Noah

Noah
Rencana Penghianatan



Matahari sudah bersinar terik, sementara ketiga orang itu masih terus berlatih. Gadis muda itu sepertinya lebih cepat tangkap dibanding laki-laki muda yang berlatih dengannya, Sementara itu perempuan paruh baya yang melatih mereka masih tekun dan sabar.


"Coba perhatikan ini, dengarkan ini baik-baik.


Nafas adalah hidup, dengan bernafas kita menarik energi yang disiapkan alam. Teknik pengerasan pada tahap awal adalah mengubah pernafasan menjadi energi. ini adalah hal yang mudah, tetapi tanpa konsentrasi, akan sia-sia." jelas Tiara kepada dua bocah itu.


Kimora sudah mencoba kesekian kali, Dia berusaha memusatkan perhatiannya. Energinya dia coba salurkan ke tangan, keringatnya mengucur membasahi tubuhnya.


kali ini sepertinya berhasil, Dia merasa tangannya menjadi kencang dan berat. beberapa saat kemudian ditangannya mulai terlihat seperti gelombang energi. Gelombang energi itu melapisi bagian tangannya, begitu tipis dan tidak stabil.


"Tetap fokus kimora. jika kau mulai merasa Enegi itu seperti hidup ditanganmu, maka biarkan Dia mengalir disekitar tanganmu, tetapi usahakan agar energi yang tersalurkan stabil" Kata Tiara pelan sambil mencoba membimbing Kimora.


Gelombang ditangan kimora tiba-tiba lenyap. kimora bermandikan keringat.


"Aku kehilangan konsentrasi Bibi" katanya pelan


"Tidak apa-apa kimora. Bagaimana keadaan tanganmu?" tanya Tiara, Ia takut kalau Kimora merasakan sakit.


"Tanganku sedikit keram, tapi aku masih bisa merasakannya." jawab Kimora


"Syukurlah jika hanya keram" kata Tiara sambil melihat dan memperhatikan tangan kimora, sesekali dia mencoba memegang tangan Kimora, lalu memperhatikan dengan lebih detail.


"Coba digerakan tanganmu Kimora" pinta Tiara lagi


Kimora mencoba mengerakan tangannya.


"Tanganmu baik-baik saja. ingat, jika kau sudah bisa merasakan energi itu seperti hidup di tanganmu, jangan memperbesar aliran energi ke tanganmu. jika kau gagal mempertahankan keseimbangan energi, maka tanganmu bisa cacat seumur hidup." Jelas Tiara, mencoba mengingatkan kimora.


Kimora mengangguk, lalu mencoba menepi di bawah pohon yang rindang. Dia mencoba memijat-mijat tangannya.


Viland mencoba mendekati kimora, dan berkata "sepertinya anakku sudah mantap di tahap awal. apa tanganmu baik-baik saja?"


"iya Ayah, hanya sedikit Keram" jawab kimora.


Sementara itu, Noah yang masih mencoba memusatkan energi bermandikan keringat, Noah sama sekali belum bisa mentransfusikan pernafasannya menjadi energi.


"Noah?" Tiara mencoba berkomunikasi dengan Noah


"Bibi, sepertinya aku tidak berbakat. ini lebih sulit daripada melakukan seribu kali pushup." Noah menjawab pelan.


"Cobalah bernafas Noah..


Nah, seperti itu. lakukan lagi.


Tahan nafasmu didada. nah benar


Coba salurkan ke perut. kembalikan ke dada.


Hembuskan.


Noah melakukan seperti apa yang disampaikan, tubuhnya sudah mulai lelah.


"Nah coba lakukan lagi seperti tadi." kata Tiara


Noah mencoba melakukan lagi, Sementara Tiara meperhatikannya dengan saksama.


"Tahan nafasmu diperut. tahan selama yang kau bisa." jelas Tiara lagi.


Noah kelihatan susah payah, dia mencoba konsentrasi sebisanya. sementara Tiara masih melihat Noah yg bermandikan keringat itu.


