Noah

Noah
Pesan diujung Waktu



Gelap sudah mulai merambat, menutup segala penjuru, hanya cahaya bulan dan bintang yang terlihat megah diangkasa.


Sementara jauh di atas bukit, seorang pemuda terengah-engah berusaha menuruni bukit di tengah hutan belantara.


"Akhirnya selesai? Noah?" tanya Ayah kimora yang duduk di depan goa. Sejak tadi dia memperhatikan Noah yang berlatih dari pagi.


"Pak tua sialan, kau ingin membunuh ku?" sahut Noah


"Jangan menjadi pemuda yang manja, ketika di medan tempur, kau bahkan tidak makan selama berhari-hari." sambung Ayah Kimora lagi.


"Terserah apa katamu pak tua." jawab Noah masih dengan nada kesal, bagaimana tidak; sejak pagi Noah belum mengisi perutnya dengan makanan.


Noah menuju Goa, mengambil jatah makan nya, makannya begitu lahap.


Sementara dari sudut terdengar tawa geli seorang gadis, yang kemudian berkata: "Kukira kau mati di atas bukit. hahahaha"


"Dasar gadis Aneh!" Noah menjawab, namun wajahnya memasang ekspresi yang tidak peduli.


Sementara itu, beberapa ratus meter dari goa itu, terlihat langkah kecil sepasang kaki berjalan santai mengibas semak-semak yang tumbuh liar, sesekali kaki itu menendang batu-batu kecil yang menghalangi langkahnya.


Ayah kimora yang sejak tadi menyadari hawa kehadiran orang lain disekitar goa, masih menutup mata, mencoba lebih konsentrasi mendeteksi kehadiran seseorang itu. Beberapa detik kemudian, Ia mencoba mengendus- endus dengan hidungnya, kemudian tersenyum kecil.


srek srek srek kaki itu terus melangkah, kemudian berhenti beberapa puluh meter dari goa.


"Akhirnya kau datang juga." sapa Viland, Ayah kimora, kepada orang itu.


"Iya, tidak sulit menemukan sarang Singa" jawab orang itu santai.


"Kau cukup mengejutkanku. Kau terlihat sedikit muram. Apa yang terjadi?" tanya Ayah kimora kepada orang itu.


"sudah sejauh mana perkembangan kimora?" tanya sosok itu.


"Aku masih butuh waktu untuk membuatnya lebih kuat. Dia tidak jenius seperti dirimu itu."


"Waktu semakin sempit. Kimora tidak akan punya waktu lebih dari dua minggu."


"Aku akan mencoba semampuku. Energi Roh nya tidak begitu kuat, begitu pula kemampuan Fisiknya. Dia memang mahir dari sisi teknik, tetapi kekuatannya tidak cukup untuk menggunakan teknik berbahaya itu." kata Viland lagi.


"Lalu bagaimana dengan Noah?" tanya Orang itu


"Dia lebih buruk lagi. tidak menguasai teknik bertarung sama sekali. Dia bahkan dikalahkan kimora dengan mudah."


"Sepertinya Anda kurang keras terhadap mereka."


"Ya, Aku tahu itu, tapi berita baiknya, Noah memiliki fisik yang cukup prima." sambung Viland.


"Didepan seorang ahli, Fisik tanpa teknik adalah samsak hidup. Dengar Aku. ini yang harus aku katakan, waktuku tidak banyak."


Dua orang itu kemudian berbicara dengan lebih pelan, entah apa yang dibicarakan.


Raut mereka begitu serius, sesekali Viland Ayah kimora itu mengernyitkan keningnya.


Sementara dari dalam Goa, Kimora melihat Ayahnya sedang berbicara dengan seseorang. Ia mencoba mendekati mereka.


"Kimora mau kemana?" tanya bibi Tiara.


"Itu.. Ayah sepertinya berbicara dengan orang diluar goa." jawab kimora sambil terus melangkah.


"Ayah? Ayah, dengan siapa Ayah berbicara?" kimora mencoba memanggil ayahnya.


"Ah, kimora, kau belum tidur ya" jawab ayah kimora sambil menoleh ke arah goa.


"ingat waktu mu sudah habis." bisik Sosok itu pelan, kemudian mundur ke arah semak-semak, lalu pergi entah kemana.


"Ayah? kenapa diam? dengan siapa Ayah tadi?" tanya kimora, yang sudah berada disamping ayahnya.


