Noah

Noah
Menuju Perang II



Viland berlalu begitu saja, menuruni bukit dengan wajah cemas bercampur sedih, Ia sendiri tidak habis pikir mengapa Ia sampai menampar wajah putrinya. Baru kali ini Dia melakukan tindakan kejam terhadap Kimora, Dia sedikit menyesal, namun itu juga terpaksa harus Ia lakukan, jika tidak demikian, saat perang itu terjadi Dia tidak mungkin bisa melindungi putrinya dari serangan pasukan Komando.


Sementara dipuncak bukit, Kimora masih terisak, dalam hati Ia tidak percaya Ayahnya sampai melakukan hal itu.


Noah yang tadinya tampak tidak peduli, perlahan berdiri, lalu berjalan mendekati Kimora. Hatinya tergerak karna isak tangis dari kimora, Sebagai laki-laki Ia tidak tega melihat seorang gadis menangis didekatnya.


Ia duduk di dekat Kimora, dielusnya rambut gadis itu, walau dengan sedikit gemetar Ia mencoba menenangkan perasaan gadis itu.


"Kimora, mungkin Ayahmu hanya mau melindungimu" kata Noah pelan


Kimora masih terisak dalam sedihnya, Ia masih membayangkan kejadian bertahun-tahun silam, Ketika Ibunya di bunuh pasukan komando kerajaan.


"Dengar kimora, jika kau ingin balaskan dendam, Aku akan bersamamu. tidak peduli apa kata orang tua itu" sambung Noah lagi.


"Walaupun dendam akan menghanguskan kita, Aku akan berjuang bersamamu Kimora" Noah mencoba menghibur Kimora.


"Sungguh?" tanya kimora dengan suara yang serak akhibat tangisnya.


"Tentu, akan kulakukan. Jika kau hentikan tangismu itu. Tangis memang akan menenangkanmu, tapi tidak akan membuatmu lebih kuat" sahut Noah


Mendengar itu kimora yang masih penuh kesedihan merangkul Noah dengan erat, lalu menangis lebih menjadi-jadi.


Noah yang terkejut menjadi bingung harus berbuat apa, Dia menjadi kaku.


"Mengapa tangismu makin bertambah?" Noah bertanya dengan perasaan bingung.


"Biarkan seperti ini, Aku hanya ingin menangis, jadi biarkan aku menangis hanya untuk saat ini." kata Kimora disela tangis pilunya.


Noah hanya diam, dia hanya bisa membalas rangkulan Kimora, tangannya mengelus rambut gadis itu.


Viland yang melihat kejadian hanya Diam dengan air mata yang membasahi pipinya.


"Kuatkanlah hatimu Viland. Jika Citra disini Dia akan melakukan hal yang sama. Jangan biarkan mereka masuk kedalam lingkaran Dendam ini." Kata Tiara, yang tiba-tiba berada dibelakang Viland.


Viland menoleh, dilihatnya Tiara yang sudah bersiap dengan perlengkapannya. Tiara harus menuju kota, Dia akan meminta bantuan dari beberapa rekan Viland ketika masih aktif sebagai pasukan Komando.


"Kak Viland, Aku pamit." Kata Tiara.


"Pergilah Tiara. Kau tahu harus kemana setelah mereka bersamamu". sambung Viland.


"Tentu.Jaga dirimu Viland, dan siapkan Perlengkapan Tempurmu" jawab Tiara kemudian berlalu dari hadapan Viland.


Disiang Hari, Ruangan rapat pasukan komando Pusat, beberapa orang sudah berkumpul disana.


Tetua Onix, Tetua Bily dan Kong sudah ada juga diruangan itu. Ruby dari pasukan Elit, sebagai ketua Tim satu, Broody sebagai ketua tim dua dan Rama sebagai ketua tim tiga sudah ada disana.


Sejak tadi mereka sudah banyak membahas Strategi yang harus dilakukan ketika ingin melenyapkan kelompok Viland, sebab Viland dianggap sebagai Orang yang sangat berbahaya bagi kerajaan.


