
"Lha kita ke sini Ken? Bukannya kamu udah latihan tadi?" Tanya Andara bingung saat mobil Kenzo parkir di halaman SMA Granatala.
"Belum jadi, tadi ke tempat Kakek dulu." Kenzo menjawab singkat.
"Eh tempat kakek? Kakek siapa? Di mana itu?" Andara masih bingung.
Kenzo menatap Andara, alisnya terangkat dan mencoba mencari raut kebohongan di wajahnya. Nihil. Wajahnya benar-benar lugu dan tak tahu apapun. Kenzo langsung tersenyum menyadari itu.
"Perusahaan." Jawab Kenzo singkat.
"Ngapain kesana?" Andara masih tidak mengerti.
"Main sepak bola." Kenzo mulai tidak bisa menyembunyikan tawanya.
"Yang benar Ken!" Andara mendelik.
"Lha kamu masa gak tau sih Yang, ke perusahaan itu untuk apa? Ya untuk kerja lah, Yang." Kenzo akhirnya benar-benar tidak bisa menahan tawanya melihat wajah bingung dan kesal Andara.
"Kamu udah kerja Ken?" Andara masih terus menyelidiki.
Kenzo hanya menaikkan bahunya sebagai jawaban.
"Sebagai apa Ken?" Andara terus mendesak.
"Tukang fotokopi." Jawab Kenzo.
"Serius Ken?" Andara menatap wajah Kenzo mencari keseriusan di matanya.
Kembali Kenzo hanya memberi jawaban dengan bahunya.
"Jawab napa Ken. Diem mulu, sakit gigi kamu?" Andara akhirnya protes dengan sikap diamnya Kenzo.
"Sakit hati Yang. Masih belum lupa sama omonganmu tadi." Kenzo menjawab jujur.
"Maaf Ken. Aku becanda Ken. Mau godain Pak Ijay aja kok." Andara mencoba menjelaskan.
"Gak ada untungnya juga buat Pak Ijay." Jawab Kenzo ketus.
Kenzo kembali diam. Badannya dia sandarkan pada kursi pengemudinya dan matanya tertutup. Andara yang melihatnya jadi merasa bersalah. Gadis itu menganggap Kenzo marah karena tingkah dan kata-katanya tadi.
"Ken, aku beneran minta maaf ya. Aku gak ada maksud nyakitin kamu Ken." Lirih Andara berkata.
Kenzo membuka matanya, menatap Andara dan tersenyum hangat.
"Aku senang kok. Aku bahagia denger semua itu tadi." Jawab Kenzo.
"Tapi--" Ucapan Andara seketika terhenti saat Kenzo berbicara.
"Tolong ambilkan obatku di tas."
Sontak Andara terkejut. Tapi tangannya langsung mengambil tas Kenzo yang ada di kursi penumpang belakang.
"Obat apa Ken? Kamu sakit?" Andara bertanya dengan tangannya masih berusaha mencari obat yang dimaksud Kenzo di tasnya.
"Yang ini? Kamu kenapa?" Ujar Andara sambil memegang dahi Kenzo dengan tangannya. Suaranya terdengar sangat khawatir.
Kenzo tersenyum melihat kekhawatiran dalam mata Andara. Diraihnya tangan Andara yang menyentuh keningnya.
"Aku suka melihatmu seperti ini. Aku sayang kamu, Andara Atmajaya." Kenzo berbicara lirih.
"Tapi kamu kenapa?" Tanpa diminta Andara mulai terisak.
"Eh jangan nangis sayang, aku gak kenapa-napa. Ini sih cuma sakit kepala biasa, aku pusing kebanyakan ngitung di kantor kakek tadi kayaknya." Kenzo mengakui.
"Ini obat apa tapi Ken?" Tanya Andara.
"Obat penenang dan penghilang nyeri biasa." Jawab Kenzo tak acuh.
"Hah? Penenang? Kamu kenapa Ken? Ini bukan obat biasa yang bisa kamu konsumsi sembarangan." Andara mulai panik.
