Noah

Noah
Singa Tua adalah Ancaman



Beberapa Orang itu kumpul disebuah ruangan dalam rumah sederhana. Ada seorang tua dengan balutan kain di dada dan wajahnya, seorang gadis muda yang duduk bersebelahan dengan wanita paruh baya, lalu seorang pemuda yang berdiri di dekat jendela, matanya menatap jauh keluar.


"Kemana kita harus pergi Ayah?" tanya gadis muda itu, di wajahnya terpancar kekwatiran yang luar biasa.


"Mau tidak mau, kita harus ke daerah Watungesu." jawab Orang tua yang wajahnya sedikit memar dengan balutan kain penutup luka di wajahnya.


"Noah, sementara kau harus ikut bersama kami" kata wanita paruh bayah, sambil melihat pemuda yang didekat jendela.


"Aku rasa kita punya pilihan lain, kalian menjadi buronan itu karna aku. Biarkan aku menyerahkan diri ke pihak pemerintah. Aku yakin kalian bisa aman." jawab pemuda itu.


"Sekalipun kau menyerahkan diri, tetap saja Aku dan keluarga kecil ini akan diburuh" jawab orang tua sambil memegang dadanya.


"Aku benar-benar menyesal, maafkan aku... kalian pergilah, biar aku disini." jawab pemuda itu, nadanya penuh putus asa.


"Kau akan dibunuh, dipenggal didepan umum. Apa kau mau mati seperti itu?" tanya gadis muda


"Mungkin itu takdirku. Aku menyesal sudah membawa petaka ini bagi keluargamu, pak tua." Noah membalas pelan.


"Kita semua akan mati Noah, tapi apa kau mau mati begitu saja? tanpa perlawanan? kau seperti bukan seorang laki-laki." kata Ayah Kimora.


"Apa yang aku bisa? bahkan ketika kalian bertarung malam tadi, aku hanya bisa menjadi penonton. Aku seperti pengecut yang bersembunyi dibelakang orang tua dan seorang gadis, Aku tidak bisa bertarung seperti kalian." jawab Noah sambil menunduk.


"Ikutlah kami Noah, kau akan kujadikan seorang kesatria. Biarlah diwaktu-waktu yang sempit ini, Ku ajarkan kau semua teknik yang aku punya." kata orang tua itu, sambil bangkit melangkah ke arah Noah.


Noah mengangkat kepalanya, menatap tajam orang tua yang kini didepannya, lalu berkata :"benarkah demikian? Apa kah aku bisa melakukannya? bukankah perlu waktu yang lama untuk menjadi seorang kesatria?"


"Tidak ada kata terlambat Noah.... sekarang, atau tidak sama sekali" kata Ayah kimora sambil menyodorkan tangannya ke arah Noah.


Noah menggapai tangan itu, "Aku akan berusaha pak tua, dengan semua yang aku punya" jawab Noah tegas.


"Jika semua sudah sepakat, kita siapkan barang-barang kita, sebelum semuanya terlambat." kata Bibi tiara, lalu bangun menggapai tangan kimora, memberi syarat untuk mengikutinya agar mengemas barang-barang yang harus mereka bawa.


Sementara itu dipusat kesatuan, bagian medis, seorang laki-laki tegap baru saja selesai memeriksa cideranya.


"Ini hanya cidera ringan, dalam beberapa hari luka diwajahmu akan sembuh, jangan lupa untuk secara rutin minum obat ini untuk luka dalammu." kata seorang dengan baju medis.


Laki-laki itu mengangguk dan berkata: "terima kasih dokter"


"Anda boleh pergi sekarang, Terima kasih sudah mendengar arahkan ku." jawab dokter.


Laki-laki itu melangkah keluar ruangan,


"Untungnya Aku punya Zirah level tinggi, dan sanggup menggunakannya dengan baik, jika tidak Aku mungkin mati disana. Teknik pengerasan... Diluar dugaanku, sungguh mengerikan." gumamnya dalam hati.


Ia terus berjalan keluar dari gedung medis, dari luar gedung itu cukup besar, fasilitasnya sangat lengkap. Diluar sudah ada mobil yang menjemputnya, Dia masuk kedalam mobil itu, sesaat setelah pintu mobil ditutup mobil berjalan pelan.


"Tetua ingin menemuimu" kata seorang yang menyetir mobil, matanya menatap cermin, memantau orang yang duduk dibangku belakang mobil mewah itu.


