NOVEMBER RAIN

NOVEMBER RAIN
SURAT PERNYATAAN



ARKA POV


Tak pernah ku rasakan kebahagiaan yang seperti ini. Melihat binar bahagia dan tawa merdunya, membuat hatiku dipenuhi luapan rasa haru yang tak mudah ku bendung.


Bahkan saat tadi mulut manis istriku memanggil seorang penjaga rumah ini dengan sebutan 'Mas Hadi', hatiku yang bergejolak karena amarah kalah dengan sisi hatiku yang tengah diliputi kebahagiaan.


Pilihanku ternyata tidak salah untuk menetapkan dimana kami akan tinggal setelah menikah. Ide untuk merenovasi rumah ini juga ku rasa sangat tepat. Rumah ini nyatanya memberikan banyak kenangan untuk Mikha. Sampai sekarang aku tak tahu kenangan apa yang paling membekas untuk istriku itu. Apa mungkin kenangan saat pertama kali dia ku bawa kemari dalam keadaan pingsan?


Ah mengingat hal itu aku malah menjadi geram sendiri.


Tapi bagiku, rumah ini hanya meninggalkan kenangan buruk. Bukan kenangan burukku dengan mantan istriku tapi justru kenangan buruk pada Mikha dari sudut pandangku.


Di rumah ini pertama kalinya aku tahu sendiri bagaimana perangai Adinda, mantan istriku, jika di belakangku. Di rumah ini pula aku melihatnya menampar Mikha. Sungguh sampai sekarang aku masih sangat kesal jika mengingat tangan Adinda pernah menyentuh kulit istri kesayanganku ini.


Dan yang paling menyakitkan dari semua hal itu adalah, dari rumah inilah aku melihat keterpurukan dan kerapuhan Mikha saat dia melihatku dari kejauhan.


Yah, dulu saat kondisi memaksa kami untuk berpisah, aku selalu melihat Mikha diam-diam mengamatiku dari seberang jalan, di bawah pohon yang rindang dia memarkir mobil hitamnya.


Bodohnya, saat itu seluruh tubuhku pun seolah terkunci rapat hingga aku tak mampu menolongnya. Aku benci jika mengingat ketidakberdayaan ku saat itu.


Karena itu, aku benar-benar merubah rumah ini hingga ke seluruh sudut yang ku anggap menyimpan kenangan buruk tentang kesakitan Mikha. Aku tak ingin otak Mikha menyimpan keburukan itu. Aku hanya ingin otaknya dipenuhi kenangan-kenangan indahnya bersamaku.


"Kay siap Bang. Kay siap menulis segala cerita indah kita bersama disini, di rumah kita, bersama Abang." Ucapan Mikha kali ini benar-benar menerbangkan aku hingga ke titik tertinggi ku.


Inilah hasilnya, hasil dari usaha kerasku. Terima kasih sayang, untuk semua kesempatan ini. Terima kasih Tuhan, telah mengirimkan wanita mulia ini untukku.


"Terima kasih Mikha. Mulai sekarang, bersiaplah untuk melalui kehidupan ini bersama Abang. Susah senang akan kita lewati bersama. Abang akan berusaha untuk membuatmu selalu tersenyum. Abang cinta kamu, Mikha!" Ujarku sambil merengkuh gadis manis di depanku.


Ku bawa tubuhnya mendekat ke arah jendela kamar kami yang ku buat lebar, hingga sinar matahari nantinya banyak masuk dalam ruangan ini.


"Wah itu tamannya keren banget Bang!" Mikha bersorak kegirangan saat melihat taman mungil di belakang rumah kami.


"Kita bisa ngajakin mereka semua ke sini tiap malem minggu Bang, terus kita baberque party barengan deh." Rasa senang yang di miliki istriku ini benar-benar terpancar tak hanya dari wajahnya, tapi juga dari ucapannya yang dengan semangat mencetuskan ide-idenya.


Lihatlah, bahkan dia sudah menyusun rencana untuk dirinya dan teman-temannya.


"Jangan tiap malem minggu dong sayang." Aku mencoba mengeluh.


"Emang kenapa Bang?" Inilah kelebihan istriku, tak pernah langsung setuju dengan usulku.