"Tenang sayang. Aku dapat dari dokter kok. Ini legal. Dan aku memang membutuhkannya saat ini." Jawab Kenzo.
Andara langsung menyerahkan obat tersebut pada Kenzo, dan memberikan botol air yang juga sudah ada di dalam tas Kenzo.
"Sejak kapan?" Tanya Andara saat Kenzo selesai meminum obatnya.
"Sejak kelas 3 SD, gak lama setelah aku memutuskan balik ke sini dari Negara Z." Kenzo langsung menjawab saat paham arah pembicaraan Andara.
"Selama itu kamu rutin minum ini?" Suara Andara meninggi karena terkejut.
"Dulu selama setahun sempat jadi obat rutin. Setelah itu kalau perlu aja. Sekarang, sejak ketemu kamu pertama kali di Universitas Merah Putih, ini yang ke dua kali. Artinya, udah jarang kambuh sejak kenal kamu sayang." Kenzo tampak mengingat sesuatu.
"Pertama saat tau kamu kekasih Vano dan kedua ini tadi." Imbuh Kenzo.
"Kenapa? Kenapa bisa sampai minum obat ini?" Andara mulai bertanya lagi.
"Karena aku butuh." Jawab Kenzo singkat.
"Kenapa butuh?" Andara tidak akan membiarkan masalah ini berlalu dengan mudah.
Kenzo menarik nafas, dia sadar saat ini Andara tidak akan semudah itu dialihkan. Ia menatap dalam pada manik coklat teduh yang ada dihadapannya.
"Karena aku gak mau sampai menggila." Kenzo menjawab keingintahuan Andara.
"Menggila? Menggila gimana?" Andara penasaran.
"Menggila karena cintamu, Yang." Kenzo mencoba bercanda.
"Kenzo ih.. Ngelawak aja pas situasi gini." Andara memukul pelan lengan Kenzo.
"Terus harus gimana dong kalau situasi seperti ini? Adu mulut?" Kenzo bertanya dengan tersenyum menggoda.
"Aku kan penasaran Ken. Yaa siapa tau aku bisa bantuin kamu sembuh dan lepas dari obat itu. Siapa tau aku bisa jadi obat penenang buatmu." Andara menjelaskan sambil menggoda Kenzo.
"Beneran? Serius kamu? Aku pegang omonganmu lho Yang. Hari ini banyak banget omonganmu yang bakal aku tuntut jadi kenyataan. Awas jangan mangkir." Kenzo menatap tajam mata Andara.
"Iya. Aku turutin maumu. Sekarang ceritain dulu tentang kamu." Andara menuntut.
"Aku ceritanya lain kali ya. Aku mulai ngantuk ini, aku tidur bentar ya. Terus kamu ikut aku. Sejam aja. Tunggu aku tidur sejam, setelah itu ikut aku latihan. Kalau ada yang telepon atau kirim pesan, kamu jawab aja. Nih bawa handphoneku." Ujar Kenzo sambil menyerahkan ponselnya.
Andara menerima ponsel Kenzo dan menatap lelaki itu yang akan segera tidur.
"Pegang tanganku dong sayang. Biar aku gak mimpi buruk." Pinta Kenzo.
Dengan penuh kelembutan, tangannya menggenggam tangan Kenzo dan membiarkan lelaki itu memegangnya selama dia tidur.
***
"Lha malah dia ikut tidur." Ucap Kenzo saat dia mulai terbangun, tepat satu jam setelah dia tertidur tadi sambil melihat wajah teduh Andara yang sedang tertidur.
Kenzo meraih anak rambut yang berantakan dan mengembalikan pada jalur yang benar. Ditatapnya wajah cantik gadis yang sudah mencuri seluruh hatinya dan senyum hangatpun terbentuk dibibirnya.
"You're so beautiful. Please be mine. Beri aku jawaban sayang, biar hatiku tenang." Bisik Kenzo lirih sambil meraup wajah Andara.
