
"Cantik.."
Suara yang sangat mereka hafal diluar kepala, menghentikan tawa mereka. Sontak mereka menoleh ke sumber suara. Andara yang kebingungan dengan keberadaan lelaki yang telah menjungkir balikkan dunianya, hanya bisa menatap dalam diam.
"Maafkan aku Kak." Terdengar cicitan suara Vanya.
Andara langsung menoleh. Mencoba memahami arti ucapan Vanya. Saat menyadari kedatangan Vano yang tiba-tiba di kafe ini, bukan amarah yang dia rasakan, namun sebuah rasa takjub yang ia tunjukkan. Andara tidak menyangka, sejauh ini dia akan menyaksikan perjuangan cinta dari seorang Vanya. Andara mengulum senyum.
"Kamu yang memberitahunya." Ujar Andara, menebak dengan tepat apa yang terjadi.
Dilihatnya Vanya terus menundukkan kepalanya lebih dalam.
"Maafkan aku Kak, sungguh." Vanya terisak, sambil menggenggam tangan Andara.
"Tenanglah, aku baik-baik saja. Ya masih tersisa sedikit sakit hati sih, tapi udah gak masalah. Aku bisa mengatasinya. Kamu pun bisa mengatasinya jadi angkat kepalamu Vanya. Bukankan kita berteman?" Andara berkata dengan lembut.
Melihat interaksi kedua wanita yang berada di hadapannya, membuat Vano memicingkan mata. Dia tidak menyangka akan mendapat suguhan pemandangan yang seperti ini. Tadinya dia menyangka akan melihat kemarahan dalam diri Andara seperti yang dia dapatkan.
"Cantik.. Kamu--" Vano menggantung ucapannya.
"Hai Van, duduklah. Eh aku baru sadar, kalau manggil kalian sama-sama Van ya. Wah jodoh emang ya." Ujar Andara mencairkan suasana.
"Cantik dengarkan aku dulu. Aku--" Vano mulai menyela sebelum Andara kembali berbicara.
"Duduklah dulu Van. Kamu gak capek berdiri terus." Andara memotong ucapan Vano. Dia memperhatikan dengan seksama penampilan Vano. Sangat berbeda dari biasanya.
Wajah kusut, seragam yang sudah tidak lagi rapi, rambut yang tidak lagi berbentuk, mungkin terlalu banyak diusap dengan kasar. Andara hanya bisa menghela nafas kasar menyaksikan semua itu. Vano sangat berantakan. Wajahnya mengisyaratkan rasa sakit yang teramat sangat. Entahlah, ada rasa kasihan yang mendominasi dalam benak Andara, namun rasa sakit masih sedikit memyusup di relung hatinya yang membuatnya bertekad untuk menutup mata hatinya.
"Cantik.. Sayang.. Dia Vanya.. Tunanganku, maafkan aku. Tapi aku mohon, dengarkan penjelasanku dan tetaplah di sampingku. Tunggu aku cantik." Ucap Vano dengan tiba-tiba sambil bersimpuh dekat kaki Andara dan menggenggam tangan Andara erat.
"Eh Van, ih apaan sih kok sampai gini, bangun ah Van. Malu tau dilihatin orang. Vano ih, bangun Van." Andara yang terkejut hanya bisa memukul Vano pelan sambil matanya melirik ke arah pengunjung kafe yang mulai melihat ke arah mereka.
"Vanya jangan diem aja, suruh dia bangun Van." Andara meminta tolong pada tunangannya.
"Aku tinggal kalian berdua ya, silakan berbicara dan maafkan aku Kak Andara." Vanya mengambil tasnya, hendak berdiri meninggalkan mereka.
"Eh Vanya, yang bener dong. Jangan asal pergi aja, ini tunanganmu kamu bawa aja Van. Duh Vanya, tolongin dong. Ini bisa gawat urusannya kalau sampai--" Andara terus mengoceh sampai kalimatnya disela seseorang.
"Masih punya muka kamu ketemu Andara." Suara bariton terdengar jelas dari belakang Andara.
"Lepasin tangannya dan menjauhlah brengsek! Udah ku bilang, dia urusanku!" Kembali suara penuh amarah itu terdengar.
Andara secara refleks langsung melepas genggaman tangan Vano dan langsung berdiri menjauh. Vano memandang Andara dengan penuh rasa terkejut. Matanya nanar menatap Andara.
"Cantik--" Suaranya kembali tertahan di tenggorokan.
"Udah ku bilang, jangan ganggu dia dan jangan panggil dia seperti itu." Pemilik suara bariton itu mendekat dan dengan segera mencengkeram kemeja Vano. Menariknya dengan kuat hingga beberapa kancing bajunya terlepas. Ia juga memaksanya untuk bangkit berdiri.
