
"Lho ini kan?" Andara terperangah saat matanya menatap gerbang besar yang sedang dimasukinya bersama Ayah Josh dan Bunda Rania. Di belakang, mobil Willy tampak mengikuti.
"Bunda sama Ayah kenapa sih gak bilang? Pantes aja tadi aneh banget. Ayah sama Bunda tuh gak cocok kalau mau nipu." Andara terus mencerocos saat mobil Ayah Josh memasuki halaman yang sudah dikenalnya.
"Enak aja, siapa bilang nipu? Emang bentar lagi Ayah sama Bunda mau ke acara nikahan kok." Sahut Bunda Rania.
"Kamu tuh yang gak bisa diajak kerja sama. Pakai acara nolak pula." Ayah Josh menambahkan.
"Ayah sih gak bilang, kan Dara jadi gak tau." Tepis Dara.
Mobil yang mereka kendarai kini sudah berhenti dan terparkir rapi di halaman depan yang tampak rindang.
"Ayo turun." Ajak Ayah Josh.
Bunda Rania dan Andara bergegas turun mengikuti Ayah Josh yang sudah lebih dulu menunggu di depan mobil.
"Kita kayak mau ngelamar ya Yah?" Willy yang sudah berada di samping Ayah Josh membuka suara.
"Harusnya kita tuh emang cocok Will kalau mau ngelamar. Masalahnya, yang dilamar siapa? Umurmu udah berapa Willy, waktunya berhenti bermain-main, segera cari yang cocok dan kenalkan pada Ayah Bunda, nanti Ayah lamarkan gadis itu untukmu. Kamu itu, jangan suka mempermainkan anak gadis orang." Cerca Ayah Josh.
"Astaga Ayah! Willy cuma bercanda Yah. Lagian kenapa juga sih jadi Willy yang disangkut pautkan? Ini urusan Dara. Udah ah, Willy masuk aja. Bisa panjang ini urusan kalau Bunda sampai tau." Ujar Willy sambil melangkahkan kakinya menjauhi Ayah Josh dan menuju ke pintu masuk.
Bunda Rania dan Andara yang menatap kepergian Willy nampak mengerutkan keningnya, heran dengan pemandangan di depannya.
"Tuh anak kenapa sayang? Marah karena diajak kesini? Kok tadi aku denger pada nyebut nama Bunda, ada apa sih?" Bunda Rania penasaran.
"Gak ada apa-apa. Ya udah yuk, masuk." Ayah Josh mengalihkan perhatian istrinya sambil menggandeng tangannya dan menuntunnya masuk. Andara mengekor tepat di belakang orang tuanya.
"Astaga, cantiknya!" Teriak Bunda Rania sambil berlari mendekat saat melihat sahabatnya sudah muncul di depan pintu rumahnya.
"Raniaku. Apa kabar? Kangennya!" Sahut sahabat Bunda Rania tak kalah heboh.
"Gak usah pada berlebih deh yah, inget umur. Kayak udah bertahun-tahun gak ketemu. Padahal baru kapan hari ketemu, dan tadi pagi juga masih pada ngerumpi bareng gitu, sekarang udah pada heboh." Cibir Ayah Josh dari belakang kedua wanita yang masih tampak asyik saling berpelukan.
Sahabat Bunda Rania tadi langsung melepas pelukannya seraya menatap tajam pada Ayah Josh.
"Tuh mulut, masih aja bawel kayak nenek-nenek. Urusin tuh anak lelakimu yang dateng-dateng langsung manyun. Muka ditekuk udah kayak kertas kusut aja." Cercanya pada Ayah Josh.
"Willy maksudmu?" Tanya Bunda Rania bingung.
"Siapa lagi emangnya? Kamu punya anak laki lagi?" Sahut sahabat Bunda Rania.
"Emang kenapa sih dia sayang? Dari tadi dateng kok kayak aneh. Kalian ngomongin apa sebelum aku turun dari mobil tadi?" Bunda Rania melayangkan tatapan bingung pada Ayah Josh.