Setelah menunggu beberapa lama akhirnya Kenzo mulai membangunkan Andara.
"Sayang, bangun Yang. Dimintain tolong jagain aku pas tidur malah ikutan tidur. Ayo yang, waktunya latihan." Kenzo mengguncang pelan tubuh Andara.
"Yang, aku kecup nih kalau gak bangun juga." Ujar Kenzo sesaat kemudian.
"Lha beneran gak bangun-bangun nih. Aku kecup beneran lho. Aku hitung ya Yang. Satu.. Dua.. Ti--" Kenzo sudah memajukan wajahnya dan mulai menghitung saat ponselnya berbunyi.
"Aiish ganggu aja. Apa?" Kenzo gusar namun tak urung menjawab juga panggilan di ponselnya.
"Hehehe ntar lagi kesana. Tungguin aja." Kenzo bersuara, menjawab pertanyaan dari penelepon.
Kenzo memajukan wajahnya, mendekat pada wajah Andara. Ditatapnya wajah ayu yang sedang tertidur di depannya. Senyum cerah pun tercipta. Kenzo semakin mendekatkan bibirnya hingga tinggal beberapa senti saja dari bibir Andara. Ia pejamkan matanya.
"Ken.." Panggil Andara lirih.
Deg.. Deg.. Deg..
Reflek mata Kenzo terbuka. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan.
"Eh sayang. Hai. Halo. Udah bangun ya?" Sapa Kenzo dengan gugup.
"Kamu ngapain?" Tanya Andara saat melihat wajah Kenzo yang belum berubah posisi.
"Aku kenapa emangnya?" Kenzo malah balik bertanya. Wajahnya tampak bingung.
"Ini. Deket banget." Andara menunjuk wajah mereka.
"Ooh ini. Aku mau bangunin kamu." Kenzo menjelaskan dengan gugup sambil menarik badannya menjauh.
"Kamu udah baikan?" Tanya Andara, yang sekarang bergantian mendekat ke badan Kenzo.
"Kamu mau ngapain Yang?" Dengan gugup Kenzo bertanya.
"Jangan mikir mesum, aku gak kayak kamu. Aku cuma mau ngecek doang." Ujar Andara sambil tangannya diletakkan di kening Kenzo.
Kenzo meraih tangan Andara. Tersenyum sambil menggenggam erat tangan itu.
"Aku baik-baik aja. Jadi, tetaplah disampingku ya." Pinta Kenzo.
Andara membalas dengan ikut tersenyum.
"Yuk, ikut aku latihan." Ujar Kenzo yang diikuti dengan anggukan kepala Andara.
Mereka pun keluar dari mobil dan berjalan menuju ruang latihan band yang ada di dalam sekolah.
Kedatangan mereka sudah disambut ketiga personil band yang juga sahabat Kenzo.
"Lama banget Ken. Udah tuntas nih? Kalau mau pacaran kira-kira dong, cari tempat yang aman kek, masa iya pacaran lama di dalam mobil, di parkiran sekolah lagi." Cerocos Bima.
Andara yang mendengarnya hanya bisa menunduk menahan malu.
"Tau nih, untuk udah gak rame nih sekolah, udah banyak yang pulang." Sambar Bagas.
"Untungnya lagi tuh mobil gak goyang." Imbuh Arya.
"Iish si b*g*.. Pada ngomong apaan sih. Aku gak macem-macem di mobil woi!! Aku tidur, biasa, habis kumat, hehe.." Ujar Kenzo menjelaskan sambil terkekeh.
"Hah? Kumat di mana? Kok kamu gak nelpon saya sih Ken?" Tanya Bima dengan nada khawatir.
"Ngapain telpon kamu, aku udah punya dia." Jawab Kenzo sambil menunjuk Andara dengan matanya.
"Sombong!!" Jawab Arya.
"Dih udah ada gandengan, temennya dilupain. Lepas woi tangannya, geli saya liatnya, kayak mau nyebrang jalan aja." Bima menimpali sambil tertawa memandang Andara.
