
Riuh sorak para penonton menyoraki apa yang baru saja terjadi ditengah lapangan pentas.
Ruby sang prajurit elit, sanggup membuktikan kapasitasnya sebagai komando Elit.
Sementara Sang legenda, memang benar-benar bagai Phoniex yang tak terkalahkan.
Teknik pengerasaan yang diperlihatkan Ruby, langsung menjadi perbincangan diantara para prajurit.
"Broody, kau lihat itu? Ruby bahkan tidak menggunakan Zirahnya." Kata Bara
"Aku juga melihatnya Bara, Dia benar-benar jenius. tidak salah jika Pasukan Elit merekrutnya." Broody menjawab, Dia bahkan masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Ruby hari ini seperti menjadi tranding topik disekitar lapangan pentas.
Sementara diatas lapangan pentas, Ruby masih berdiri, tangannya sudah tidak diselubungi uap.
Sang legenda, setelah melempar senyum kepada Ruby, melompat jauh dan menghilang kedalam Ruang yang ditempati Dua tetua lainnya.
Melihat itu, Ruby yang tadi berdiri tegap, langsung roboh seketika.
"Apa yang terjadi?" penonton mulai bertanya-tanya.
bisik-bisik diantara para prajurit, mereka benar-benar tidak percaya dengan apa yang terjadi.
"Petugas medis. kami butuh petugas medis disini!" seru pemandu acara.
Dengan segera petugas medis mendekati Ruby, mereka mengecek kondisi Ruby, lalu menggotongnya menuju ruangan medis yang sudah disiapkan didekat lapangan pentas.
"Hadirin sekalian, beri tepukan tangan yang meriah untuk Ruby dan Legenda kita." teriak pemandu acara.
Sontak semua yang ada memberi tepuk tangan, seakan-akan puas dengan pertunjukan yang baru mereka lihat. Seorang pasukan Elit yang tidak rubuh dihadapan Sang legenda, dan Seorang Legenda, yang memang selayaknya Sang Raja petarung.
Didalam sebuah Ruangan, Tiga tetua sudah ada disana.
"Bagaimana menurutmu? tanya Bily
"Ruby ya namanya?" tanya Onix
"Ya, benar Ruby namanya." jawab Kong, sang tetua dengan rambut keriting.
"Prajurit yang langkah, hanya ada satu disetiap tiga angkatan. Aku percayakan pada pasukan Elit misi ini. Bily, urus sisanya dari sini." kata Onix, yang cukup puas melihat penampilan Ruby.
"Siap dilaksanakan" jawab Bily santai.
Onix berjalan keluar dari ruangan, Dia melihat dari jauh, petugas medis yang mengurus Ruby.
"Hei Kong, Apa kau tidak melihat wajahnya tadi?" tanya Bily kepada Kong yang masih sibuk memperhatikan keadaan dilapangan pentas.
"Hm, Aku baru melihat wajah cerianya selama ini. Dan itu menggelikan." jawab kong
"Whahahahahaha. whahahahahaha." Kedua tetua itu tertawa ceria melihat yang terjadi dengan Onix. Orang tua itu memang sudah lama tidak pernah tersenyum atau tertawa bahagia. Baru hari ini Dia berekspresi seperti itu.
Berita mengenai Ruby yang berhadapan langsung dengan sang Tetua tersebar begitu cepat, bahkan media-media memuat artikel mengenai Ruby.
Hari itu Ruby benar-benar diulas dimedia massa, dan banyak respon positif mengenai kemampuan Ruby.
*Ruby tunas Legenda*
*Ruby Phoniex Muda*
*Ruby Matahari Baru*
*Ruby si Jenius*
Sementara itu, didalam pegunungan, disebuah bukit, Kimora sudah membekukan 10 pohon, walaupun beberapa diantaranya sudah mencair akhibat disinari matahari.
Ayahnya memperhatikannya, mengangguk-angguk.
"Gadis mudaku sudah semakin kuat." gumamnya dalam hati.
Sementara tidak jauh dari situ Noah masih terbaring.
"Istirahatlah kimora... jangan dipaksakan... dua minggu lalu kau hanya mampu membekukan 4 pohon dalam sehari. Hari ini, baru beberapa jam kau sudah membekukan 10 pohon." Puji Ayah Kimora.
"Ayah, Aku sedikit pusing." kata kimora, dia sempoyongan, lalu mencoba bersandar dibatu.
"Efek dari penggunaan Energi Roh yang berlebihan.
Beristirahatlah." Jika sudah baikan, bantu Bibimu menyiapkan makan siang.