"Lokasi ini sudah dikonfirmasi Ruby dan beberapa Pasukan intel kita. Aksesnya cukup sulit. Mereka sudah pasti punya persiapan untuk menghadang serangan pasukan kita." Kata Tetua Kong.


"Sudah terkonfirmasi, tidak ada sama sekali senjata tempur. itu hanya bangunan Tua, dulunya adalah rumah dari Viland." jawab Ruby


"Hmm, apa ada informasi lain dari satuan intel?" tanya Tetua Onix.


"Dikonfirmasi juga hal yang sama, hanya ada beberapa Orang yang berjaga disana. Dari informasi yang Kita dapat, mereka termasuk dalam pasukan pembunuh Hitam" Jawab Broody.


"Pasukan pembunuh Hitam? Tidak disangkah, jejak mereka masih ada. jika ini benar, artinya Viland benar-benar sudah berencana menggulingkan kita." sambar Tetua Kong.


"Jangan anggap remeh Kekuatan mereka, tidak sembarang orang bisa bergabung dalam pasukan pembunuh Hitam. mereka adalah orang-orang yang sudah dilatih khusus untuk menjadi pembunuh bayaran." Tetua Onix berbicara penuh pertimbangan.


"Orang-orang tersebut setara dengan prajurit level dua kita. Hal ini tidak menutupi bahwa mereka bisa saja punya Anggota dengan level tingkat tiga." Jawab Tetua Kong yang coba memberi informasi.


"Aku tidak ingin mengambil resiko. Pasukan akan ditambahkan. Pasukan keempat akan ditambahkan kedalam operasi ini." kata Onix, Dia memang orang yang penuh pertimbangan.


"Pasukan keempat akan disiapkan setelah rapat ini selesai. Akan kita lampirkan strategi dalam surat penugasan mereka." jawab Kong


"Apa ada perubahan Formasi serang pasukan kita?" tanya Ruby


"Tidak, pasukan ke empat hanya akan menjadi pasukan pendukung. Ruby dan tim satu akan tetap sebagai pasukan terdepan." Sambung Onix.


"Masing-masing ketua tim, apa sudah mengerti? jika masih ada pertanyaan atau masukan, silahkan." kata Onix lagi.


"Siap Tetua, tidak ada pertanyaan lagi!" jawab tiga ketua tim serentak.


"Baik.. sekarang kembali ke satuan masing-masing. pelajari pola Formasi kita, dan ingat. jangan sampai gagal!" sambung Onix tegas


"Siap laksanakan" jawab mereka serentak dengan penghormatan khas komando.


Tetua Onix, Tetua Bily dan Tetua Kong beranjak keluar dari ruangan itu. Ketiga ketua tim itu menarik nafas panjang, keringat mereka sudah membasahi tubuh mereka sejak tadi.


"Aura macam apa ini?" kata Broody, Ia sedikit gemetar


"Aura mereka sudah mereka tahan sejak mereka masuk ruangan ini. Jika di area pertempuran, saat mereka mengeluarkan Aura pembunuh, kita bertiga mungkin akan rubuh seketika" sambung Ruby.


"Luar biasa. Aku baru merasakannya. betapa jauhnya jarak kekuatan antara aku dan mereka." kata Rama pelan.


Ketiganya lalu keluar dari ruangan itu, mereka kemudian berpisah menuju satuan mereka.


Broody memandang Ruby sesaat sebelum berpisah, Ruby hanya membalas dengan senyuman yang tipis, tapi penuh arti.


"Sudah sejauh ini. Aku ingin berhenti, tapi tidak mungkin. semoga kalian siap, Paman." Kata Ruby dalam hati.


"Ruby, seberapa kuat dirimu? Kau sedang diperhatikan didalam kerajaan ini. Permainan ini, Keterlaluan." Broody termenung, dalam hatinya Dia memuji loyalitas dari Ruby.


Bersambung.