"Urusan lelaki, biasalah, adu kekuasaan. Udah ah ayo masuk." Ajak Ayah Josh.
"Lha, ini yang tuan rumah siapa sih benernya?" Andara yang sejak tadi diam menyaksikan perdebatan kecil ketiga orang tua di depannya, mendadak bersuara melihat kelakuan Ayah Josh.
Tiga pasang mata segera mengarah padanya dan wanita yang tampak asing untuk Andara segera mendekat dengan tersenyum.
"Cantik! Mirip Rania banget. Pantas Kenzo memilihmu." Celetuk wanita itu.
"Hai tante." Sapa Andara.
"Wah, lupa atau sengaja godain Mami nih? Panggil Mami Raya, awas kalau lupa lagi." Ujar wanita, yang merupakan Ibu dari Kenzo, dengan mimik wajah yang dibuat pura-pura serius.
"Eh iya, maaf Mami. Dara sampai keceplosan. Ngelihatin Mami sama Ayah Bunda sih." Andara terkekeh.
"Seperti sifatmu lebih banyak meniru Bundamu. Untunglah, jangan sampai mirip Ayahmu, dih amit-amit deh mirip dia." Sahut Mami Soraya sambil melirik sekilas pada Ayah Josh.
"Mirip aku juga gak masalah, namanya juga bibitku." Ayah Josh menjawab santai.
"Jangan! Mirip Rania aja, bisa naik terus tekanan darahku kalau Andara juga sifatnya sama kayak Josh. Ngurusin Kenzo yang mirip Betrand aja sudah bikin pusing, yang satu ini kalau bisa lebih menenangkan hati dong." Kakek yang tiba-tiba muncul di belakang mereka, langsung ikut menyahut ucapan Ayah Josh, sembari mendekati Andara dan memberinya pelukan.
"Jika yang satu ada kekurangan, maka yang lainnya menutupi kekurangan itu, begitulah pasangan, saling melengkapi satu sama lain. Mengerti Andara?" Ujar Kakek sambil meraup wajah Andara dan mengamati raut mukanya.
Andara mengangguk dan tersenyum. Tubuhnya kembali direngkuh Kakek dan dimasukkan dalam pelukannya.
"Kenzo gak salah memilihmu. Kakek yakin kalian akan bisa berjalan bersama. Kakek yakin kalian akan saling melengkapi." Imbuh Kakek.
Sepertinya, keputusanku tidak salah. Batin Andara bersorak.
Mami Soraya terlihat menghapus air matanya, begitu pula dengan Bunda Rania. Kini kedua wanita hebat itu saling berpelukan menatap Kakek dan Andara yang juga berpelukan.
"Terus, kalau semua sudah ada pasangan buat berpelukan, aku pelukan sama siapa dong?" Suara rengekan Ayah Josh membuat semua mata menatap aneh padanya.
"Jelas sama aku lah pelukannya, masa mau sama tembok, sakit dong." Suara lelaki terdengar dari arah dalam dan melangkah pasti menghampiri Ayah Josh. Mereka berpelukan dan saling menepuk punggung.
"Cukup Betrand, menjijikan jika harus memelukmu lebih lama lagi." Ujar Ayah sambil bergidik dan menatap wajah sahabatnya seolah benar-benar jijik.
Suara tawa menggema mengiringi kalimat yang dilontarkan Ayah Josh.
"Sudah bercandanya, ayo masuk." Kakek menggiring semua masuk ke kediamannya.
Mereka semua menuju ruang keluarga dimana sudah terlihat Willy sedang meminum jus di tangannya.
"Ngapain Will?" Tanya Ayah sembari duduk di seberang Willy dan menatap anak lelakinya yang nampak tidak bersemangat.
"Tidur." Jawab Willy asal.
"Astaga! Yang ini jiplakan Josh banget." Mami Soraya terkekeh.
"Makanya dia cocok sama Kenzo. Coba kalian bayangin, tiap hari rumah kami diisi sama ocehan mereka. Pusing gak tuh." Bunda Rania berkomentar.