"Hembuskan nafasmu secara perlahan


"Perutku terasa aneh, seperti mati rasa atau sejenisnya"


"Keram maksudmu?" sambung Tiara


"Iya. bisa dibilang begitu." sahut Noah.


"Nah, seperti itulah tahap yang harus kau lalui Noah. Nafasmu dikonversikan menjadi energi dibagian tanganmu, pusatkan perhatianmu di tanganmu, saat itu seluruh energi akan terkonsentrasi di tangan. Rasanya akan persis seperti keram yang kau rasa tadi." Jelas tiara


"Terima kasih bibi. petunjukmu sangat membantuku." sahut Noah senang.


"Tiara bagaimana dengan latihannya?" Tanya Viland yang sedang berteduh sambil menyekah wajahnya dan membasahi mukanya dengan air segar.


"Kesini dan istirahatlah, ajak Noah kemari." sambungnya lagi.


Tiara memberi isyarat pada Noah, Noah yang mengerti langsung berjalan menuju tempat Viland dan kimora berteduh.


"Bagaimana Noah? Apa sudah bisa?" Tanya viland


Noah sedikit tersenyum lalu menjawab "walau tak sehebat kimora, tapi aku sudah mulai paham bagaimana mengkonversi nafas menjadi energi."


"Baik, itu bagus, perhatikan kesini, aku akan menjelaskan alur selanjutnya, sehingga tahap awal yang kalian pelajari bisa menuntun kalian ke tahap selanjutnya." kata Viland, Ia berdiri lalu dengan gerakannya yang tegas dan bertenaga dia memperaktekan cara menjaga kestabilan energi.


Saat itu, Tiara, Noah dan Kimora memperhatikan dengan penuh konsentrasi.


Sementara itu, di markas komando pusat, seorang prajurit berjalan masuk menuju ruangan Kepala staff komando level Dua.


"Prajurit, Baiklah jika sudah disini. ini surat tugasmu. Dibaca dulu, jika ada pertanyaan langsung saja" tutur orang tua yang duduk didalam ruangan itu.


Prajurit tersebut memperhatikan surat itu dengan seksama.


Beberapa saat kemudian.


"Ini cukup rumit. Apa pergerakan ini tidak akan mencurigakan?" tanya orang tersebut.


kepala staff memegang keningnya, dia tampak sedang berfikir keras.


Keheningan terjadi beberapa saat.


"Ini satu-satunya keputusan yang paling baik, lagi pula kau dan kelompok rahasiamu adalah salah satu yang tidak pernah terbongkar identitas ketika melakukan ini." tungkas kepala staff.


"Orang itu cukup sulit ditebak, walaupun Aku sudah lama bersamanya. Aku tidak bisa menjamin kalau semua berjalan sesuai rencana.


Jika aku ketahuan apa sanksi satuan terhadap kelompok ku?" tanya prajurit itu.


"Aku bosan kehilangan orang kepercayaan. Jika Ketahuan berarti buat Dia tidak pernah tau. kau tau bukan? harus lakukan apa" potong kepala staff


"Membunuhnya itu akan sulit, timku mungkin akan kewalahan jika harus berhadapan secara berkelompok, apalagi satuan mereka menang secara jumlah.


Izinkan aku menjalankan sesuai prosedur SATUAN PEMBUNUH" jawab prajurit itu, Dia mencoba memberikan pilihan.


"Pastikan ada bukti sebelum kau melenyapkan dia." jawab kepala staff


"Itu bukan hal sulit, tapi aku butuh waktu yang tidak sedikit."


"Tugas ini kuserahkan padamu" kata kepala staff


"Dengan senang hati. sudah lama tidak membunuh orang dekat". jawab prajurit itu lalu meninggalkan ruangan tersebut. dibibirnya terlihat senyum tipis tapi penuh kemunafikan dan penghianatan.


Bersambung