Andara hanya mampu menjerit tertahan. Kedua tangannya menutup mulutnya. Entah kenapa dia tidak mampu berkata-kata.
"Si bego main cengkeram aja. Lepas woi, liat sikon Ken, noh di deket sini ada lapangan nganggur, sana jotos-jotosan disana. Aman di sana mah, gak perlu ganti rugi. Kalau di sini bisa panjang urusannya." Bima berusaha melerai dan meredakan amarah Kenzo, lelaki bersuara bariton tadi.
Vano hanya diam dan pasrah atas perlakuan Kenzo, namun matanya tidak lepas memandang Andara. Ia sedang berusaha membaca apa yang ada di pikiran gadis yang sangat dicintainya itu.
"Ken, lepas Ken. Si ******, dengerin saya woi!! Kamu gak inget Ken, bulan depan jatah uang jajanmu udah abis, inget jangan nambah utang lagi karena harus ganti rugi. Lepas Ken, elah batu nih anak." Bima masih berusaha melerai.
Andara terus terdiam, bingung hendak melakukan apa. Air matanya tak henti menetes. Ia hanya bisa menatap wajah Kenzo yang sudah diliputi amarah. Vano yang menyaksikan semua itu, seakan mendapat jawaban dari semua tanya yang ada di benaknya. Dengan segera ia menghadap tepat di wajah Kenzo. Kini wajah kedua lelaki itu sudah menunjukkan amarah yang sama berkobarnya.
"Kak Vano." Vanya memanggil, mencoba mengalihkan perhatian Vano.
Namun tak ada jawaban. Semakin banyak pengunjung yang memperhatikan mereka.
"Saya juga bisa marah, jadi tolong dengarkan saya." Bima mulai tersulut emosi. Mencoba menarik mereka untuk saling menjauh.
Namun tetap tak ada reaksi dari keduanya. Semua tetap bergeming di tempatnya.
"Eh pawang binatang buas, tolong lakuin tugas kamu. Saya udah nyerah nih. Cepetan sebelum tambah runyam ini urusannya." Bima berbicara kembali.
Namun semua masih tetap dalam posisi masing-masing. Bima pun mengusap kasar wajahnya.
"Woi pawang Andara, sadar woi!!" Bima kembali bersuara, sedikit berteriak.
Andara yang merasa namanya disebut langsung memandang Bima. Ia mengerjapkan matanya dengan bingung.
"Lha malah bingung dia. Ini peliharaanmu, tolong dijinakkan dulu. Bisa berabe ini urusannya kalau dia uda mulai ngamuk." Bima menjelaskan.
Andara semakin dalam menatap Bima. Mencoba mencerna tiap perkataan Bima. Dahinya semakin berkerut saat terus mencoba memecahkan teka-teki dari Bima.
"Astaga si bego! Andara, jinakin Kenzo. Kamu urus Kenzo, dia bakal nurut sama kamu." Bima sudah kehabisan kata-kata untuk menjelaskan.
Andara yang baru sadar akan maksud Bima langsung meraih lengan Kenzo. Menariknya dengan sekuat tenaga. Karena Kenzo menggunakan tenaga penuh untuk mencengkeram Vano, Andara pun kesusahan. Vano yang menyaksikan itu, hanya bisa menatap miris pada Andara.
"Cantik.. Kamu.. Kenapa cantik?" Vano bertanya, entah apa maksdnya.
Andara hanya bisa melirik sekilas, fokusnya hanya pada Kenzo saat ini.
"Vanya, jangan diem aja. Bantuin napa!" Andara berteriak pada Vanya yang hanya diam mematung.
"Eh iya.." Sahut Vanya dan dengan segera ikut menarik badan Vano untuk menjauh.
"Ken, liat aku Ken. Aku gak kenapa-napa. Kenzo, ini aku, Dara. Aku baik-baik aja, aku gak terluka, aku ga menangis." Andara berusaha membujuk Kenzo.
Namun tak ada tanggapan.
"Iih males deh kalau Kenzo gitu. Marah nih aku. Lepas Ken. Kasian anak orang. Ih Kenzo. Lepas." Andara terus bersuara sambil menarik lengan Kenzo. Namun tetap tenaganya kalah besar.
"Ya udah, kalau gak mau lepas, aku bingkar semua kejadian malam itu." Ancam Andara.
Dan tiba-tiba lengan itu terlepas.
"Idih diancem gitu baru dilepas. Dasar batu!" Andara mencibir.
