
Entah bagaimana lagi aku harus menggambarkan perasaanku saat ini. Bukan pertama kalinya aku mendatangi pesta seperti ini, tapi sejak pagi tadi tubuhku seakan tak merespon dengan baik apapun sinyal yang diberikan oleh otakku.
"Udah siap sayang?" Aku mendengar ada yang menegurku tapi entah kenapa aku hanya berdiam diri menatap pantulan tubuhku di cermin.
"Kay." Kali ini panggilan itu disertai tepukan ringan di bahuku.
Mataku melirik menatap si empunya tangan. Mama. Wanita terbaikku.
"Ada apa Kay?" Tanya Mama lagi saat melihatku terdiam tanpa merespon.
"Kay." Kali ini panggilan Mama mampu menarik kesadaranku.
Mataku menatap pada mata teduh Mama dari kaca yang ada di depanku.
"Apa dia itu aku, Ma?" Ucapan bodohku mampu membuat Mama mengernyit.
Sadar dengan kebingungan di wajah Mama, aku segera memberi kode dengan menaikkan daguku dan menunjuk pantulan wanita bergaun ungu yang ada di depanku.
Mama tersenyum dan membawaku ke dalam dekapannya.
"Anak Mama memang cantik sekali. Dan ya, itu kamu, bidadari Mama dan Papa. Sekarang bidadari Abangmu juga." Mama mencubit pelan hidungku.
Sejenak aku langsung tersadar posisiku. Kesadaranku kembali. Benar, gadis cantik itu aku. Mikhayla. Istri Bang Arka. Aku bahkan tak menyangka jika tampilanku bisa seanggun itu.
Gaun ungu pemberian kak Farel, dengan hiasan bunga berwarna merah muda di pinggang. Sedikit dimodifikasi agar bahunya tidak terlalu terbuka dan panjangnya tidak di atas lutut, tentu saja itu permintaan suamiku. Membuat gaun ini semakin tampak anggun dan berkelas. Terima kasih kakak, aku harap kamu melihat kami dari atas sana. Dan tolong, ikutlah berbahagia bersama kami.
"Mama." Aku menghambur dalam pelukan wanita yang telah mendampingiku selama ini.
"Eh jangan nangis Kay. Make up nya luntur." Mama menepuk pelan punggungku.
"Kay kangen kakak."
Mama menghela nafas panjang. Aku tahu harusnya aku tak mengatakan ini. Bagaimanapun, Mama ibu kandung kak Farel, pasti sangat berat juga untuknya dan dengan bodohnya aku terus mengungkitnya.
"Kakakmu melihatnya dari atas, dan Mama yakin dia ikut berbahagia. Toh inilah yang diimpikan kakakmu. Melihatmu bersanding dengan Bang Arka, benar kan?" Mama membelai lembut punggungku.
Aku hanya mampu mengangguk sekilas sebelum dehaman dari ambang pintu kamar mengurai pelukan kami.
"Sudah siap sayang?"
Hatiku menghangat saat mendapati sosok yang tengah berdiri dengan gagah di ambang pintu.
Lelaki yang berstatus suamiku itu tampak sangat cocok menggunakan setelannya. Jas abu-abu dengan kemeja biru muda senada dengan warna gaunku. Dia sangat tampan dan dia suamiku.
"Aku selalu siap Bang." Ucapku penuh keyakinan.
Kini kami berangkat bersama menuju tempat diadakannya resepsi pernikahanku dengan Bang Arka.
Sebenarnya sedikit diluar rencana. Keinginan pertamaku mengadakan acara ini di area terbuka dengan konsep garden party, tapi mengingat cuaca yang tidak mendukung akhir-akhir ini dan undangan yang disebar oleh Ayah dan juga Papa yang membuatku menganga saat mengetahui jumlahnya, akhirnya aku hanya bisa pasrah saat membatalkan ideku.
***
"Sudah siap Nyonya Fabian?" Lamunanku terhenti saat kurasakan tangan Bang Arka membelai pipiku.
Sontak aku menoleh padanya dan kemudian mengedarkan pandanganku. Astaga! Aku bahkan melamun sepanjang perjalanan tadi hingga tanpa sadar kini telah berada di sebuah gedung mewah tempat berlangsungnya acara.
Aku menyambut tangan Bang Arka yang terulur padaku. Entah kenapa aku sangat gugup. Mungkin karena ini pengalaman pertamaku.
"Jangan menahan nafas Nyonya Fabian!" Sentak Bang Arka saat kami berjalan bersama memasuki ruangan.
