
Hari ulang tahun ku sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tak ada yang istimewa, hanya beberapa teman baru dan teman kakek yang bahkan masih sulit ku bedakan. Awan kelabu sore tadi berubah menjadi hitam dan di hiasi bintang malam, sepertinya tidak akan turun hujan malam ini.
*Restoran*
"Tadi aku sempat takut akan hujan" Nia bergumam.
"Iya, aku juga sempat khawatir akan hal itu, entah bagaimana perasaannya jika hari ini turun hujan"
"Kek, aku mulai khawatir pada Zara. Dia sudah dewasa, tapi trauma itu sepertinya malah bertambah buruk saja" sambil mengarahkan wajah ke arah kakek.
"Nia, aku pun berpikir begitu. Dia masih membenci hujan di bulan ini, bahkan lebih parah di banding waktu kecil" sambil menghela nafas.
"Aku ada ide" sambil tersenyum.
*Di ruangan lain*
"Zara, selamat ulang tahun"
"Selamat ulang tahun Zara, ini hadiah dari ku"
"Wah pestanya meriah sekali Zara"
"Terima kasih semuanya, senang kalian bisa datang" sambil menerima beberapa hadiah dari teman-temannya.
"Zara, apa kamu baik-baik saja?" tanya Evi sambil berbisik.
"Aku baik-baik saja" balik berbisik.
"Teman-teman aku ke toilet sebentar ya"
"Iya Zara, cepat kembali ya" jawab salah satu temannya.
"Baiklah" sambil melangkah pergi.
●●●
Di dalam toilet aku melihat diriku di cermin. Menyembunyikan kesedihan lewat senyum pahit ini. Rasanya aku ingin menangis, tapi itu tak bisa ku kalukan. Jika aku di beri sebuah permintaan, aku ingin sekali menghilang ke suatu tempat, tampa semua orang tau dimana aku berada terutama kak Nia dan kakek. Aku harap bisa melupakan kejadian itu dan menata hidup ku yang baru dengan kebahagiaan.
"Aku harus kembali, orang-orang pasti sedang menungguku" Sambil merapihkan baju.
Aku melangkah keluar dari toilet, menutupi semua sakit yang ku rasakan di hati dengan senyum yang sebenarnya sulit ku buat, tapi aku tidak ingin kak Nia dan kakek khawatir jika aku menunjukan sisi lain ku.
"Zara, kemari" panggil Nia.
"Iya"
"Lihat ada siapa ini" sambil menunjuk ke arah laki-laki laki yang ku kenal.
Dia adalah Nathan Adi Prakasa atau yang biasa ku panggil Nathan, kami saling kenal sejak aku SMP kelas 2. Dia merupakan murid pindahan, saat itu aku belum terlalu dekat dengannya, sampai pada suatu hari aku bertemu dia di acara ulang tahun kakek yang ke 61 tahun. Dia datang bersama orang tuanya, aku tak menyangka kakek mengenal baik keluarganya, kakek memperkenalkan aku pada Nathan saat itu, dan berkata bahwa aku bisa menjadi teman dekatnya karena dia baru pindah. Dan sejak saat itu aku mulai akrab dengannya.
"Natahan"
"Selamat ulang tahun zara, ini hadiah dari ku" sambil mengeluarkan kotak berwarna pink dari sakunya.
"Wahhh, terima kasih. Apa ini? tanya zara sambil kegirangangan.
"Buka saja"
"Ayolah, aku sudah tidak seperti dulu"
"Baiklah" tertawa kecil sambil membuka kotak berwarna pink dari Nathan.
"Gantungan kunci. Lagi? tanya zara heran.
"Iya, benar"
"Wahh, imut sekali Nathan. Oh iya kalian kakak tinggal dulu ya, sepertinya kakek butuh bantuan ku" melangkah pergi.
"Iya kak Nia" jawab nathan.
"Bagaimana? Suka tidak?" tanya Nathan.
"Nathan, entah kenapa kamu selalu memebrikan gantungan kunci di setiap ulang tahun ku. Kenapa kamu tidak memberi ku hadiah seperti pacar pacar mu yang lain?" tanya zara sambil meledek Nathan.
Kamu itu istimewa Zara. Kamu tidak bisa ku samakan dengan mereka" sambil menyubit pipi Zara.
"Hentikan, sakit Nathan" memukul tangan Nathan.
"Bagaimana kuliahmu di sana? Pasti menyenangkan bisa kuliah di luar negeri, sudah berapa banyak wanita yang kamu kencani?" tanya Zara sambil memukul lengan kiri Nathan.
"Kuliah ku baik, tapi kamu tidak di sana aku jadi merasa sedih" sambil mengeluarkan ekspresi sedih.
"Oh, seperti ini cara mu menggoda wanita di luar sana" tertawa kecil.
"Tidak, tidak, tidak. Aku sudah bilang kamu itu istimewa, aku sedang tidak merayu mu"
"Oke, oke masih saja mengelak"
"Zara, aku kembali bukan hanya untuk menghadiri pesta ulang tahun mu. Aku benar-benar kembali" dengan wajah serius.
"Wah, apa ini?" kebingungan.
"Aku akan pindah kuliah di universitas yang sama dengan mu. Aku ingin kita seperti saat SMA dulu"
"Apa?" teriak keheranan.
"Kenapa Nathan? Kamu sudah bersusah payah untuk bisa kuliah di sana, jangan konyol kamu harus selesaikan kuliah mu" ucap zara dengan kesal.
"Tapi Za.."
"Tidak ada tapi tapian. Selesaikan kuliah mu baru kembali"
●●●
Aku meninggalkan Natahn sendiri karena kesal, aku tidak habis pikir kenapa dia seperti itu. Jelas-jelas dari SMA Nathan ingin sekali kulaih di luar negeri, entah apa yang dia lakukan saat ini. Aku harap dia tidak melakukan hal konyol itu, aku terus berpikir sebenarnya apa yang membuatnya ingin kembali.
Waktu berlalu begitu cepat, sudah jam setengah 10. Tamu di pesta ulang tahun ku sudah beranjak pergi meninggalkan restoran. Aku duduk di bangku taman, sambil memandang langit, awan menutupi indahnya bulan dan bintang di atas sana, entah apa yang di lakukan oleh bulan dan bintang sehingga membuat awan menutupi keindahan mereka. Ketika aku ingin beranjak pergi dari kursi di taman, tiba-tiba ada air yang menetes di wajah ku, entah dari mana air itu. Hingga aku menyadari mulai terdengar rintik hujan, semakin lama semakin deras. Aku masih berdiri di tempatku, belum beranjak sedikit pun dari tempat terakhir aku melangkah meninggalkan bangku di taman.
Tangan ku mulai bergetar, dada ku mulai sesak sakit sekali rasanya. Kaki ku seperti mati rasa, aku sudah tak kuat lagi untuk berdiri. Aku tak bisa beranjak pergi, seperti ada yang menahan kaki ku.
(Aku mohon, tolong aku. Aku tidak mau berada di sini) dalam hati
Aku tak bisa bersuara, aku sangat ketakutan. Apa yang akan terjadi pada ku. Pandangan ku mulai kabur, aku kehilangan keseimbangan. Saat itu aku melihat dengan samar ada seseorang yang berlari menghampiri ku, aku tidak tahu siapa dia pandangan ku kabur saat itu. Sebelum aku terjatuh, dengan sigap dia menangkap ku. Rasanya hangat sekali berada di pelukannya, ku mohon tetap seperti ini sebentar saja. Aku ingin beda di pelukan ini.