
Hari masih begitu pagi, embun masih membasahi dedaunan hijau sepanjang jalan sempit itu. Seorang wanita paruh baya berjalan menyusuri setapak kecil, sesekali Ia menarik nafas panjang, diangkat wajahnya lalu melihat jalan lurus nan kecil itu. Kiri dan kanan terdapat pepohonan dan tumbuhan rambat yang tidak terawat, beberapa dahan pohon besar yang sudah lapuk terkulai di sepanjang jalan itu.
Senyuman kecil menghiasi bibirnya ketika Ia melihat sebuah bangunan besar namun sederhana tepat di ujung lorong setapak.
"Semoga mereka semua ada Disana" bisik Tiara dalam hati.
Beberapa saat kemudian tibalah Ia didepan bangunan itu, dilihatnya sekeliling tempat itu.
"Masih belum berubah, hanya sedikit lebih kusam" kata Tiara lagi.
Ia mengetuk pintu didepan bangunan itu, berharap seseorang membukakannya.
Belum ada tanggapan untuk sesaat. Ia mencoba mengintip melalui lubang kecil melalui pintu tua itu. Seseorang berjalan kearahnya dibalik pintu itu. Tiara merapikan rambut dan pakaian yang Ia kenakan.
Krek...! pintu itu dibuka, seseorang keluar lalu melihat kearahnya.
"Bibi? Ada keperluan apa pagi-pagi begini?" tanya seorang gadis muda. wajah gadis itu cukup jelita, kulitnya pucat namun terawat, rambutnya panjang menjuntai sepinggang.
"Saya Tiara, Apakah ketua pasukan sejati ada? Saya ingin bertemu dengannya." jawab Tiara.
"Ayah sedang di dalam, masuk dan duduklah" gadis itu mempersilahkan Tiara masuk, lalu mengantarnya kesebuah pendopo kecil dimana biasanya tamu yang datang akan di arahkan kesana terlebih dahulu sebelum bertemu Pemimpin Pasukan Sejati.
Tiara mengikuti langkah gadis itu, lalu duduk di tempat yang sudah dipersilakan. Kemudian Tiara melihat keadaan disekelilingnya, tempat itu begitu terawat, masih pagi, tetapi beberapa petugas taman sudah mulai membersihkan dedaunan yang jatuh disekitar taman. Ada yang menyapu, mengangkat kotoran disekitar taman, ada pula yang menata bunga-bunga yang ada disitu.
Gadis didepan Tiara berkata "Tunggulah disini Bibi, Ayah akan segera datang jika sudah selesai mandi. Saya buatkan teh hangat untuk bibi."
"Terima kasih nak, siapa namamu?" Tanya Tiara
"Saya Aulia" jawab gadis itu sambil tersenyum ramah.
"Nak Aulia, Apakah engkau Anak Sina?" Tanya Tiara lagi.
"Benar bibi, saya anaknya."
Tiara tersenyum, lalu berkata "Kecantikanmu sama seperti ibumu."
"Terima kasih Bibi. tunggulah sebentar saya buatkan minum untuk Bibi."
Tiara tersenyum sambil mengangguk. Gadis muda itu meninggalkan Tiara menuju ruangan yang tak jauh dari tempat Tiara.
Tiara tertunduk beberapa saat, masih membayangkan kejadian tadi malam, Ia masih ingat betul bagaimana pisaunya merobek leher sahabatnya.
"Si Hitam... bagaimana bisa.... Aku tak percaya..." kata Tiara dalam hati
"Bibi, ini minumlah selagi hangat."
Suara Aulia mengejutkan Tiara, membuat Ia tersadar dari ingatannya semalam.
"Terima kasih nak" Jawab Tiara sambil mengambil segelas minuman hangat yang disajikan Aulia.
"Bibi, dari mana bibi datang?" Tanya Aulia sambil duduk disamping Tiara.
"Dari Bukit disebelah Timur perbatasan kerajaan." jawab Tiara pelan sambil meneguk minuman yang ada ditangannya.
"Jauh sekali. Apakah Bibi adalah kenalan Ayah?" tanya Aulia penasaran
"Saya adalah sahabat lama mendiang Ibumu." jawab Tiara
"Benarkah? Seperti Apa Ibuku?" tanya Aulia
"Dia baik, anggun, kuat dan yang pasti dia secantik dirimu." jawab Tiara sambil menatap gadis didekatnya itu.
"Apakah Ibu mencintaiku?" tanya Aulia
"Cintanya lebih besar daripada dunia. dan cintanya itu untukmu." jawab Tiara sambil tersenyum
"Sungguh?"
"Itu benar Anakku sayang." Jawab seorang lelaki yang sudah cukup berumur.
"Sina?" Sahut Tiara
"Tiara sahabatku...."
"Sina...." Tiara memeluk sahabatnya itu, Ia tidak peduli ada Aulia Disana.
"Sina maafkan Aku...." kata Tiara dengan suara yang sudah parau.
"Tiara? Apa yang terjadi? mengapa kau menangis?" Tanya Sina yang berusaha menenangkan sahabatnya itu.
"Bibi? kenapa Bibi menangis?" sambung Aulia yang sedikit kebingungan.
Sina mencoba melepaskan pelukan Tiara, lalu menghapus air matanya.
"Ada apa? katakan Tiara...."