"Bisa-bisanya kamu ngelawak disituasi kayak gini. Dasar pawang abal-abal." Bima menyindir.
"Yang penting dia lulut.. Weekk.." Andara menjulurkan lidahnya pada Bima.
"Cocok emang kalian berdua, setipe. Pawang sama peliharaannya sama-sama gak terkontrol, bingung saya." Bima geleng-geleng kepala.
"Diem! Berisik aja." Kenzo memikul Bima pelan.
"Cantik.." Vano yang berbicara.
"Dia masih kekasihku." Vano bersikeras.
"Tidak, setelah kejadian itu." Kenzo tak mau kalah.
"Dia--" Vano hendak membalas.
"Cukup." Andara menghentikan debat kedua lelaki itu.
Andara menarik Kenzo mendekat padanya. Menatap dalam pada mata teduh yang selalu memberinya kenyamanan.
"Ken, bisakah kamu memberiku waktu untuk berbicara padanya? Aku janji tidak akan lama. Dan aku janji aku tidak akan menangis ataupun sakit hati. Bisakah beri kami sedikit waktu?" Andara menatap Kenzo, memberi lelaki itu sedikit ketenangan.
"Oiya, Vanya, bisakah aku berbicara dengan tunanganmu sebentar. Ada hal yang harus kami luruskan." Andara menoleh, menatap Vanya dan meminta persetujuan gadis yang lebih berhak atas Vano.
"Sebanyak waktu yang kamu butuhkan Kak." Vanya menjawab dengan yakin.
"Ken.. Tolonglah.." Andara kembali berbisik.
"Jangan lama-lama. Kamu tau aku bukan orang yang sabar. Lebih dari setengah jam belum selesai, aku langsung kesini lagi. Itu batasku." Kenzo akhirnya bersuara.
"Iya.. Tunggu sana di mobil, jangan bikin malu di sini. Noh liat, semua ngelirik ke arah sini sambil bisik-bisik." Andara menunjukan pengunjung kafe dengan ujung dagunya.
"Mereka hanya sedang memandang gadis cantik di depanku ini, mereka sedang mengagumimu sayang." Kenzo berkata dengan lembut, sambil mengusap puncak kepala Andara.
Buuuggghh..
"Aaahh.." Andara dan Vanya berteriak bersamaan melihat Kenzo jatuh tersungkur.
Suasana kafe mendadak tegang. Seluruh pengunjung berdiri untuk melihat yang terjadi.
"Jaga tanganmu." Ujar Vano dingin.
Kenzo yang tak siap menerima pukulan dari Vano tersenyum menatap lelaki itu, sambil membersihkan darah yang keluar dari sudut bibirnya yang sobek. Matanya tajam menatap Vano. Seketika Kenzo langsung berdiri. Andara terlonjak melihat gerakan Kenzo yang akan menyerang Vano. Dengan segera dia menghambur ke hadapan Kenzo, menahan tubuh lelaki itu agar tidak hilang kendali.
"Kenzo cukup, lihat aku. Tolong hanya lihat aku. Cukup, aku bilang cukup." Andara memeluk tubuh Kenzo, berusaha menenangkan amarahnya.
Air mata Andara menetes tanpa disuruh. Dia mengalungkan tangannya pada leher Kenzo, meminta lelaki yang sedang diliputi amarah ini untuk menatapnya.
"Hentikan saya bilang. Kalian berdua bener-bener keterlaluan. Udah saya bilang, jangan di sini. Sekarang Kenzo ikut saya, Vano kamu balik sana Vanya." Bima mengambil keputusan.
Kenzo menatap Vano sambil bibirnya terangkat di satu sisi, memberi lelaki itu senyuman sinis. Tangannya merangkul bahu Andara, membawa gadis itu masuk ke pelukannya. Andara dengan sadar memindahkan tangannya dan melingkarkannya pada pinggang Kenzo. Entah apa yang merasuki Kenzo, dengan sengaja dia mencium puncak kepala Andara. Sangat lama dan dalam, dengan matanya menatap tajam pada Vano, seakan memberinya ejekan.
"Ada yang salah dengan yang aku lakukan, huh?" Suara Kenzo jelas sebuah jebakan untuk memancing amarah Vano.
"Cukup Ken!" Bima yang paham dengan maksud Kenzo langsung memotong ucapannya dan mendorong Kenzo menjauh.
"Apa aku salah Bim?" Ucap Kenzo sok lugu.
"Jangan memancing di air yang keruh Ken. Pulanglah, antar Andara." Bima masih terus menengahi.
"Andara bersamaku, aku yang antar dia." Vano menyela.
