari tadi." Aku menjadikan Winda tameng hidup untuk menjamin keselamatanku.


Dari sampingku Winda memutar matanya dengan jengah.


"Naik apa?" Tanya Bang Arka dengan suara dingin.


Mati aku! Aku lupa laporan.


"Itu tadi gini Bang--" Aku mencoba mengulur waktu, "jadi tadi Winda tuh--"


Belum sempat aku meneruskan ucapanku, Bang Arka sudah menyelanya.


"Mobil Aldrich." Ucapnya dengan segera.


"Sulit sekali mengatakannya ya? Kenapa? Melindungi lelaki lain?" Desak Bang Arka.


Oh gosh!! Tak pernah aku memikirkan itu, tapi kenapa si posesif ini berpikir sejauh itu sih?


"Astaganaga! Abang! Kay gak pernah mikir sampai segitunya ya." Suaraku mulai meninggi.


"Terus?" Bang Arka semakin menuntut penjelasan.


"Tadi tuh, Kay benar-benar mau nemenin Winda Abang. Dia tadi--"


"Kay!!"


Aku belum menyelesaikan ucapanku saat tangan Winda mencengkeram lemganku dengan kuat. Di guncangnya tubuhku untuk meminta perhatianku.


Mataku menatap Winda yang wajahnya sudah dipenuhi air mata. Kulit mukanya semakin tampak putih pucat.


"Benar dugaanku. Dia bersama wanita lain." Bisik Winda lirih dengan memegang dan memukul ringan dadanya.


Aku yang masih bingung dengan situasi yang terjadi, segera mengarahkan mataku sejajar dengan arah pandang Winda.


Brengsek!!


Bisa-bisanya dia bersama wanita lain saat sudah merancang kejutan indah untuk sahabatku! Minta ditimpuk sepatu tuh orang.


"Abang, tuh sahabatmu selingkuh. Pengin dikebiri kayaknya. Tunggu bentar, Kay mau ngelabrak dia." Ucapku dengan berapi-api pada Bang Arka melalui sambungan telepon yang masih setia kami lakukan.


"Siapa yang selingkuh? Jangan ngaco deh Mikha." Bantah Bang Arka.


"Siapa yang ngaco. Tuh si Kendrick lagi berduaan sama cewek seksi, pegangan tangan sambil senyum-senyum dan melempar pandangan penuh cinta. Cih! Gak inget apa sama yang dia inginkan."


"Mikha!" Bang Arka membentakku.


"Apa?" Aku balas membentaknya.


"Jangan berisik. Jangan sampai keceplosan." Dengan berbisik Bang Arka mengingatkanku.


Astaga! Aku langsung melirik ke arah Winda yang masih setia melihat ke arah Kendrick dengan wanita itu. Wajahnya sudah memerah dan sembab. Dengan bodohnya aku terus menghujat Kendrick yang nyatanya ucapanku justru membuat sahabatku itu semakin terpuruk.


"Eh iya, maaf Bang," Aku balas berbisik, dih bodohnya kami, padahal Winda juga tak akan mendengarnya, "ya udah deh, Kay tutup ya, Kay mau ngelabrak Kak Ken dulu." Imbuhku.


"Eh tunggu Mikha--"


"Nanti aja di rumah Bang, udah ya." Selaku sambil mengakhiri panggilan kami.


Biarlah Bang Arka marah. Tapi aku tak ingin kehilangan jejak Kendrick.


Baru saja aku meletakkan ponselku di tas, Winda sudah menarik tanganku.


"Cepat kita pergi dari sini Kay." Ujar Winda sambil menarik tanganku.


Segera kami keluar dari kafe itu dengan sedikit berlari. Sempat ku lirik ke arah Kendrick. Lelaki itu saat ini sudah berada di depan toko perhiasan yang tadi di datanginya dengan wanita itu. Kepala Kendrick menoleh ke kanan dan kiri dengan kedua tangannya berada di pinggang.


Astaga, apa yang sudah dilakukan Winda? Jelas sekali Kendrick sedang mencari kami.


"Win, kamu ngapain tadi? Tuh kak Ken kayaknya nyari kita deh. Ayo samperin aja, biar sekalian ku semprot dia. Ini mulut idah gatel banget mau mencaci maki dia." Ujarku dengan geram sambil masuk ke dalam lift untuk turun ke tempat parkir.


"Aku foto dia dan ku kirim. Sekalian aja aku bilang, 'selamat berseneng-senang'. Keren kan?" Jawab Winda dengan senyum.


