
"Tapi Kay," Ucap Mama sambil mengurai pelukan kami, "mungkin cinta Mama akan berubah padamu. Cinta Mama mungkin tak akan sebesar ini lagi." Imbuh Mama yang langsung membuatku tersentak dan mundur selangkah ke belakang.
Jangan Ma, ku mohon jangan. Jika wanita itu yang mengatakan dia tidak mencintai Kay, aku bisa terima dan tak akan menjadi beban untukku. Tapi jika Mama yang mengatakannya, mungkin Kay tak akan mampu menahan beban itu Ma. Kay akan sangat rapuh. Tolong jangan katakan hal yang tidak ingin Kay dengar Ma.
"Mungkin, setelah kalian memiliki anak, cinta Mama akan lebih besar pada cucu Mama dari pada padamu." Mama terkekeh sambil mengusap air mata yang menetes di pipiku.
Aku memejamkan mata dan menarik nafas dengan kasar. Berulang kali aku menarik dan menghembuskan nafasku. Astaga, aku tahu mengumpat pada orang tua itu tidak baik! Tolong Tuhan, jaga hati dan otakku agar tetap waras menghadapi keluargaku yang gemar membuat jantungku bekerja ekstra keras.
"Astaga, Kay mau marah tuh." Ucapan Mama membuat mataku langsung terbuka.
Masih bisa bercanda juga di saat seperti ini. Astaga Mama!
Tubuhku seketika menghangat. Aku mendongak dan mendapati wajah Bang Arka yang terlihat dekat di wajahku. Oh, Bang Arka sedang memelukku saat ini.
"Jangan marah. Mama hanya ingin memastikan kondisimu baik-baik saja. Mama mencairkan suasana agar kamu tidak larut dalam kesedihan. Cobalah untuk kembali menjadi dirimu yang dulu. Yang selalu memandang dunia dengan tawa. Apa kamu ingat Mikha, kamu menertawakan Abang saat Abang bilang kalau Abang kabur? Nah, jadilah Mikha yang ceria seperti itu." Ujar Bang Arka sambil membelai punggung ku.
"Itu sih antara bodoh dan gak tau diri aja sih Bang. Udah tau orang kesusahan malah diketawain." Aku mencubit pinggang Bang Arka dengan gemas.
Masih saja dia mengingat kejadian memalukan itu. Aku masih ingat betapa bodohnya aku yang menertawakan kesusahan Bang Arka. Aku juga masih ingat wajah kesakitan Bang Arka saat itu.
"Maksudnya, cara pandangmu yang sederhana seperti itulah yang Abang suka Mikha. Caramu menatap angkuhnya dunia membuat Abang jatuh cinta lagi dan lagi padamu sayang." Aku tersenyum mendengar ucapan Bang Arka.
Biarlah ini terdengar seperti gombalan, nyatanya ucapan Abang barusan membuatku melayang.
"Ehm, cinta gak bikin kenyang. Ayo makan dulu, keburu nasi goreng dingin dan basi seperti nasi goreng seafood kemarin malam." Ucapan Papa sontak membuat pelukan ku dan Bang Arka terlepas.
Kami kembali duduk berhadapan dengan Papa dan Mama di meja makan. Entah apa yang terjadi pada mereka, kini mereka berdua sedang tersenyum penuh arti menatap ke arah ku dan Abang.
"Astaga, nasi goreng Kay!" Otakku mendadak mencerna ucapan Papa dengan benar.
"Udah dibuang, basi tau. Makanya kalau mau enak-enak tuh isi perut dulu, pasti laper kan sekarang. Udah buruan, makan gih. Mama udah dengar bunyi perut kalian dari tadi." Ucap Mama menanggapi teriakanku tadi.
Bang Arka hanya tersenyum lebar menanggapi obrolan kami. Apa mendapatkan haknya langsung membuatnya berbinar seperti ini? Astaga, mudah sekali menaklukkan seorang Arkananta. Hah, aku merasa mendapatkan senjata baru yang lebih ampuh untuk menghadapi Bang Arka.
Kami makan dengan tenang, sesekali Papa dan Bang Arka saling beradu lelucon. Ah meja makan ini kembali ramai sepeninggal kakak. Ah aku jadi merindukan kakak lagi.
Kak, aku sudah bahagia saat ini. Ku harap kamu pun tenang disana.
"Mikha, percepat makanmu, jangan banyak melamun. Abang gak pingin Pak Fabian memarahi istri Abang kalau telat masuk kelasnya." Ucapan Bang Arka yang tiba-tiba itu, membuat nasi yang sedang ku kunyah hampir saja ku semburkan.
Gila! Aku sampai lupa lelaki yang telah meniduriku semalam adalah dosen killer yang kini menjelma sebagai suamiku.
Dan lihatlah tampangnya yang mencemoohku itu. Aku tahu dia sedang mengejekku karena melupakan jadwal kelas pagiku yang diisi olehnya!
Mama Papa tampak tertawa puas melihat responku. Apa aku benar-benar tersisih sejak kehadiran Bang Arka?
Lihatlah pemilik mata yang ada disebelahmu itu Kay! Kamu sukses membuatnya membulatkan mata dan memasang wajah garangnya lagi. Kamu memang juara dalam merusak suasana Kay! Dewi batinku menatapku nyalang dan mengucapkan segala sumpah serapahnya atas keberanian mulutku dalam menyulut bara api.
"Jangan lupa Mikha, Pak Fabian juga berhak memberimu nilai E jika kamu membantahnya. Jangan macam-macam." Ancaman Bang Arka membuatku keder juga.
Aku mendesah dan berujar, "baiklah Pak Fabian. Saya masuk kelas anda. Ayo berangkat sekarang."
Aku sudah berdiri dan menarik lengan Bang Arka. Tapi wajah itu masih tampak dingin saat menatapku.
Apa lagi salahku? Aku melirik Papa dan Mama untuk mencari perlindungan dan tentu saja bantuan. Namun yang ku dapat malah tawa mereka yang tertahan. Oh gosh, bahkan mereka mencibirku.
"Apa lagi Abang? Ayo berangkat. Nanti Kay telat Abang marahi. Sekarang diajak berangkat Abang malah diem aja."
"Berjanjilah satu hal dulu pada Abang."
"Astaganaga! Apa lagi sih Bang?"
"Kamu tahu yang Abang mau?"
Otakku kembali bekerja keras untuk memberi jawaban yang diinginkan Bang Arka. Apa lagi sih yang kurang?
Aha!! Ku rasa aku tahu apa yang diinginkan Bang Arka.
"Oke. Baiklah Bang. Kay janji Kay gak akan ke himpunan kalau gak ada perlu."
Pandangan Bang Arka melunak saat ucapanku selesai. Benarkan tebakanku? Astaga, Mr. Posesif!
"Izin Abang jika kamu mau kesana."
"Siap komandan!" Ucapku dengan sikap sempurna dan tangan yang terangkat ke pelipis mata.
Tawa penghuni meja makan itu kembali terdengar menggelegar.
"Si posesif ketemu biang onar. Ramai rumah ini." Sahut Papa di sela tawanya.
"Pantas jeng Ratna dan Pak William juga menginginkan mereka disana." Ujar Mama menanggapi ucapan Papa.
Aku dan Bang Arka hanya tersenyum menanggapi ucapan Mama dan Papa.
Bang Arka menghabiskan sisa kopi di cangkirnya sebelum kami memutuskan untuk pamit dan berangkat ke kampus.
***