"Kita butuh waktu berdua juga dong. Emang gak pingin kalau malem minggu jalan kemana gitu. Nonton misalnya?" Pancingku.


Dan wajah ayu Mikha langsung berbinar. Benar-benar mudah mengalihkan perhatian gadis ini.


"Yups, Kay mau kalau gitu Bang. Jadi dua minggu sekali kita nonton atau jalan kemana gitu, dan dua minggu sekali kita undang teman-teman. Jadi selang seling gitu Bang." Mikha menguraikan idenya.


Aku hanya bisa menggelengkan kepala mendengar idenya. Sungguh tak peka sekali dia. Maksudku kan aku ingin dia bersamaku terus! Aahh Mikha, kamu hanya milik Abang!


"Eh Bang, itu rumah siapa?" Tanya Mikha saat aku masih terkejut dengan idenya.


Kepalaku melongok untuk mengikuti arah pandangnya. Jarinya menunjuk pada dua bangunan kecil di dekat taman belakang. Bangunan yang hanya di pisahkan sekat tembok yang tingginya tak lebih dari tinggi lututku


"Oh itu rumah Bi Sumi sama PAK HADI." Aku menjelaskan sambil menekankan di setiap kata yang terakhir ku ucap.


Otakku kembali mengingatkan kilasan kejadian saat kami baru datang tadi. Rasa kes kembali menyapaku. Dan gadis itu hanya menertawakan aku.


"Apa bedanya sih panggilan itu? Toh orangnya kan sama?" Nah kan, masih saja Mikha-ku ini membantah.


"Tapi rasanya beda di telinga Abang, sayang." Aku mencoba bersabar saat mengucapkannya.


"Itu tadi kenapa rumah bi Sumi ada di sana? Kenapa gak tinggal di sini aja sih Bang?" Cerca Mikha.


Aku menghembuskan nafas dengan keras. Gadis ini, tak mudah dibelokkan saat berbicara tapi seenaknya saja merubah pembicaraanku.


"Bi Sumi sekarang tinggal bersama kita sayang, begitu juga dengan suaminya. Mereka akhirnya mau menetap bersama kita sejak anaknya menikah dan pindah ke luar kota. Suaminya, Mang Engkin, akan menjadi sopirmu dan membantu membersihkan taman. Pak Hadi nantinya juga tinggal di rumah yang bersebelahan dengan Mang Engkin itu. Nanti ada teman Pak Hadi juga yang akan membantunya menjaga rumah kita. Jadi kamu gak akan kesepian di rumah ini jika sewaktu-waktu Abang lembur di kantor." Aku menjelaskan segala kondisi rumah ini.


Mikha menganggukkan kepala. Entah mengerti dengan penjelasanku atau malah semakin bingung.


"Kay gak mau pakai sopir. Kay bisa sendiri." Oh jadi dia paham dengan penjelasanku, buktinya dia langsung membantah.


"Sewaktu-waktu jika kamu butuh Mikha. Tidak tiap hari, hanya jika kamu butuh. Oke?" Tawarku dan untunglah Mikha menyetujuinya.


Biarkan saja seperti ini dulu, nanti pelan-pelan akan ku ubah pola kebiasaannya. Aku sungguh tak ingin Mikha mengendarai mobilnya sendiri sejak kejadian gadis itu menabrak mobil Ayah dan di tolong oleh Aldrich. Hah menyebalkan jika mengingatnya.


"Baiklah, Kay mau jika tidak setiap hari." Akhirnya dia setuju!


Tok.. Tok.. Tok..


"Kay." Terdengar suara Mama dari balik pintu.


Ah padahal aku masih mau membuatkannya cucu, kenapa harus diinterupsi saat ini sih?


"Iya, tunggu sebentar." Istriku menjawab sambil bergegas membuka pintu.


"Kenapa Ma?" Tanya Mikha saat pintu sudah terbuka.


"Itu kadonya udah diantar semua ke sini. Mau di taruh mana?"


"Di taruh di kamar tamu di lantai bawah aja Ma. Sebentar, Arka ganti baju dulu Ma, nanti Arka susul ke bawah." Aku yang menjawab tanya Mama.