Mataku melotot saat melihat dekorasi ruangan besar ini. Astaga, ibu dan Mama benar-benar kombinasi sempurna untuk menciptakan kemewahan ini. Apa yang dipikirkan mereka sih? Aku bahkan tak percaya saat melangkahkan kakiku di dalamnya. Aku hanya meminta yang sederhana! Kenapa jadi seperti ini sih?
Apa kata sederhana menurut mereka adalah seperti ini? Rangkaian bunga tersebar di seluruh penjuru ruangan ini. Nuansa ungu dan merah muda sangat mencolok. Dari bunga, pelaminan, hiasan lampu dan segala sesuatunya berwarna ungu dan merah muda.
Tapi dibalik itu semua, aku suka. Sangat suka!
"Abang, kenapa jadi semewah ini?" Cicitku pada Bang Arka.
"Ikutin aja kemauan para orang tua kita, daripada kita dicoret dari kartu keluarga." Aku melotot saat Bang Arka mengucapkannya.
Refleks ku cubit lengan yang tengah ku apit. Bang Arka berjingkat menghindariku sambil terbahak-bahak.
"Becandanya nanti lagi Ka! Jangan banyak tingkah, inget, ini pesta kalian." Suara bariton yang ku kenal akrab itu menyapa gendang telingaku dari sisi kananku.
Mata mencari sumber suara itu dan ketemu!
"Ayah!" Aku menghambur dan memeluk Ayah dengan erat.
Salah satu hal indah yang selalu ku syukuri dari pernikahan ini adalah aku memiliki mertua yang sangat baik.
"Jangan peluk-peluk. Nanti hancur make up mu." Baru beberapa detik aku memeluk Ayah, tubuhku sudah berpindah tempat diiringi protes dari suara yang juga sudah ku kenali.
Plaaakk..
"Kebangetan deh Ka. Masa sama Ayah sendiri kamu cemburu juga." Aku sontak berbalik untuk mengetahui pemilik suara yang telah mendaratkan pukulannya di bahu suamiku.
"Ibu?" Sapaanku malah terdengar serupa kekagetan.
"Ibu makin yakin Abangmu ini bucin maksimal padamu, Mikha. Ngidam apa ya ibu dulu waktu hamil dia? Jangan-jangan salah ambil bayi pas di rumah sakit!" Aku melongo mendengar ucapan ibu.
Astaga, mertuaku gaul banget! Ku peluk sekilas tubuh ibu sambil melirik ke arah Bang Arka yang wajahnya tampak jengkel dan keberatan.
"Kenapa? Cemburu? Cih!" Aku mencelanya.
"Abang juga mau." Lirih suara Bang Arka membuat kami terbahak-bahak saat mendengarnya.
Wajah Bang Arka mendadak masam. Setengahnya diliputi kekecewaan. Aah bayi besarku!
"Sudah, sudah... Ayo kita masuk. Tamu sebentar lagi datang." Suara Mama memecah tawa kami.
Sebelum masuk, pihak WO datang dan memberikan aku buket bunga yang sangat indah. Dengan berjalan beriringan, kami semua memasuki ruangan. Aku dan Bang Arka langsung menuju pelaminan yang telah disiapkan. Sebuah bangku indah yang dihias dengan penuh bunga.
"Kamu suka sayang?" Tanya Bang Arka saat kami menduduki bangku itu.
Mataku beredar menatap seisi ruangan. Memang sangat indah dan luar biasa bersinar.
"Kay suka Bang. Sangat indah. Makasi." Ucapku sambil menggenggam tangan Bang Arka.
"Cium dong kalau suka."
Segera ku cubit tangan Bang Arka yang ku genggam.
"Dasar mesum!"
"Mesum sama istri sendiri wajah dong Mikha."
Aku tak menggubris ucapan Bang Arka saat satu persatu tamu undangan berdatangan. Acara pun segera di mulai dengan di pandu pembawa acara yang menurutku lucu.
"Dimana menemukan MC itu Bang?" Bisikku pada Bang Arka.
"Kenapa?"
"Lucu dia Bang."
"Jangan naksir!"
Oh ****! Bisakah aku mengumpat langsung dihadapan Bang Arka? Bagaimana bisa pikirannya selalu terarah kesana?
Aku memilih tidak menanggapi ucapan Bang Arka yang ku rasa melantur itu.
Dari kejauhan ku lihat Kendrick menggandeng tangan Winda. Meski ada kilasan ketegangan, raut muka Kendrick masih terlihat tenang. Sedang wajah Winda tampak tegang, ia nampak tak nyaman berada di sisi Kendrick. Ah gadis itu, dia belum tahu kenyataan yang sebenarnya. Aku tak tega melihatnya dan ingin sekali menjelaskan semuanya padanya tentang kesalahpahaman itu, tapi ucapan Kendrick dan Bang Arka membungkam mulutku. Aku pun tak ingin merusak segala rencana yang telah mereka persiapkan.
