
Kenzo terkekeh melihat wajah Andara yang mulai pucat.
"Kok kamu ikutan pucet sih Yang? Kan aku yang habis kumat." Goda Kenzo.
"Kamu udah nyelesain urusanmu sama dia kan Ken? Nenek gak mau ya, sampai ada acara pukul-pukulan lagi gitu. Gimana juga dia masih saudara kamu." Nenek memberi pengertian.
"Dih, siapa juga yang mau punya saudara kayak dia, Nek. Ogah banget. Hari dimana dia membuat sahabat Kenzo terluka dan bahkan menghilang, itulah hari terakhir Kenzo menganggapnya saudara." Ujar Kenzo sambil menerawang.
"Ken.." Andara lirih berkata.
"Vano. Mantanmu. Yang dimaksud nenek dia. Kan kamu juga tau, dia gak jujur dari awal kan sama kamu tentang hubungannya. Kan kamu juga udah aku ceritain semuanya. Ah udah lah, Ken gak mau ngomongin dia lagi." Ujar Kenzo.
"Maafkan yang lalu Ken." Nenek bersuara.
"Nek, Ken tadi habis kumat. Jadi Ken mau istirahat ya. Ken gak mau bahas itu lagi. Cukup nek." Kenzo menyela omongan Neneknya.
"Anak cantik, kamu ada di tengah-tengah mereka sekarang. Bisakah kamu menjaga diri? Menjaga hati? Dan membuat keputusan yang tepat? Yang sekiranya tidak merusak hubunganmu dan Kenzo serta hubungan Kenzo dan saudaranya." Nenek melihat ke arah Andara, mengharap gadis itu bisa memberikan kepastian yang menenangkannya.
"Nenek, cukup. Andara bersamaku. Aku gak akan melepaskannya." Kenzo kembali menyela.
"Ken, kamu tau kan nenek gak pernah memintamu melepas Andara? Kamu tau kan nenek juga menyanyangi Andara? Nenek hanya minta, perbaiki hubungan kalian. Ingat kalian saudara." Ujar nenek.
"Jadi nenek sayang Andara?" Tiba-tiba Andara bersuara.
"Eh keceplosan." Nenek Kenzo menutup mulutnya, matanya melotot.
"Hahahaha Nenek.. Nenek.. Gak bakal bisa nek masang tampang galak gitu. Wajah nenek yang cantik ini, cuma bisa buat hati tenang nek, gak bakal bisa bikin hati takut." Kenzo terbahak melihat reaksi neneknya yang sedari tadi mencoba memasang tampang sangar dihadapan Andara.
"Nenek gak marah sama Dara? Nenek nerima Dara?" Andara mencerca.
"Nenek selalu sayang kamu, Dara. Eh tapi, kamu minta diterima nenek sebagai apa nih? Udah nerima Kenzo emangnya?" Tanya nenek pada Andara.
"Eh itu, anu nek, itu.." Andara gugup menjawab.
"Udah biarin aja Dara nek. Dia mah gak perlu pengakuan lewat mulut, tapi otak dan hatinya udah buat Kenzo." Dengan tingkat percaya diri yang tinggi, Kenzo berkata.
"Dasar!! Kadang, selain dirasakan, cinta itu juga butuh pengakuan, Andara." Dengan lembut nenek berkata, sambil membelai pelan rambut Andara.
Andara menatap wajah teduh wanita tua itu, yang masih nampak anggun dan cantik. Matanya berkaca-kaca.
"Jangan ragu, ikuti kata hatimu. Percayalah, hatimu pasti menuntunmu pada jawaban atas kebimbanganmu." Imbuh nenek.
Andara tak kuasa menahan air matanya, entah kenapa semua perkataan nenek sangat mengena di hatinya. Andara menghambur ke dalam pelukan nenek, terisak pelan di dalamnya.
"Haaahh.. Ken tinggal dulu ke atas ya, mau ganti baju. Yang, ntar kalau udah selesai cerita sama nenek, naik aja ke kamar aku." Kenzo mengusap puncak kepala Andara dan memandang wajah neneknya penuh arti. Neneknya mengangguk, seakan paham dengan pemikiran cucu tersayangnya.