Namun aku tahu, senyumnya itu hampa. Tatapannya kosong. Dia sedang terluka.


"Sabar Win, nanti kita cari tahu siapa wanita itu." Ujarku menimpali.


"Gak udah dicari. Biarkan saja dia dengan siapapun." Jawab Winda.


"Tapi kamu menderita Winda."


"Ini tak akan lama Kay. Aku tahu, aku bisa secepatnya melepas lelaki itu."


Tenggorokanku rasanya kering saat mendengar ucapan Winda. Apa seperti itu akhirnya? Lalu rencana Kendrick bagaimana? Apa itu hanya rencana semu? Siapa sih wanita tadi? Tapi memang terlihat mesra sih.


Mereka saling memegang tangan dan memandang dengan tatapan penuh damba. Saling melihat cincin yang melingkar di jari masing-masing.


Ada apa dengan Kendrick? Apa rencana dia sesungguhnya?


"Kay, main ke tempat dulu yuk? Ke laboratorium pertanian yang banyak pohon apelnya itu." Winda membuka suaranya saat kami tiba di dalam mobil.


"Tapi aku gak hafal jalannya. Kita ajak kak Al gimana?" Tawarku.


"Boleh. Kamu yang hubungi ya?"


Aku mengangguk sambil menyalakan mobil. Baiklah, hari ini ku kerahkan seluruh tenagaku untuk Winda. Gadis ini lebih memerlukan perhatianku saat ini. Aku tahu, dia tengan terpuruk.


Segera ku lajukan mobil Aldrich ke arah kampus setelah lelaki itu menyanggupi keinginan kami. Aldrich, si lelaki hangat dan baik hati, selalu saja ada saat aku membutuhkannya. Sebenarnya aku lebih suka jika Winda bersama Aldrich. Rasanya lebih cocok saja menurutku. Aldrich orang yang menarik dan menyenangkan. Pasti bisa membahagiakan Winda. Ah tapi masalah hati, tak ada yang bisa ikut campur. Toh nyatanya, cinta Winda malah tercurah untuk kakaknya Aldrich, si Kendrick sialan itu.


Tak lama setelah aku dan Winda tiba di kampus, Aldrich ternyata sudah menunggu di depan jurusan kami. Dia segera mengambil alih kemudi mobil dariku dan melajukan mobilnya dengan tenang.


"Ada apa?" Tanyanya saat mobil sudah mulai berjalan.


"Kendrick selingkuh." Aku segera menutup mulutku saat aku sadar telah memanggil kakaknya tanpa embel-embel.


Aldrich terkekeh nelihatku, ia mengusap kepalaku.


"Kesel banget ya? Sampai langsung manggil Kendrick." Ucap Aldrich.


"Maaf kak Al." Aku menunduk. Sumpah, aku malu.


"Ceritakan, ada apa?" Desak Aldrich.


Aku pun menceritakan kronologi yang telah terjadi di mall beberapa saat lalu. Winda tampak termenung tanpa menyahut apapun.


Aldrich mendesah, entah untuk alasan apa. Mungkin dia pun tahu, bagaimana masa lalu kakaknya yang selalu membuat setiap wanita yang dekat dengannya menjadi waspada.


"Baiklah, aku temani kalian kemanapun. Hari ini, aku tebus rasa sakit kalian." Ujar Aldrich sambil melirikku dan memberiku senyuman hangat.


Ah lelaki ini sungguh luar biasa. Bukan kesalahannya malah dia yang ingin menebusnya.


Siang hari ini, kami akhirnya memutuskan menghabisakan waktu sambil menikmati hamparan pohon apel dan sayur mayur yang ada di sekitar perkebunan yang digunakan sebagai laboratorium pertanian.


Winda banyak terdiam. Hanya sesekali menimpali ucapanku dan Aldrich. Aku tak tahu lagi dengan cara apa memecahkan kebekuan yang terjadi pada Winda.


Aldrich juga memilih bungkam, tidak membenarkan ataupun menyalahkan kakaknya. Dia lebih banyak berbincang denganku.


Ku putuskan untuk membiarkan Winda dengan sejuta pemikirannya. Aku akan mencaritahu dahulu sebelum memberitahukan kebenarannya pada Winda.


Semoga saja memang yang terjadi tadi adalah bagian dari skenario yang telah kami susun. Tapi, tak harus beradegan mesra gitu kan? Iiiih aku pun jengkel jika melihat hal seperti itu terjadi pada Bang Arka.