"Baiklah Mama tunggu dibawah ya. Langsung turun begitu selesai gantu baju. Kami semua sudah berkumpul di bawah." Ucap Mama penuh penekanan.


Astaga, Mama gak pengertian banget sih sama pengantin baru. Ya kali kita kepingin mesra-mesraan dulu Ma. Aku menggerutu, namun hanya berani di dalam hati.


Segera ku bimbing istriku menuju lemari pakaian.


"Kamu mau mandi dulu atau langsung ganti baju aja?" Tanyaku.


"Kay gerah Bang. Kay mandi dulu aja ya. Abang ke bawah dulu, nanti Kay susul."


"Oke deh kalau gitu. Abang ke bawah dulu ya. Keperluanmu semua ada di lemari, tinggal cari aja." Sahutku sambil mencium keningnya.


Kakiku bergegas keluar dari kamar untuk bergabung dengan keluarga yang sudah menunggu di lantai bawah.


"Lama amat sih Ka di kamarnya, setor saham dulu kamu?" Ucapan frontal dari Kendrick menyambut kedatanganku di lantai satu rumahku.


Aku menoyor kepalanya sebagai balasan atas ucapan mulutnya yang menyebalkan itu.


"Belum sempat, keburu suruh turun." Tapi aku tetap saja menjawabnya. Ishh bodoh!


Dan meledaklah tawa dari seluruh orang yang ada di ruang keluarga rumah ini.


"Sabar, tunggu bentar lagi. Kita juga gak lama lagi pamit pulang kok. Puas-puasin deh nanti nanam sahamnya. Kalau bisa lenyapkan semua penghalang dan tanam yang banyak biar cepat kelihatan hasilnya." Ayah ikut menimpali.


"Lubangi aja penghalangnya. Cemen banget jadi laki!" Astaga Papa! Suka benar deh kalau bicara.


"Nah, nanti kalau hasilnya cepet kelihatan terus anak gadis Papa marah gimana? Arka nih yang paling terkena imbasnya." Keluhku sambil berharap mendapat banyak dukungan.


"Jadi istrimu masih gadis Bung? Belum dibobol juga? Wah beneran cemen kamu! Malu ah punya temen Arka!" Entah datang dari mana, tiba-tiba saja Gilang ikut menimpali pembicaraan ini.


Tawa mencemooh kembali terdengar sumbang di telingaku. Astaga, begini amat ya jadi pengantin baru? Kesana kemari jadi bahan ledekan banyak pihak.


"Ah udah ah. Pada ngomongin apa sih ini sebenarnya?" Aku berusaha menghentikan tawa mereka.


Perlahan tapi pasti, para penghuni ruang keluarga ini mulai bisa menguasai tawanya. Hah, untunglah Mikha masih di kamar. Bisa berubah semerah tomat wajah Mikha jika dengan pembicaraan Ayah dan Papa. Dan Gilang tentu saja.


"Emang Pak Fabian nanam saham dimana? Kak Ken juga ikutan?" Dan ada suara lirih yang terdengar saat tawa dari semua orang telah berhenti.


Sontak seluruh kepala menatap si pemilik suara yang bertanya.


"Sahamnya beda Win. Ini saham khusus Bang Arka." Aldrich yang menjawab.


"Kok bisa gitu Kak? Emangnya kak Ken gak bisa ikutan nanam sahamnya? Kan lumayan kalau berhasil bisa bagi hasil kan?" Winda masih membantah.


Memang benar yang diucapkan Kendrick, Winda dan Mikha ini satu tipe. Watak dan sikapnya hampir sama.


"Ya gak bisa dong sayang. Kalau aku ikut nanam saham, bisa-bisa langsung dikebiri sama Arka nanti." Giliran Kendrick yang menjawab sambil terkekeh.


"Kok gitu?" Nah bau-baunya jadi perdebatan tak berujung nih.


"Cepat nikahi Ken, biar dia tahu saham yang di maksud," Ayah menimpali sambil terbahak-bahak, "orang tuamu juga setuju. Kelihatan senang banget tadi waktu kamu ngelamar Winda." Imbuh Ayah disela-sela tawanya.