"Duduk dulu Andara." Ajak nenek.
"Panggil aja Dara nek." Andara membenarkan panggilannya.
"Kamu mirip Rania. Hatinya halus dan lembut. Tapi suka bimbang dengan langkah yang akan menjadi pilihannya. Hehehe benar juga, buah jatuh tak jauh dari pohonnya." Ujar nenek saat sudah duduk di sofa ruang keluarga sambil menyentuh pipi Andara.
"Nenek kenal Bunda?" Andara membelalakkan matanya. Ia cukup terkejut dengan ucapan nenek.
"Hmm gimana ya? Dibilang kenal ya cukup kenal baik dengan keusilan Josh dan keramahan Rania." Nenek menjelaskan dengan tersenyum lebar.
"Jadi nenek kenal Ayah juga?" Andara sontak berteriak.
"Sweet heart.." Suara lelaki yang sudah beranjak senja itu, berjalan masuk dari pintu, membuat penjelasan nenek terhenti.
"Hai darl, sudah pulang?" Nenek berdiri, menyambut lelaki itu.
"Ini--" Lelaki itu bertanya.
"Coba tebak siapa dia?" Nenek balik bertanya.
"Hmm.. Mata coklat Josh, wajah ayu Rania, ini pasti Andara." Lelaki tua itu langsung menebak.
"Mirip ya darl. Sifatnya juga mirip." Ucap nenek sambil terkekeh.
"Hah? Mirip siapa nih? Jangan bilang mirip Josh? Ampun, sudah bertahun-tahun mengatasi kenakalan dan keusilan mereka, jangan sampai sekarang anaknya juga kayak gitu. Cukup Kenzo aja yang sifatnya mirip bocah tengil itu." Lelaki itu bergidik, seakan melihat kilasan bayangan dari masa lalunya.
"Hahaha.. Apa Ayah sangat menyusahkan dulu?" Andara tertawa mendengar penjelasan lelaki itu.
"Sangat! Jangan sampai kamu mengikutinya. Cukup Kenzo saja yang tingkahnya mirip mereka." Lelaki itu mempertegas.
"Mereka siapa? Hmm anda, kakek Kenzo kan?" Andara memberanikan diri bertanya.
"Hahahaha dia mirip Rania, syukurlah! Terlalu lugu tapi juga ragu. Untung kamu mirip Bundamu. Hahahah.." Lelaki itu, yang ternyata kakek Kenzo kembali terbahak-bahak.
"Dan ya, mereka itu Betrand dan Josh. Entahlah, aku dulu selalu dibuat pusing dengan mereka berdua. Ada saja kelakuannya yang membuat tekanan darahku cepat naik. Untunglah mereka segera menemukan Rania dan Soraya. Entah apa jadinya aku jika mereka tidak segera ditemukan." Imbuh kakek.
"Sudah.. Sudah.. Kau segeralah mengganti pakaianmu. Kita teruskan nanti saat makan malam. Sayang, temui Kenzo di atas. Lihat-lihatlah kamarnya, siapa tau kamu menemukan inspirasi untuk hatimu." Ujar nenek sambil mengerlingkan mata pada Andara.
"Hei anak cantik, malam ini makanlah bersama kami. Aku akan menelepon bocah tengil itu untuk menjemput di sini. Kemana mereka pergi hari ini?" Tanya kakek.
"Kata Kak Willy Ayah dan Bunda pergi nonton Kek." Andara menjelaskan.
"Tidak berubah." Nenek terkekeh.
"Tidak ingat umur." Giliran kakek yang tertawa sambil menggelengkan kepala.
"Naiklah, temui Kenzo, dia butuh kamu." Ujar nenek.
"Kenapa dengannya?" Kakek bertanya dan menghentikan langkahnya menuju kamar.
"Habis kumat katanya." Nenek menjawab.
"Di mana? Dia bersamamu tadi, dan baik-baik saja." Tanya kakek.
"Selepas bertemu kakek. Dia bilang pusing sepulang dari perusahaan kakek. Kek, dia beneran kerja di tempat kakek? Jadi tukang fotokopi?" Ujar Andara dengan polosnya.
