
Didepan goa dengan halaman yang tidak begitu luas, Sesudah bentrokan energi itu, Ling masih begitu mantap dengan kuda-kudanya. Sedangkan Kimora berlutut akibat bentrokan energi.
"Maaf Nona jika aku berlebihan." kata Ling sambil mencoba mendekati Kimora yang berlutut tidak jauh darinya.
"Jangan menolongku. tetap di tempatmu. Aku... masih bisa bertarung!" Seru Kimora sambil menyerang Ling menggunakan serangan fisik. Pukulan Kimora mengarah tepat ke wajah Ling, dengan sigap Ling menangkis serangan itu.
Kimora melancarkan serangan fisik bertubi-tubi, tendangan dan pukulan di arahkannya menuju target, namun Ling masih terlihat mudah menangkis dan menghalau serangan Kimora.
"Nona hentikan!" kata Ling
Kimora yang masih keras kepala mencoba menggunakan cakarnya untuk mencabik perut Ling.
Sret!!!
Ling sedikit terkejut bajunya dicabik cakar Kimora.
"Cakar es?" bisik Ling dalam hati.
Melihat kejadian itu beberapa orang yang sedang berlatih mendekati Kimora dan Ling untuk melihat pertarungan sengit mereka.
"Bisakah kita hentikan ini?" tanya Ling sambil tangannya diarahkan kepada Kimora sebagai isyarat untuk segera menghentikan serangan.
"Jika ini adalah perang, kau akan mati" sahut Kimora pelan, namun dari pancaran energi Kimora terlihat sangat serius.
Longa dan Villand juga ikut menyaksikan latih tanding antara Ling dan Kimora.
Ling sedikit terpaksa meladeni Kimora, Ia cukup enggan untuk membuka kuda-kuda.
"Kuda-kuda bertahan? kau sepertinya meremehkan ku pemuda sombong!" Seru Kimora sambil menyerang Ling dengan cakarnya yang memiliki hawa begitu dingin.
Wush.. wush.... wush.. serangan cakar Kimora memaksa Ling untuk menangkis dan berkelit. Dua jurus pertama berlalu, Ling masih bisa mengimbangi Gerakan Kimora.
Masuk jurus ke dua dan ketiga Ling sudah cukup kesusahan jika hanya terus bertahan, Dia mencoba mengambil kuda-kuda menyerang.
Wush... Buk!!!! sebuah tendangan mendarat tepat di dada Ling, membuat Ling harus terjungkal beberapa langkah kebelakang.
"Jangan sombong dulu nona, sekarang giliran ku!" kata Ling sambil tersenyum.
"Sebuah gerakan cepat dari Ling, kuda-kuda dan caranya menyerang jelas berbeda dengan yang tadi, kali ini cukup cepat membuat Kimora tidak bisa menghindar sehingga memaksanya untuk menangkis.
Serangan Ling cukup berat untuk Kimora, Dia pukulan pertama sanggup ditahan Kimora, namun masuk serangan ke empat dan seterusnya kuda-kuda Kimora terlihat goyah.
Dan....
Wush....!!! sebuah tinju begitu cepat menuju wajah kimora.
Mata Kimora hanya bisa terbelalak melihat tinju yang berhenti tepat di depan wajahnya.
"Ling... cukup... kau pemenangnya.." Seru Villand yang juga sejak tadi memperhatikan latihan tanding mereka.
Semua yang ada disitu memberi tepuk tangan, mereka cukup senang melihat gerakan Ling yang cukup cepat.
"Nona... kau baik-baik saja kan?" tanya Ling
"Yah... tentu saja... terima kasih karna tidak sungguh-sungguh menyerang ku" ucap Kimora sambil melihat mata Ling.
"Aku tidak mungkin menyerang seorang gadis yang aku kenal." tutur Ling sambil tersenyum manis.
Kimora membalas senyuman Ling, Ia merasa cukup senang melihat seorang pemuda yang kuat dan berhati tulus.
"Mari biar ku antar keluar dari tempat latihan ini" kata Ling sambil mengajak Kimora untuk menjauh dari gerombolan orang-orang itu.
"Baiklah, yang lain teruslah berlatih!" seru Villand yang mencoba mendekat ke arah Kimora untuk memastikan keadaan putrinya.
"Mau kemana kau Villand?" tanya Longa
"Memastikan keadaan putriku" jawab Villand sambil melangkah.
"Biarkan mereka berdua. Kimora tidak mengalami cedera. Apa kau tidak lihat? Dia seperti senang berada Disana?" sambung Longa lagi.