"Selamat Bung!" Kendrick menyalami Bang Arka dan memeluknya.
Winda yang berada di belakangnya langsung menuju ke arahku.
Gadis itu tersenyum lebar saat di depanku.
"Gadis idola jurusan, cantik banget sih hari ini." Winda memelukku dan aku balas memeluknya sambil mengusap punggungnya.
Aku hampir berteriak saat melihat mata Winda berkaca-kaca saat pelukan kami terlepas.
Astaga, ini tak bisa dibiarkan. Jika seperti ini, maka Winda akan semakin sesak selama acara berlangsung.
"Win, jangan berpikir macam-macam ya sayang. Yakinlah, semua indah pada waktunya. Ini semua demi kamu." Winda mengernyit saat aku selesai mengucapkan kata-kata.
Dari sampingku Bang Arka langsung menarik pinggangku. Aku yakin dia memberi kode agar aku tak kelepasan kata. Masa bodoh jika aku kelepasan saat berbincang dengan Winda, aku lebih tak tega melihat kesedihan di mata sahabatku itu.
Acara demi acara berlangsung sangat meriah dan penuh kegembiraan. Aku dan Bang Arka terus memancarkan senyum terindah kami. Para tamu terlihat larut dalam kegembiraan di resepsi kami. Tak bisa ku pungkiri, aku menyukai acara ini dan sangat menikmatinya.
"Ehm.. Test.. Test.." Suara lelaki dari atas panggung kecil di sisi pelaminanku menarik perhatianku dan Bang Arka.
Oh gosh! Kapan dia datang? Kenapa tidak menyapa kami dulu dan malah langsung naik panggung? Apa yang direncanakannya?
Tubuhku menegang dan mendadak gugup saat menebak apa yang akan dilakukan lelaki itu di panggung.
"Kapan dia datang?" Gumaman Bang Arka masih tertangkap telingaku.
Ah sepertinya Abang juga sama bingungnya denganku. Ku lirik wajahnya yang tampak datar tak terbaca. Apa yang Abang pikirkan ya?
"Kenapa?" Tanya Bang Arka yang memergoki aku menatapnya, "jangan harap bisa berbaur dengannya di acara ini dan awas saja sampai dia mengacaukan acaraku." Imbuh Bang Arka dengan mata nyalang yang menatap tubuh lelaki itu.
Aku bergeming. Tak tahu akan merespon seperti apa.
"Selamat siang semuanya. Perkenalkan saya Aldrich, mahasiswa kesayangan Pak Fabian." Aku menelan ludahku dengan susah payah saat lelaki itu mulai bersuara. Astaga, apa yang direncanakannya?
Aku menggeleng saat menyadari sejak tadi Aldrich tak menyapaku dengan benar. Bahkan namaku pun terasa enggan dia ucapkan. Mataku menatap Winda yang sedang berdiri di depan panggung itu bersama Kendrick. Mata kami bertatapan dan dari mata Winda pun aku bisa melihat jika gadis itu juga tengah diliputi tanda tanya besar.
Petikan gitar mengalun dengan sangat lembut. Harmonisasi yang dihasilkan dari permainan Aldrich benar-benar menghanyutkan kami. Aku sedang menebak, lagu apa yang akan dia nyanyikan. Tapi nada ini, aku sama sekali tak pernah mendengarnya. Jadi, apa yang akan dilakukan Aldrich?
Pertama kali bertemu
Wajah sendumu selalu mengusikku
Membuatku bertanya
Luka apa yang tengah kau derita
Tubuhku meremang saat menyadari apa yang disampaikan Aldrich ini adalah puisi untukku. Puisi atau apapun itu namanya, yang jelas dia bersuara dengan memetik gitarnya. Indah, sungguh sangat indah. Tapi aku tak berani menikmatinya saat tubuh di sampingku menegang dan bersikap waspada.
Tapi dibalik itu semua
Ada sorot penuh cinta disana
Seketika itu juga aku terpesona
Dan jiwaku langsung mendamba
Oh bolehkan aku bersuara?
Jika sejak saat itu hingga kini
Kamulah satu yang selalu ku nanti
Kamulah satu yang mampu menggetarkan hati
Oh bolehkah aku meminta?