"Udah kamu ke atas aja. Temui dia sekarang. Bisa mati ketawa kakek kalau kayak gini. Benar-benar jelmaan Rania banget ini." Kakek segera meninggalkan Andara dan nenek.
"Kenapa nek?" Andara mengalihkan pandangannya pada nenek yang dijawab dengan gelengan. Nenek pun mengikuti kakek masuk ke kamarnya.
Andara yang masih kebingungan memutuskan untuk naik dan mencari kamar Kenzo.
Tok.. Tok..
Lama tidak mendapat jawaban. Andara kembali mengetuk. Setelah beberapa lama masih tidak ada jawaban.
"Ini kamarnya bukan sih?" Andara menoleh ke kiri dan kanan, mencoba mencari jawaban.
"Non nyari kamar den Kenzo?" Salah seorang pelayan di rumah Kenzo bertanya.
"Eh iya Bi, yang mana ya kamarnya?" Tanya Andara.
"Non lurus ke sana, kamar paling pojok itu kamar den Kenzo." Jawab pelayan.
"Oooh pantes sepi. Ya udah deh Bi, Dara ke sana dulu ya, makasi." Ucap Andara sopan.
Andara pun melangkah menuju tempat yang ditunjuk pelayan tadi.
Tok.. Tok.. Tok..
Sepi, tidak ada jawaban dari si empunya kamar.
"Ken, ini aku.. Buka pintunya Ken." Teriak Andara. Namun masih tetap tidak ada jawaban.
"Kenzo, kun dobrak nih pintunya." Masih sunyi.
"Ya udah deh Ken, aku balik aja lah kalau gak dibukain pintu." Hening, tidak ada tanda-tanda sahutan dari dalam.
"Aku masuk lho ya, awas aja kalau kamu sengaja ga bukain pintu." Ancam Andara. Namun nihil. Belum ada jawaban.
Andara yang semakin kesal, memutuskan langsung masuk ke kamar Kenzo.
"Aku masuk lho, jangan marah dan jangan bilang aku gak izin dulu." Andara membuka pintu kamar Kenzo sambil mulutnya terus berbicara.
"Ken.." Andara berbisik.
Andara terkesiap saat menyaksikan Kenzo ternyata tidur diatas kasurnya. Langkahnya terhenti memandang tubuh yang terlihat tak bertenaga itu. Kenzo yang energik dan ceria, saat ini terlihat lemah dan tak berdaya. Mata Andara nanar memandang lelaki itu. Tiba-tiba hatinya merasa sakit melihat tubuh lemah itu.
Ken, aku bisa bantu apa biar kamu kembali seperti sedia kala? Aku mau menukar apapun Ken, asal kamu selalu ceria seperti biasanya. Kamu semangatku Ken, kalau kamu kayak gini, terus aku gimana Ken. Batin Andara berbisik. Andara mencoba menahan air matanya yang mencoba keluar.
Andara melangkahkan kaki mendekati tubuh Kenzo yang tengkurap dan masih mengenakan sepatu serta celana seragamnya. Tubuh bagian atasnya tidak terbalut apapun. Andara yang merasa malu melihat semua itu, berniat segera keluar dari kamar Kenzo. Saat berbalik langkahnya terhenti. Dipandangin foto diatas nakas yang tiba-tiba saja mencuri perhatiannya.
Andara mendekati foto tersebut, diamatinya dengan benar. Andara tersenyum memandang foto itu. Ia duduk di depan nakas dan mengambil foto itu. Sebuah foto lama yang bersanding dengan foto baru. Foto lama yang terdiri dari tujuh orang. Andara melihat ada Ayah Josh yang menggendong bayi, Bunda Rania dan seorang wanita yang menggandeng seorang anak kecil, serta seorang lelaki yang tidak diketahui Andara sedang menggendong bayi juga.
"Apa ini Papi dan Mami Kenzo ya? Berarti ini Kenzo dong? Anak kecil ini siapa ya? Apa kakak Kenzo? Eh tapi Kenzo kan anak tunggal." Andara bermonolog.
Andara kemudian mengalihkan pandangannya pada foto yang lain. Ia tersenyum sangat lebar saat melihat foto-foto itu.
