Noah

Noah
Ruby dan Sang Legenda



Diufuk timur matahari sudah mulai bersinar, cahayanya membias terang, disebuah barak pusat pasukan Elit, Ruby sudah bersiap dengan pakaian lengkap sebagai prajurit elit. Dia kelihatan siap, segar bugar, sesekali dia coba merenggangkan sendi-sendinya, mencoba meninju dan menendang, gerakannya cepat dan bertenaga menunjukkan kelasnya sebagai prajurit elit.


sesekali dia bercermin, "Ruby kau bisa"


Ruby menarik nafas, lalu melakukan gerakan cepat, beberapa tinjuan diakhiri sebuah tendangan keras dan wus! Angin kencang menderu setelah telapak kaki diarahkan menuju sebuah tiang beton. Brak! Beton dihadapan Ruby hancur berantakan.


Ruby mengatur nafasnya, lalu melangkah keluar pintu, sambil merapikan rambutnya.


"Hari baru, Aku siap" katanya pelan.


Sementara diwaktu yang sama, jauh diatas bukit yang sepi, ketika embun masih membasahi dedaunan, ketika dingin masih menyelubung bumi, terlihat tiga sosok sedang berlatih. Yang seorang adalah gadis muda, sibuk dengan kuda-kuda, gerakannya yang halus dan sederhana, sesekali merapal mantra, mencoba membekukan sebuah batu besar didepannya.


Seorang laki-laki tua duduk didekat seorang pemuda yang kelihatannya susah payah memasang kuda-kuda dengan beban batu dikedua paha dan punggungnya.


Laki-laki tua itu berseru keras: " jongkok..! berdiri...! jongkok..! berdiri...!" begitu seterusnya. sementara pemuda disebelahnya yang walaupun masih dingin, sudah mandi keringat dan terlihat kesusahan mengikuti aba-aba dari Orang tua itu.


"Lakukan lagi 100 kali!" Teriak Laki-laki tua itu tegas.


"Hei, pak tua! kau sebenarnya melatih ku atau menyiksa ku?" jawab Noah yang mulai kesal dengan latihannya.


Tak! sebuah hantaman menggunakan rotan tepat dikepala Noah.


"Siapa yang mengajarimu untuk menjawab pelatihmu?"


"Apa kau tidak bosan sejak pagi-pagi buta melihatku melakukan gerakan yang sama? Ini bukan latihan, tapi siksaan!" Noah masih berani menjawab, sekalipun sudah dipukuli dengan rotan.


Tak! lagi-lagi sebuah hantaman, kali ini tepat di dada Noah.


"Ini adalah siksaan bagi yang putus asah, sementara menjadi latihan bagi mereka yang terus berusaha" jawab pak tua itu dengan wajah yang bijaksana.


"Hei.... kau pikir kau kelihatan bijaksana pak tua? Aku tahu kau menyalin kata-kata itu dari google!" teriak Noah kesal.


"Bisakah kau diam? bukan hanya kau yang sedang berlatih" sambar kimora yang sudah kesal, sejak tadi Noah mengganggu konsentrasinya.


"Hei, gadis cengeng, Aku tidak berurusan denganmu"


"Dasar bocah pembawa sial!"


"bisakah kalian menghargai pelatih kalian disini" potong Ayah kimora.


"Kau bukan pelatihku! kau pelatih bocah itu!" sambar Kimora.


"Hei cengeng! Aku dipaksa Orang tuamu untuk berlatih"


Wajah Ayah kimora mulai merah, Dia seperti tidak ada wibawa didepan kedua bocah ini.


"Apa Aku siksa saja mereka berdua" gumam Ayah kimora dalam hati.


"Kalau begitu, Kimora, bekukan dua puluh pohon!


Noah lakukan squat dan pushup masing-masing lima ratus kali!" kata Ayah kimora


Didepannya kimora dan Noah sudah saling menyerang, Hantaman angin dingin mengarah ke wajah Noah. Noah yang sadar kalau tangan kanannya adalah tangan ajaib, Dia berusaha menangkis angin itu dengan tangan hitamnya itu. Keduanya saling beradu pukul, Noah yang kalah dalam pelatihan dihantam bertubi-tubi oleh kimora.


Sementara Ayah kimora hanya bisa melihat kejadian didepannya.


"Citra, lihat gadis kecilmu sudah tumbuh dewasa, Kita pernah seperti ini.


Noah kuharap jika aku tiada, kau ada disamping kimora." gumam Laki-laki tua itu dalam hati, Dia teringat kembali Ibu kimora, Citra, cinta sejatinya.


"Hei pak tua! Hentikan anakmu, Dia menarik rambutku!" teriak Noah. Sementara pergerakan Noah sudah dikunci Kimora.


"Hentikan kimora. Noah bisa cidera!"


"Kau bilang aku cengeng bukan? sekarang siapa yang cengeng?" tanya Kimora, kunciannya makin kuat


"Baiklah, baiklah Aku kalah", kata Noah yang hampir kehabisan nafas.


"Aku tidak mendengarnya."


"Iya, aku menyerah. aku menyerah" Noah benar-benar susah payah bernafas


"Aku akan melepaskan mu jika kau berjanji untuk menjadi pembantuku seumur hidup, bagaimana?" tanya kimora


"Aku, tidak, mau." Noah berhenti berkata-kata, tubuhnya lemas, kimora terkejut.