"Emang sahamnya gimana sih Kak? Bingung deh aku." Winda masih saja bersuara. Astaga, ini sih Mikha kedua. Ngeyelnya itu lho, sama banget!


"Sahamnya itu bentuknya beda Win. Putih, kental, hmmhhmm.." Suara Gilang teredam oleh bungkaman tangan dari Lily.


Sontak seluruh orang terbahak-bahak menyaksikan semua itu.


"Kenapa? Apanya yang lucu?" Aku langsung berdiri dan menarik tubuh istriku yang baru saja turun.


"Ada apa sih Bang?" Tanyanya lagi, setengah memaksa.


Semua bungkam tak ada yang menjawab pertanyaan Mikha. Papa yang masih menahan tawanya, memilih pergi ke dapur menghampiri Mama yang menyiapkan makan malam bersama Ibu dan Bi Sumi.


"Mau buka kado gak?" Aku berusaha mengalihkan perhatian Mikha.


"Gak mau ah, males. Masih capek. Besok-besok aja deh Bang." Jawabnya.


Abang cuma mau sama kamu malam ini Mikha! Kurang peka banget sih sayang!


"Gak ah Kay. Aku pulang aja. Kata Kak Ken, Pak Fabian mau nanam saham." Dan jawaban Winda sukses membuat tawa kami meledak lagi.


Winda dan Mikha sama-sama menggelengkan kepalanya. Sepertinya para gadis itu benar-benar tak tahu maksudnya.


"Saham apaan sih Win?" Bisik Mikha yang masih ku dengar.


"Taulah! Tanyak noh lakimu." Winda memberi jawabannya.


Tanpa komando, tawa kami semakin riuh terdengar. Dua orang gadis ini benar-benar bisa membuat suasana meriah jika disatukan.


"Pada gak jelas semua sih. Udah deh Win, kita samperin Mama sama Ibu aja yuk." Mikha melepas diri dari pelukanku dan segera menarik lengan Winda.


Kami semua memperhatikan kepergian Winda dan Mikha dengan tawa yang membahana.


"Untung besar ya Bung dapet yang polos begitu." Gilang yang pertama kali berucap saat punggung kedua gadia itu tak lagi nampak.


"Butuh bimbingan orang tua ini mah kalau ngikutin rating film." Aku menjawabnya.


"Ya kan kamu orang tuanya. Bukannya kalian pedofil ya? Kan orang tua yang suka sama anak kecil." Gilang kembali tertawa saat selesai mengucapkannya.


"Sembarangan kalau ngomong! Kita itu suka daun muda, lebih seger dan krenyes," Bantahku, "ya kan Ken?" Imbuhku meminta dukungan Kendrick yang senasib denganku.


Kendrick mengangguk sambil terus saja tertawa.


"Yang pucuk memang lebih nikmat Bang." Kali ini Aldrich yang berbicara.


"Nah, tuh Aldrich aja tau. Makanya Lang, cobain yang pucuk-pucuk itu." Aku berniat menggoda Gilang dihadapan Lily.


Aku tahu Gilang tak akan berani macam-macam jika "kantor pusatnya" ada disebelahnya.


"Sembarangan! Ini juga masih seger dan krenyes-krenyes tau." Bantah Gilang.


"Tapi gak seseger Kay, kak. Kalau Kay kan krenyes-krenyesnya berasa sampai ke hati. Makanya aku cinta mati." Aku melotot menatap Aldrich yang dengan gamblangnya mengucapkan kalimat itu.


Refleks aku bangkit dari duduk ku dan berteriak, "ALDRICH!!!"


Buuugghh..


Sebuah bantal mendarat di wajahmu dan Ayahlah tersangkanya.


"Ayah!" Aku menatap Ayah dan mempertanyakan sikapnya.


"Suka ngeledek tapi diledekin suka emosi! Biasa aja kali Ka!" Ayah menertawakan aku.


Benar saja, suara tawa kembali terdengar nyaring. Aku yakin mereka semua menertawakan reaksiku. Biarkan saja, selamanya jika itu menyangkut Mikha, maka reaksiku pasti akan begini. Aku harus menjaga gadisku dan tak akan ku biarkan setitik celahpun yang bisa mengoyak rumah tanggaku.