"Dasar stalker!!" Umpat Andara saat ia melihat fotonya dengan berbagai gaya ada di atas nakas samping tempat tidur Kenzo. Foto yang entah kapan diambil oleh lelaki itu.
Andara mengalihkan pandangan pada Kenzo. Ia tersenyum memandang tubuh lelaki itu. Andara pun mendudukkan dirinya diujung kasur. Dengan perlahan dia membuka sepatu Kenzo yang masih melekat di kakinya.
Andara berjalan sambil meletakkan sepatu Kenzo mendekat ke atas ranjang Kenzo. Mendudukkan tubuhnya di samping Kenzo.
"Tunggulah aku Ken. Aku pun akan datang padamu tapi entah kapan itu. Ku mohon jangan bosan dulu padaku. Beri aku sedikit waktu untuk bisa sepenuhnya menerimamu. Aku sungguh ingin datang padamu dengan sepenuh hatiku, bukan sebagai pelampiasan saja Ken." Bisik Andara lirih.
Andara bersiap untuk bangkit dan ingin keluar dari kamar Kenzo hingga tiba-tiba matanya menangkap sesuatu di lengan dan bahu sebelah kiri tubuh Kenzo.
Mata Andara membelalak, menatap dengan tak percaya apa yang dilihatnya. Sontak tangannya menutup mulutnya yang terbuka. Air mata yang sudah ditahannya dari tadi keluar tanpa bisa dia tahan lagi.
Andara mendekat, sedikit naik ke ranjang untuk mengamati tubuh Kenzo. Air matanya menetes membasahi tubuh Kenzo. Tangan Andara terulur, menyentuh carut yang memenuhi bahu dan lengan kiri Kenzo. Mengusapnya perlahan, seperti ingin merasakan perihnya bekas luka itu.
Tiba-tiba ada tangan kokoh yang menahan tangan Andara. Menguncinya dalam cengkeraman yang kuat. Andara terlonjak, kaget dengan kondisi yang tiba-tiba terjadi. Mata Andara terkunci pada mata elang yang kini sudah menatapnya dengan tajam.
Nafas Andara tersengal-sengal. Seketika ia merasa takut melihat mata yang menatapnya dengan tidak bersahabat. Wajah Kenzo sangat dingin, rahangnya mengeras, matanya menatap tajam.
Beberapa detik yang terasa lama, akhirnya Kenzo mengerjapkan matanya.
"Sayang, Dara!" Kenzo tersadar, diraihnya tubuh gadis pujaannya itu dan dimasukkan dalam pelukannya.
"Maaf Ken. Maaf aku gak sengaja." Andara mencicit.
"Gak sayang. Kamu gak salah. Aku yang salah. Maafkan atas responku. Aku hanya reflek melakukannya. Maaf sayang, kamu pasti kaget ya." Kenzo terus mengusap punggung Andara.
"Ken. Itu.. Itu.." Ucap Andara terbata-bata.
"Apa kamu takut sayang? Maaf ya kalau itu menakutimu." Jawab Kenzo dengan sabar.
"Apa itu sakit?" Tanya Andara.
"Udah gak sakit Yang." Jawab Kenzo.
"Itu apa?" Tanya Andara kembali.
"Hah aku tau kamu pasti gak akan melepaskan aku mengenai masalah ini. Oke baiklah. Siapkan hatimu ya. Aku akan memulai lagi dongengku." Jawab Kenzo sambil tersenyum.
"Aku gak mau dongeng Ken. Aku mau cerita yang sebenarnya." Protes Andara.
"Aku kebalikanmu sayang. Aku selalu berharap itu semua hanyalah dongeng atau bahkan hanya mimpi buruk." Kenzo menjelaskan.
"Ken. Maaf, jangan diceritakan jika itu menyakitimu." Andara merasa bersalah.
"Paling gak, orang tersayangku harus mengetahui luar dan dalamku. Dan aku harap, kamu orang yang kuat untuk mendengarkannya." Kenzo kembali membuka suara.
"Tanyakan apa yang ingin kamu ketahui sayang, aku akan menjawabnya."