Noah

Noah
Latihan di ujung waktu



Di Atas bukit yang jauh dari peradaban, jauh di timur kerajaan, kedua orang tua itu sedang memperhatikan sekumpulan orang sedang melakukan latihan.


"Kerjasama anggotamu cukup menakjubkan." kata Villand.


"Itu semua didapatkan dari latihan yang panjang" jawab Orang tua disebelah Villand.


"Aku mempelajari beberapa teknik kerjasama dari Sina. Sederhana namun mematikan." sambung Orang itu lagi.


"Apa pendapatmu tentang Noah?" tanya Villand.


"Ah... anak didik mu itu? cukup menarik, walau tak mempunyai bekal beladiri dia adalah senjata yang mematikan." Sahut Longa.


"Bukan itu maksudku." kata Villand lagi.


"Lalu? Apa maksudmu?"


"Kau lihat tangan legamnya itu?"


"Yap... tangan hitam, Lalu kemana arah pembicaraanmu ini Villand?" tanya Longa.


"Setiap belati Tiara didekatkan ke tangan Noah, belati itu meredup dan kembali normal saat dijauhkan." jelas Villand.


"Mantra agung?" tanya Longa yang mulai penasaran.


"Belum bisa dipastikan. tetapi jika itu benar, dia seharusnya tidak boleh ketahuan oleh Organisasi Dunia." kata Villand pelan.


"Dengar, kau tidak boleh berfikir terlalu jauh. kita perlu mempersiapkan diri sebelum markas ini dihancurkan." jawab Longa sambil beranjak mendekati murid-muridnya yang sedang latihan.


Sementara didalam goa, Ling dan Arka sedang membereskan ruangan istirahat mereka.


"Hei siapa namamu?" tanya seseorang membuat Ling sedikit terkejut.


Ling menoleh ke arah suara, memberi senyum dan menjawab "Aku Ling dan orang yang Disana adalah Arka. kami dari kelompok benteng besi"


"Benteng besi? apa kalian punya tubuh sekeras besi? atau pukulan kalian sekuat besi?" tanya Noah penasaran.


"Eh... itu.. mungkin hanya nama, satu-satunya yang bisa menyamai nama itu adalah guru kami." jawab Ling


"Jadi guru kalian benar-benar kuat seperti besi?" sambung Noah lagi.


"Guru kami bernama Rosoku, Dia sangat kuat bahkan dia bisa melawan seribu orang sendirian." Seru Arka yang berada di pojok ruangan itu.


"Se... seribu? Seribu orang melawan satu? Kuat sekali.." Noah terperangah.


"Sayangnya Dia sudah cukup berumur, kemampuan selalu dibatasi umur. itu sangat menjengkelkan." kata Ling yang masih saja beres-beres beberapa barang bawaannya.


"Mau sampai kapan kalian bertiga ada disini? ini sudah tiga jam berlalu. Orang-orang diluar sana sedang berlatih, sementara kalian malah bergosip ria disini." tegur Kimora.


"Kapan kau tidak mencampuri urusan kami Gadis gila?" jawab Noah yang tidak peduli dengan Kimora.


Ling dan Arka sedikit terkejut ketika melihat Energi yang terpancar dari tubuh Kimora, dan.. Wush!!!! Angin dingin melesat membekukan sebagian besar tubuh Noah.


"Kimora! apa-apaan ini? kau semakin gila! Apa kekuatan es sudah membekukan sebagian fungsi otakmu? Aku bisa mati jika seperti ini terus! Lepas kan aku!" teriak Noah sambil mencoba melepaskan diri dari jeratan es Kimora.


"Lalu.... kalian berdua.... apa sudah selesai berbenah dan istirahat?" tanya Kimora sambil melihat ke arah Ling.


"Kami sudah selesai berbenah, sekarang mau istirahat dulu nona." sahut Arka dari sudut ruangan.


"Ha?? istirahat?" tanya Kimora.


"Maksud Arka, kami sudah selesai disini, kami akan berlatih diluar" jawab Ling sambil menarik tangan Arka untuk keluar.


"Apa maksudmu Ling? Kita belum beristirahat hari ini. Aku tidak memiliki energi sebanyak dirimu." bisik Arka.


"Ikuti saja aku, kau tidak melihat pemuda bodoh itu? Dia dibekukan hampir seluruh tubuh akibat melawan di gadis itu.


Apa kau juga ingin menjadi karya seni dari es seperti dia?" tanya Ling yang terus menarik Arka keluar dari dalam goa.


Ling sedikit terkejut ketika berada diluar goa. beberapa kelompok sedang giat berlatih, mata Ling secara kebetulan menatap Villand yang juga melihat kearahnya.


"Ling! Arka! Kenapa tidak beristirahat dulu? perjalanan kalian cukup panjang, mengapa sudah mau berlatih?" tanya Villand.


"Eh.... paman... Kami tadi sempat beristirahat didalam perjalanan. bolehkah kami juga bergabung untuk berlatih?" tanya Ling


"Silahkan saja... jangan memaksakan diri." jawab Villand.


