Noah

Noah
Noah & Mantra Kuno



Pria tua itu bergegas berlari menuju kamar, dimana datangnya suara tadi, dibelakangnya seorang perempuan muda melangkah cepat mengikutinya.


"Kau sudah sadar?" tanya Pria itu kepada seorang pemuda mencoba bangun dari tidurnya. Tubuh pria itu penuh balutan. Sebuah kendi pecah dibawah tempat tidur.


"Siapa kalian? dan dimana aku ini?" tanya pemuda itu sambil memegang kepalanya yang dibalut kain.


"Tenang anak muda, kami menyelamatkanmu dari sungai. kemarin kau hanyut dibawa arus sungai." jawab Pria tua itu.


"Dimana orang-orang itu? mereka masih mengejarku" Pemuda itu mencoba bangkit berdiri.


"Tenanglah... tubuhmu masih belum pulih, jangan banyak bergerak lukamu bisa kembali terbuka." orang tua itu mencoba menghentikan apa yang akan pemuda itu lakukan.


"Hei... tidak bisakah kau berterimakasih terlebih dahulu? kami menyelamatkanmu." suara perempuan muda, membuat pemuda itu terdiam.


"Nak... ceritakan siapa dirimu, kenapa kau bisa hanyut disungai?" Orang tua itu mencoba bertanya pada pemuda itu dengan nada pelan.


"Aku Noah, aku berasal dari kota. Rombonganku dikejar penduduk watu mite." pemuda itu memberi penjelasan sederhana sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.


"Apa Orang tua ini tidak salah dengar? apa yang kalian lakukan? orang-orang watu mite tidak mungkin mengejar orang yang tidak berbahaya bagi mereka." orang tua itu bertanya penasaran.


"Aku dan temanku dijebak rombongan kami untuk mencuri kertas kertas aneh yang ada di desa." jawab pemuda itu, sambil mencoba mengingat-ngingat.


Orang tua itu melangkah menuju meja mengambil potongan kertas usang lalu bertanya "Apa yang kamu maksud kertas-kertas ini?"


"kenapa masih ada disini? sebelum aku terbawa arus, semua lembaran itu sudah kubuang. Bagaimana bisa masih ada disini?" Pemuda itu terkejut, diwajahnya tergambar ketakutan.


"Sudah kuduga... tanda awal peperangan sudah datang. Kimora, kirim pesan kepada Ruby. katakan padanya, Ayah merindukanNya." Kata pria tua itu kepada perempuan muda.


"Baik Ayah... " jawab kimora sambil keluar ruangan.


"Hei.... apa kalian punya ponsel? Aku ingin menghubungi keluarga ku." tanya pemuda itu.


"Nak.... kami tidak punya ponsel, kita ditengah pegunungan, tidak ada sinyal disini." jawab Ayah kimora.


"Tiara.... Tiara...." Orang tua itu memanggil Adiknya


"Ada apa kak?" jawab seorang perempuan paruhbaya.


"Siapkan makanan untuk pemuda ini"


"baik kak" jawab perempuan itu, langsung menuju ruangan makan menyiapkan makanan.


"Isi perutmu dulu. beristirahatlah dulu disini sebelum ke kota." Ayah kimora berbicara pada Noah


"Hei pak tua... mengapa mereka membunuh rombonganku demi kertas-kertas aneh itu?" tanya pemuda itu.


"Itu bukan kertas sembarangan, itu kertas mantra. dijaman sekarang selain senjata moderen, senjata kuno juga bisa menjadikan pasukan tempur kuat berkali-kali lipat. dibandingkan mantra, senapan mesin tidak ada artinya." jawab orang tua itu.


"Jadi maksudmu? kertas-kertas usang itu mantra? dan nilainya lebih tinggi dibanding alat tempur moderen?" tanya Noah lagi.


"makanlah terlebih dahulu. untuk keamanan kita, mantra ini aku amankan dulu." jawab orang tua itu


"Hei...! semua teman-temanku mati demi kertas itu. kau tidak berhak menyimpannya. walaupun kau sudah menolongku, tapi mengambil barang orang itu tindakan yang sangat tidak sopan." Noah melangkah mencoba mengambil kertas yang dipegang Ayah Kimora.


"Dengar anak muda, kau tidak tau betapa berbahayanya menyimpan benda yang diincar seluruh penguasa kerajaan. Kau pikir menyimpan ini akan membuatmu aman?


Kertas ini adalah petaka bagi yang menyimpannya!" jawab orang tua itu dengan nada sedikit tinggi.


"Aku akan memberikan padamu jika kau sudah pulih." Jawab orang tua itu singkat.


"Tiara dan kimora akan mengurusmu sementara waktu. Aku akan ke balai desa." Orang tua itu melangkah keluar ruangan.