Senyum manismu yang selalu ku damba
Hangat matamu yang selalu ku rindu
Tawa renyahmu yang menyentuh kalbu
Bintang terang itulah dirimu
Menjadikan poros duniaku hanya kamu
Segala kehangatan terpancar dari wajahmu
Hanya dua kata yang mampu terucap, aku mencintaimu
Sumpah demi apapun, aku terharu dengan semua yang terucap dari mulut Aldrich. Petikan gitar dan pilihan katanya sangat mengena di hatiku. Namun aku tak mampu bersorak atau bahkan hanya berbinar atas semua itu, saat tangan kokoh melingkar dengan sangat erat di pinggangku.
Ku lirik sekilas pemilik tangan itu, wajahnya tegang dan terlihat sangar. Tak ada lagi senyum yang sejak tadi tersungging di bibirnya.
"Bang." Aku berusaha menarik perhatiannya agar tak terpusat pada tubuh di atas panggung.
"Dia mengungkapkan cintanya padamu, Mikha! Dan di depan semua orang! Sialan!" Ini pertama kalinya aku mendengar Bang Arka mengumpat secara langsung.
"Kay cuma cinta Abang." Aku mengusap tangan yang memeluk pinggangku dengan posesif itu.
"Harus! Dan pastikan hanya aku!" Suara Bang Arka terdengar tajam dengan mata nyalang yang masih menatap ke arah panggung.
Hai cinta
Tak ada lagi kata yang mampu tercipta
Untuk melukiskan segala keindahanmu
Yakinkan aku satu hal, bahwa kamu akan selalu bahagia
Teruslah tertawa
Teruslah tersenyum, wahai cinta
Agar aku mampu melepaskanmu
Dengan hati lapang dan penuh suka cita
Baris per baris diucapkan Aldrich dengan terus menatapku. Matanya mengunci penglihatanku, bahkan ia tak menghiraukan sosok disampingku yang tengah dirundung amarah. Nyaliku semakin menciut saat dibait terakhir Aldrich menunjuk ke arahku dengan tersenyum lebar. Astaga, sungguh besar sekali nyali lelaki itu.
Tepuk tangan meriah menyambut berakhirnya penampilan Aldrich di panggung. Namun tidak dengan suamiku, dia tampak kesal.
"Wah tampaknya ada pengakuan perasaan nih. Jadi, apa mempelai wanita di atas sana itu mantan terindahnya mas?" Dasar sialan! Pembawa acara itu malah menyulut emosi saja. Mulutnya lemas sekali.
Riuh suara tawa dan tepuk tangan memenuhi seisi ruangan ini. Aku semakin menundukkan kepalaku. Enggan melihat situasi yang ada. Satu hal yang ku yakini, Bang Arka menegang dengan tangan terkepal rapat di sisi tubuhku.
"Aduh keceplosan." Lanjut pembawa acara itu sambil menepuk mulutnya sendiri, jelas semua itu terdengar untuk menggoda kami.
"Bukan mantan terindah. Tapi kasih tak sampai. Kalah start!" Ujar Aldrich dengan terkekeh.
Oh ****, mulut Aldrich minta diolesin balsem juga nih!
Bang Arka semakin menegang di sampingku dan menatap tajam pada Aldrich yang tengah turun dari panggung dan menghampiri kami di pelaminan.
"Selamat Bang. Selamat Kay." Ucap Aldrich sambil mengulurkan tangannya.
Aku hendak membalas uluran tangannya saat dengan tiba-tiba Bang Arka menepis tangan Aldrich.
"Elah Bang, sensi amat. Gak bakal aku tikung Bang. Tenang aja." Astaga, Aldrich masih sempat mengucapkan kalimat itu!
Tangan Bang Arka sudah terulur dan siap merengkuh tubuh Aldrich saat Kendrick tiba-tiba sudah berdiri diantara kedua lelaki itu.
Entah kapan Kendrick ada disana. Mungkin sejak tadi dia membuntuti adiknya.
"Al, jaga mulutmu. Jangan bikin ulah disini. Cepat turun." Bentak Kendrick lirih pada adiknya.
Tangan Kendrick sudah melingkar di bahu Abang dengan sebelah tangannya menahan tangan Aldrich. Aku hanya mampu mendesah, merasa hampir putus asa melihat pertikaian yang mungkin akan menghiasi acaraku ini.
"Abang, sudah dong. Malu ah dilihatin banyak orang. Abang udah memiliki Kay, luar dalam. Apa lagi yang dirisaukan sih? Hati Kay cuma buat Abang. Dulu, sekarang dan nanti." Aku memeluk tubuh Bang Arka yang masih tampak tegang itu.
Ku usap perlahan punggung Bang Arka sambil melirik ke arah para tamu. Dan ajaibnya, para tamu sama sekali tidak memperhatikan pertikaian kecil kami, entah apa yang terjadi tapi pusat perhatian para tamu benar-benar bukan kami. Entahlah.
