
Angin berhembus tenang, dedaunan yang bergoyang pelan, suara burung hutan berkicau diselah kesunyian yang menyelubung. Sebuah rumah sederhana jauh dari hiruk pikuk kota, seperti menyendiri didalam keheningan, ditutupi batang-batang pohon yang tinggi menjulang, bersembunyi dibalik ranting-ranting liar yang tumbuh, meringkuk dibalik bukit-bukit hijau.
Empat orang didalam rumah itu seperti berfikir keras, sementara salah seorang pemuda lain hanya seperti orang yang bingung.
Berdiri salah seorang dari mereka, lalu berkata "bisakah kalian menjelaskan padaku? seperti apa maksud dari semua ini? Ada apa dengan mantra-mantra kuno ini? Perang seperti apa yang kalian takutkan? Aku seperti berada didunia lain."
"Bukankah sudah Kami katakan, mantra-mantra kuno itu, adalah sebuah senjata. Jika digunakan oleh tangan yang salah, akan menimbulkan kekacauan." jawab seorang wanita yang dipanggil sebagai Ruby.
"Lalu? Apakah mantra itu sudah jatuh ke tangan yang salah?" tanya Noah lagi.
Dari tadi pemuda ini terus menerus bertanya, maklum diantara sekumpulan kecil orang dalam rumah sederhana itu hanya Noah yang sama sekali tidak paham mengenai mantra dan peperangan yang akan terjadi.
"Mantra itu sedang dikumpulkan oleh satuan militer provinsi. bukankah harusnya kita akan aman?" sambung Noah lagi.
"Hei Orang asing! bisakah rendahkan Nadamu?" Potong perempuan muda, Kimora.
"Apa maksudmu?" Noah coba bertanya.
"Kau membawa potongan mantra itu ke rumah ku, dan itu artinya keluargaku sedang menyembunyikan mantra kuno disini. Bisa-bisa kita yang jadi korban sebelum peperangan dimulai," sambung kimora.
"Jangan bahas hal sepele ini," jawab Laki-laki tua yang duduk disebuah kursi dari anyaman rotan.
"Apa maksud Ayah hal sepele? ini hal besar. Ayah selalu menganggap masalah besar adalah hal sepele. Ketika ibu meninggal, Ayah juga merasa itu adalah hal sepele! Ayah selalu membela prajurit-prajurit dari provinsi. Padahal jelas-jelas ini kesalahan pemerintah..."
belum selesai kimora melanjutkan, Laki-laki tua itu langsung memotong pembicaraan
"Cukup kimora! jangan ungkit itu lagi"
"Ayah sudah bukan anggota satuan militer, kenapa harus memikirkan masalah peperangan? Apakah di kepala Ayah tidak ada lagi Orang yang harus Ayah pikirkan? Semenjak Ibu pergi, tidak ada lagi yang mau mengerti perasaanku! Ayah hanya memikirkan peperangan! tidakkah Ayah tahu? Aku butuh perhatian dari seorang Ayah bukan Latihan!" Nada bicara kimora sudah tidak terkontrol, Matanya mulai basah.
"Cukup kimora! masuk kedalam kamarmu!" Jawab Ayah kimora dengan Nada tinggi dan tegas, raut wajahnya sudah tidak seperti biasanya.
Noah terpaku menyaksikan perang kata-kata antara Ayah dan anak itu. sementara Bibi Tiara mencoba menenangkan kimora yang berlari ke kamarnya. Ruby berdiri didekat pintu rumah tangannya dilipat didadanya sambil kepalanya menunduk.
"Paman... Aku minta maaf jika masih melibatkan paman didalam masalah ini." kata Ruby kepada Ayah kimora.
Orang tua itu hanya diam tidak menjawab. Noah yang daritadi kelihatan aktif bertanya, tiba-tiba saja kehabisan pertanyaan.
"Paman, jika Paman berubah pikiran untuk tidak bergabung, Aku lebih senang. setidaknya sepupuku Kimora bisa mendapat perhatian dari Orang tuaNya" Ruby berkata sambil melihat ke arah Ayah kimora.
"Tidak Ruby... Aku masih harus bergabung. Tidak ada yang lebih penting daripada ini. Aku tentu bangga bisa membantumu, Ruby." jawab Ayah kimora pelan.
