Noah

Noah
Duel Empat Pemuda



"Dua hari lagi markas kita akan di serang. Persiapkan diri kalian!" Kata Villand.


"Dua hari? sesingkat ini?" tanya Longa.


"Ruby mengatakan demikian." balas Villand.


"Apa dia bisa dipercaya?" tanya Ling sambil mengangkat tangannya.


"Sangat bisa dipercaya." sahut Villand kemudian berjalan masuk ke goa.


"Ruby adalah ponakan Villand. Dia mata-mata didalam kerajaan. Dia termasuk orang kepercayaan Raja, pasukan Elit kerajaan." jelas Longa kepada Ling.


"pasukan elit? pantas saja dia sanggup melawan Aku dan Alka. Padahal satu melawan dua." kata Ling.


"Dia ahli teknik pengerasan, pedangku tidak sanggup melukai kulitnya. Sayang sekali." sambung Alka yang kebetulan ada disitu.


"Semua sedang berlatih, jika kondisi tidak memungkinkan sebaiknya istirahat agar stabil dan sanggup melawan pasukan kerajaan didalam penerangan." sambung Longa mengakhiri perbincangan mereka.


Alka dan Ling saling melirik satu sama lain. mereka masih tidak percaya dikalahkan satu gadis, masih muda tetapi memiliki kemampuan luar biasa.


"Sebaiknya kita berduel. itupun jika kau tak keberatan" kata Ling melihat kearah Alka.


"Dengan senang hati" sahut Alka yang kemudian mencabut dua pedang andalannya.


"Kuharap kulitmu lebih keras dari logam agar tidak terluka." sambung Alka lagi.


"Kita lihat saja, berharap lah pedangmu sanggup melukaiku. jika tidak, apiku akan menghanguskan mu."


kedua pemuda itu berlari menuju puncak bukit, saat itu hari masih pagi. mereka bergerak cukup cepat, mencari tempat yang lapang, untuk adu kebolehan mereka.


Ling memasang kuda-kuda, tangan kanannya dikepal, tangan kirinya dibiarkan terbuka.


Sementara Alka bersiap dengan dua pedang ditangannya.


Set set set! Alka mengambil keputusan duluan menyerang, Dia mencoba mendekati Ling dengan langkah yang cukup membingungkan.


Ling tidak mau diam saja, Dia membidik Alka dengan apinya.


Wush!!!


Semburan Api yang cukup kuat mengarah kepada Alka.


Dengan pedangnya Alka membelah semburan itu, Api Ling membakar Daerah di kedua sisi dari Alka.


"Membelah api? teknik apa itu" ujar Ling dalam hati.


"Jangan terkejut! Kau bisa terluka!" ujar Alka, yang berusaha menebas Ling dari jarak dua meter.


Hembusan angin tajam membelah udara disekitar pedang Alka, melesat cepat menuju Ling.


Ling mengelak dari tebasan itu, dan mencoba melompat kesamping sambil memasang kuda-kuda.


Semak belukar dibelakang Ling tersayat habis oleh angin yang begitu tajam.


"Tidak salah jika dia menjadi anggota kepercayaan Paman Longa." Ling berkata dalam hati.


"Aku harus berhati-hati." sambung Ling lagi.


"Jangan bengong saja, dimana api yang banggakan tadi?" tanya Alka yang melihat Ling diam saja.


"Jika kau tak menyerang, maka aku yang akan menyerang!" seru Alka lagi.


Alka melompat sambil menyabetkan pedangnya. Sekali lagi angin tajam berhembus dari bilah pedangnya.


Ling sedikit tersenyum lalu melompat cukup tinggi, Memberi beberapa tinju api kearah Alka ketika berada di udara.


Alka mengindari nyala api itu, kemudian mencoba merapat ke arah Ling untuk memperpendek jarak. Alka tau jika dengan jarak lebih dekat dia akan lebih unggul.


Sesaat sebelum Alka begitu dekat dengan Ling, Ling merapal sebuah mantra, sebuah zirah tiba-tiba membungkus tubuh Ling.


Tebasan pedang Alka di tangkis oleh Ling dengan cukup mudah.


Melihat Alka yang sedikit terkejut akibat tubuh Ling yang dibungkus Zirah, Ling memanfaatkan kesempatan itu untuk balik menyerang.


Rentetan tendangan dan pukulan Ling yang berhawa panas menggempur Alka. merasa terdesak Alka melompat mundur, namun sayang sekali tendangan Ling terlalu cepat untuk dihindari.


Tendangan yang membara itu mendarat di dada Alka, walaupun sedikit menutup dadanya dengan tangan, tetapi tangkisan itu tidak cukup berarti untuk membendung kekuatan serang Ling.


Duk!!!! Sret-sret-sret! Brak!!


Alka terhempas beberapa meter setelah menerima tendangan Ling.


Walaupun demikian Alka masih bisa bangkit berdiri.


