NOVEMBER RAIN

NOVEMBER RAIN
RASA FAVORIT



"Kakak banyak pertanyaan kan? Tanya Abang aja deh. Kay males bahas wanita itu." Jawabku tak acuh sambil terus menatap ke luar jendela.


Aku tahu, wajah Kendrick berubah bingung dan pucat.


"Kamu gak kenapa-napa Mikha?"


"Memangnya aku kenapa? Mama Kay tetap Mama Mia dan Kay hanya numpang lahir lewat rahimnya. Toh sejak kecil Kay memang udah dibuang olehnya. Kay ini anak yang tak diinginkannya Kak."


Kendrick terdiam mendengar jawabanku. Kami terus bergeming, terbenam dalam pikiran kami masing-masing. Hingga akhirnya kami tiba disebuah restoran elit.


Aku segera turun dan menyuruh Kendrick untuk kembali. Aku terus melangkah mengikuti wanita itu masuk ke dalam restoran. Kepalaku tak lagi menoleh untuk memastikan apakah Kendrick sudah kembali atau masih berdiam diri di tempat parkir.


Ada sedikit ketakutan menyusup di relung hatiku. Bagaimana jika ini akan berakhir buruk? Apa aku harus menyeret Kendrick saja untuk mengikutiku sampai ke dalam?


Mataku menangkap dua sosok yang tengah duduk di meja yang sedang aku tuju. Oh gosh, apa mereka ingin main keroyokan?


"Mama." Suara manja Adinda menyapa wanita itu saat kata mereka bertemu.


Adinda segera berdiri dan menyambutnya.


Hah, mesranya mereka? Apa aku sungguh berbagi darah dengannya? Aku sungguh tak rela jika darahku sama dengan mereka.


"Hai cantiknya Mama, ah Mama rindu sekali. Mana cucu oma?" Wanita itu balas menyapanya sambil mencium kedua pipi dan memeluknya.


Wah romantisnya. Mataku hanya bisa membelalak melihat sajian di depanku. Entah mengapa, ada perasaan marah di hatiku. Bukan karena aku iri, tapi lebih ke arah kesal. Padaku, wanita itu menampar dan memakiku. Sedang pada Adinda, yang sebenarnya mungkin saja kakak tiriku, dia memandang dan merengkuhnya penuh cinta.


Apa mungkin aku dulu memang tak seharusnya ada? Aku sungguh merasa tersingkir dan terasing.


"Kenapa Mama membawanya?" Tanya Adinda dengan wajah jengkel menatapku.


"Kita akan membicarakan dan menyelesaikan masalah ini bersama sayang. Kamu tenanglah, ya sayang ya?" Aku geli mendengar ungkapan yamg dilontarkan wanita yang baru ku ketahui bahwa dia Ibu kandungku.


Wanita itu menatapku dengan angkuh dan berkata, "duduklah."


Tanpa menjawabnya aku segera mengambil posisiku. Aku ingin tertawa saat melihat wajah masamnya ketika berbicara denganku. Astaga, aku benar-benar ingin menutup kenyataan aku pernah menumpang hidup dan lahir dari rahimnya.


"Puas kamu menghancurkan rumah tanggaku, hah? Dasar ******." Baru juga aku duduk, sambutan dari Adinda langsung terdengar.


Telingaku sudah sangat kebal mendengar cacian dari mereka. Aku sudah sangat pandai untuk tidak menampakkan kesakitan di wajahku.


"Ada lagi yang perlu saya dengar?" Tanyaku dengan sangat tak acuh.


"Kamu perusak segalanya. Kamu menghasut Arka agar tidak mengakui anaknya. Harusnya anak itu sudah memiliki segalanya. Nama belakang Arka dan juga pengakuan Arka, tapi kamu menghancurkannya. Dasar ******!" Adinda terus berteriak seperti kesetanan.


Aku menarik nafas panjang dan menghadap wanita paruh baya yang menjadi ibu Adinda. Ya, lebih baik aku menganggap dia ibunya Adinda saja, terlepas dari kenyataan yang tak terbantahkan.


"Jadi anda meminta saya kesini untuk mendengarkan ocehannya?" Tanyaku sinis.


Wanita itu menatapku, tiba-tiba matanya berkaca-kaca, "bukan, Mama memintamu kesini agar Mama bisa memohon padamu."


Aku refleks terbahak-bahak mendengar ucapannya. Apa dia sedang bergurau denganku? Mama? Dia menyebut dirinya dihadapanku dengan sebutan Mama? Ah sepertinya level guyonanku receh sekali.


Aku menyeringai saat menatapnya. Sungguh aku benar-benar peniru ulung. Aku tahu, gaya bicaraku saat ini mirip dengan Bang Arka. Meskipun Abang pasti lebih menyeramkan.


"Mama? Anda jangan becanda. Mama saya hanya satu, Mama Mia."


