
Bagiku, Mikha adalah pilihan tak terduga dari Tuhan untukku. Mungkin jika saat itu aku tak berani mengambil resiko untuk memperjuangkan Mikha, maka tak akan ada tawa seperti hari ini. Tak akan ada tangan halus yang sedang ku genggam ini.
Untunglah, aku memilih memperjuangkan Mikha meski bagiku ini tak mudah. Tapi sekarang aku sudah mulai merasakan buah dari kesabaranku.
"Arka, tiga hari lagi Papa berangkat." Ucapan dari Papa menyentak lamunanku.
"Berangkat ke mana?" Tanyaku dan Mikha secara bersamaan.
Aku tersenyum menatap Mikha yang juga tengah menatapku.
"Cie kompakan." Sindir Kendrick.
"Sirik aja!" Balas Mikha. Gadis itu benar-benar tak mau kalah.
Mataku kembali menatap Papa untuk meminta jawaban.
"Kamu lupa, perjanjiannya kan setelah kalian resepsi Papa, Mama, Ayah dan Ibu akan pergi berbulan madu." Dengan santainya Papa menjelaskannya.
"Uhuuukk.. Uhuuukk.."
Seketika itu juga, terjadi tragedi tersedak berjemaah di meja makan. Bahkan Kendrick dan Gilang pun ikut tersedak. Hahaha lucunya mereka.
"Ini beneran Kay gak boleh ikut?" Dan istriku tetap saja merengek setiap membahas hal ini.
"Kamu disini aja bulan madunya sama Abangmu. Kan enak gak ada yang ganggu. Kita mau refresing dulu." Kini giliran Ayah yang menjawab.
"Tapi Yah, Kay sama Abang aja belum bulan madu, kenapa Ayah sama Papa malah berangkat duluan." Lagi-lagi Mikha merengek.
"Kan kamu juga bulan madu Kay. Pindah ke rumah baru sama aja ganti suasana kan Kay. Jadi anggap aja bulan madu. Toh pengantin baru kan tiap hari bulan madu, ya kan?" Ujar Mama.
Duh Mama mertua, paling pengertian deh. Dewa batinku bersorak dalam hati.
"Om beneran mau bulan madu? Kemana om?" Kendrick ikut penasaran.
"Om mau naik kapal pesiar keliling dunia." Jawab Ayah dengan jemawa.
"Wuuiiihhh asyik tuh!"
"Kita kapan ya?"
"Boleh ikutan om?"
Dan kemudian ramailah perbincangan tentang kapal pesiar dan rencana keberangkatan kedua pasang orangtua kami.
"Tenang aja Mikha, nanti ibu bawain oleh-oleh deh setiap kita singgah di satu kota. Ya kan jeng Mia?" Ibu mencoba menenangkan menantunya yang terlihat merajuk.
Oh Mama, anda benar-benar luar biasa dalam mendidik Mikha. Aku salut padamu.
Gadisku hanya mengangguk. Aku tahu dia masih tetap ingin ikut. Tapi jelas itu tidak mungkin. Aku tak akan mengizinkan dan aku juga tak mau ditinggal dalam waktu yang lama.
"Arka, nitip perusahaan. Kini semua tanggungjawabmu." Astaga! Ucapan Papa kali ini benar-benar membuat kepalaku berdenyut hebat.
Sesaat tadi aku melupakan tanggung jawab yang kini ku emban. Tanggungjawab yang mengiringi keputusanku saat mempersunting Mikha.
Apa aku menyesal? Jelas tidak. Tanggung jawab ini ku anggap sebagai bentuk cinta dan kepercayaan Papa padaku. Sebagaimana beliau mempercayakan anaknya untuk ku jadikan istri.
Lagi dan lagi, aku bersyukur atas pencapaianku ini. Seorang duda yang tidak percaya pada dirinya sendiri, diberi kesempatan kedua oleh seorang gadis manis untuk memperbaiki kehidupannya.
Aku pastikan tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Akan ku buat gadisku itu bahagia telah memilih aku. Akan ku buat gadis itu tak pernah menyesal dengan keputusannya.
"Baik Pa. Arka siap. Arka siap menerima dan menjalankan limpahan tanggungjawab yang sudah Papa percayakan padaku. Arka akan menjaga perusahaan dan tentu saja, Arka pastikan akan menjaga dan membahagiakan Mikha." Ujarku menjawab ucapan Papa.
Semua mata memandangku dengan tersenyum. Tentu saja, aku tak akan mengecewakan para pemilik mata itu.
Ku raih tangan Mikha dan ku genggam dengan erat.
"Mikha." Aku memanggil istriku.
Mikha menoleh dan menatapku dengan heran.
"Tetaplah berada di sisi Abang. Temani dan dukung Abang terus, agar Abang bisa menjaga dan menjalankan amanah yang Abang emban."
"Kita akan selalu bersama dan bergandengan tangan untuk saling menguatkan. Abang cinta Mikha."
Mikha tersenyum menatapku, "Kay juga cinta Abang."
Dari sini, aku berharap pernikahan ini menjadi yang terakhir untukku. Aku hanya ingin Mikha yang menjadi pendamping hidupmu. Yang akan menemaniku berjuang membangun rumah tangga impianku. Rumah tangga yang dipenuhi kebahagiaan serta berlandaskan cinta, kejujuran dan kepercayaan.
Mikha, ikutilah terus langkah Abang. Jika kamu mulai lelah dengan Abang, ingatlah kembali perjalanan kita hingga mencapai titik ini. Mungkin dengan mengingat itu, rasa lelahmu akan sirna dan berganti dengan cinta.
Abang pun akan melakukan yang sama. Abang akan selalu mengingat setiap perjuangan dan kisah manis kita.
Tanpamu, Abang hanyalah butiran debu. Tapi bersamamu, Abang bisa menjadi apapun yang kamu inginkan.
Ah bukan hanya yang kamu inginkan, tapi kita inginkan. Karena kini tak ada lagi aku atau kamu, yang ada hanyalah kita.
Mikha, aku cinta kamu. Hanya kamu.