
Aku menghela nafas panjang. Sebenarnya aku tak tega jika harus mengatakannya. Tapi jika menutupinya, aku yakin akan semakin banyak hati yang terluka.
"Pa, bisakah Papa mengontrol Adinda? Jujur saja, Arka dan keluarga terganggu dengan segala tingkah lakunya. Papa tahu kebenarannya dan maaf, Arka dan keluarga tidak bisa menerimanya, Pa. Baik anak itu maupun Adinda. Kami merasa sakit atas pengkhianatan dan kebohongannya selama ini. Maaf Pa, tapi tolong jauhkan Adinda dari kami. Kami ingin hidup tenang. Terlebih, Arka sudah menikah lagi. Ada hati yang harus Arka lindungi." Pintaku dengan sedikit memaksa.
Papa Adinda menghela nafas panjang. Aku tahu lelaki ini penuh beban. Cucu yang diharapkannya, ternyata bukan benihku, yang saat itu menanti sahnya.
"Maafkan Papa. Nanti akan Papa bereskan semuanya. Maaf sudah mengecewakanmu."
Aku mengerti akan beban yang ditanggung lelaki ini. Tapi sungguh, aku harus melakukan ini. Aku tak ingin diusik lagi oleh masa lalu yang buruk!
"Kalau begitu, Arka pamit Pa." Aku bangkit dari kursi dan segera mengulurkan tangan padanya.
Papa Adinda menyambut tanganku dengan tersenyum sambil berkata lirih, "sepertinya benar-benar tidak bisa diperbaiki ya nak."
Aku tersentak saat mendengar ucapan Papa Adinda. Aku tahu apa maksudnya.
"Maaf Pa. Arka belum sebaik itu untuk bisa menerima kebohongan Adinda. Itu menyakitkan jika dipaksakan. Arka bukan lelaki baik yang bisa menerima anak orang lain Pa saat pernikahan kami dikhianati." Jawabku dengan tegas. Aku sungguh tak ingin memberi celah ataupun harapan.
"Papa mengerti. Dan selamat atas pernikahanmu. Ku harap kali ini rumah tanggamu bahagia." Papa menggenggam erat tanganku.
"Papa pastikan semua berjalan baik untukmu. Sampai ketemu di pengadilan nak. Papa pastikan Adinda dan ibunya tak akan mengusik keluarga kalian lagi." Imbuh Papa sambil menepuk bahuku.
Aku mengangguk, "terima kasih Pa. Maaf selama ini aku belum bisa menjadi menantu yang baik bagimu."
"Kamu yang terbaik yang Papa kenal." Senyum tulus lelaki itu terpancar dengan jelas.
Aku segera membalik tubuhku dan bergegas keluar dari rumah ini.
"Sayang, kamu datang! Aku tahu kamu pasti datang. Aku tahu kamu pasti gak akan bisa jauh dari kami. Lihatlah nak, itu Ayahmu." Kakiku terhenti saat mendengar suara dari arah depan ku.
Kepalaku mendongak dan menatap Adinda yang kini ada di depanku sambil menggendong anaknya. Tampaknya Adinda dan ibunya baru saja pulang.
"Selamat malam Ayah. Mau gendong Ayah dong. Jelita kangen banget sama Ayah. Makasih Ayah sudah pulang." Aku membelalak saat mendengar suara Adinda yang menyerupai anak kecil.
Sungguh aku ingin mengumpat padanya jika tak ada bayi dalam gendongannya, yang saat ini disodorkan padaku. Adinda memintaku menggendong anaknya.
Aku mundur dua langkah dan mengangkat alismu. Jelas tatapanku menolak namun entah kenapa Adinda malah terus mendesakku.
"Ayolah Ayah, Jelita kangen Ayah. Gendong aku Ayah." Rengek Adinda yang sedang menirukan suara anak bayi.
Aku menghela nafas panjang dan melirik pada Papa Adinda yang ada di belakangku.
"Arka permisi dulu Om." Aku langsung mengubah panggilanku.
Aku melangkah dengan tak acuh melewati Adinda dan anaknya. Tanpa ku sapa, aku juga melewati ibunya
"Ayah, mau kemana? Ini Jelita Ayah, anak Ayah." Aku mendengar suara Adinda mengejarku sambil terus berteriak.
Aku tak acuh dan segera membuka mobilku. Namun Adinda sudah menyusulku.
"Sayang, lihat dan gendonglah dulu anak kita." Adinda kembali menyodorkan bayinya.
Brengsek! Aku sungguh tak tahan lagi.
"Hentikan Adinda! Sampai kapanpun dia tidak akan pernah menjadi anakku." Bentakku padanya yang langsung membuat bayi itu menangis.
Astaga, maafkan aku. Aku tak bermaksud menakuti bayinya.
"Jangan kasar Arka. Dia istrimu! Masih istrimu! Dan itu anakmu." Ibu Adinda ikut berteriak dan berjalan mendekati kami.
Aku menutup mataku dan membayangkan gadisku. Aku harus bisa mencari sumber ketenanganku sebelum aku menggila disini. Sial, kenapa tadi aku tak mengajak Kendrick saja?
Aku hendak membuka mulutku saat suara tegas terdengar dari belakangku.
"Cukup! Hentikan semuanya! Adinda, Febrina, jangan lagi mengusik Arka. Kalian harus tahu diri! Arka benar, Jelita bukan anaknya. Jadi, jangan lagi kalian mengganggu dan mengusik Arka beserta keluarganya!" Ujar Papa Adinda.
Aku menatap lelaki itu dan menganggukkan kepala. Tanda ucapan terima kasihku yang tak terucap.
Adinda dan ibunya tampak sangat terkejut mendengar ucapan yang muncul dari lelaki kesayangan mereka.
"Kalian, masuklah. Hentikan semua kebodohan yang kalian lakukan. Kita semua tahu, anak Adinda bukanlah benih dari Arka. Jadi, hentikan semuanya." Imbuh Papa Adinda yang langsung membuat Adinda menangis histeris.
"Pulang lah Arka." Papa Adinda menatapku sambil tersenyum.
Dengan segera aku mengendarai mobilku. Tak ku pedulikan lagi raungan Adinda yang memintaku kembali. Tak ku pedulikan lagi segala teriakan dan makian di belakangku. Tak ku hiraukan lagi pertengkaran yang tengah melanda keluarga itu.
Aku sungguh tak mau peduli lagi dengan mereka.
Aku semakin memacu kendaraanku. Aku hanya butuh satu. Ketenangan. Dan aku tahu dimana mendapatkan semua itu.
Ku tambah kecepatanku dan segera ku arahkan mobilku menuju jalanan yang akan membawaku kembali pada candu ku.
Mikha, Abang rindu. Tolong tenangkan batinku. Abang butuh kamu sayang.