"Ayo makan!" Suara Ibu berteriak dari arah ruang makan.


Kami semua menoleh dan segera bergabung di meja makan. Tak terasa hari sudah gelap. Berkumpul dengan orang terkasih benar-benar membuat waktu terasa cepat berputar.


Kami mengambil tempat duduk masing-masing dan bersiap untuk makan malam.


Sungguh aku sangat menyukai suasana kekeluargaan seperti ini. Saling melempar guyonan, saling meledek dan berbagi tawa bersama.


Ku tatap satu per satu wajah yang tengah duduk di meja makan dengan senyum yang selalu melekat di wajah mereka. Tawa dan kegembiraan mereka seakan menular padaku. Aku tak ingin kebersamaan dan kebahagiaan ini berakhir.


Ini keberuntungan terbesar dalam hidupku. Keberuntungan yang tak ternilai harganya. Aku dikelilingi oleh sahabat yang setia menemaniku dari bawah, aku juga mempunyai kedua orang tua yang sangat hebat. Sekarang aku dianugerahi istri yang luar biasa dan memiliki mertua yang juga menakjubkan.


Dulu, aku tak berani memimpikan semua ini. Apalah aku ini? Aku hanya seorang lelaki dengan masa lalu kelam, mempunyai catatan hidup yang kelabu dan tentu saja orang duda yang aku rasa tak pantas untuk dicintai.


Bertemu dengan Mikha seperti memberiku kesempatan kedua dalam hidupku. Kesempatan untukku menebus kesalahan di masa lalu. Kesempatan untukku memperbaiki diri dan memberikan kebahagiaan pada orang terkasih.


Bagiku, Mikha adalah pilihan tak terduga dari Tuhan untukku. Mungkin jika saat itu aku tak berani mengambil resiko untuk memperjuangkan Mikha, maka tak akan ada tawa seperti hari ini. Tak akan ada tangan halus yang sedang ku genggam ini.


Untunglah, aku memilih memperjuangkan Mikha meski bagiku ini tak mudah. Tapi sekarang aku sudah mulai merasakan buah dari kesabaranku.


"Arka, tiga hari lagi Papa berangkat." Ucapan dari Papa menyentak lamunanku.


"Berangkat ke mana?" Tanyaku dan Mikha secara bersamaan.


Aku tersenyum menatap Mikha yang juga tengah menatapku.


"Cie kompakan." Sindir Kendrick.


"Sirik aja!" Balas Mikha. Gadis itu benar-benar tak mau kalah.


Mataku kembali menatap Papa untuk meminta jawaban.


"Kamu lupa, perjanjiannya kan setelah kalian resepsi Papa, Mama, Ayah dan Ibu akan pergi berbulan madu." Dengan santainya Papa menjelaskannya.


"Uhuuukk.. Uhuuukk.."


Seketika itu juga, terjadi tragedi tersedak berjemaah di meja makan. Bahkan Kendrick dan Gilang pun ikut tersedak. Hahaha lucunya mereka.


"Ini beneran Kay gak boleh ikut?" Dan istriku tetap saja merengek setiap membahas hal ini.


"Kamu disini aja bulan madunya sama Abangmu. Kan enak gak ada yang ganggu. Kita mau refresing dulu." Kini giliran Ayah yang menjawab.


"Tapi Yah, Kay sama Abang aja belum bulan madu, kenapa Ayah sama Papa malah berangkat duluan." Lagi-lagi Mikha merengek.


"Kan kamu juga bulan madu Kay. Pindah ke rumah baru sama aja ganti suasana kan Kay. Jadi anggap aja bulan madu. Toh pengantin baru kan tiap hari bulan madu, ya kan?" Ujar Mama.


Duh Mama mertua, paling pengertian deh. Dewa batinku bersorak dalam hati.


"Om beneran mau bulan madu? Kemana om?" Kendrick ikut penasaran.


"Om mau naik kapal pesiar keliling dunia." Jawab Ayah dengan jemawa.


"Wuuiiihhh asyik tuh!"


