
Jauh di ujung timur batas kerajaan sebuah bukit kecil diapit Pegunungan yang menjulang tinggi, bulan sabit itu bersinar terang di atas langit, bintang-bintang yang gemerlap bertaburan dengan pola yang begitu indah.
Didalam goa di atas bukit itu terlihat samar-samar sekelompok orang, mereka duduk bersama, melingkar dan sedang menikmati makan malam mereka dengan nyala api yang membara ditengah kelompok itu.
"Jadi kalian menyebut dengan nama apa masakan ini?" tanya Longa yang terlihat sangat menikmati makanan didepannya.
"Aku menyebutnya menu pemulih energi." jawab Arka.
"Hei.... bukankah itu nama yang terlalu sederhana?" sambar Noah.
"Ini masakan yang rasanya benar-benar nikmat. Aku belum pernah menyantap makanan seperti ini" ucap Villand.
"Tentu saja, masakan ini dimasak dengan teknik khusus. Aku dan Arka adalah juru masak di kelompok benteng besi, kami sudah biasa memasak menggunakan api energi." sahut Ling mencoba memberi penjelasan.
"Tubuhku seperti menerima energi, padahal aku belum menyantap semua jatah yang aku punya. ini benar-benar hebat." ucap salah seorang murid Longa.
"Memasak menggunakan api energi akan membuat kandungan gizi didalam makanan lebih terjaga. teksturnya akan lebih lembut dibanding menggunakan nyala api biasa.
"Ini sangat nikmat" ucap Kimora.
"Aku minta lagi!" serunya lagi, sambil mengambil beberapa potong makanan didepan mereka.
"Jangan malu-malu semua, kita harus menghargai masakan Ling dan Arka dengan cara menghabiskannya." kata Villand sambil mengajak Longa dan semua disitu untuk menghabiskan makanan yang masih tersisa.
Sementara itu ditengah gelapnya hutan arah timur itu, Dua pasang kaki berkelebat dengan cukup cepat. bayangan mereka seperti beradu bersama angin malam yang berhembus. Belukar dan semak diterpa mereka sehingga berayun kesana-kemari.
"Berhenti didepan itu" bisik salah satu dari mereka.
Tepat didepan sebuah pohon besar keduanya berhenti. Mereka menghela nafas mereka, mencoba mengatur irama jantung mereka sendiri.
"Kau yakin disini?" tanya seseorang diantara mereka.
"Tentu, Aku tidak mngkin salah arah" jawab orang disebelahnya itu.
"Kita harus pastikan kalau itu benar-benar mereka. di atas bukit itu, sekarang aku yang harus didepan." bisiknya orang itu kepada temannya.
Villand dan Longa yang sedang asik menikmati makanan itu tiba-tiba saja saling melihat.
"Seseorang mendekati kita" ucap Longa.
"Mereka berdua" potong Villand.
"Aku tidak merasakan ada dua orang Disana."
"Yup.. salah satu dari mereka pandai menyembunyikan energinya. Ikuti aku Longa!" sahut Villand sambil menepuk bahu Longa.
Beberapa orang yang sedang makan itu juga merasa hal yang sama, ada pergerakan seseorang dari bawah bukit.
Mereka mulai berdiri memasang sikap waspada. Suasana bukit kini sudah begitu sepi, hanya bunyi hembusan angin menerpa api didepan goa, sesekali letusan kecil kayu yang habis dilalap api. Suara binatang hutan yang tadi tidak terdengar kini mulai terdengar jelas.
"Sensor mu masih cukup bisa untuk diandalkan Villand. salah satu dari mereka sanggup menyembunyikan energinya dengan baik. tetapi hentakan langkah mereka di atas tanah tidak bisa membohongi pendengaran ku." ucap Longa pelan.
"Jangan menyerang terlebih dahulu. jika mereka tidak berbahaya, jangan mengambil tindakan yang berlebihan." potong Villand, kali ini suaranya lebih kecil dari suara Longa.