"Rosoku....Dia...."
"Rosoku.... mati ditangan ku.... maafkan Aku...." Erang Tiara makin menjadi.
Sina terdiam, Ia mencoba melepaskan pelukan Tiara, lalu duduk merenung. Matanya mulai berkaca.
"Bibi tenanglah... janganlah menangis...." Aulia mencoba menenangkan tangisan Tiara.
Tiara masih terisak di pelukan Aulia, sementara Aulia mencoba mengusap rambut Tiara, lalu menoleh ke Ayahnya.
"Apa Rosoku dilahap Si Hitam?" tanya Sina pelan
"Maafkan Aku Sina.... Aku hanya tidak ingin Dia tersiksa" jawab Tiara sambil terbata-bata.
Brak!
Sebuah kursi hancur dihantam tangan kosong Sina.
"Guru! apa yang terjadi?" seru beberapa murid Sina yang ada disekitar situ.
Beberapa murid yang lain mencoba mendekati tempat Sina berdiri dengan perasaan panik dan penasaran.
"Roya! kumpulkan semua pendekar kita di Aula utama!"
"Baik Guru!" Jawab murid yang dipanggil Roya. Murid itu bergegas menuju aula utama, lalu memberi isyarat kepada beberapa murid disekitar tempat itu.
"Aulia, siapkan pakaian ganti untuk Bibi Tiara, biarkan Ayah bicara sebentar dengan bibi." kata Sina lagi.
Aulia menuruti perkataan Ayahnya.
"Tiara.. Apa Villand baik-baik saja?"
"Ya... Dia memberiku lencana satu. tanda perang."
"Dimana markas besar kita?"
"Bukit paling timur perbatasan kerajaan." jawab Tiara sambil mengusap air matanya.
"Jika Rosoku dilahap si Hitam, Apa Kelompok Pembunuh Hitam dan Cahaya Surga akan baik-baik saja?" tanya Sina
"Pembunuh hitam selama ini bersama kami, kelompok mereka mungkin sudah di bukit timur kerajaan. yang harus kita pikirkan adalah kelompok Cahaya surga" ucap Tiara.
"Istirahatlah dan ganti pakaianmu Tiara, Esok pagi kita menuju Utara. semoga kita tidak terlambat menjemput kelompok Cahaya surga." kata Sina.
Sementara itu di markas komando kerajaan, Onix, Bily dan Kong sedang berdiskusi dengan cukup serius.
seseorang berdiri didepan ketiga tetua itu.
"Selama Dua tahun mengikuti jejak mereka, kenapa tidak bisa melenyapkan kelompok yang hanya berisikan lusinan wanita?" tanya Onix tegas.
Orang yang berdiri didepan mereka terlihat begitu santai, meskipun pertanyaan itu tertuju untuk dia.
"Apa kau mendengarkan ku? senior jendral Sira?" tekan Onix lagi
"Aku tidak bekerja dibawah kalian, Kalian tidak ada didalam struktur resmi kerajaan. kalian hanya orang tua yang haus kekuasaan dan jabatan" jawab Sira santai.
"Onix biar aku saja yang menanyakannya" kata Bily
"Sira, sederhanakan penjelasan mu. Kelompok Cahaya surga, apa sudah kau ratakan?" tanya Bily dengan nada santai
"Aku suka nada bicaramu. mengejar wanita bukanlah hal yang mudah. Dua bulan yang lalu markas cahaya surga di Utara sudah berhasil kami hancurkan." kata Sira lalu menarik kursi didekatnya, kemudian duduk begitu santai.
"Didalam berita acaramu Minggu lalu, kau menyebutkan gagal mengejar kelompok Cahaya surga." tanya Kong, salah satu dari tiga tetua kerajaan.
"Kupikir kalian tidak membacanya" jawab Sira acuh.
"Jangan bermain dengan orang tua, bocah sombong" kata Onix pelan, namun tekanan energi disekitar Onix mulai berubah.
"Kau mengancam ku pak tua? Aku menyukai ancaman kakek ku dulu. kakek ku pernah mengancam ku, sayang sekali setelah ancaman itu dia mati." kata Sira
"Bisakah kau serius anak muda? dan Onix, bisakah kau tidak meluapkan energi sebesar itu disini?" kata Bily.
"Aku serius... aku membunuh kakek ku sendiri. Dan mengenai kelompok Cahaya surga yang lari, Aku membiarkan mereka masuk ke dalam hutan Murian. Jika salah satu dari kalian bisa masuk kesana, maka kalian boleh memenggal kepala ku."
"Jadi? kesimpulannya, cahaya surga sudah dimusnahkan?" tanya Kong
"Tidak ada satupun yang selamat jika masuk kesana" jawab Onix lalu melangkah keluar ruangan, kemudian disusul Bily.
Kong menatap jendral besar didepannya, sementara Sira masih duduk acuh tak acuh.
"Pak tua... Ada yang salah dengan wajahku?" tanya Sira pada Kong
"Jangan mempermainkan kami seenaknya" tegas Kong
Sira mendekati Kong lalu berbisik kecil "Selama dua tahun kelompok Cahaya surga selalu sanggup menghindar dari sergapan ku. jangan bermain-main dengan ku pak tua. Kau tau? Aku sedang mengikuti irama permainanmu."
Bersambung.....