"Baringkan Dia dibawah pohon itu." kata laki-laki tua itu.


Kimora menarik tubuh Noah yang pingsan tidak berdaya.


"Dasar bocah lemah! dikunci sedikit malah pingsan" Kimora bergumam


"Ayah, Sepertinya aku sudah siap untuk pelatihan teknik pengerasan" kata kimora, sambil memandang Ayahnya.


"Tubuh wanita tidak mendukung teknik berbahaya itu." jawab Ayah kimora


"Tapi kata Bibi Tiara, teknik itu memungkinkan dipakai wanita." sambung kimora


"Teknik sihir memaksa rohmu untuk bekerja lebih keras, sedangkan teknik pengerasan memaksakan tubuhmu untuk bekerja ekstra keras dan tentunya memakan lebih banyak energi murni dalam tubuh." jawab Ayah kimora


"Seorang master sebaiknya menguasai teknik yang cocok dengannya, bukan menguasai semua yang tidak sesuai dengan karakter tubuhnya , bisa jadi hal itu merusak tubuhnya." sambung Ayah kimora lagi.


"Teruskan latihanmu"


Sementara itu dilapangan pentas markas pusat komando, sudah banyak yang hadir disana, mulai dari prajurit level 1, sampai para panglima, bahkan tiga tetua sudah hadir lengkap disana.


Seseorang berdiri di tengah lapangan pentas, memegang sebuah pengeras suara, lalu mulai memandu Acara utama.


"Sesuai kesepakatan, kandidat dari pasukan Elit akan berhadapan langsung dengan tetua Onix. Mari kita sambut, sang Prajurit terpilih dari satuan pasukan Elit. inilah Dia, Ruby! Gadis dengan rekor IQ tertinggi didalam satuan komando kita."


Ruby masuk kedalam Arena pentas, Dia tidak kelihatan ragu sama sekali, Dia melihat sekeliling Arena, Begitu banyak mata yang sedang melihat dirinya.


Ruby mengambil kuda-kuda, menarik nafas dalam, lalu melakukan sebuah gerakan secepat kilat, memamerkan sedikit gerakan tinju dan tendangan.


"Lihat itu! Ruby kau pasti Bisa! " teriakan Riuh orang-orang yang hadir disitu.


Sementara itu disalah satu sudut Arena, Bara dan Broody sedang Asik duduk memperhatikan Ruby.


"Hei Broody. menurutku Ruby semakin cantik." kata Bara sambil melihat reaksi Broody.


"Menurutku biasa saja, tidak ada yang berubah" jawab Broody singkat.


"Hei,Dia lebih cantik, lincah, dan sepertinya lebih berisi. lihat lengkungan tubuhnya itu Broody."


"Hoi hoi, mesum apa yang ada didalam pikiranmu? Diamlah. ini saatnya Aku ingin melihat semengerikan apa seorang tetua" jawab Broody memotong pembicaraan Bara.


"Hadirin sekalian, dan Ini Dia, sang legenda satuan komando kita, Onix sang Phoniex.


mari kita sambut"


Tepuk tangan meriah menyambut sang phoniex.


Sosok bayangan begitu cepat tiba-tiba sudah berada di tengah lapangan pentas, sosoknya tegap, rambutnya putih, begitupun jenggotnya, matanya berbeda warna. Begitu Ia berada diatas lapangan itu, suasana disekitar langsung mencekam.


Semua menjadi diam, bahkan cuaca cerah berubah menjadi mendung seketika.


Ruby terkejut, jantungnya berdegub kencang, Hatinya mulai cemas, tubuhnya seakan ingin rubuh.


"Jadi ini kekuatan sang legenda?" Broody bergumam dari bangku penonton, keringatnya mulai membasahi dahinya.


"Hai Nak, kau baik-baik saja?" Suara pelan dari Onix, menggetarkan hati Ruby.


Sesaat Ruby hanya Diam, keringat mulai membasahi tubuhnya.


"Aku harus kuat" Gumam Ruby dalam hati.


Ia mencoba menatap mata sang Legenda didepannya itu.


"Bahkan mata itu, sulit kupandangi." kata Ruby


"Aku harus kuat. Harus kuat. Aku harus Bisa."


Ruby menarik nafas dalam-dalam mengepalkan kedua tangannya dan berteriak kencang "Bersiaplah Tua Bangka!"


Seketika itu juga, Uap pekat mulai keluar dari tangan Ruby. Semua terkejut...


Broody memperhatikan dengan saksama, lalu bergumam pelan : "Itu, teknik pengerasan."


Sejauh ini, hanya beberapa orang wanita saja yang diketahui bisa menguasai teknik pengerasan.


Ditengah lapangan pentas, Onix tersenyum melihat Ruby. "Jadi kau bisa melakukannya?" kata Orang tua itu pelan


"Terima ini!" teriak Ruby kemudian menerjang sang legenda dengan sebuah tinju, tangannya yang penuh uap mengarah ke wajah Onix.


Dengan mudah tinju itu ditepis, Ruby terjatuh beberapa meter dari tempat Onix berdiri.


Dengan susah payah Ruby mencoba berdiri, tangannya masih diselimuti uap.


"Cukup. kau berhasil." jawab Onix dengan senyum tipis dibibirnya.


Bersambung.