NOVEMBER RAIN

NOVEMBER RAIN
SUDAH KUBILANG



"Ken.. Kenzo. Jangan lepaskan aku. Ken.. Kenzo aku mau pergi dari sini segera." Andara memegang erat tangan Kenzo. Berharap dirinya masih dapat berdiri dengan tubuh Kenzo sebagai penopang. Air matanya sudah mengalir deras tak terbendung, Andara hanya mampu menunduk.


"Aku sudah mengingatkanmu dari tadi kan sayang. Ku mohon, percaya saja padaku mulai sekarang." Kenzo menarik tubuh Andara semakin dekat dengannya. Pelukannya juga semakin erat. Ia sungguh tidak tega melihat gadis yang dicintainya terluka seperti ini.


"Bawa aku pergi Ken. Ku mohon. Jangan tinggalkan aku Kenzo. Cepat Kenzo kita pergi." Andara berkata lirih. Tubuhnya mulai goyah, pandangan mulai kabur. Tangannya mencengkeram lengan Kenzo sangat kuat.


Kenzo mengangguk. Dia menuntun Andara untuk berbalik dan segera meninggalkan tempat acara. Baru beberapa langkah, terdengar suara dari atas panggung yang membuat mereka berhenti melangkah.


"Jadi, si tampan calon suami Vanya ini, namanya siapa sih?" Tanya pembawa acara dengan genit.


"Nama saya Alvano Pradana. Cukup panggil saya Vano." Lelaki itu memperkenalkan diri dengan senyum merekah di bibirnya.


Tepuk tangan riuh terdengar kembali. Andara melirik ke arah panggung. Tampak diatas panggung sepasang muda mudi yang terlihat sangat bahagia bersama, saling bergandengan tangan dan tersenyum penuh cinta. Andara melihat kekasihnya berdiri bersanding dengan gadis lain yang berstatus sebagai tunangannya. Hatinya hancur melihat kenyataan yang terhampar dihadapannya. Bahunya terguncang hebat menahan suara tangisnya.


Kenapa? Kenapa kamu tega Vano? Memanggilnya cantik dan kamu juga memanggilku cantik? Apa agar kamu tidak salah sebut namanya saat bersamaku? Atau agar kamu selalu ingat dirinya saat bersamaku? Bodohnya aku, terbuai dengan cintamu. Cinta yang sudah kamu bagi dengan wanita lain, bahkan disaat kamu baru saja memohon padaku agar aku bertahan di sisimu. Dan dengan bodohnya, aku menuruti maumu, hingga berjanji akan selalu berada di sisimu dan selalu mempercayaimu. Jadi sisi mana yang kamu ingin aku tinggali? Sisi gelap sebagai simpananmu kelak ketika kamu menikah dengannya? Batin Andara berteriak. Dia merasa sangat muak dengan lelaki itu. Rasa cintanya yang dalam, justru menciptakan luka yang sama dalamnya di hatinya. Serasa seribu sembilu menusuk jantungnya. Sesak. Pedih. Perih.


"Jadi kamu ini setahun di atas Vanya? Kakak kelasnya gitu dong. Wah tiap hari berangkat dan pulang bareng calon istri dong ya." Goda pembawa acara tiada henti.


Semakin mendengar suara itu, Andara semakin merasa tubuhnya merosot ke bawah. Kenzo semakin erat memeluknya. Andara merasakan kekuatan tubuhnya menghilang.


Kenzo memberi kode pada Amel dan Karla untuk mengikutinya keluar. Andara pun kembali dituntun Kenzo menuju pintu keluar acara tersebut. Tiba-tiba suara Vano dari atas panggung kembali menghentikan langkah mereka.


"Iya benar, aku kelas XII dan Vanya kelas XI tapi kita gak satu sekolah. Aku di SMA Langit Biru sedangkan Vanya di SMA Granatala. Kita gak tiap hari berangkat dan pulang sekolah bareng tapi ya sesekali aja. Biasanya kalau pulang sekolah lebih sering bersama sih." Vano yang ternyata tunangan Vanya, menjelaskan dengan sangat santai sambil terus menampakkan senyum ceria.


"Granatala?" Andara, Amel dan Karla dengan segera langsung membalikkan badannya menatap Kenzo. Wajah mereka dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan.


"Kamu?" Amel hanya mampu berkata seperti itu.


"Vanya satu sekolah denganmu? Kamu kenal dia?" Karla bertanya dengan nada menuduh.


"Kamu satu sekolah dengan Vanya dan kamu juga kenal Vanya dan Vano. Aku yakin kamu tau dengan pasti cerita mereka. Tapi kenapa kamu diam aja Ken? Kamu berniat membohongi dan membodohi aku ya Ken?" Andara menuduh Kenzo. Matanya menatap tajam seakan ingin menguliti Kenzo.


