
Tiara yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Orang yang dipanggil sebagai Rosoku terlihat tua, kulitnya penuh keriput, tubuhnya tidak terawat begitu juga pakaian yang dikenakannya.
"Rosoku, apa yang telah terjadi?" tanya Tiara dengan wajah yang penuh tanda tanya.
"Akulah Sang si Hitam! hahahahaha!" sambar Rosoku, orang tua dengan perawakan yang menakutkan. Dia kemudian bergumam tak jelas, lalu mencakar - cakar dinding dalam ruangan itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Tiara sambil berbalik melihat Ling yang sejak tadi hanya terdiam.
Ling beranjak dari tempatnya, menutup kembali ruangan tersebut, tidak lupa dikuncinya, ia memegang kepalanya lalu berkata "Semenjak Benteng Besi dikunjungi orang - orang dari Kerajaan, Guru jadi seperti ini.
"Dimana semua murid yang lain?" tanya Tiara lagi.
"Di Sana mereka tertidur." jawab Ling pelan sambil menunjuk sebuah halaman yang penuh dengan nisan.
"Pasukan kerajaan sialan!" teriak Tiara
"Dimana orang-orang benteng besi yang selamat selain kalian? sambung Tiara
"Hanya kami" saut Ling sambil meringkuk di sebuah kursi.
"Kalian bagaimana bisa selamat?"
"Kami pergi membeli bahan makanan, sepulangnya semua sudah dihancurkan" jawab Arka. Arka adalah Asisten rumah tangga perguruan, Dia mengkoordinir seluruh kebutuhan perguruan.
"Apa kalian melihat kejadian pembantaian yang mereka lakukan?" Tanya Tiara pelan.
"Tidak, pembantaian sudah terjadi, ketika kami tiba kami melihat segerombolan pasukan kerajaan keluar dari dalam perguruan. kami bersembunyi, setelah merasa cukup aman kami masuk kedalam perguruan, namun kami hanya melihat guru singa putih tergeletak namun masih bergerak, sementara yang lain sudah tidak bernyawa.
"Lalu?"
"Aku dan Ling berusaha menolong guru, guru hanya berkata pelan untuk membunuhnya saat itu juga." saut Arka
Tiara menatap Arka dengan wajah sedikit bingung.
"Guru selalu berkata untuk membunuhnya. Aku dan Ling mencoba menenangkan Guru, semenjak saat itu keadaan guru makin buruk dan semakin buruk, sampai seperti saat ini."
"Apa kau mengerti apa yang dikatakan Rosoku? mengapa dia meminta untuk membunuh dirinya?" tanya Tiara
"Kupikir dia mungkin mengalami stress berat akibat kehilangan semua murid terbaiknya." sahut Arka.
"Lalu mengapa Dia selalu mengatakan bahwa dia adalah si Hitam?" sambung Tiara lagi.
"Beberapa hari setelah kejadian, Dia selalu mengatakan hal itu. Dia mengaku bahwa Dialah si Hitam." jawab Arka.
"Ling! Arka! aku ingin kalian pergi menuju tempat ini, Disana ada yang menunggu kalian. katakan bahwa kalian orang benteng besi yang tersisa" Tiara berkata sambil memberikan sebuah peta dengan kertas cukup usang.
"Lalu bagaimana dengan guru?" tanya Ling yang masih meringkuk disebuah kursi.
"Serahkan guru kalian padaku, Aku janji akan menyembuhkannya." jawab Tiara penuh keyakinan.
"Apa kau yakin?" tanya Ling yang langsung berdiri saat itu juga.
"Percaya padaku, Aku akan melakukannya."
"Bagaimana bisa aku mempercayai orang baru sepertimu?"
"Jika kau keberatan aku akan pergi dari sini" sahut Tiara sambil membalikan badannya.
"Tunggu! Aku percaya! tapi buktikan padaku kalau kau bisa dipercayai."
"Jika kau ingin mati, mati saja disini. Perang besar akan pecah. Aku memang sahabat Rosoku, tetapi aku tidak mengenal kalian. Jika kalian tidak mempercayai aku, sebaiknya aku pergi tanpa membuktikan apa pun." sahut Tiara sambil melangkah pergi.
Dua orang itu mengejar Tiara, lalu memohon dihadapan Tiara "Kami percaya! sembuhkan Guru kami!"
