
Dipuncak bukit itu Noah masih berlatih meski kaki dan tangannya sudah begitu keram. Nafasnya terengah-engah, keringat sedah membasahi sekujur tubuhnya, wajahnya terlihat sudah sangat kelelahan.
"Tiga puluh" ucap Noah pelan lalu mencari tempat berteduh dari terik matahari.
"Apa kau sudah menyerah?" teriak Villand.
"Yah.... Aku bukan mesin" sahut Noah
"Gerakan itu adalah gerakan khusus agar energimu lebih stabil" sambar Villand.
"Jika kau menguasainya, ledakan energimu akan jauh lebih besar" sambungnya lagi.
"Yah... akan ku teruskan jika selesai makan. Aku perlu makan pak tua. Perut ini masih perut manusia." jawab Noah lemas.
"Baiklah anak muda, saatnya makan, setelah itu teruskan latihanmu." jawab Villand sambil menuju Goa.
"Orang tua ini hanya bisa menyuruh. untung saja aku bukan anaknya" bisik Noah dalam hati.
"Kimora apakah makanannya sudah siap?" tanya Villand meski baru didepan pintu goa.
"Sudah ayah. aku juga membuat ramuan khusus untuk memulihkan stamina. bagus untuk tubuh kalian." jawab Kimora.
Sementara di markas Komando kerajaan, Ruby terlihat duduk dengan seorang dengan jubah perang yang cukup megah.
"Kulihat kau cukup hebat dibanding dengan orang-orang yang seumur denganmu." Orang itu berbicara pada Ruby.
"Aku tidak begitu hebat, semua karna bimbingan para senior." jawab Ruby
Orang itu berdiri sikapnya acuh tak acuh, lalu berkata lagi "Ku dengar kau berhasil lolos dari uji coba Aura dengan tetua Onix."
"Aku hanya beruntung senior, aku tidak sepadan dengan senior." kata Ruby.
"Whahahaha jangan terlalu formal, santai saja. Hanya kau saja, dari angkatan mu yang sanggup berdiri didepan Onix setelah Energi bertarung Onix dikeluarkan. itu sebuah prestasi."
"Senior terlalu berlebihan." jawab Ruby yang sejak tadi terus membungkuk tanda memberi hormat.
"Jika kau mau, Aku bisa membawamu menuju tempat yang seharusnya. Tempat bagi orang-orang berbakat yang sesungguhnya."
"Maaf, jendral Sira. Aku kurang begitu paham." sahut Ruby
"Yup.. maafkan aku, kita lanjutkan jika ada kesempatan." jawab Sira sambil melangkah pergi.
Ruby hanya membungkuk kemudian melihat langkah Sira yang semakin menjauh darinya.
"Apa dia seorang jendral? Energinya sangat kecil. Atau dia Singa yang menyembunyikan kuku." Ruby berucap dalam hati.
Sementara itu di bukit ujung timur kerajaan seorang pemuda bergegas bangun dari tempat duduknya.
"Mau kemana Noah?" tanya Villand.
"Ingin menghancurkan batu." jawab Noah singkat.
"Bagus anak muda, saat aku seusiamu aku selalu berlatih keras."
"Bisakah kau diam saja orang tua, Aku ingin berlatih, bukan menyiksa diri." jawab Noah sambil berlalu begitu saja.
"Pemuda sial!" sahut Villand.
"Jadi menurutmu selama ini aku menyiksamu?"
Noah berjalan tanpa peduli sedikit pun. Setelah keluar dari goa, Noah berlari menuju puncak, mengumpulkan energi ditangan hitamnya, lalu pukulan Noah mendarat pada sebuah batu kokoh didepannya.
Duar!!!!! Batu kokoh itu hancur berkeping-keping.
"Whahahaha.... ini berhasil!" Seru Noah kegirangan.
"Sekali lagi!" Noah melakukan hal yang sama kali ini sebuah pohon dihantamnya.
Srak!!!
Pohon kokoh itu patah berantakan, serat-serat kayunya berhamburan di sana-sini, bahkan sebagian akar pohon itu ikut hancur.