Kenzo menghela nafas kasar sambil mengusap wajahnya dengan sembarangan.


"Aku tidak pernah bohong pada kalian. Kalian tau sendiri seragamku. Tidak ada yang aku tutupi." Kenzo menjelaskan pada ketiga sahabat itu.


"Dan aku gak pernah berniat membohongimu sayang, apalagi membodohimu." Mata Kenzo menatap tulus pada Andara.


Kenzo menarik nafas dalam, melanjutkan bicaranya.


"Aku gak pernah diam sayang. Aku selalu memperingatkan kamu. Aku selalu berusaha memberitahu kamu. Aku selalu di dekatmu, tapi apa kamu pernah melihat aku? Apa kamu pernah bertanya padaku? Apa kamu pernah percaya padaku?"


Deg..


Hati Andara mendadak lebih sakit. Sakit yang berbeda dengan sakit yang dirasakannya beberapa saat yang lalu. Sakit yang ini lebih melukai harga dirinya. Andara terluka karena semua perkataan Kenzo mengenai dirinya seluruhnya benar. Ia yang tidak pernah memperhatikan peringatan Kenzo. Ia yang tidak peduli oleh Kenzo karena terbutakan oleh rasa cintanya pada Vano. Ia yang memang tidak pernah melihat keberadaan Kenzo karena Andara mencoba meredam amarah yang mungkin timbul jika Vano melihatnya bersama Kenzo.


Andara mencoba menjaga cintanya bersama Vano yang baru bersemi. Hah, bahkan cinta itu bahkan bukan milikku dari awal. Batin Andara.


Andara menatap Kenzo dalam. Dia merasa mata yang dipandangi itu menertawakan dirinya yang sangat bodoh. Sekarang Andara benar-benar meratapi kebodohannya sendiri. Ia menundukkan kepala semakin dalam, merasakan sakit ditiap tetes air matanya.


"Kita pergi dulu dari sini ya sayang. Aku jelaskan nanti setelah kamu lebih tenang." Kenzo kembali menuntun Andara keluar dari acara itu, diikuti Amel dan Karla di belakang mereka.


Mereka berempat tidak lagi menghiraukan acara yang masih berlangsung di panggung belakang mereka. Entah sesi apa yang sedang dilangsungkan sekarang. Mungkin pemotongan kue.


"Tadi ke sini naik apa?" Kenzo bertanya. Andara terdiam, gadis itu belum pulih dari rasa terkejutnya.


"Pakai mobil Dara." Karla menjawab.


"Mana kuncinya?" Kenzo bertanya sambil menatap Andara. Lama menunggu tidak kunjung mendapat jawaban, Kenzo langsung mengambil tas yang dibawa Andara dan mencari kunci mobil di dalamnya.


"Kalian bawa mobil Dara ya. Aku sama Dara. Hmm.. Kalian mau ke mana setelah ini? Aku mau bawa Dara keluar dulu, nanti aku izin sendiri sama Bunda." Kenzo menatap Karla dan Amel sambil menyerahkan kunci mobil.


"Kita ke rumah Dara aja, nunggu di sana. Tenangin Dara dulu ya. Kita ntar yang bilang sama Bunda kejadian ini. Kita nitip Dara ya Ken." Amel menjawab.


"Pasti!! Kalian gak usah khawatir masalah itu. Ayo cepet keluar." Kenzo membuka jalan.


Kenzo mengangguk.


"Kamu sekarang percaya sama aku kan sayang? Kamu mau ikut aku sekarang?" Wajah Kenzo mendekat ke arah wajah Andara. Menatap mata gadis pujaannya yang sembab dengan senyum ramah.


Andara mengangguk patuh. Menyandarkan kepalanya pada dada lelaki itu. Nyaman dan tenang. Rasa yang selalu hadir di hati Andara saat bersama Kenzo, namun selalu ditepisnya karena rasa cinta yang lebih besar pada Vano. Rasa cinta yang saat ini memberikan banyak luka pada hatinya.


Hah!! Rasa cinta yang lebih besar pada Vano? Benarkah? Atau.. Batin Andara mulai saling bertentangan.


Kembali meneruskan langkah kakinya sambil menunduk membuat Andara tidak melihat dengan jelas yang ada dihadapannya. Tidak lama kemudian terdengar suara benda beradu.


Praaannngg..


Andara merasakan tubuhnya sedikit melayang dan tertarik dengan kencang. Bingung dengan situasi yang ada, Andara hanya bisa menutup mata sambil membenamkan wajahnya lebih dalam ke dada Kenzo dan semakin menguatkan pelukan tangannya pada lengan Kenzo yang melingkar erat di pinggangnya.


"Aah." Pekik Andara tertahan begitu ia merasakan tubuhnya menabrak sesuatu.


Apa ini? Keras tapi dia juga merasa hangat dan lembut. Batin Andara bertanya-tanya.