"Ah, Ayah hanya sedang mencoba mantra baru.... tidak ada siapa-siapa disini. mungkin Kimora salah melihat.


"Aku tidak mungkin salah." kimora berbicara sambil memperhatikan sekelilingnya. Dia mencoba memandang daerah sekitarnya, hanya ada bayangan pepohonan dan semak-semak yang gelap.


"Nah kimora, Ayo kita kedalam. Sudah larut. istirahat yang cukup. mungkin besok kita akan belajar teknik baru." Viland berkata sambil merangkul putrinya.


"teknik baru? teknik apa ayah?" tanya Kimora girang.


"Apakah itu mantra baru?" sambung kimora lagi.


"Ini adalah hadiah, Siapkan Fisikmu. tidak kah kau sangat inginkan teknik pengerasan?" jawab Viland sambil tersenyum kepada putrinya.


"teknik.. pengerasan? Aku tidak salah dengar Ayah?"


Kimora memeluk erat Ayahnya sambil berkata, "Ayah, terima kasih." kemudian kimora berlari kedalam goa.


"Bibi tiara." panggil kimora


"Ada apa kimora" jawab Tiara yang sedang merajut kain.


"Bibi, Ayah akan melatihku teknik pengerasan" kata kimora girang, Ia langsung memeluk erat Bibinya.


"Apa sih hebatnya teknik itu?" potong Noah dengan nada tidak peduli.


"Bukan urusanmu." jawab Kimora singkat


"Anak manja sepertimu, aku yakin tidak akan menguasai teknik itu." sambung Noah santai, yang rebahan sambil mengunyah kacang.


"Apa urusanmu terhadapku?" tanya kimora sambil melirik kearah Noah.


"Aku hanya kasihan dengan orang tua itu. Esok hari Dia akan melakukan hal yang sia-sia." jawab Noah, masih dengan nada yang datar.


Sementara diluar goa, viland masih menatap bintang diangkasa. menarik nafasnya dalam-dalam, menghembusnya, lalu melakukannya lagi. setelah melakukannya berulang-ulang Ia kemudian melangkah pelan kedalam goa.


"bagaimana jika Noah juga ku ajari teknik itu. mungkin akan lebih baik untuknya." kata viland dalam hati.


"Noah? Noah?" Viland memanggil Noah.


"Kimora, dimana Noah?" tanya Viland kepada Kimora.


"Mungkin Dia masih berbaring disana," jawab kimora dengan wajah yang kesal.


"Mengapa kau jadi muram seperti itu? bukannya tadi begitu bersemangat?" tanya Viland yang bingung melihat Ekspresi anaknya itu.


"Tidak kenapa-kenapa Ayah." jawab kimora sambil mencoba tersenyum.


Viland membalas senyum anaknya, kemudian menuju tempat Noah berbaring.


"Apa ini? Kalian memang susah akur sepertinya" kata viland. Ia begitu terkejut melihat bongkahan Es yang didalamnya ada Noah.


Entah apa yang Viland pikirkan, Dia mencoba melelehkan Bongkahan es itu, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kimora, berlakulah ramah dengan semua orang, jangan seenaknya membekukan manusia" teriak viland.


"Dia yang memulai Ayah" sambar Kimora dari tempatnya.


"Entah apa yang terjadi kalau tidak ada yang memperhatikan mereka" kata viland dalam hati.


"Tiara, kemarilah"


"Apa yang terjadi Viland?"


"Mereka sudah mulai bergerak" jawab Viland


"Kapan penghianatan dijadwalkan?" tanya Tiara


"Dua minggu lagi" jawab Viland


"terlalu singkat." sambung Tiara


"Perkiraan kita meleset"


"Apa Dia bisa dipercaya?" tanya Tiara lagi


"Dia mungkin membenci kita, tapi aku yakin dia memihak kita"


"Seberapa banyak orang yang ada dibelakangnya?"


"Aku tidak tau, dia sama sekali tidak mengatakannya padaku." jawab Viland


"Bagaimana dengan si bajingan itu?" Tanya Tiara lagi


"Orang itu ya? Dia itu senjata utama, semoga dukungan dibelakangnya sesuai perkiraan kita"


"Apa yang harus kita lakukan, waktu kita terlalu sempit" Tiara kebingungan dengan yang terjadi


"Istirahatlah. Besok bantu aku, kita ajari mereka semua yang kita punya" kata Viland


Bersambung.