"Eh... Hai paman... Aku bisa meminta sedikit waktu untuk beristirahat?" tanya Arka sambil mengangkat tangannya.


"Ah... boleh saja... istirahatlah.. untuk hari esok semua harus berlatih." kata Villand sambil memberi isyarat bagi Arka untuk kembali ke goa.


"Dasar idiot... Sebaiknya berlatih daripada dikutuk menjadi bongkahan Es" bisik Ling dalam hati sambil berjalan menuju kelompok yang sedang berlatih, sementara Arka berlalu menuju ke goa.


"Aku Arka bukan akar..." jawab Arka datar.


"Ya... maksud ku itu... bisakah kau mengeluarkan ku dari sini?" tanya Noah yang bermaksud meminta pertolongan.


"Baiklah, Mengapa kau selalu bermusuhan dengan adikmu itu?" tanya Arka yang berusaha mengeluarkan Noah dari bongkahan Es.


"Dia bukan adikku. Dia hanya gadis gila yang kebetulan ada di goa ini." jawab Noah.


"Jadi dia sebagai apa di tempat ini?" Tanya Arka lagi.


"Dia hanya juru masak yang bodoh" sahut Noah.


"Hup... hup... ini sangat keras..." seru Arka.


"Cobalah untuk memukul Es ini, mungkin bisa kau hancurkan." Noah memberi saran.


Arka mencoba memukul bongkahan Es didepannya.


Buk!!! Buk!!!! hantaman Arka belum membuahkan hasil.


"Ayo lebih keras lagi!" kata Noah memberi semangat pada Arka.


Wush....!!


Dalam sesaat Arka tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya.


"Apa ini? Aku juga dibekukan?" tanya Arka.


"Hukuman ini memang pas untuk kalian berdua yang malas berlatih." sahut Kimora dari sudut sekat yang memisahkan ruangan itu.


"Ini sangat dingin.. lakukan sesuatu untuk membebaskan kita!" kata Arka


"Berharap lah agar sahabatmu datang dan menolong kita" sambung Noah pelan.


Arka dan Noah terjebak didalam bongkahan Es, sementara Kimora bergegas menuju luar goa dan ikut berlatih Disana.


"Lihatlah dirimu Akar... hahahaha.... mengapa pose mu seperti itu? hahahaha!" Noah sedikit tertawa melihat pose Arka. Dia dibekukan saat kedua kakinya sedang mengangkang dan tangannya sedang berkacak pinggang.


"Jangan menertawakan ku seperti itu, aku seperti ini karena ingin menolong mu." kata Arka sedikit kesal.


"Hahahahaha... kau tampak lucu.... lihatlah pose mu itu..... hahahahaha..."


Sementara diluar goa, Ling yang sedang berlatih tiba-tiba dihampiri Kimora.


"Ayo berlatih bersama" Ajak Kimora.


"Ah... ternyata kau si gadis Es..." sapa Ling yang masih memasang kuda-kuda latihannya.


"Jadi kau ingin berlatih bersama atau tidak?" tanya Kimora lagi.


"Tentu, kapanpun aku siap." jawab Ling yang tampak tenang dengan kuda-kudanya.


Kimora sedikit tersenyum, mengambil kuda-kuda dengan cepat... Wush!!! Sambaran angin Es begitu cepat menuju Ling.


Mata Ling sedikit membesar melihat angin penuh hawa dingin itu, dengan sigap Ling melompat untuk menghindar.


Wush! wush! wush! serangan beruntun Kimora kembali mengarah ke tubuh Ling. Ling yang baru selesai menghindar masih bisa menahan keseimbangannya untuk kembali menghindari serangan brutal Kimora.


"Gadis ini bukan gadis biasa" bisik Ling dalam hati. Ia berhasil menghindari serangan beruntun Kimora barusan.


Kimora yang sedikit kecewa akibat serangannya selalu berhasil dihindari, mengambil kuda-kuda baru.


"Kuda-kudanya berubah, dia lebih sigap dari sebelumnya." pikir Ling yang mencoba membaca pergerakan Kimora.


"Kali ini aku juga ingin memperlihatkan apa yang aku punya"


Kuda-kuda Ling berubah dari posisi bertahan menjadi posisi menyerang.


Kimora sempat terkejut, "mengapa Dia merubah kuda-kuda? apa dia ingin bentrok secara langsung?" tanya Kimora dalam hati, kemudian merapal mantra kuatnya dan melesatkan sebuah pukulan. kali ini angin dingin Kimora lebih berat dari yang sebelumnya, beberapa helai rumput dibawah kaki Kimora menjadi beku seketika.


Sementara Ling tidak ingin kalah, dia merapal mantra dan melancarkan sebuah pukulan kearah datangnya angin dingin Kimora. Dari tinjunya mengalir hawa yang panas dan membakar udara disepanjang jalur yang dilalui.


"Mantra Api?" Kimora terkejut


Duar!!!!!!


sebuah ledakan besar terjadi akibat benturan dua mantra kuat. kerikil-kerikil kecil dan debu didekat daerah benturan mantra mereka berterbangan menutupi pandangan.


Bersambung.....