"Hahahahahaha rasakan pohon sialan! sekarang batangmu tidak bisa di pakai tua Bangka itu untuk menghukum ku. whahahahaha"
Noah melihat batang pohon yang masih utuh, kemudian berlari lalu berusaha menghajar batang pohon itu.
Duk!!!!
"Argh.... sialan.. kenapa Aku malah menendangnya! Argh...." Noah merintih kesakitan.
Dia mencoba untuk berdiri, kakinya masih sakit, lalu berusaha berjalan menuju pohon lain.
"Aku lupa jika hanya tangan kananku yang kebal" bisik Noah.
Setelah beberapa saat Noah mencoba mengumpulkan energi ditangan hitamnya dan..
"Berhasil!!!! Aku berhasil lagi!! Aku bisa menjadi penjual kerikil jika terus begini! Whahahahaha"
"Lumayan!" seseorang berseru.
Noah menengok ke arah datangnya suara sambil berkata " Siapa?"
Seseorang dengan pakaian serba hitam melompat kearah batu yang terbelah itu lalu memukul keras batu itu.
Bum!!!! srak srak srak srak srak srak Bum!!!
Batu itu tidak terbelah namun terpental cukup jauh.
Noah terkejut, Orang tua ini meninju batu dengan sangat mudah.
Noah memperhatikan tangan orang tua itu.
"Hah?"
Noah terkejut, tangan orang tua itu punya tekstur yang aneh, mirip batu.
"Siapa kau orang tua?" tanya Noah
Orang tua itu menatap Noah perlahan, lalu berusaha menyerang Noah.
Gerakannya begitu cepat, Noah terperanjat, pukulan orang tua itu bisa saja telak menghantam wajahnya jika Noah tidak cepat menghindar.
Wus wus wus rentetan pukulan diarahkan ke tubuh Noah, Noah berusaha menghindar dan menangkis namun tinju pak tua itu begitu berat sehingga membuat Noah sangat kesulitan.
Noah melompat kebelakang berusaha mengambil jarak.
Setelah berada pada jarak aman, Noah berusaha mengumpulkan energi ditangannya.
Orang tua itu tersenyum lalu melakukan hal yang sama, disaat itu juga uap tipis menutupi tangan pak tua yang seperti batu itu.
Noah dengan cepat menyerang pak tua itu, sementara Orang tua itu tidak tinggal diam.
Dua tinju saling beradu.
Duar!!!!!!!! sebuah ledakan besar menggelegar di atas bukit itu. debu dan pasir disekitar mereka bertebaran.
Noah terjatuh beberapa meter dari tempat Ia berdiri. Sementara pak tua itu masih berdiri tegak.
"Siapa kau?" tanya Noah.
Pak tua itu tidak berkata apa-apa. Ia melihat ke arah tangan Noah.
"Tangan yang sangat kuat" bisiknya dalam hati.
Ia mencoba mendekati Noah.
"Jawab Aku pak tua! siapa kau?"
"Mau sampai kapan kau disitu Villand? keluarlah, sebelum anak ini ngompol." kata pak tua itu.
"Longa.... lama tidak berjumpa." sapa Villand.
"Paman Longa!" seru Kimora, sambil berlari menuju orang yang disapa Longa.
"Kimora, sudah gadis kau rupanya." jawab Longa.
Kimora datang dan memberi hormat.
"Jadi paman tua ini adalah sahabatmu pak tua?" tanya Noah.
"Beri salam pada Seniormu Noah." jawab Villand sambil memberi isyarat pada Noah.
Noah menuruti, memberi hormat dan memberi salam pada Longa.
"Siapa namamu pemuda?" tanya Longa
"Noah paman tua" jawab Noah
"Teknik pelepasan mu sangat menjanjikan. Teruslah berlatih anak muda.
"Bagaimana kabarmu Longa?" tanya Villand.
"Aku baik-baik saja. saat ini yang paling penting adalah persiapkan diri kita." kata Longa.
"Kelompok Cahaya surga sudah dihancurkan pasukan kerajaan." sambung Longa lagi.
"Apa? cahaya surga? dihancurkan?"
Bersambung.....