"Ya.... Aku tau.... kita langsung kesana saja. Ini cukup darurat bagi kita." jawabnya pelan.


mobil itu melaju masuk kedalam daerah yang kelihatannya lebih vital, meskipun berada didalam satu Area dengan gedung medis tadi. Terlihat begitu banyak prajurit yang sedang berlatih.


"Aku jadi teringat, masa lalu kita, jika melihat prajurit level satu ini" kata yang menyetir itu, sambil melemparkan senyum diwajahnya.


"Kau masih mengingat saat-saat itu Bara? Aku benci saat-saat itu." jawab laki-laki yang duduk dibangku belakang.


"Bagaimana bisa kau membenci saat-saat itu? karna bisa melewati pelatihan itu, kau bisa menjadi seperti sekarang. kau ketua pasukan level tiga saat ini. Setidaknya angkatan kita, Ada yang sudah berada di level tiga. kata Bara lagi, sambil memastikan mobil yang dikendarainya berada di jalur yang sesuai.


"Kau benar, pasukan level tiga setidaknya sudah sangat baik untuk prajurit seperti kita. sayangnya kita tidak seberuntung adik angkatan kita. Ruby."


"Ya... Gadis itu yang kumaksud."


"Dia memang jenius... rekor pencapaian levelnya memang jauh diatas rata-rata."


"Terakhir kali kulihat, Dia mengawal Raja di acara peresmian senjata kuno."


"Hei.... Apa kau masih menaruh perasaan dengannya?" tanya Bara


"Hahahaha... kau masih mengingatnya.... sayang sekali, tidak ada ruang untuk cinta bagi prajurit seperti kita."


"Wah wah... ketua sudah pandai berkata-kata sekarang... Aku hanya bertanya, walaupun tidak ada ruang untuk cinta dihatimu, tapi ingatlah, cinta bisa menempati dimanapun tempat yang dia mau, tidak peduli hati tanpa ruangan kosong untuknya."


"Bara.... berhenti didepan..."


"Sesuai permintaanmu ketua"


"Bisakah untuk berhenti memanggilku ketua? Apa kau termasuk orang yang sudah melupakan nama temanmu?"


"Maafkan Aku, hahahaha kadang kita dibatasi jabatan... Hati-hatilah Broody" Bara melambaikan tangannya


Laki-laki yang dipanggil Broody itu memberi senyum, sambil menatap mobil yang menjauh darinya itu.


Tidak lama setelah itu, Ia membalikkan badan, didepannya gedung besar kokoh berdiri, dengan tulisan besar terpampang jelas, PUSAT KOMANDO.


Orang itu melangkah masuk, Dua orang penjaga didepan pintu itu memberiNya hormat secara serentak. Dia terus melangkah, masuk kedalam lift, kemudian keluar dan mendapati sebuah ruangan dilantai atas.


Ketika Dia berdiri didepan ruangan itu, seorang penjaga memberi hormat dan berkata :"tetua sudah menunggu didalam"


Broody mengangguk, lalu masuk kedalam ruangan. Didalamnya tiga Tetua sudah menunggunya.


"Ah..... Mari... Kami sudah menunggumu sejak tadi." kata seorang tetua dengan pupil mata yang berbeda.


"Maaf untuk keterlambatanku" jawab Broody sambil membungkukan badannya.


"Aku harus ke ruangan medis sebelum bergerak kesini"


"Bagaimana keadaanmu?" tanya seorang tetua yang rambutnya keriting.


"Aku baik-baik saja, menurut dokter, ini hanya cidera ringan." jawab Broody


"Syukurlah jika seperti itu" sambung orang tua yang kepalanya botak.


"Aku langsung saja tetua, maaf jika aku lancang. Gulungan sudah kutemukan, tapi sayang hanya beberapa carik, dan itupun bukan gulungan utama." kata Broody sambil menyerahkan beberapa gulungan mantra usang.


"Apa ada petunjuk lain?" tanya Tetua dengan pupil mata yang aneh, sambil melihat-lihat gulungan itu.


"Pemuda yang membawa gulungan itu, Dia dilindungi seorang Pensiunan satuan kita." jawab Broody


"Siapa? Berani-beraninya menghambat misi kita!" kata tetua yang keriting.


"Orang yang dijuluki singa komando" jawab Broody


Tetua dengan mata aneh itu mengertakan giginya, mengepal keras jari-jari tangannya, sementara seperti uap keluar dari tangannya, Aura didalam ruangan tiba-tiba berubah mencekam,


"Sialan..... Orang itu..... Viland... Si Singa tua...."


Bersambung