"Untung ada Andara ya, jadi basecamp mereka di rumahmu. Kalau disini, kasian Mommy dan Daddy." Sahut Papi Betrand sambil terbahak-bahak.
"Bagus kalau gitu, tekanan darah Daddy jadi normal terus." Kakek ikut menyahut.
"Josh yang pusing Dad, Kenzo mirip banget sama biangnya nih, titisan soang." Ayah Josh protes, sambil menyikut lengan Papi Betrand yang ada di sampingnya.
"Kayak kamu gak gitu aja. Malah dulu yang ngajari kan kamu, Josh. Aku inget betul itu. Malah aku yang mergokin kamu di dalam laboratorium pas malam inagurasi. Ingat gak kamu?" Seru Papi Betrand tak mau kalah.
"Betrand. Ada anak-anak." Bunda Rania mengingatkan.
"Gak usah khawatir Bunda, Dara udah pernah ngerasain." Sambar Willy dengan tiba-tiba.
Wajah Andara memerah saat dirasa semua mata yang ada di ruangan itu menatapnya dengan penuh tanya.
"Eh Dara.. Kak Willy ih.. Apaan sih." Andara yang gugup menjadi sulit berbicara. Ia hanya bisa melayangkan pandangan mematikan pada kakaknya yang nampak tak terganggu dengan tatapannya.
Semua tertawa melihat reaksi Andara.
"Wah, Kenzo luar biasa. Benar-benar anakku." Sahut Papi Betrand dengan membusungkan dada.
"Bukan sesuatu yang bisa dibanggakan Betrand." Tegur Kakek.
Mami Soraya memilih diam sambil mengangkat bahunya.
Drrtt.. Drrtt..
Dering ponsel Andara terdengar, menarik perhatian seluruh mata yang ada di ruangan itu, menampilkan nama yang sangat mereka semua hafal di layarnya.
"Dih, mirip Papinya, posesif. Gak bisa ditinggal sebentar udah telepon terus. Nih sama Maminya aja jarang telepon." Gerutu Mami Soraya saat melirik suaminya.
"Biar gak hilang sayang, jadi harus di kontrol terus." Sahut Papi Betrand.
"Awas tuh mulut keceplosan lagi." Willy mengingatkan.
"Aku harus bilang gimana dong? Dara gak bisa bohong." Andara mengaku.
"Gak usah di angkat biarin aja. Bentar lagi kita berangkat kok." Sahut Mami Soraya.
"Eh kemana Mi?" Andara bertanya dengan polos.
"Granatala lah sayang." Mami Soraya menjawab.
"Dara ikut Mi? Katanya mau ke nikahan karyawan Ayah." Andara masih bingung.
"Willy bilang juga apa, tuh anak emang oon Bunda." Kata-kata Willy lagi-lagi menyambar.
"Hush.. Itu adikmu Will." Tegur Bunda Rania.
Andara semakin bingung dengan percakapan yang ada di depannya.
"Kamu ikut Mami dan Papi ke Granatala sayang. Ayah dan Bunda mau kencan dulu. Willy ikut kakek cari jodoh." Ayah Josh menerangkan.
"Kok Willy jadi ikut keseret sih Yah?" Protes Willy.
"Kalau kamu gak bisa nyari, biar kakek yang nyariin, stok kakek banyak tuh yang bening-bening. Ya kan Dad? Nitip Willy ya?" Cerocos Ayah Josh tanpa perduli dengan protes Willy.
Willy mendengus. Ia hanya bisa menghela nafas kasar melihat kelakuan Ayahnya. Semua tertawa melihat raut wajah Willy yang tampak sangat tidak nyaman.
"Udah, ayo bersiap-siap. Sebelum bocah tengil itu kembali menelepon Andara." Ujar Papi Betrand membubarkan obrolan hangat mereka.
"Nenek ke mana kek?" Tanya Andara yang dari tadi tidak melihat Nenek.
"Tuh di kamar lagi siap-siap. Bentar lagi keluar kok." Sahut Kakek.
Tak lama kemudian, nenek tampak berjalan keluar dari kamar. Membawa kotak besar berwarna coklat.