Noah hanya tertegun, Ia tidak bisa membayangkan, apa yang akan menantinya setelah ini. Ia kembali membayangkan saat-saat dimana Ia dikejar malam itu. Ia mencoba melihat sekujur tubuhnya, masih normal. Ia mencoba menggenggam jari-jarinya, genggamannya masih lemah. Ia mencoba meraba sakunya, Ia masih ingat, ada sebuah kertas usang berwarna hitam, tulisan emas, yang Dia selipkan dibalik celana boxernya. untungnya Ia masih mengenakan celananya itu.


"Ini Dia, sebaiknya kusembunyikan, sebelum diambil semua, bukankah harganya bahkan lebih mahal dari sebuah tank?" Noah mengambil kertas kecil itu berfikir sesaat, kemana harus Ia sembunyikan. Ia melihat tangan kanannya, ada sebuah balutan. "Sepertinya jika kuselipkan dalam luka, tidak akan ketahuan si tua itu." Noah melipat kertas kecil itu menjadi sangat kecil, dibukanya balutan luka ditangan kanannya, lalu mencoba menyelipkan kertas itu di lukanya yang masih menganga. "Arkh..... sakit...." Noah memaksa membalut lagi lukanya itu.


"Hei! Apa yang kau lakukan?" tiba-tiba suara perempuan muda mengejutkan Noah.


"Mengapa kau membuka balutan itu?" tanya kimora lagi, kemudian kimora melangkah mendekati Noah membantunya mengikat balutan.


"Akh.....!! Hei.... jangan ikat terlalu kencang! Noah merintih kesakitan.


"Sakit yah? begini saja sakit? Aku menggendongmu dari sungai menuju kampung, kira-kira bagaimana rasa sakitnya kakiku saat itu? dan kini kau sadar, dan tidak mengucapkan terima kasih... itu juga sakit tau!" Kimora mulai mengomeli Noah dan menarik balutan itu dengan kencang.


"Hei... aku minta maaf.. lepaskan tanganku...! Akhhh!!!!"


"Hentikan itu Kimora, Saatnya makan Orang kota" kata Tiara, Bibi dari kimora. Ia membawakan makanan untuk Noah.


Sementara itu, dibalai Desa, Ayah kimora sedang menunggu seseorang. Ia duduk, wajahnya nampak gelisah, beberapa saat Ia coba berdiri, berjalan mondar- mandir disekitar balai.


"Ini awal bencana... ini awal bencana..." Ia terus bergumam kata-kata yang sama.


"Hei pak tua, mau sampai kapan mondar-mandir tak jelas?" tanya seseorang.


"Ruby? Sejak kapan?" Pak tua itu menjawab, Ia sedikit terkejut.


"Kepekaanmu mulai menurun, Pak tua." jawab perempuan itu lagi.


Namanya Ruby, seorang prajurit elit propinsi, Dia perempuan dengan peragai Ayu, namun mematikan. kulitnya putih, tubuhnya berisi dan padat, rambutnya sebahu, wajahnya cukup menawan.


"Hahaahaha Akhirnya kau datang Ruby... sedikit lebih cepat dari dugaanku. dengar Nak... Paman merindukanmu" kata orang tua itu sambil memeluk gadis yang dipanggilnya sebagai Ruby.


"Aku juga merindukan paman.." balas Ruby


"Bagaimana keadaanmu?" tanya orang tua itu, sambil melepas pelukan dan beranjak menuju kursi didepan balai.


"Kabarku baik paman" jawab Ruby yang melangkah dibelakang pamannya. "sepertinya ada sesuatu yang ingin paman sampaikan kepadaku.?" tanya Ruby.


"Ruby... tanda-tanda itu sudah muncul. gulungan kuno sudah mulai diburuh." kata Ayah kimora


"Satuan elit propinsi juga sudah mendapat kabar. ada puluhan mantra kuno sudah disiapkan untuk tahap percobaan. beberapa Anggota kami juga sudah ditunjuk sebagai pengguna mantra." jelas Ruby


"Apakah mantra utama sudah ditemukan?" tanya Ayah kimora lagi.


"Sampai saat ini belum. aku belum mendapat info, sekuat apa mantra yang ditemukan. Dengar paman, sebaiknya pergi dari sini. Watu mite sudah hilang dari peta." jawab Ruby


"Watu mite? lenyap? tanya Ayah kimora lagi


"Benar paman... penyerangan dipercepat, bahkan satuan Elit tidak mendapat informasi sebelum tindakan penghancuran terjadi. Sepertinya Raja muda sudah haus akan keabadian" jawab Ruby


"Ruby.... kita ke rumah dulu... Ada sesuatu yang harus kamu lihat" kata ayah kimora sambil menarik tangan Ruby.


Bersambung...