Noah

Noah
Sisa waktu



"Aku tidak percaya dengan berita ini!" Teriak Ling yang menatap tajam ke arah Roya.


"Kendalikan dirimu, aku sudah mengatakannya tadi, aku hanya membawa pesan. Lihatlah plakat ini. ini diberikan bibi tiara sebagai bukti bahwa apa yang kami beritakan adalah benar." jawab Roya yang masih cukup dingin dengan situasi yang bergejolak saat itu.


"Pembohong!! Orang ini pembohong!!" Bentak Ling lagi.


"Jangan pernah bilang bahwa guru telah tiada!" sambung Ling lagi.


Roya sedikit menjaga jarak, ia tahu dari lonjakan energi tubuh Ling, bisa saja Ling menyerang dia tiba-tiba. hanya Ling yang saat itu benar-benar marah dan memancarkan energi membunuh.


"Ling... apa itu benar? Apa guru besar kita telah tiada?" tanya Arka dengan Isak tangis sambil memeluk Ling, air matanya bercucuran dadanya terasa begitu sesak.


"Jangan cengeng seperti itu!" bentak Ling yang berusaha melepaskan rangkulan Arka.


Ling beranjak dari tempat itu dan mencoba menuruni bukit tersebut.


"Mau kemana kak Ling?" tanya Kimora


"Jangan campuri urusanku!" jawab Ling dengan sedikit kasar.


Kimora terhentak, Ia tidak menyangka Ling akan berkata seperti itu kepadanya.


"Ling mau kemana kau? teriak Villand yang melihat Ling makin jauh turun dari bukit.


"Noah! lakukan sesuatu!" ucap Kimora sambil memeluk Noah yang masih memegang piring ditangannya.


"Tunggulah disini dan jaga makananku." Noah berkata sambil menyerahkan piring ke tangan Kimora.


"Koki ini sepertinya tempramental." sambung Noah lagi.


Ia menuruni bukit itu mencoba untuk mengejar Ling yang terus berlalu.


"Alka! ikuti mereka. pastikan mereka kembali ke bukit ini!" Ucap Longa. Alka adalah anggota kepercayaan Longa. Ia sangat mahir bertarung menggunakan senjata tajam.


"Baik guru!" Jawab Alka


Alka begitu sigap, tanpa pikir panjang ia menuruni bukit itu secepat yang ia bisa.


Sementara dibawah kaki bukit Noah masih mengikuti Ling dari belakang. Gelapnya malam membuat suasana didalam hutan itu sulit dilihat.


"Hei koki! mau kemana kau sebenarnya.?" tanya Noah


"Sebaiknya kau jangan campuri urusanku!" Jawab Ling singkat.


"Kau bisa menunggu Bibi Tiara di atas bukit untuk mencari jawaban mengenai kondisi gurumu yang sebenarnya." Ucap Noah.


"Itu namanya menunggu jawaban. Aku lebih suka mencari jawaban." sahut Ling


"Tapi ini masih terlalu malam, lagipula kau kemungkinan tidak selamat jika memang kau ingin sendirian mencari bibi Tiara." sambung Noah.


"Sepertinya kau memang orang yang idiot! berhenti dan jangan mengikuti ku atau kau ku buat hangus ditempat ini!" Ancam Ling, dan itu adalah peringatan sebab Energi membunuh Ling terpancar dengan sangat kuat.


Noah menjadi sedikit bergidik, tetapi masih berusaha mengikuti Ling dari belakang.


"Kau memang keras kepala" bisik Ling dalam hati.


Baru beberapa Noah melangkah, sebuah tendangan cukup cepat mengarah ke dada Noah. Dengan sigap Noah menghindar, Namun Ling tidak membiarkan hal itu. Ling kembali menyerang Noah kali ini dengan tinjunya yang menyala.


Noah kaget bukan kepalang, Api dari tangan Ling menyembur begitu cepat dan begitu panas menuju arah Noah, Noah coba berkelit, hawa panas itu membakar pohon dibelakang Noah.


"Serius? kau ingin membunuhku?" tanya Noah yang tidak percaya dengan yang barusan terjadi.


"Maju selangkah lagi, kau akan ku bakar!" tegas Ling dengan tangan yang masih menyala-nyala.


"Hentikan!! tidakkah kalian harus menghormati guru Villand dan guru Longa?" tanya seseorang dari balik pohon yang terbakar itu.


"Aku tidak punya urusan dengan dua orang tua itu! Guru besar ku mati!!!! kalian tidak tahu apa-apa tentang apa yang ku rasa!!!" teriak Ling sambil kembali menjauh dari mereka.


"Hei kau.... Kau Noah kan?" tanya orang yang datang dari balik pohon.


"Yup... ada apa?" Noah balik bertanya.


"Mengapa kau diam saja melihatnya pergi?" tanya orang itu sambil melangkah mengejar Ling.


"Aku tidak boleh melangkah lagi atau dia akan membakar ku." jawab Noah


"Benar-benar idiot!" sahut Alka yang menjauh dari Noah.


"Apa salahku?" tanya Noah dalam hati dengan wajah terheran-heran sambil melihat dua orang yang semakin menjauh darinya.


Tiga puluh menit sudah berlalu, Alka yang terus mengejar Ling belum menunjukan tanda kedatangan. Noah yang masih berdiri di kaki bukit itu mulai gelisah.


"Apa ku susul saja? atau aku pulang saja?" pikir Noah.


"Huh.... dua orang gila tadi itu kemana yah? terpaksa-terpaksa harus mencari...." ucap Noah sambil menuju arah menghilangnya Ling dan Alka.


