NOVEMBER RAIN

NOVEMBER RAIN
Hari Ulang Tahun #1



Bunyi alaram membangunkan ku pagi itu. aku meraih jam berwarna coklat di meja samping kasur ku, pukul 07:02 pagi tanggal 28 November 2015. Aku mulai beranjak dari kasur melihat ke arah luar jendela, pagi itu cerah sekali semoga selalu cerah seperti ini. Hari ini adalah hari Ulang Tahunku. Aku mengambil handuk dekat pintu kamar mandi, aku akan bersiap untuk pagi ini.


*Ruang Makan*


"Selamat ulang tahun kucing nakal ku sayang" teriak kakak dari meja makan.


"Selamat ulang tahun Zara" seru kakek.


"Terima kasih kak nia, terima kasih kakek" sambil berjalan menuju meja makan.


Terlihat ada kue tart berukuran sedang di meja makan dengan lilin bertuliskan angka duapuluh. Tahun ini umur ku 20 tahun, begitu banyak hari yang telah ku lewati selama 20 tahun. Tampa tersadar tiba-tiba air mata ku mulai menetes, aku menangis di depan kue tart yang ku lihat.


"Zara, sudah jangan menangis ya, walaupun begitu ini tetap hari ulang tahun mu" seru Nia sambil memeluk adiknya.


"Zara kamu sudah dewasa, walau sulit untuk melupakan kejadian itu. Tapi cobalah untuk tidak menyalahkan dirimu sendiri" kakek mulai menyalakan lilin ulang tahun.


"Iya Zara, kakek benar ini semua bukan kesalahan mu, sudahlah ayo tiup lilinnya" sambil menyeka air mata Zara.


Akupun meniup lilin ulang tahunku sambil mengingat kejadian duabelas tahun lalu. Tepat di hari ini aku kehilangan kedua orang tuaku.


 


●●●


 


*12 tahun yang lalu di rumah Zara*


"Ibu aku akan ke taman, aku ingin menunggu kakak itu" seru Zara.


"Baiklah, tapi sepertinya akan turun hujan hari ini. kamu harus membawa payung" sambil mencari payung di dalam laci dan memberikan pada zara.


"Tidak mau ibu, aku dan kakak kan suka dengan hujan. Kita bisa bermain bersama di bawah hujan, dia sudah berjanji akan datang" sambil menolak payung yang di berikan.


"Ibu tidak mau kucing keci ibu sakit nantinya. Tapi kamu kan kucing kecil ibu yang sangat keras kepala. Janji ya jangan terlalu lama di bawah hujan" sambil mengelus kepaja Zara dengan lembut.


Akupun beranjak menuju taman dekat persimpangan jalan. Aku menunggu seorang kakak di taman. Bukan kak Nia, dia adalah pria tiga tahun lebih tua dibanding aku. Aku bersahabat dengannya sejak umur tiga tahun, dua tahun lalu sebelum dia pergi mengikuti orang tuanya yang di tugaskan ke luar kota kita berjanji akan bertemu di taman ini pada hari ulang tahun ku.


Tiga jam berlalu, aku menunggu kakak di taman sambil duduk di ayunan berwarna merah yang catnya telah pudar di makan usia. Tidak lama setelah itu hujanpun turun, rintik hujan mulai mengenai wajah ku, senang sekali rasanya tetapi seperti ada yang kurang dalam kesenanganku kali ini. Aku berlarian tak tentu arah di bawah derasnya hujan.


*Di rumah*


"Ibu dan ayah mau kemana?" tanya Nia yang sedang duduk di ruang tamu.


"Aku dan ibumu akan pergi menyusul adikmu, di luar mendung dan sepertinya akan turun hujan, adikmu sudah tiga jam berada di luar dan belum kembali" jawab ayah.


"Iya Nia, padahal Zara sudah janji tidak akan lama, tapi ibu khawatir" seru ibu sabil memakai jaket.


"Bagaimana kalau aku saja yang menjemput Zara di taman" Nia pun berinisiatif untuk menjemput Zara.


"Tidak usah nia, kamu juga sedang demam kan" jawab ayah.


"Iya Nia, kamu di rumah saja, ibu dan ayah tidak akan lama" sambil memegang bahu Nia.


"Baiklah hati hati di jalan ya" sambil tersenyum.


 


●●●


 


*Persimpangan Jalan*


"Kenapa kakak tidak datang?" sambil menangis di persimpangan jalan menunggu lampu merah menyala.


Karena hujan jalan menjadi sangat licin sore itu. Aku menatap langit berwarna kelabu, sesaat aku tersadar seperti ada yang memanggil namaku dari arah berlawanan. Itu kedua orang tuaku dengan membawa payung berwarna hitam, ibu dan ayah berada 100 meter di depan ku.


"Zara tunggu di situ , ayah dan ibu akan menghampirimu, lihat ayah membawa payung kesuakaan mu" teriak ayah sambil menunjukan payung bergambar kucing.


Tak lama lampu merah menyala di bawah derasnya hujan, ayah dan ibu mulai melangkah ke arah ku melewati zebra cross. Terlihat truk yang melaju kencang dari arah kanan orang tuaku, jalan yang licin karena derasnya hujan membuat supir kehilangan kendali, hanya sepersekian detik truk itu menghantam tubuh orang tua ku, terlempar 5 meter dari tempat ayah dan ibu menyebrang. Aku menyaksikan sendiri dengan kedua mataku kecelakaan sore itu, melihat ibu dan ayah tergeletak bersimbah darah. Pandangan ku kabur di bawah hujan hati ku terasa sesak sampai tidak bisa mengeluarkan suara sedikit pun, tak lama mataku mulai terpejam seperti tertidur, tidur yang amat panjang. Dalam tidur ku, aku melihat senyum manis ibu dan ayah yang hangat. Satu minggu kemudian aku terbangun, melihat kak Nia, kakek dan nenek menangis di samping kasur. Akibat kecelakaan itu ibu dan ayah meninggal, ibu meninggal setelah di larikan ke rumah sakit. Ayah bertahan selama dua hari di rumah sakit, tetapi akibat kecelakaan itu ada penyumbatan darah pada otak kiri ayah, ayah meninggal ketika menjalankan operasi. Sejak hari itu aku membenci hujan di bulan November, hujan yang amat menyakitkan hati ketika mengingatnya.


 


●●●


 


*Ruang Makan*


"Terima kasih untuk kak Nia, dan kakek yang selalu ada untuk ku sampai saat ini" menyeka air mata di pipi.


"Zara, ini adalah anting milik ibumu kakek akan memberikan ini sebagai hadiah ulang tahun mu" sambil memberikan kotak berwarna biru berisikan anting model bunga berwarna merah.


"Jangan sedih Zara, aku dan kakek akan terus ada di samping mu" ucap Nia.


"Hari ini sebelum pergi ke restoran aku akan pergi ke makam ibu dan ayah terlebih dahulu" Sambil melihat kotak berisi anting bunga milik ibunya.


"Baiklah aku akan menemanimu" sambil menepuk pundak Zara.


Aku berharap tidak turun hujan hari ini, karena mungkin akan amat menyakitkan untuk ku melihat hujan yang turun di hari ulang tahun ku dan hari kematian orang tuaku.