
Drrttt.. Drrtt..
Bunyi alarm dari handphone Andara berbunyi nyaring. Segera tangannya meraba nakas di samping tempat tidur mengambil handphonenya. Sambil mengerjapkan mata, Andara melihat layar handphonenya yang ternyata isinya pesan whatsapp dari Vano.
Andara langsung terduduk di kasur dan membelalakkan matanya. Jantungnya bergemuruh dan berdetak sangat kencang.
Alvano
Selamat pagi cantik, uda bangun belum? Pagi ini aku jemput kamu ya. Rindu kamu β€β€
Biasanya hanya Ayah Josh yang memanjakannya dengan panggilan tuan putri, sekarang ada Vano yang memanggilnya cantik membuat jantung Andara semakin bergemuruh.
Gila, pagi-pagi dapet pesen gambar hati gini aja, jantungku detaknya gak santai banget, duh semoga gak kena serangan jantung nih, lirih Andara berbisik. Sambil merapikan rambutnya, Andara pun segera membalasnya.
Andara
Pagi sayang, uda bangun nih, lagi siap-siap mau mandi. Oke sayang, aku tunggu di rumah ya. Rindu kamu juga sayang, cepat datang ya dan hati-hati menyetirnya β€
Alvano
Mandi yang bersih ya, atau mau aku mandiin? π
Andara
Iih ogah, dasar mesum π
Alvano
Bercanda cantik. Ya udah, sana siap-siap. Udah ga sabar ketemu kamu β€ aku sayang kamu cantik.
Andara
Aku juga sayang kamu π
Aaahh gila ya, jantung please be nice, yang santai aja detaknya ya, gumam Andara sambil menjatuhkan diri lagi ke kasur dan menendang-nendangkan kakinya ke udara.
Andara menatap langit-langit kamarnya, termenung sesaat. Terlintas berbagai macam pikiran. Semuanya tiba-tiba berkecamuk di benaknya.
Andara mempunyai Ayah yang hebat. Seorang pengusaha sukses, yang perusahaannya masuk dalam 5 besar perusahaan terbesar di Negara ini. Seorang lelaki yang disegani. Tegas dan dingin dalam pekerjaan tapi selalu hangat saat bersentuhan dengan keluarga.
Lelaki yang usianya sudah menginjak kepala 5 namun tetap wibawa dan masih terlihat sangat tampan. Andara sangat mengidolakan ayahnya dan sangat dekat dengannya. Seorang Ayah yang tidak pernah memaksakan kehendak pada anak-anaknya. Seorang Ayah yang memberi kebebasan pada pilihan anak-anaknya. Seorang Ayah yang selalu dipenuhi dengan lelucon namun selalu menyelipkan banyak sekali pesan bijak dan petuah.
Andara juga mempunyai seorang Ibu yang selalu menanggapi sesuatu dengan cara yang lucu. Namun, selalu perhatian dan penuh kasih sayang. Seorang Ibu yang memberi nasihat pada anak-anaknya dengan cara berbeda.
Sejak dulu, teman-temannya lebih memilih bermain di rumah Andara, karena perlakuan orang tuanya yang baik. Yang menganggap semua teman anak-anaknya sama seperti teman mereka sendiri. Iya, orang tua Andara tahu kapan harus menempatkan diri mereka menjadi sosok teman untuk anak-anaknya, dan kapan harus menjadi orang tuanya.
Andara juga mempunyai kakak lelaki satu-satunya. Seorang kakak yang usil dan jahil namun sangat melindungi adiknya. Seorang desainer grafis yang hobi menggambar apapun. Seorang lelaki yang kelak akan menjadi penerus ayahnya.
Dan sekarang, Andara mempunyai kekasih. Alvano Pradana, lelaki yang sudah ia sukai cukup lama dan akhirnya mengutarakan cintanya secara langsung. Dari beberapa lelaki yang mendekati, ia lebih memilih Vano. Entah apa ada alasan lain selain tampan, tapi yang pasti hatinya memilih Vano.
Andara sendiri bukan murid yang sangat pintar, tapi dia tidak pernah lepas dari peringkat 10 besar di kelasnya. Ia cukup menarik, dengan wajah oval dan hidung yang tidak terlalu mancung tapi pas di mukanya. Tubuh tinggi, rambut hitam sepunggung dan tubuh yang montok. Banyak teman-temannya yang lebih cantik darinya namun banyak juga lelaki yang lebih tertarik pada Andara.
Andara memikirkan betapa banyak perhatian dan kasih sayang yang sudah dia peroleh selama ini. Dia sangat bahagia. Lamunan Andara pun berhenti.