"Hei.... kalian sedang apa? Pak tua tadi kau ingin sekali menghabiskan..."
belum selesai Noah bicara mulutnya sudah dengan cepat dibekukan Kimora yang tepat berada disamping tidak jauh dari Noah.
"Apa kau tidak punya kepekaan sedikitpun? semua sedang berjaga-jaga karna ada yang datang. sementara kau malah melanjutkan makan!" bisik Kimora yang sedikit marah melihat Noah yang benar-benar sedang makan ketika semua sedang genting.
"Berhenti! Ada lonjakan energi didepan sana." seru seseorang didalam kegelapan.
Orang yang berada dibelakangnya langsung berhenti dan mencoba menganalisa situasi didepan.
"Ini bukan perang... kenapa tidak langsung aja kesana dan bertanya? biar aku saja yang kesana!" ucap orang yang berada di belakang sambil melesat begitu cepat menuju rombongan orang didepan gua itu.
Villand dan Longa memandang tajam langkah yang kian lama kian mendekat itu. Tepat beberapa belas meter dari kelompok itu, orang itu berteriak "Disini ada yang mengenal Seseorang bernama Tiara?"
"Orang itu bersama kita Villand. sepertinya Tiara memang sangat baik dalam mengumpulkan kekuatan." ucap Longa
"Kemari lah... kami teman-teman Tiara." ucap Villand.
"Dan ajak temanmu itu untuk kesini juga. jangan bersembunyi jika ingin bertemu kami.
"Jadi mereka bisa mendeteksi keberadaan ku? sungguh bukan sembarang petarung." ucap Roya sambil berjalan keluar dari tempat persembunyiannya.
"Kau.... sepertinya tipe sensor bukan?" ucap Villand.
"Salam semuanya, hormatku paman!" sapa Roya cukup sopan
"Aku Roya dan sahabatku ini bernama Liber. kami kesini atas perintah Guru Sina dan Bibi Tiara." sambung Roya lagi.
"Salam Roya... Liber...
Kemarilah.. bergabunglah bersama kami dalam makan malam sederhana ini." ucap Longa sambil memberikan tanda bagi kedua orang itu untuk ikut makan.
"Terima kasih atas keramahan paman dan semua. Aku dan Liber membawa pesan penting dari Bibi Tiara. beliau berpesan untuk menyampaikan berita ini; yakni:
yang pertama, Pasukan cahaya surga sudah dihancurkan, hanya ada satu orang yang tersisa dari pasukan cahaya surga.
yang kedua, Benteng besi sudah dihancurkan dan Rosoku mati bersama benteng yang didirikannya itu.
yang ketiga, Bibi Tiara dan guru Sina sedang menuju ke tempat ini." ucap Roya.
"Apa katamu?
"apa kata-katamu barusan?" tanya Ling dari belakang Longa.
"Siapa kau? Hati-Hati dengan energi yang kau pancarkan itu... kita bukan sedang bertarung!" jawab Roya
"Kau baru saja mengatakan Rosoku mati???" tanya Ling dengan suara yang sedikit parau.
"Maaf, aku hanya pembawa pesan."Jawab Roya singkat
"Itu tidak mungkin..." Villand menundukkan kepalanya. sementara Longa mencoba duduk, kemudian bersandar pada sebuah batang pohon yang berada disekitar.
Mata kedua orang tua itu mulai berkaca-kaca.
"Berita mu ini tidak benar!! kau tidak bisa mengatakan itu!!!!"Bentak Ling yang tidak puas dengan berita yang Roya bawa.
Sementara Arka yang sejak tadi didekat Noah sudah mulai terisak dan menangis.
"Guru... guru... ini tidak mungkin guru.. Bibi Tiara... mengapa kau biarkan guru pergi begitu saja...Huawah......!!!!!"
"Rosoku.... Aku tidak menyangka..." Bisik Villand dalam hati, air matanya membasahi matanya.
"Rosoku.... Aku ingin bertarung seperti saat itu lagi.... menghancurkan musuh bersama...
kau pergi begitu cepat....
maafkan aku Rosoku..." Villand menutup mata dengan tangannya.
Bersambung....