"Siapa kau dan apa tujuanmu kesini?" tanya Ling.


Perempuan muda itu tidak menjawab.


"Jika kau tidak menjawab, jangan salahkan kami yang berlaku kurang sopan padamu." ucap Alka yang cukup penasaran dengan sosok didepan mereka itu.


Perempuan muda itu tersenyum lalu berkata pelan "Anggap saja ini latihan bagi kalian"


Ling dan Alka sadar bahwa kemungkinan pertarungan akan terjadi.


Uap tipis mulai meliputi tangan perempuan muda itu, ia mengambil kuda-kuda dan bersiap menyerang.


"Hati-hati! itu teknik pengerasan!" ucap Alka.


"Ayah! sudah mendekati satu jam! mereka belum kembali." kata Kimora dengan cukup khawatir.


"Longa, mungkin sebaiknya aku pergi melihat mereka." ucap Villand.


"Sebaiknya seperti itu... Aku tidak bisa mendeteksi keberadaan mereka." ucap Roya.


"Kau? Ruby bukan?" ucap Noah sedikit terkejut.


"Jadi kau Noah? Yang diceritakan Villand?" jawab Ruby sedikit sinis.


"Apa yang kau lakukan? kau menyerang dua anggota aliansi Villand? Kau berada di pihak kerajaan bukan?" Tanya Noah yang sedikit tidak suka. Sementara itu, Ling dan Alka sudah terjatuh tak sadarkan diri.


"Apa kau juga ingin menyerang ku?" tanya Ruby.


"Seharusnya kau tidak perlu bertanya. yang harus kau lakukan adalah mempersiapkan dirimu!" ucap Noah kemudian memasang kuda-kuda bertarung.


Ruby tersenyum lalu berkata "mari kita lihat, sejauh mana Villand melatih dirimu."


Tanpa basa-basi Noah menyerang Ruby dengan cukup ganas. beberapa tendangan dan pukulan nyaris saja menghantam tubuh Ruby.


sret!! sret!! sret!! gerakan Noah seperti meliuk-liuk, sebuah jurus diperagakan Noah, kemudian dengan lebih brutal menggempur Ruby.


Wush!!! Sebuah pukulan kuat tangan hitam Noah mengarah tepat ke wajah Ruby.Ruby sedikit terkejut melihat pukulan tangan hitam Noah yang dialiri uap tipis hasil konsentrasi energi.


Dengan cepat Ruby menghindar, sebuah pohon dibelakang Ruby meledak, batangnya hancur, pohon itupun tumbang.


"Jadi dia sudah bisa menggunakan energi murninya untuk bertarung? hmmm.... aku cukup salut..." bisik Ruby dalam hati.


Ruby mengambil jarak dengan melompat menjauh, menghela nafas dan seketika itu juga tangannya diselimuti uap energi.


"Bersiaplah.. ini giliran ku!"


Tanpa basa-basi Ruby menggempur Noah dengan teknik bertarungnya.


Wush!!! Sebuah sapuan berhasil membuat keseimbangan Noah goyah, tidak membuang-buang kesempatan. Ruby melancarkan beberapa pukulan ke tubuh Noah. Dua pukulan berhasil ditangkis, namun pukulan ketiga dan ke empat tepat masuk ke perut dan dada Noah.


Darah menyembur dari mulut Noah, kepalanya terasa sedikit pusing, kakinya tidak kuat menopang tubuhnya, Noah nyaris tersungkur ke tanah jika Ruby tidak dengan cepat memeluk Noah.


"Apa yang kau lakukan dengan Aliansi ku?" tanya seseorang dari arah semak belukar, tidak jauh dari tempat Ruby.


"Mungkin latihan yang kau beri tidak begitu keras. mereka dilumpuhkan seorang gadis dengan mudah." ucap Ruby.


"Apa yang kau lakukan? Apa kau gila? Jika mereka cidera, kekuatan tempur kita akan makin berkurang!" Villand sedikit bernada tinggi.


"Tenang paman! mereka berdua hanya pingsan. sementara Noah mungkin perlu perawatan sedikit di perut dan dadanya. Aku pikir dia bisa diajak bermain sedikit kasar. maafkan aku paman." kata Ruby sambil mengusap rambutnya.


"Apa tujuanmu kesini? Kau tidak mungkin ingin bertamasya dimalam seperti ini bukan?" tanya Villand.


"Tentu bukan... Waktumu terbatas... Markas ini akan diserang Dua hari lagi." jawab Ruby


"Secepat ini? Tiara dan sebagian aliansi belum tiba."


"Sebaiknya paman berusaha lebih keras. Aku bukan pemimpin pasukan dalam penyerangan ini! Tetua tidak punya otoritas untuk saat ini. Jendral besar mengambil alih semua pasukan." ucap Ruby.


"Kau bahkan tidak memberi informasi mengenai benteng besi dan Cahaya surga!" kata Villand.


"Paman dengar bukan? Penyerangan dilakukan jendral Sira. Tidak ada informasi bagi pasukan elit sepertiku. Bahkan pergerakanku di kerajaan sudah dibatasi. Raja sudah mencium kebusukan rencana kita.


Dia menggandeng organisasi dunia untuk mengakhiri drama ini."


"Seberapa kuat Sira jika menurutmu?" tanya Villand.


"Dia terlalu kuat." ucap Ruby sambil pergi menjauh.


"Waktuku tidak bnyak... Ingat paman... Dua hari lagi."


Bersambung.....