"Hei brengsek! Kamu gak lihat siapa yang ada di sampingmu. Berdirilah di tempatmu sendiri mulai sekarang. Kembalilah ke tempat masing-masing." Kenzo berucap.
"Dia gadisku Ken! Kamu tau itu." Vani berteriak.
"Cukup." Andara yang sekarang berteriak.
Andara membalik badannya. Dia melihat Vanya yang hanya menunduk. Seketika Andara merasa hatinya diremas. Melihat Vanya yang hanya diam dan menunduk, membuat Andara seakan ikut merasakan sakit yang diderita gadis manis itu. Bukan lagi rasa sakit hatinya yang dirasakannya, tapi sebuah simpati untuk seorang gadis yang tak pernah dianggap keberadaannya.
Andara membalik badannya, dia menatap wajah Kenzo yang masih diliputi kekesalan. Diraupnya wajah itu, dan memaksa lelaki itu untuk menatap matanya.
"Ken, lihat aku. Aku baik-baik aja. Aku mau semua ini selesai hari ini. Jadi, tolong izinkan aku berbicara dengan Vano sekarang. Aku mau sekarang Ken, tidak ada lagi besok. Aky mau sekarang." Andara berbicara tegas.
"Aku gak ngizinin. Ayo pulang, aku antar." Kenzo menarik tangan Andara yang ditahan oleh Andara. Kenzo menatap Andara dengan pandangan tidak setuju.
"Aku bisa Kenzo, percaya padaku. Aku akan menyelesaikannya dan pulang bersamamu. Tolong tunggu aku, kamu mau kan?" Andara berkata dengan tersenyum, menyelipkan sedikit janji dan kepastian yang mungkin bisa dia tepati untuk lelaki itu.
Kenzo mencoba mencari celah untuk membantah, namun tampaknya dia juga menyadari maksud lain yang ingin disampaikan gadis kesayangannya itu padanya.
"Baiklah, 30 menit. Itu batas maksimalku sayang. Aku gak mau lebih dari itu. Ku mohon mengertilah." Kenzo membuat kesepakatan.
"Baiklah, itu lebih dari cukup. Sekarang tunggu aku dengan sabar. Duduklah di luar dengan tenang jagoan!" Andara berbicara dengan setengah menggoda.
"As you wish, Madam." Ucap Kenzo dengan tersenyum dan memandang lekat pada mata Andara.
Cup..
Sebuah ciuman singkat Kenzo daratkan di kening Andara. Sontak membuat Vano langsung bereaksi. Kenzo langsung tersenyum, jelas sebuah ejekan.
"Oke Ken, this is not the right time for showing up." Bima berbicara pada Kenzo, namun wajahnya menatap lekat pada Vano. Mencoba menahan tubuhnya yang hendak mendekat ke Kenzo.
"Ayo Van, kita bicara di luar. Ken, pinjam kunci mobilmu." Andara bergegas meminta kunci mobil pada Kenzo.
Kenzo menatap bingung pada Andara.
"Yang bener aja, aku gak mungkin ngobrol di sini lagi, malu tau Ken. Kita udah jadi pusat perhatian dari tadi. Aku bicara dengannya di mobilmu. Kamu tunggulah tak jauh dari sana. Oke?" Andara berbisik di samping Kenzo.
Kenzo mengangguk dan menyerahkan kuncinya. Segera membalik badan dan menyuruh Vano mengikutinya.
"Cantik, ngobrol di mobilku aja. Atau kita ke kafe sebelah." Vano memberi solusi sebelum mengikuti Andara.
Andara menatap Vano, kemudian beralih menatap Vanya. Lalu gadis itu tersenyum sambil berbicara.
"Maaf, aku sungguh gak ingin berduaan denganmu saat ini Van. Ada hati yang harus aku jaga." Andara berkata jujur.
Deg.. Deg.. Deg..
Seketika Kenzo memegang tangan Andara, tersenyum memandang gadis pujaannya. Debaran jantung keduanya sangat tidak terkendali. Andara merasa wajahnya panas saat Kenzo menatapnya dengan lekat.
"Maksudnya Vanya Ken. Dasar, kepedean!" Andara berusaha mengalihkan perhatian.
"Aku tau itu untukku. Berbicaralah dengannya. Aku menunggumu tak jauh dari situ. 30 menit dan aku nyalakan timerku sekarang." Kenzo berkata sambil tersenyum.
Andara mengangguk. Menatap Vano dan mengajaknya keluar kafe, menuju mobil Kenzo.
"Vanya, tunggulah bersama mereka, aku tak akan lama." Sebelum melangkah menjauh, Andara tersenyum sambil berbicara pada tunangan lelaki yang saat ini ingin sekali Andara lupakan.