"Kita kapan ya?"


"Boleh ikutan om?"


Dan kemudian ramailah perbincangan tentang kapal pesiar dan rencana keberangkatan kedua pasang orangtua kami.


"Tenang aja Mikha, nanti ibu bawain oleh-oleh deh setiap kita singgah di satu kota. Ya kan jeng Mia?" Ibu mencoba menenangkan menantunya yang terlihat merajuk.


"Iya. Kamu jangan gitu dong Kay. Nikmati masa pengantin barumu. Belajar adaptasi dengan pasangan dan lingkungan baru. Pasti sebentar lagi Abangmu banyak menghadiri pertemuan, nah disitu kamu butuh penyesuaian. Sekarang bukan hanya sebagai putri keluarga Sanjaya tapi istri dari Bang Arka." Ujar Mama sambil menatap teduh pada istriku.


Oh Mama, anda benar-benar luar biasa dalam mendidik Mikha. Aku salut padamu.


Gadisku hanya mengangguk. Aku tahu dia masih tetap ingin ikut. Tapi jelas itu tidak mungkin. Aku tak akan mengizinkan dan aku juga tak mau ditinggal dalam waktu yang lama.


"Arka, nitip perusahaan. Kini semua tanggungjawabmu." Astaga! Ucapan Papa kali ini benar-benar membuat kepalaku berdenyut hebat.


Sesaat tadi aku melupakan tanggung jawab yang kini ku emban. Tanggungjawab yang mengiringi keputusanku saat mempersunting Mikha.


Apa aku menyesal? Jelas tidak. Tanggung jawab ini ku anggap sebagai bentuk cinta dan kepercayaan Papa padaku. Sebagaimana beliau mempercayakan anaknya untuk ku jadikan istri.


Lagi dan lagi, aku bersyukur atas pencapaianku ini. Seorang duda yang tidak percaya pada dirinya sendiri, diberi kesempatan kedua oleh seorang gadis manis untuk memperbaiki kehidupannya.


Aku pastikan tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Akan ku buat gadisku itu bahagia telah memilih aku. Akan ku buat gadis itu tak pernah menyesal dengan keputusannya.


"Baik Pa. Arka siap. Arka siap menerima dan menjalankan limpahan tanggungjawab yang sudah Papa percayakan pada Papa. Arka akan menjaga perusahaan dan tentu saja, Arka pastikan akan menjaga dan membahagiakan Mikha." Ujarku menjawab ucapan Papa.


Semua mata memandangku dengan tersenyum. Tentu saja, aku tak akan mengecewakan para pemilik mata itu.


Ku raih tangan Mikha dan ku genggam dengan erat.


"Mikha." Aku memanggil istriku.


Mikha menoleh dan menatapku dengan heran.


"Tetaplah berada di sisi Abang. Temani dan dukung Abang terus, agar Abang bisa menjaga dan menjalankan amanah yang Abang emban."


"Kita akan selalu bersama dan bergandengan tangan untuk saling menguatkan. Abang cinta Mikha."


Mikha tersenyum menatapku, "Kay juga cinta Abang."


Dari sini, aku berharap pernikahan ini menjadi yang terakhir untukku. Aku hanya ingin Mikha yang menjadi pendamping hidupmu. Yang akan menemaniku berjuang membangun rumah tangga impianku. Rumah tangga yang dipenuhi kebahagiaan serta berlandaskan cinta dan kepercayaan.


Mikha, ikutilah terus langkah Abang. Jika kamu mulai lelah dengan Abang, ingatlah kembali perjalanan kita hingga mencapai titik ini. Mungkin dengan mengingat itu, rasa lelahmu akan sirna dan berganti dengan cinta.


Abang pun akan melakukan yang sama. Abang akan selalu mengingat setiap perjuangan dan kisah manis kita.


Tanpamu, Abang hanyalah butiran debu. Tapi bersamamu, Abang bisa menjadi apapun yang kamu inginkan.


Ah bukan hanya yang kamu inginkan, tapi kita inginkan. Karena kini tak ada lagi aku atau kami, yang ada hanyalah kita.


Mikha, aku cinta kamu. Hanya kamu.