Kenapa rasanya aku bisa melihat bunga mawar berputar-putar di langit-langit kamarku? Aaarrggh ini aku gak lagi gila kan?! Aku dipenuhi semangat untuk menjalani hari-hari bahagiaku, batin Andara sambil mengepalkan tangan ke atas. Ia pun bangkit dari kasurnya menuju kamar mandi sambil menari-nari.
*
Dari depan pintu kamarnya, Andara melihat Ayah dan Bundanya sudah siap di meja makan. Ia pun bergegas menuruni anak tangga dan segera bergabung untuk sarapan.
"Pagi Ayah, Bunda," Morning kiss didaratkan Andara di pipi Ayah Josh dan Bunda Rania, "Kak Willy kemana Bun?"
"Hmm.." Willy melangkah dari balik punggung Andara.
Andara berbalik, "Dih itu iler diusap dulu napa kak."
Sambil menarik kursinya, tangan Willy mengusap mulutnya dan dioleskan pada wajah Andara.
Andara yang tidak siap, sontak kaget dan tidak bisa menghindar.
"DASAR JOROK!!! CUCI MUKA DULU KEK, GOSOK GIGI DULU KEK, BAU JIGONG TAU KAK!!" Andara memasang tampang pura-pura muntah.
"Iiihh kalo bayi tuh, bangun tidur bau nafasnya langsung seger. Banyak yang mau cium-cium malah."
"Itu kan bayi kakakku yang terhormat. Kalo badan segede gini namanya bayi kadaluarsa tau!!" Tuding Andara tepat ke muka Willy.
Yang dituding cuma cengengesan. Ayah Josh dan Bunda Rania tersenyum sambil geleng-geleng kepala memperhatikan tingkah anak-anaknya.
"Bi Inah, tadi lupa pesenan saya ya?" Tanya Ayah Josh tiba-tiba.
"Sayang pesen apa emangnya?" Bunda kebingungan.
"Maaf Ayah, tadi ada pesenan sesuatu sama saya ya? Maaf saya kelupaan. Pesan apa ya yah?" Ujar Bi Inah lirih.
Semuanya sontak melihat Ayah kemudian beralih memperhatikan Willy. Benar saja, wajah Willy terlihat seperti panda, dengan lingkaran hitam disekeliling matanya. Willy tidak tidur semalam, mengerjakan desain logo website dari kliennya sekaligus menyusun proposal pembangunan di desa tujuan KKNnya.
Menyadari itu, semua yang ada di ruang makan itu pun tertawa nyaring. Willy cuma bisa garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Jaga kondisimu will, jangan terlalu larut dengan pekerjaan," Ujar ayah sambil meminum jus jeruknya.
"Atur waktumu Willy. Ayo semua cepat makan, nanti terlambat lho," Bunda sudah mulai mengisi piring suaminya dengan nasi dan lauknya.
Ting.. Tong.. Ting.. Tong..
Baru beberapa suapan, bel pintu berbunyi. Bi Inah langsung berlari ke arah pintu dan membukanya.
"Uhuuk.. Uhuuuk.." Andara tersedak jus begitu melihat siapa yang datang.
"Ayah.. Bunda.. Ini ada teman non Andara datang," Bi Inah sudah membawa Vano ke ruang makan. Sontak semua mata langsung mengarah mencari sumber suara.
"Makanya kalo makan tuh pake mulut, Dara, jangan pake hidung, keselek tuh kan jadinya!!" Willy menepuk-nepuk punggung Andara sambil mengerlingkan matanya, ia tau siapa yang datang.
"Ini--" Tanya Ayah bingung.
"Saya Alvano om, panggil saja Vano. Saya pacar Dara," Jawab Vano tegas sambil mengulurkan tangannya.
"Ooh ini yang ngasih coklat kemarin ya? Makasi ya coklatnya enak, langsung abis," Goda Willy yang langsung dihadiahi Andara cubitan di lengan. Gadis itu jengkel karena teringat lagi insiden kemarin.
Vano yang bingung cuma bisa tersenyum simpul sambil mengangguk saat tangannya dijabat oleh Ayah Josh.
"Saya Josh, ayah Andara. Ayo silakan duduk. Sudah sarapan belum? Sekalian ikut makan aja ya. Bun, tolong piring dan jus untuk Vano ya," Pinta Ayah Josh pada Bunda Rania.
"Saya benernya mau ngajak Andara sarapan dulu om sebelum berangkat sekolah."
"Ooh kalau kita, sarapan dan makan malam wajib makan bersama. Jadi mulai sekarang kalau kamu belum sarapan, kita makan bareng di sini aja ya. Sekalian nantinya kalian bisa berangkat bareng," Ayah Josh menjelaskan ritual keluarganya. Sekilas terlihat kilatan rasa iri dari mata Vano. Tapi dengan segera dia mengubahnya kembali.