"Pergilah ketempat yang ku sampaikan tadi. kita akan bertemu lagi disana."
"Berjanjilah kau akan membawa Guru kami!" saut Ling sambil membungkukkan badannya.
"Aku janji!"
"Guru, kali ini kau akan sembuh" ucap Ling.
Setelahnya Ling membawa Arka menuju tempat yang Tiara katakan.
Sementara Tiara memandang mereka yang makin menjauh dari Benteng Besi.
Hari sudah mulai gelap, Tiara sejak tadi menatap Rosoku. Si Singa putih itu masih berteriak tak jelas katanya "Akulah si Hitam, penguasa Alam!"
"Rosoku! Apakah kau masih ada di sana?" teriak Tiara.
Orang yang dipanggil Rosoku tadi tiba-tiba diam, lalu menatap Tiara dengan matanya yang membelalak.
Tiara menatap tajam mata yang membelalak itu.
"Pergi dari sini, tubuh ini milikku....." suara tua renta keluar dari mulut Rosoku.
"Milikku... ini..... milikku...." tua renta itu menyeringai kemudian melirik Tiara
"Jangan lakukan itu lagi! Aku memeliharanya lebih dari empat tahun lamanya!" Teriak Rosoku
"Maafkan Aku... Rosoku..." Ucap Tiara pelan, lalu mengambil sebilah pisau putih yang bersinar redup.
Sret!!! bilah tajam merobek tenggorokan Rosoku. Tua renta itu menggeliat, darah dari tenggorokannya mengalir deras.
"Dengan pisau redup itu kau hanya bisa membebaskan paling banyak dua orang.. hehehehe... hahahaha... hihihihi.... di akhirnya aku akan tetap menang!" kata orang tua itu dengan nafas yang tersengal- sengal, lalu terdiam tak bernafas.
"Benteng Besi, maafkan aku. Api semangatmu tetap menyala di hati kami." kata Tiara, lalu berjalan meninggalkan tempat megah itu.
Mata Tiara basah, Ia sedikit terisak, menutup mulutnya yang seakan ingin menangis kencang.
"maafkan aku...."
"maafkan aku..." Bisik Tiara disela Isak tangisnya.
Bagaimana tidak, sahabatnya harus mati ditangannya sendiri. Tiara melihat bilah putih yang masih dipegangnya. Cahaya bilah itu sudah lebih redup dibanding sebelum Ia membunuh Rosoku.
"Yang ini untuk diriku sendiri" bisik Tiara, lalu menyimpan kembali bilah putih itu.
Ia kembali teringat kenangan mereka bersama Rosoku,
"Tiara, itu hanya benda yang akan kita lihat sebelum selamanya menutup mata" kata Rosoku sambil tertawa
"Jangan begitu, masih ada jalan lain untuk pemurnian." saut Tiara yang juga membalas tawa Sahabatnya itu.
"Tidak ada jalan lain Tiara, tugas itu cukup berat bagi pengguna mantra seperti kita. itu bagaikan ular yang memakan ekornya sendiri. Tidak ada jalan lain...." tutup Rosoku
Ingatan itu masih kuat membekas didalam pikirannya. Tiara duduk, melihat bulan yang bersinar malam itu. Gemerlap bintang, kabut tipis yang membayangi cahaya malam.
malam ini lebih dingin dari malam-malam biasanya.
"Villand, maafkan Aku, Rosoku sudah tiada. Andai kita sedikit lebih cepat, Dia mungkin bisa selamat." Suara hati Tiara berbisik kecil
Sementara disaat yang sama di atas bukit, Villand memperhatikan langit yang penuh bintang, sekujur tubuhnya tiba-tiba menjadi lebih dingin.
"Apa yang terjadi di sana, apa Tiara baik-baik saja?" tanya Villand dalam hati.
Ia menoleh, melihat Noah yang sudah terkapar di tempat tidurnya, sementara Kimora masih membersihkan peralatan masak di goa itu.
"Hatiku seperti ingin jatuh, perasaan macam apa ini?"
"ini hampir seperti saat-saat melihat Citra mati di depanku."
"Tiara.... Rosoku.... Sina.... Longa...Angela.... semoga kalian baik-baik saja. misi kita belum selesai, jangan dulu akhiri semua ini." keluh Villand dalam hati.
Bersambung...