"Aku tidak suka cara Kimora menatap Ling!" Kata Villand yang ingin menghampiri Kimora.
"Biarkan mereka! Villand, Kimora sudah gadis! biarkan saja.. santai lah menjadi orang tua..." Longa mencoba menenangkan Villand.
Hati Villand sedikit gusar melihat putrinya menatap seorang pemuda dengan tatapan yang nyaman.
Kimora duduk didekat Ling, keduanya hening sesaat.
"A... apakah kau terluka saat cakar es ku mencabik bajumu?" tanya Kimora sambil memperhatikan baju Ling yang tercabik di bagian perutnya.
"Aku baik-baik saja Nona. Lain kali kita bisa berlatih bersama lagi, saat ini sebaiknya nona beristirahat." jawab Ling sambil memberi senyum, dan beranjak dari Kimora.
"Pemuda ini jauh lebih baik untuk diajak berlatih bersama dibanding pemalas itu." bisik Kimora dalam hati sambil membayangkan wajah Noah yang selalu mengeluh saat latihan.
Waktu berlalu begitu cepat, suasana di bukit sudah mulai gelap, diujung barat matahari sudah menjadi merah padam, begitu juga langit-langit disekitarnya.
Orang-orang yang sejak tadi berlatih mulai beristirahat, ada yang merebahkan tubuhnya, ada yang masih duduk bersila, ada juga yang menuju sungai kecil untuk membersihkan tubuh.
Villand masuk ke dalam goa, Melihat Kimora yang sudah tampil cantik.
"Aku baru hari ini melihat kau berdandan. Apa yang membuatmu ingin berdandan?" tanya Villand.
"Ayah... apa kau tidak suka melihatku cantik?" Kimora menyeletuk sambil menyiapkan makanan untuk begitu banyak orang di bukit itu.
"Kau seperti orang yang sedang jatuh cinta." kata Villand lagi.
"Ayah? apa yang kau katakan? aku belum mengerti hal-hal seperti itu." Kimora membalas ayahnya, namun telinga dan pipinya sedikit memerah.
"Sepertinya dia memang jatuh cinta pak tua. Anak gadis ini harus di kurung sebelum dia pergi bersama lelaki yang dia pilih!" sambar Noah yang datang begitu saja sambil melihat-lihat bahan makanan.
Tak!!! sebuah Senduk menghantam dahi Noah.
"Bisakah kau punya sopan santun terhadap yang lebih tua sepertiku?" seru Noah yang tidak terima dilempar menggunakan Senduk.
"Ayah bisakah kau mengusir pemalas ini dari hadapanku?" Kimora sudah cukup geram dengan perkataan Noah.
"Daripada kalian terus bertengkar, sebaiknya kau membantu Kimora menyiapkan makan malam untuk kita disini Noah." ucap Villand.
"Aku membantunya? aku benar-benar tidak pandai memasak. Apa kau ingin tamu-tamu kita sakit perut karna masakanku?" Noah menjawab acuh.
"Biar kami membantu mengurus makanannya paman" ucap Ling yang sudah ada didekat mereka.
"Nah aku menerima saranmu, masaklah sesuka hatimu" sambar Noah
"Bisakah kau sopan dengan ucapanmu Noah?" potong Kimora
"Arka! kami butuh sedikit bantuan disini!" seru Ling
"Jadi kau sungguh ingin membantu?" tanya Kimora sedikit malu kepada Ling.
"Tenang saja, aku dan Arka adalah juru masak di kelompok benteng besi. Kami sudah biasa menyiapkan makan untuk banyak orang." jawab Ling yang dengan sigap mengambil bahan makanan. Ia mencuci bahan makanan itu, memotongnya dengan sangat rapih, dia terlihat sangat ahli dalam urusan memotong bahan makanan.
Kimora dan Noah duduk memperhatikan tangan Ling yang sangat gesit mencincang bumbu-bumbu yang ada dimeja itu.
Sementara Arka disebelah Ling tidak kalah hebat, dia mencampur bahan makanan dengan sangat cepat, menyalakan api, mengatur suhu dan mulai menumis bumbu-bumbu yang sudah Ling racik.
Villand, Kimora dan Noah hanya melongo melihat duo koki itu mempersiapkan makan malam dengan atraksi mereka yang sangat apik.
"Seharusnya kalian datang sejak aku terdampar disini....." ucap Noah yang kagum dengan kelihaian dua pemuda didepannya itu.
Bersambung......