"Baik Ayah," jawab kimora, lalu memperhatikan Noah yang masih terbaring.
"Hei, Pemuda malas. bangunlah, Aku tahu kau sudah sadar dari tadi." kata Ayah kimora.
Kimora mulai berekspresi aneh,
"Hei bocah pembawa sial! bangun! sebegitu teganya kau melihat majikanmu berlatih sendiri dengan susah payah?" teriak Kimora.
"Diam kau cerewet! sejak kapan Aku setuju menjadi pembantumu?" jawab Noah santai
"Kau ingin bertarung lagi?" sambar kimora
"Siapa takut?" Noah langsung bangun mengambil kuda-kuda
Tak!!! sebuah hantaman dikepala menggunakan rotan.
"Hei pak tua, apa urusanmu dengan pertempuran kami?" Tanya Noah, sambil memegang kepalanya.
"Urusanku adalah membuat kalian bersatu! bukan bermusuhan!" Jawab Ayah kimora tegas
"Apa? apa maksud dari kata bersatu?" tanya Noah
"Ayah, apa yang kau katakan? Aku tidak sudih bersatu dengan pembawa sial!" kata kimora
"Hei, Ayahmu baru saja menyetujui agar kau menjadi teman hidupku" jawab Noah tanpa beban.
"Bocah Sial, siapa yang bilang seperti itu?" tanya Ayah kimora dengan ekspresi terkejut.
"Barusan kau yang bilang pak tua" potong noah
Wus! Angin dingin menyambar Noah, seketika itu Noah membeku, membatu tak berdaya.
"Kimora? kenapa kau melakukan ini?" Ekspresi ayah kimora bingung, kenapa kedua bocah didepannya jadi seperti tikus dan kucing.
"Aku hanya membekukan setengah badannya, itu tidak akan membunuhnya, kuharap itu memberi pelajaran bagi si brengsek ini" sambung Kimora pelan.
"Pergilah bantu bibimu" Jawab Ayah kimora, sambil memegang kepalanya, Dia menggeleng-geleng.
Kimora berlalu begitu saja, melangkah menuruni bukit, lalu berteriak "Kuharap kau tak bangun!"
Ayah kimora menarik Noah, berusaha menjemurnya dibawah cahaya mentari.
Beberapa saat berlalu.
"Noah, Noah." panggil Ayah kimora
Orang yang dipanggil masih tidak menjawab.
"Jawab atau tengkorakmu kubuat retak bocah" kata Ayah kimora, yang geram dengan kelakuan Noah.
"Aku harap kau bisa setegas ini terhadap anak gadismu itu." jawab Noah
"Yah, lain kali aku akan tegas terhadapnya. untuk itu Aku berlatih tegas, dimulai dari kau!" jawab Ayah kimora
"Aku bukan Anakmu pak tua, sadarlah. sepertinya kau belum bangun dari semalam." Noah jawab sambil berusaha bangun.
"Bisakah mulutmu ditinggalkan di goa jika kita sedang berlatih disini?" Ayah kimora sedikit menaikan nada bicaranya.
Noah bangun menatap pak tua itu.
sesaat keduanya saling berhadapan.
Viland, Ayah kimora, berharap Noah bisa seumur hidup menjaga kimora.
Dia seperti tidak Rela, waktu kebersamaan dengan putrinya mungkin tidak lama lagi.
"Hei pak tua, Apa yang kau lamunkan?" Noah mencoba menyadarkan Ayah kimora.
"Bocah, lakukan push Up 300 kali, dan berlarilah keliling bukit ini 50 kali. Jika tidak selesai, kau tak kuijinkan makan." potong Ayah kimora.
"Kau sengaja menyiksa ku kan?"
"Lakukan atau kau dibekukan sampai seminggu disini?" jawab Ayah kimora singkat.
"Kalian, kalian, kalian benar-benar ayah dan anak yang Hoby nya menyiksa orang." kata Noah, kemudian mengambil sikap push up.
Sementara didalam Goa, Kimora dan Bibi Tiara, sedang menyiapkan makan...
"Bibi, Apa benar? kata Ayah, Aku tidak bisa menggunakan teknik pengerasan?" tanya kimora, sambil membantu Bibinya
"Kimora, Teknik pengerasan, Adalah teknik warisan keluarga kita. Suatu saat, kau pasti bisa menguasainya.
"Teknik warisan?" tanya kimora.
"Suatu saat, ketika semuanya siap. Aku dan Ayahmu akan mengungkap semua sejarah padamu." jawab Bibi Tiara Pelan
Bersambung.