"Hai semua, maaf baru menyapa. Wah Dara cantik sekali." Nenek menyapa semuanya.
"Makasi nek." Jawab Andara.
"Sudah siap Mom? Ayo berangkat sekarang, Kenzo sudah meneror Andara dari tadi. Khawatir dia akan curiga kalau Andara tidak segera mengangkat teleponnya." Papi Betrand buka suara.
"Emangnya Kenzo tau Dara mau ikut ke sekolahnya?" Tanya nenek.
"Gak tau Mom. Ini kejutan." Mami Soraya menjawab.
"Tadi pagi, kasihan banget si Kenzo. Wajahnya udah kayak mau makan orang aja. Di tekuk terus, gara-gara dikerjain Ayah sama Bunda nih." Andara menjelaskan.
"Hehehe itu semua ide kita sayang. Biar tau rasa bocah tengil itu." Papi Betrand menjawab dengan terkekeh.
Andara hanya bisa manggut-manggut sambil tertawa membayangkan wajah terkejut Kenzo yang sebentar lagi akan ditemuinya.
"Sebelum berangkat, ini untukmu Dara." Suara nenek mengalihkan semua perhatian.
Andara menatap kotak coklat yang sedari tadi dipegang oleh nenek. Dengan bingung Andara menerima kotak yang disodorkan padanya.
"Ini apa nek?" Tanya Andara.
"Bukalah sayang, itu untukmu." Mami Soraya yang menjawab.
Andara membuka kotak dihadapannya dengan perlahan. Matanya membelalak menatap isinya.
"Bagaimana?" Kakek bertanya.
Andara terdiam sambil mengusap lembut isi yang ada di dalam kotak itu. Air matanya sudah meloloskan diri tanpa izinnya.
"Sesuai keinginanmu kan sayang?" Giliran Bunda Rania yang bertanya.
Andara mengangguk, matanya masih belum lepas menatap hadiah yang diterimanya. Senyum manis tersungging di bibirnya.
"Kamu sudah menentukan pilihan, jadi bertanggungjawablah dengan pilihanmu." Ayah Josh menasehati.
"Kami semua ada dibelakangmu untuk mendukungmu sayang." Papi Betrand ikut menyemangati.
"Terima kasih untuk semuanya sayang." Suara Mami Soraya semakin membuat air mata Andara menetes deras.
Nenek mendekat pada Andara, membawa tubuh mungil itu dalam dekapannya.
"Aku yakin kamu pasti bisa melalui semua itu dengan bahagia. Karena Dara, kamu itu luar biasa." Ujar nenek.
"Jelas dong, anak siapa dulu, Josh!!" Teriak Ayah Josh jemawa.
Suasana haru langsung berubah ricuh karena celetukan Ayah Josh.
"Dasar perusak suasana. Udah kamu berangkat dulu sana, ganggu aja." Teriak Kakek.
"Daddy ngusir Josh nih. Tapi Dara anak Josh beneran Dad." Ayah Josh masih tampak tak mau kalah.
"Yang bilang dia anak monyet siapa?" Sahut Mami Soraya membalas omongan Ayah Josh yang pernah dilontarkannya tempo hari.
Menyadari itu, Ayah Josh tertawa.
"Terima kasih semuanya. Dara sayang kalian semua. Dara janji, akan menempuh jalan ini dengan penuh tanggungjawab dan tentunya bahagia." Suara Andara mulai terdengar sesaat setelah ia mampu menguasai dirinya.
"Dan ini, akan menjadi kado kelulusan untuk Kenzo dari Dara." Imbuhnya.
"Gak ikut usaha, main kasih kado aja." Sambar Willy.
"Dasar jomblo! Makanya ikut kakek sana, sapa tau ada yang bening di perusahaan kakek. Ya kan kek?" Ucap Andara menyindir Willy dengan sengaja.
Semua tertawa gembira. Tampak jelas raut puas dari wajah kakek dan nenek. Melihat rumah mereka riuh oleh canda tawa orang-orang terkasihnya.
Mereka pun bersiap dan segera berangkat menuju SMA Granatala.