"Makasi ya, Andara." Imbuhnya dengan tulus sambil menatap wajah gadis yang sudah bersemu merah itu.
Andara mengangguk sambil tersenyum. Dalam hatinya diliputi berbagai pertanyaan. Semua pertanyaan yang berputar di sekitar Kenzo. Gadis itu memutuskan akan langsung bertanya setelah Kenzo selesai latihan.
"Yang, duduk sini ya. Tungguin aku latihan. Dan tolong, lihat dan perhatikan pas aku main. Jangan disambi mainan handphone. Ngerti kan Yang?" Kenzo memberi petuah pada Andara.
"Astaga Ken. Udah kayak aku mau jadi juri lomba aja. Disuruh mantengin terus. Udah sana cepet latihan." Andara mendorong tubuh Kenzo.
Kenzo tersenyum dan berjalan menghampiri teman-temannya yang sudah siap di posisi masing-masing. Kenzo menyetel gitarnya sebentar, kemudian berdiri di posisinya. Lelaki itu sudah siap melakukan latihannya.
"Yang, dengerin. Ini buat kamu." Kenzo berkata lirih, sesaat sebelum mulai bermain.
Alunan musik terdengar merdu memenuhi ruangan latihan. Andara tersenyum menatap Kenzo, permainan gitar lelaki itu terlihat sangat bagus. Suara Kenzo mulai terdengar, suara khas lelaki yang sangat menjiwai lagu yang dinyanyikan. Lagu dari Dewa 19.
๐ถ๐ถ๐ถ
Hidupku tanpa cintamu
Bagai malam tanpa bintang
Cintaku tanpa sambutmu
Bagai panas tanpa hujan
Jiwaku berbisik lirih
Ku harus milikimu
Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
Beri sedikit waktu
Biar cinta datang karena telah terbiasa
Simpan mawar yang kuberi
Mungkin wanginya mengilhami
Sudikah dirimu untuk
Kenali aku dulu
Sebelum kau ludahi aku
Sebelum kau robek hatiku
๐ถ๐ถ๐ถ
Air mata Andara menetes dengan sendirinya saat mendengar Kenzo menyanyikan lagu tersebut. Desiran di hatinya semakin kuat terasa. Bahagia itu jelas memenuhi seluruh rongga dadanya. Namun ada sedikit rasa sakit saat mendengar Kenzo menyanyikannya.
Kenzo.. Apa aku pantas mendapatkan cintamu? Apa aku mampu membalas cintamu yang begitu besar untukku? Apa aku bisa memberi cinta yang sama besar untukmu? Batin Andara berteriak.
"Gimana? Keren kan aku mainnya? Keren kan suaraku?" Kenzo memberondong Andara dengan pertanyaan sesaat setelah dia menyelesaikan permainannya sambil berjalan mendekati gadis itu.
"Lha Yang, kok nangis. Jangan nangis sayang." Kenzo yang baru menyadari Andara menangis segera memeluk gadis kesayangannya.
"Aku kan pengen bikin kamu seneng Yang. Bukan nangis gini. Ya udah deh, besok-besok gak usah lihat aku latihan lagi ya." Ujar Kenzo.
"Ih apaan sih Ken. Ini tuh aku terharu. Aku mau lihat kamu ngeband terus pokoknya. Ajak aku terus tiap kamu latihan. Harus! Awas kalau aku gak diajak." Andara terisak di dada Kenzo sambil memukul-mukul kecil lengan Kenzo.
"Kamu seneng?" Tanya Kenzo.
Andara mengangguk.
"Kamu bahagia?" Tanya Kenzo lagi.
Andara mengangguk.
"Kamu mau kan jadi pendampingku?" Tanya Kenzo sekali lagi.
Andara diam, tidak memberi respon apapun.
Kenzo menarik nafas panjang sebelum berbicara.
"Baiklah. Aku bisa menunggumu sampai kapanpun. Kamu tenang aja. Aku selalu ada untukmu."
Andara semakin terisak dan mengeratkan pelukannya.