"Jika seperti itu, Paman tahu bukan, Apa yang seharusnya paman lakukan?" tanya Ruby.
"Tentu, aku sudah tahu." Jawab Ayah kimora lagi.
"Jika begitu, aku harus segera pergi." Ruby berkata sambil melangkah keluar, tangannya melambai pelan.
Tersisa dua orang laki-laki didalam ruangan itu, sesaat kedua nya sama-sama terdiam. Yang lanjut usianya itu duduk dengan mata yang basah, mengambil sebatang cerutu, membakar, lalu menghisapnya.
Waktu berlalu... semenit.. menjadi dua menit... menjadi empat.... berlalu begitu saja.
"Anak muda..." seruan kecil keluar dari mulut ayah kimora, dengan bibir yang gemetar.
"iya paman..." jawab Noah pelan.
"Apakah lukamu sudah baikan? bagaimana kondisi tubuhmu?" tanya orang tua itu
"Sepertinya aku hanya bisa bilang, ini sudah lebih baik dari yang kemarin." Noah mencoba jawab
Orang tua itu mengangguk-angguk.
"Hei pak tua... bolehkah aku bertanya?"
"Bertanyalah Noah" jawab singkat laki-laki itu.
"Mengapa anakmu menangis ketika membicarakan ibunya?" tanya Noah sambil mengambil tempat duduk didekat orang tua itu.
"ketika ibunya meninggal, Dia tidak pernah mendapat perhatian dariku. Aku begitu mencintainya, tapi Orang tua ini tidak pandai menunjukan kasih sayang kepada gadis kecilnya. Aku selama ini melatihnya keras, agar bisa menghadapi perang yang sudah dekat ini."
"Dengar pak tua.. tidak bisakah hilangkan dulu sedikit saja pikiran tentang perang dikepalamu. Anak gadismu perlu dirimu. Dia perlu Ayahnya." sentil Noah.
"Aku menginginkannya... tapi tidak bisa.... perang ada didepan mata Nak... mungkin aku dan anakku akan terpisah karna perang ini." orang tua itu berbicara pelan.
"katakan itu didepan Anak gadismu, aku yakin saat itu juga kau kehilangan Dia." Noah menjawab dengan nada menyindir.
"Suatu hari, gadis kecil itu akan tahu, seberapa besar Aku mencintai Dia." kata Ayah kimora.
"Istirahatlah yang cukup, kau bukannya belum pulih. setelah kau pulih, aku akan menunjukan kepadamu, mengapa mantra begitu diincar oleh pasukan militer." sambungnya lagi.
"hah??? Apa menurutmu aku akan tinggal disini setelah pulih? Aku harus pulang."
"kemana kau akan pulang? tidak ada tempat aman didaerah kota untukmu."
"Apa maksudmu?"
"Watu mite sudah dihancurkan demi mantra kuno, dan kau.... hanya seorang bocah, yang diidentifikasi sebagai salah satu yang punya salinan mantra dari watumite. Apa kau pikir kau akan selamat jika ke kota?"
"kau menyumpahiku Orang tua?"
"Tidak.... berfikirlah rasional... aku tidak menyumpahimu... tapi aku menawarkan kepadamu... mau tinggal disini? atau mau mati dikota?" orang tua itu melempar pertanyaan yang membuat bulu kuduk Noah berdiri, sambil melangkah keluar rumah, ditangannya masih ada cerutu ia berjalan pelan menjauhi rumah itu.
Noah hanya memandang orang tua itu yang makin menjauh. " Apakah benar perang akan terjadi?"Noah bertanya dalam hati.
"haruskah aku tinggal disini....
ini seperti sebuah mimpi..."
Noah merenung nasibnya, sementara tangis kecil masih terdengar dari kamar kimora. Kimora masih menangisi kejadian silam, Ia terlarut didalam bayang-bayang, ketika sebuah pedang menghujam lambung Ibunya, ketika sebuah erangan tak berdaya keluar dari mulut ibunya, ketika kelemahannya memaksanya menangis saat itu, dan ketika orang yang Ia panggil Ayah hanya menjadi penonton ketika kematian melahap wanita kesayangannya.
Bersambung...