"Apa Papamu belum menceritakan siapa aku?"


Aku menaikkan sebelah bibirku, rasanya aku tak tahan jika tidak mencibirnya.


"Papa menceritakan semuanya. Dan saya rasa, saya hanya menumpang lahir dan hidup di rahim anda selama 9 bulan. Selebihnya anda dan saya tidak ada hubungan apapun. Bukankah anda yang meninggalkan saya?" Dengan sekuat tenaga aku menahan suaraku agar tak bergetar.


Aku harus kuat di hadapan ke dua wanita ini meski pada kenyataannya tanganku sudah sangat dingin.


"Ma, maksud Mama apa?" Adinda bertanya dengan wajah terkejutnya.


Ah rupanya dia belum tahu.


"Dia anak Mama dengan suami pertama Mama sayang. Kamu gak usah khawatir, Mama akan selalu mencintaimu. Selamanya hanya kamu anak Mama." Mama membelai lembut pipi Adinda yang masih tampak terkejut.


Entah mengapa, aku melihat persamaan antara mereka dengan aku dan Mama. Tapi bedanya, ketika aku salah maka Mama Mia akan menegurku dan menuntunku mendapatkan jalan yang benar. Dan tentu saja Mama Mia tidak pernah mengajariku untuk menghujat orang lain.


Sangat berbeda dengan orang di depanku itu.


"Jadi, kamu sudah tau kebenarannya kan?" Ucapan Ibu Adinda memaksaku menatapnya kembali, "karena itu, bisakah kamu membayarku untuk semua pengorbanan yang aku lakukan padamu? Bayaran untuk mengandung dan melahirkanmu." Imbuhnya dengan sangat santai.


Sepenuh hati aku menajamkan pendengarku. Berharap yang baru saja tertangkap telingaku hanyalah angin lalu. Namun sialnya, sepertinya itu kenyataan.


Aku menggelengkan kepala tak percaya. Apa di dunia ini benar-benar ada wanita keji sepertinya? Dan sialnya, wanita keji ini memang orang yang mengantarkanku melihat dunia. Astaga! Aku menyesal lahir dari rahimnya, tapi memangnya aku bisa apa?


"Hah, bayaran untuk mengandung dan melahirkan saya ya? Kenapa dulu anda tidak menggugurkan saya saja jika akhirnya anda menyesal melahirkan saya? Saya tidak pernah meminta dilahirkan terlebih oleh wanita keji seperti anda." Ucapku sinis dengan bibir yang terus menyeringai.


"Jaga mulutmu! Jangan menyebut Mamaku seperti itu!" Hahaha bahkan Adinda membelanya. Memang sifat mereka sangat mirip.


Aku tak menanggapi protes Adinda. Mataku terus menatap wanita itu untuk menunggu penjelasannya.


Jadi memang benar kami ditinggalkan. Bahkan aku anak yang tidak diharapkan. Pantas saja wanita itu tak pernah mencariku atau bahkan mengingatku. Aku hanyalah sebuah persyaratan agar dia bisa terlepas dari Papa.


Kepalaku tertunduk, rasanya sangat sakit. Aku memijit pelipis ku dengan lembut berharap nyeri ini segera hilang. Aku harus terlihat kuat di depan mereka. Jika aku terlihat lemah, maka mereka akan semakin menginjak aku dan Papa.


"Dan sekarang anda datang untuk meminta bayaran? Jangan becanda Nyonya!" Cibir ku dengan angkuh.


Mataku nyalang menatap wanita itu dan anaknya.


"Dasar kurang ajar! Jaga mulutmu ******!" Adinda terdengar sangat geram.


Wanita itu memeluk Adinda dengan penuh cinta. Aku muak melihatnya.


"Tenang sayang," Ucapnya lembut pada Adinda, kini matanya menatapku dengan angkuh, "jadilah berguna dan bayar saja kewajibanmu padaku." Imbuhnya dengan suara tajam.


"Apa yang anda inginkan?" Tanyaku tak kalah tajam.


Aku ingin melihat permainan apa yang sedang mereka rencanakan.


"Bujuk Arka untuk menarik gugatannya. Dan bujuk Arka untuk memberikan namanya pada anak mereka. Dan kamu, lepaskan Arka, biarkan dia kembali pada anakku." Sumpah, aku geli mendengar ucapan wanita itu!


Apa dikiranya Bang Arka barang bisa digilir kesana kemari?


"Apa anda tau anak siapa cucu anda itu? Kalau anda tau, kenapa menghubungi saya? Saya hanya orang luar diantara Bang Arka dan Adinda. Masalah mereka tak ada sangkut pautnya dengan saya. Jadi katakan langsung pada Abang." Jawabku panjang lebar.