"Dara!!" Teriakan terkejut lolos dengan mudah dari mulut Amel dan Karla.


Kejadian yang cepat itu, bagai kilatan cahaya di mata Andara.


Andara terdiam masih mencerna yang telah terjadi. Bahunya naik turun tak beraturan, mengimbangi deru nafasnya yang memburu karena terkejut. Wajah Andara yang menempel di dada Kenzo, merasakan degup jantung yang tak kalah memburu seperti miliknya. Andara melirik ke pemilik jantung itu. Wajahnya keras, penuh rasa khawatir dan terkejut.


"Dara!! Kamu gak kenapa-napa kan? Kamu gimana Ken, aman semua?" Karla berlari mendatangi Andara dan Kenzo, dilihatnya tubuh keduanya dari atas sampai bawah, wajahnya semakin terlihat khawatir.


"Gak ada yang luka kan?" Amel menyelisik.


"Hmm.. Aman." Kenzo menjawab singkat sambil mengatur nafasnya.


"Sayang, kamu gimana?" Kenzo melihat Andara, menatap gadis itu dengan seksama.


Andara yang mendengar suara Kenzo, Amel dan Karla, langsung tersadar.


"Ada apa Kenzo?" Tanya Andara bingung sambil menatap Kenzo dari balik bulu matanya, tubuhnya masih berada di pelukan Kenzo.


Merasa tidak mendapat jawaban, Andara segera berdiri tegak sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Mencari tahu kejadian apa yang barusan dialaminya. Yang dia dapatkan adalah pandangan semua orang yang tertuju padanya dan Kenzo. Pandangan khawatir, takut dan penuh pertanyaan.


"Kalian yang di belakang, gimana keadaannya? Semua baik-baik aja kan?" Pembawa acara melontarkan pertanyaan pada Andara dan Kenzo.


Rupanya kejadian tadi membuat acara terhenti. Pertanyaan yang diajukan pembawa acara itu, sontak membuat pandangan seluruh tamu yang berada di barisan depan panggung serempak menoleh ke arah belakang, memandangi Kenzo dan Andara dengan tatapan penuh tanya.


Mata Andara pun menatap satu per satu mata tamu undangan sambil mengangguk dan tersenyum sebagai permintaan maaf meskipun ia belum mengetahui dengan jelas yang terjadi.


"Tolong, pihak medis, mereka diperiksa, takutnya ada yang terluka." Lelaki paruh baya yang berdiri di atas panggung memberi perintah pada petugas yang berada di sekitar lokasi.


Kenzo seketika berdiri tegap dan merapikan pakaiannya. Tangannya langsung memeluk erat tubuh Andara, pelukan posesif. Matanya tak lepas dari pandangan ke arah panggung.


"Kami baik-baik saja om, silakan di lanjut. Maaf menginterupsi." Kenzo bersuara lantang, mulutnya membentuk senyum tipis, pelukannya semakin terasa kuat. Semakin terasa posesif.


"Duh hari ini banyak pasangan yang sedang berbunga-bunga ya hatinya. Terlempar kayak gitu tadi rasanya gak ada yang sakit ya kalau lagi pelukan sama pacarnya. Langsung sembuh gitu. Semoga beneran gak ada yang luka ya, kalau ada yg luka, hubungi medis segera ya. Ada di sudut sana." Pembawa acara mencoba menggoda Kenzo sambil menunjuk posisi ruang medis yang sudah disediakan.


Kenzo semakin mengeratkan pelukannya. Ia tersenyum lebih lebar sambil mengangkat ibu jarinya sebagai jawaban dari pernyataan pembawa acara. Matanya terus memandang ke arah panggung. Pandangan penuh ancaman.


Andara melirik ke wajah Kenzo, sekedar ingin tahu kondisi lelaki yang tiba-tiba memeluknya dengan posesif. Wajahnya kaku, penuh amarah. Matanya memandang tanpa jeda ke arah panggung.


Nih bocah kenapa sih? Serem banget tampangnya kalau gini. Marah deh kayaknya. Tapi marah kenapa sih? Tadi pembawa acara itu bilang terlempar, siapa yang terlempar ya? Apa aku sama Kenzo? Aah ini pasti dia marah gara-gara alasan itu deh!! Ternyata punya malu juga dia dikatain begitu. Batin Andara mencoba menebak.


Andara yang masih bingung pun, dengan penasaran mengikuti arah pandang Kenzo. Ketika pandangannya melewati Amel dan Karla, Andara melihat arah pandangan kedua sahabatnya juga mengeras, persis seperti Kenzo dan sedang menatap ke arah yang sama, yaitu panggung. Andara pun mengikuti arah pandang mereka bertiga.


Hatinya terkesiap. Degup jantungnya bertalu-talu. Matanya terkunci pada sosok yang berdiri di atas panggung yang juga memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan.