
Aku terbangun dari tidurku, aku tak terlalu ingat kejadian semalam, yang aku ingat hanyalah aku berdiri di bawah derasnya hujan lalu seseorang menolong ku. Aku masih tidak tahh siapa yang menolong ku malam itu, apakah dia tamu di pesta ulang tahun ku? Entahlah, masih menjadi misteri untuk ku.
Tenggorokan ku rasanya sakit sekali suhu tubuh ku juga lumayan panas. Apakah karena hujan semalam membuat ku jadi demam. Tak lama aku mendengar suara ketukan dari pintu kamar ku, mungkin itu kak Nia atau kakek. Tapi ternyata saat pintu terbuka, itu adalah laki-laki yang sangat menyebalkan, apa dia ingin menjenguk ku?
"Nathan" dengan suara lirih.
"Zara, apa kamu baik baik saja? menghampiri Zara yang berada di kasur.
"Aku baik, sini duduk" sambil menyuruh Nathan duduk di kursi sofa dekat kasurnya.
"Kak Nia bilang kalau kamu demam, apa sudah minum obat? tanya Nathan sambil memeriksa dahi Zara.
"Aku baru bangun saat kau datang, aku belum sempat makan atau minum obat" jawab Zara.
"Mau ku ambilkan sarapan dan obat mu?"
"Tidak perlu, nanti juga bi Ida yang mengantar. Nathan, aku boleh tanya sesuatu"
"Ada apa Zara?"
"Emm... Apa kamu tau siapa yang menolong ku saat hujan semalam?"
"Ehhh... Itu, aku tidak tahu. Saat aku datang setelah mengambil barang yang tertinggal di mobil, aku sudah melihat mu di kelilingi banyak orang, aku melihat kamu tidur di sofa dekat pintu taman dengan kondisi basah kuyup" jawab Nathan.
"Berarti kamu tidak melihat siapa yang menolong ku semalam" kecewa.
"Sudahlah Zara, yang paling penting sekarang kamu harus cepat sembuh" mengelus kepala Zara.
"Oh iya, bukannya kamu harus kembali ke Negara X untuk kuliah"
"Zara, kamu lupa, aku sudah bilang akan pindah ke kampus yang sama dengan mu. Ingatan mu sungguh buruk sekali" menyentil dahi Zara.
"Ishhh... Sakit!" sambil mengelus dahi.
"Hei Nathan. Jangan bodoh, tinggal satu tahun lagi dan kita akan lulus, kenapa harus pindah"
"Buat ku tidak ada bedanya kampus di sana ataupun di sini. Lagi pula aku ingin dekat dengan keluarga ku dan juga kamu"
"Aihh... Dasar bodoh"
"Jadi, mohon bantuannya Zara, karena aku akan satu kampus dengan mu" sedikit membungkuk sambil tertawa.
"Baiklah, dasar bodoh" melempar bantal ke arah Nathan.
●●●
Nathan tidak terlalu lama di rumah ku, dia harus kembali untuk mengurus perpindahannya. Aku mencoba beranjak keluar dari kamar menuju ruang TV di bawah. Rumah terasa sepi karena kak Nia dan kakek berada di kantor. Rasanya sangat membosankan berada di rumah sendiri. aku sempat berpikir untuk menelfon Evi, tapi pasti dia sedang belajar di kampus.
Tak lama aku mendengar suara mobil masuk ke rumah ku. Apa mungkin Nathan kembali? Aku mencoba melangkah keluar.
"Kak Nia" seru Zara.
"Hey, kenapa keluar. Aku pulang cepat karena kamu sedang sakit, aku tau pasti kamu kesepian di rumah" sambil mengambil beberapa barang di bagasi.
"Iya kak, bi Ida pergi berbelanja, aku sangat kesepian di rumah"
"Yasudah, yuk masuk" melangkah menghampiri Zara.
*Ruang TV*
"Ini kakak bawakan buah untuk mu"
"Ah... Iya, aku tidak kepikiran"
"Aku akan menaruh tas dan ganti baju, setelah itu kita nonton film bersama"
"Siap kakak bosss"
•Beberapa menit kemudian•
"Kamu mau nonton film apa Zara?" memilih DVD.
"Apa saja lah"
"Baiklah kalau begitu"
"Emmm... Kak, aku mau tanya"
"Tanya apa?"
"Apa kakak tau orang yang menolong ku semalam?"
"Emmm... Tidak, karena masih agak ramai semalam kakak engga sadar ada kejadian seperti itu. Tiba tiba ada pelayan yang berteriak karena melihat kamu tidur di kursi sofa dengan basah kuyup. Aku dan kakek sangat terkejut melihat mu, bahkan kakek sempat menangis saking takutnya melihat kamu seperti itu"
"Oh, seperti itu. Maaf ya membuat kalian khawatir pada ku" sedih.
"Tidak apa Zara, kami juga minta maaf karena semalam ada banyak tamu penting sampai kita tidak memperhatikan mu" memeluk Zara.
Bahkan kak Nia juga tidak melihat siapa yang menolong ku semalam. Entah kenapa aku ingin menemuinya, aku ingin tahu siapa dia, dan mengucapkan terima kasih karena telah menolong ku. Aku harap bisa cepat menemukan mu.
●●●
☆Tambahan☆
"Zara, Nia kakek pulang"
"Wah... kakek bawa apa" melihat kantong berwarna coklat.
"Ini buah jeruk dan apel untuk mu Zara".
"Apa buah lagi? Apa tidak ada yang ingin memberiku makanan lain" teriak kencang.
"Lohh kenapa ini kan bagus untuk mu"
"Lihat ini" memperlihatkan isi kulkas yang penuh dengan buah.
"Sudahlah aku jualan buah saja, tidak perlu menggantikan kakak nanti di kantor"
"Wahh... kalo gitu aku nanti engga jadi naik jabatan" seru Nia.
"Wahh... Apa hanya itu yang ada di pikiran mu kak"
"Tentu saja"
"Sudah, Sudah kalian beruda ini. jadi akan kita apakan buah sebanyak ini?" tanya kakek.
"Nahh kakek makan sendiri saja, biar kakek lebih sehat dan kulit kakek akan lebih segar jika mengkonsumsi banyak buah hahahah, ayok kak kita ke atas saja" melangkah pergi ke kamar.
"Ahhh, dua bocah ini. Lihat saja nanti, perbuatan kalian akan ku balas" sambil tertawa licik.