Baju Alka terbakar di daerah dada akibat serangan Ling. Namun Ling sedikit terkejut, dada Alka punya tekstur mirip batu.


"Apa semua anggota pembunuh hitam memiliki mantra untuk membuat tubuh mereka menjadi batu?" tanya Ling dalam hati.


"Aku ingin mencoba sejauh mana kemampuan tangan kosong mu itu Ling!"


"Silahkan saja!"


Tanpa membuang waktu Alka kembali menyerang Ling. tangan Alka sudah membatu, Dia menyerang dengan pukulan dan tendangannya. Ling tidak kalah gesit, Ia berhasil menghindari semua serangan Alka.


Mereka bertarung cukup sengit, sampai-sampai Noah dan beberapa orang lain juga sudah ikut menyaksikan adu ketangkasan mereka.


Noah memperhatikan tangan Alka,


"Tangan itu? bisa berubah ukurannya?" Tanya Noah kepada Kimora.


"Lihat Kimora! Alka sanggup merubah ukuran tekstur tangannya. Itu cukup mengagumkan!


Maju Alka!!! maju!!" Teriak Noah


"Ling jangan mau kalah! Aku mendukungmu!" Teriak Kimora tidak mau kalah dari Noah.


"Alka! kalahkan Koki tak berkemampuan itu! kau pasti bisa!" Noah berteriak lebih besar dari sebelumnya.


"Apa maksudmu berkata demikian?" bentak Kimora.


"Aku hanya mendukung jagoanku Alka." sahut Noah enteng.


"Kau benar-benar tidak punya sopan santun" sambar Kimora yang tiba-tiba saja melancarkan pukulan es kearah Noah.


Tanpa diperintah, Insting Noah memaksa tubuhnya untuk langsung menghindari serangan cepat Kimora.


Kimora sedikit terkejut. Biasanya Noah tidak bisa menghindar jika diserang mendadak.


"Eh? apa yang terjadi? perasaan ini... Naluriku seperti menggerakkan tubuhku." kata Noah dalam hati.


Kimora lanjut menyerang, Ia melancarkan pukulan es beruntun ke arah Noah.


Noah cukup sigap, Dia mengelak dengan cukup baik serangan yang dilancarkan Kimora.


Mengetahui serangannya meleset, Kimora memperpendek jarak serang, Dia mendekati Noah dan mencoba mencakar perut dan dada Noah.


Set! Set!


"Serius? kau menyerang ku dengan cakar es? Apa kau ingin membunuhku?" Teriak Noah.


"Itu bonus, jika berhasil membunuhmu!"


"Gadis gila! bisa-bisanya ingin membunuh kawan sendiri!" sambung Noah.


Kimora tidak peduli, Dia menyerang Noah kali ini lebih cepat dari gerakan semula.


Noah menepis cakar es dengan tangan hitamnya.


Noah yang terlalu berkonsentrasi dengan serangan cakar Kimora jadi kurang memperhatikan gerakan kaki Kimora.


Wush!!! Duk!!! tendangan Kimora masuk dan menembus pertahanan Noah.


Dada Noah terasa sesak, ia terjengkang beberapa langkah kebelakang. Walaupun tidak membuat Noah jatuh, tetapi sakitnya dada Noah sanggup menggambarkan seberapa kuat tendangan gadis itu.


"Jangan meremehkan ku dengan senyum mu itu gadis sial!" ucap Noah sambil memegang dadanya.


"Apa kalian sudah selesai?" tanya seseorang dari belakang Kimora.


"Ayah... kami sedang berlatih!" sahut Kimora.


"Ini bukan latihan pak tua! Dia bisa saja membunuhku dengan Cakar nya.!" ucap Noah


"Jika sudah, bergabunglah didepan Goa. Ada sesuatu yang harus kita bahas." ucap Villand sambil menjauh dari mereka, lalu menuruni puncak bukit itu, menuju goa.


"Kau gadis yang cukup berbakat Kimora." ucap Ling yang juga memperhatikan cara Kimora bertarung.


"Terima kasih kak Ling!" jawab Kimora dengan pipi yang memerah.


"Hei Alka! apa kau tidak berhasil menghajar koki ini?" tanya Noah mendekati Ling sambil melihat dan memeriksa tubuh Ling.


"Dia cukup hebat. Aku tidak bisa menembus Zirah miliknya. tidak untuk sekarang." jawab Alka yang melangkah mengikuti Villand.


"Hei Kimora... wajahmu memerah... Apa kau jatuh cinta dengan Koki ini?" tanya Noah melihat ekspresi Kimora ketika didekat Ling.


"Tutup mulutmu! Aku bukan gadis yang seperti itu!" jawab Kimora, lalu berlari meninggalkan Noah dan Ling.


"Mulutmu benar-benar sulit untuk dijinakkan" kata Ling memasang wajah datar.


"Kau tidak pantas untuk mendekati Kimora! camkan itu!" ucap Noah lalu melangkah pergi.


"Begitu juga denganmu" jawab Ling pelan.


Bersambung.....