"Terima kasih om. Maaf merepotkan," Ujar Vano sambil berjalan.
Andara menyiapkan kursi untuk Vano di sebelahnya. Semakin Vano berjalan mendekat mukanya sudah menyerupai kepiting rebus. Jantungnya berdetak tak karuan. Sial, kalo kayak gini terus bisa-bisa aku serangan jantung beneran nih, iihh amit-amit, batin Andara sambil bergidik ngeri.
Sambil tersenyum dan memberikan piring pada Vano, Bunda berkata, "jadi si ganteng ini yang kemarin bikin heboh di sini. Pinter juga anak Bunda ini memilih," Memegang bahu Vano dan sebelah tangannya mengusap rambut Andara.
"Bunda aah apaan sih, malu tau Bun," Andara merengut. Vano tambah bingung.
"Kemarin tuh, Ayah uda mau ngelaporin kamu ke polisi," Willy mulai menjelaskan.
"HAH?!! Uhuk.. Uhuk.." Vano yang baru mulai minum jusnya langsung kaget.
Vano yang belum paham situasinya lugu bertanya, "kok bisa sih kak, salah aku apa ya?". Ayah Josh dan Bunda Rania menahan tawanya sambil makan.
"Kan kemarin Dara cerita ditembak kamu, ya kita sigap dong mau melaporkan kamu ke polisi sekalian bawa Dara ke rumah sakit, takut kalo Dara kenapa-napa," Willy menatap Vano sambil menaikturunkan kedua alisnya dan tersenyum menggoda.
Sadar sedang dipermainkan kakak Andara, Vano langsung membelalakan matanya dan menundukkan kepala dengan wajah memerah karena malu. Dia memegang tengkuknya yang mendadak panas.
"Uda jangan didengerin omongan kak Willy, dia emang aneh. Dulu waktu pembagian otak, dia telat dateng, makanya jadi gitu," Andara menatap sebal pada kakaknya.
Tak lama ruangan itu dipenuhi suara tawa yg riuh dari penghuninya. "Udah, udah.. Jangan becanda terus, Bunda sampai nangis nih nahan tawa dari tadi," Bunda mengibaskan tangannya.
"Ya udah, ayo teruskan sarapannya. Vano makan yang banyak," Ayah berkata sambil mengusap air mata yang ada di pipi Bunda Rania.
Hangat.. Dekat.. Menyenangkan.. Penuh cinta.. Batin Vano sambil tersenyum mengamati satu per satu keluarga kekasihnya. Andara yang memperhatikan perubahan mimik wajah Vano ikut tersenyum sampai mata mereka saling menatap malu-malu.
Sarapan pagi ini sangat mendebarkan bagi Andara. Ini pertama kalinya, kekasihnya datang ke rumah dan ikut makan bersama. Vano memang bukan kekasih pertama Andara, tapi ini pertama kalinya Andara mengenalkan secara terbuka sosok kekasih pada keluarganya.
Gila, aku bahkan gak bisa merasakan rasa makanan ini, aku uda kenyang rasanya!! Batin Andara, sambil mencuri-curi pandang pada Vano. Yang dilirik hanya fokus makan untuk mengurangi gugupnya.
Meskipun Andara tidak bisa merasakan rasa makanannya saking gugup dan bahagianya, tapi piringnya kosong juga. Vano pun sudah menghabiskan makanannya. Mereka saling melirik dan memberi kode untuk segera berpamitan.
"Om, tante, kami sudah selesai makan. Kami pamit berangkat sekolah dulu ya," Vano bangkit dari kursi. Andara pun ikut bangun.
"Ayah, Bunda, Dara juga berangkat ya," Ujar Andara sambil mengambil tasnya.
"Ya udah, hati-hati ya, jangan ngebut nyetirnya," Jawab Bunda dan diiringi anggukan kepala Ayah.
Andara pun berjalan mengitari meja, memberi ciuman pada pipi Ayah Josh dan Bunda Rania. "Selamat bersenang-senang di sekolah," Bisik Ayah.
"Nitip Dara ya, Vano," Lirik Ayah Josh. Masih duduk di kursinya.
"Pasti om," Vano mengangguk hormat.
Ayah Josh dan Bunda Rania melepas kepergian mereka dengan tersenyum. Tiba-tiba Ayah Josh bangun dari kursinya dan menggenggam pergelangan tangan Vano.
"Alvano Pradana?" Mata Ayah melihat nama yang ada di seragam Vano. Dahinya berkerut.