"Jangan banyak alasan. Lakukan saja yang saya minta. Itu bayaran yang saya inginkan karena telah mengandung dan melahirkanmu. Anggap saja kamu balas budi padaku." Ucapan wanita angkuh itu benar-benar membuatku tenggelam dalam lubang hitam yang sangat gelap.


Aku hampir kehabisan nafas dan tak menemukan jalan keluar hingga sebuah pertanyaan yang menggelitikku kembali menarikku pada kesadaran.


"Sebelumnya, tolong, katakan pada saya, apa saya juga berbagi darah dengan Adinda? Apa dia kakak tiri saya yang berbeda ayah dengan saya?" Tanyaku tanpa rasa takut.


Adinda menggebrak meja sebelum berkata, "jangan asal bicara, aku tak sudi berbagi darah denganmu. Aku memiliki ibu kandung sendiri. Dan ini," Adinda memeluk ibu kandungku, "dia adalah Mamaku juga. Mama terhebat dan terbaik selain Mama kandungku." Imbuhnya dengan suara menggelegar.


Nafasku terasa ringan saat mendengarnya. Syukurlah, aku tak berbagi darah yang sama dengannya. Sudah sangat berat mengetahui bahwa wanita keji itu ibu kandungku, aku tak mau menambah beban untuk otak dan hatiku jika seandainya ada darahku yang sama dengan darah Adinda.


"Baguslah jika kita tidak memiliki darah yang sama. Karena aku tak mau suamiku masih dicintai oleh kakak tiriku." Ucapku dengan tersenyum mengejek.


Adinda melotot mendengar ucapanku. Ia berdiri dan menuding ku.


"Apa yang kamu katakan?" Tanyanya dengan suara tercekat.


"Aku kini istri sah Bang Arka, mantan suamimu. Kami sudah menikah dan pesta pernikahan kami akan segera digelar jadi tunggu undangannya." Tanyaku dengan santai sambil menatap tajam pada Adinda.


"Dasar ******! Apa yang sudah kamu lalukan? Tinggalkan suamiku!" Adinda mulai menggila.


"Mama, apa Mama tahu ini? Lihat Ma, ****** ini merusak segalanya. Dia merebut suamiku." Adu Adinda pada Mama tirinya.


Wanita itu berdiri dan merengkuh tubuh Adinda, membawanya dalam pelukannya.


"Hei, jaga mulutmu! Cepat lakukan saja tugasmu dan jangan banyak tingkah." Hardik wanita itu padaku.


Aku berdiri dan menatap kedua wanita yang tengah berpelukan itu.


"Saya tidak akan melepas suami saya untuk wanita manapun. Bang Arka milik saya. Dan anda, Nyonya, sejak saat anda meninggalkan saya dan Papa saya, sejak saat itu pula hubungan kita terputus. Jika anda meminta bayaran, maka anda juga harus membayar penuh pada Mama Mia yang telah menjaga dan merawat saya sejak saya ditinggalkan anda. Bayar Mama Mia sebagai bentuk tanggung jawab anda pada saya." Ucapku tak kalah sinis.


"Kamu--" Wanita paruh baya itu menatapku tajam sambil menunjuk tepat di wajahku.


"Jangan menunjuk wajah anak saya. Kamu tidak berhak sehelai rambutpun pada anak saya. Dia anak saya bersama istri saya, Mia Merryza."


Aku segera membalik tubuhku saat mendengar suara yang sangat ku hafal berada di punggungku.


"Papa."


Seketika hatiku menjadi sangat tenang. Aku tersenyum pada Papa yang dibalas dengan pelukan hangat dan kecupan di keningku.


"Anak hebat, anak berani. Papa bangga padamu." Papa mengusap punggungku.


Kami mengurai pelukan dan mataku menangkap pergerakan dari sisi Papa.


"Abang."


Mataku membelalak saat melihat siapa yang telah berdiri berdampingan bersama Papa. Bang Arka menatap tajam padaku. Astaga, aku dalam masalah besar.


"Ada perlu apa lagi dengan istri saya? Mulai sekarang jika ingin menemui istri saya harus melalui saya, atau Papa mertua saya." Suara dingin Bang Arka mulai terdengar.


Wanita paruh baya tadi tersenyum dan berkata dengan ramah dihadapan Papa dan Bang Arka, sangat berbeda dengan yang ia ucapkan padaku tadi.


"Ah ini hanya masalah ibu dan anak, benar kan Kay?" Tanyanya sambil menatapku.


Aku menoleh dan menatap matanya.


"Apa anda masih layak disebut ibu, Nyonya?Apakah ada seorang Ibu yang meminta bayaran pada anaknya karena telah melahirkan dan mengandung anaknya? Apa dengan meminta saya melepas suami saya sebagai bayaran karena telah melahirkan saya, anda masih merasa menjadi seorang ibu? Surga mungkin tak lagi ada di telapak kakimu, Nyonya."