"Al, udah ngincip kambing guling belum? Beuuuhh enak banget kambing gulingnya. Yuk om temani kamu ambil kambing guling. Cobain deh, pasti ketagihan." Ayah yang ikut bergabung dengan kerumunan kecil kami, mulai bersuara untuk memecah ketegangan yang tercipta.
Mata Ayah nyalang menatap Bang Arka. Oh kasihannya suamiku, dia tidak ada yang membela. Aku ingin sekali tertawa saat melihat raut wajahnya. Tapi aku terlalu pengecut untuk menggoda Abang disaat seperti ini.
"Wah kebetulan, Al laper banget om. Ya udah om, Al ambil makanan sesuai rekomendasi dari om. Makasih om," Ujar Aldrich dengan tenang, oh lelaki itu, dia benar-benar bisa mengendalikan diri, "dan sekali lagi, selamat Bang." Imbuhnya sambil menepuk ringan tangan Bang Arka.
Tanpa sahutan, Bang Arka hanya menatap wajah Aldrich. Aku hanya bisa berdiam diri, enggan untuk menanggapi. Sampai akhirnya Aldrich menoleh padaku dan menganggukkan kepalanya. Aku balas dengan tersenyum.
"Jangan senyum padanya!" Cih, si posesif ini selalu tahu saja yang ku lakukan.
"Kay senyum ini buat Abang kok." Kilahku.
Suasana kembali kondusif saat Aldrich digiring Ayah turun dari pelaminan. Kendrick ikut turun dan bergabung bersama Winda. Acarapun kembali berjalan seperti rencana.
"Baiklah, inilah saat yang dinanti," Pembawa acara konyol itu mulai bersuara lagi, "bagi yang merasa jomblo, boleh maju sampai di depan pelaminan ya. Kita siap-siap untuk berebut buket bunga yang dibawa mempelai wanita." Imbuhnya memberi instruksi.
Para tamu undangan, wanita dan lelaki segera berkerumun di depan pelaminan. Ah inilah saatnya. Aku menoleh pada Kendrick yang tampak semakin tegang dan Winda yang enggan beranjak dari tempatnya.
"Duh itu kenapa si Winda diem aja disana sih Bang?" Aku menggerutu saat melihat Winda yang tak juga beranjak.
Bang Arka melirikku sekilas, semburat amarah masih tercetak di wajahnya. Dih, pendendam.
Dengan gerakan tangannya, Abang meminta Kendrick untuk mengajak Winda maju ke depan pelaminan. Untunglah, gadis itu mau mengikuti ajakan Kendrick.
"Inget rencana kita Mikha." Bisik Bang Arka dan ku sahut dengan anggukan.
"Baik, sudah maju semua ini? Kita siap-siap ya untuk pelemparan buket bunganya. Penganti wanita, siap juga?" Pembawa acara itu beralih menanyaiku.
Dengan acungan ibu jariku, aku memberinya tanda dan langsung ditanggapi olehnya.
"Oke semua sudah siap. Kita hitung mundur ya. Oh sebelumnya, pengantin wanita berbalik dulu, berhadapan dengan suaminya." Ujar pembawa acara mengingatkan aku.
Aku menurutnya dan mengubah posisiku jadi berhadapan dengan Bang Arka.
"I love you, husband!" Lirih ku ucapkan kalimat itu saat mata kami beradu.
Wajah Bang Arka seketika berubah menjadi merah. Hahaha Abang pasti kaget! Dan aku menikmatinya. Ku gigit bibirku untuk menahan senyum yang hampir lolos.
"Siap semua ya. Kita hitung bersama. Satu.." Hitungan dari pembawa acara telah dimulai.
Inilah saatnya.. Saat yang akan menjadi masa depan seseorang.
"Dua..."
Persiapkan dirimu.
"Tiga..."
Aku sungguh berharap, kebahagiaan yang ku rasakan, juga menular untukmu.
Selamat berbahagia dan selamat menikmati keterkejutan yang telah direncanakan orang terkasihmu.
Kita adalah pusat dunia untuk orang yang ternyata sangat mencintai kita. Selamat datang di kehidupan yang mungkin akan terasa sedikit sesak karena banyaknya limpahan kasih sayang yang kita dapat dari pasangan kita masing-masing.
Tapi percayalah, ketika kita melihatnya dari sisi berbeda, maka hanya kebahagiaan yang akan kita rasakan. Karena mereka berusaha memberi seluruh hidup dan cinta mereka untuk disajikan pada kita. Hanya kita.