Noah

Noah
Singa Tua jadi incaran



Suasana didalam ruangan itu cukup mencekam, orang tua dengan mata aneh itu memasang wajah yang mengerikan.


"Seharusnya kubunuh juga si tua itu" katanya dengan geram.


"kendalikan dirimu, amarahmu bisa merusak tempat kita berpijak ini" sambung seorang tua yang berambut keriting.


"Aku setuju dengan pendapat Tetua Kong. Tetua Onix harus bersabar, singa yang ditakuti dahulu sudah cukup tua. tingkat bahayanya sudah tidak seperti dulu. kita pasti bisa mengurusnya." kata orang tua yang berambut plontos.


"Broody, keluarlah, kami akan menghubungimu jika ada misi baru. terima kasih untuk kerja kerasmu." kata tetua keriting itu, sambil memberi isyarat bagi Broody untuk meninggalkan ruangan itu.


"Baik... terima kasih para tetua" pamit Broody, sambil melangkah keluar.


Salah satu tetua yang bernama Kong, si keriting, mengikuti Broody menuju pintu, lalu berbicara pelan pada Broody: "Kau sempat bertarung dengannya bukan? Bagaimana kekuatannya saat ini?"


"Cukup tangguh untuk orang tua seumurannya." jawab Broody.


"Apa menurutmu Pasukan Elit kita bisa membungkamnya?" tanya Kong lagi.


"Mungkin saja, tapi harus diingat, Dia punya teknik pengerasan yang tidak kalah dari para Tetua." jawab Broody lagi.


"Terima kasih Broody, satuan sangat menghargai pengabdianmu." sambung Kong, lalu masuk lagi ke dalam ruangan itu.


Didalam ruangan itu, Dua tetua sedang berbicara satu sama lain, saling menukar pendapat.


"Seperti yang kita tahu, Viland punya teknik pengerasan yang cukup menakutkan. Pasukan mana yang punya kemampuan untuk meringkus si tua itu? tanya Kong yang kemudian bergabung dengan dua tetua yang lain.


Sempat hening sesaat, Tiga tetua itu saling memandang, mencoba mempertimbangkan kekuatan tempur mereka.


"Bagaimana jika pasukan Elit yang turun tangan?" orang tua dengan kepala botak itu buka pembicaraan.


"Pasukan Elit? Apa kau yakin?" jawab Onix, tetua dengan mata aneh.


"Apa kau meragukan kekuatan mereka?" sambung Tetua Bily, yang berkepala licin itu.


"Mereka hanya sekumpulan bocah dengan tingkat kepandaian yang sedikit lebih tinggi. Mereka tidak layak disebut pasukan." Jawab Onix tegas.


"Raja sangat mempercayai mereka, artinya mereka punya kekuatan yang cukup mengerikan." potong Kong, sepertinya Kong cukup percaya dengan pasukan Elit.


"Mereka memang jenius, tapi tidak punya pengalaman bertarung seperti pasukan level tiga kita." Jawab Tetua Onix lagi.


"Bagaimana jika kita meminta salah satu perwakilan dari pasukan Elit, untuk menunjukan kemampuan didepan kita?" Tetua Kong memberi masukan.


"Ide yang bagus.... aku sendiri yang akan mencoba kandidatnya." jawab Onix,


"Pertemuan ini kita tutup disini, dari sini aku akan urus. kalian berdua ikutlah hadir esok pagi." sambungnya lagi. Tetua Onix kemudian melangkah keluar ruangan, menuju bagian administrasi.


"Bersuratlah ke komando pasukan Elit, minta perwakilan mereka untuk datang ke lapangan pentas, Besok pagi." Kata tetua Onix


"Baik tetua," jawab tegas seorang staff administrasi.


Sementara itu Dua tetua lain yang masih diruangan hanya bingung dan saling menatap.


"Kau merasakan hal yang sama denganku?" tanya Kong kepada Bily.


"Tentu. Tidak biasanya Dia seperti ini." jawab Bily


"Apa karna dendam masa lalunya?" Kong mulai mengungkit masa lalu.


"Cukup... Jika Dia tahu kita membahas ini, bisa-bisa esok pagi kita berhadapan denganNya di lapangan pentas". jawab Bily, lalu melangkah keluar, sementara Kong mengikutinya dari belakang.


Sementara itu, jauh didalam pegunungan disebuah daerah bernama watungesu, terlihat empat orang itu masuk kedalam sebuah Goa tua, letaknya di dekat tebing yang tinggi, banyak bebatuan disana. Goa itu terbentuk secara alami dari bebatuan tua, yang polanya menciptakan Rongga secara natural.


"Hei..... siapa yang menemukan tempat ini?" tanya Noah dengan nafas yang susah payah.


"Aku yang menemukannya" jawab Bibi Tiara.


"Hah? yang benar saja? Untuk apa Bibi jalan sejauh ini? Apa Bibi ini arkeolog?" Noah sepertinya tidak percaya.


"Iya... tempat ini.... adalah benteng terakhir keluargaku....., Tiara yang menemukan Goa ini." jawab pak tua dengan nafas yang tidak stabil.


"Jadi kalian pernah tinggal disini?" tanya Noah lagi.


".........." Noah diam..... memandang kimora yang berjalan mendahuluinya.


"Letakkan barang-barang itu disini, Tiara, siapkan kita makan, Aku tadi membawa beberapa potong daging sapi liar. Noah ikuti aku..." kata Ayah kimora.


"Ayah... bagaimana denganku?" tanya kimora


"Bantulah Bibimu, setelah selesai ikut Ayah keatas bukit, untuk melanjutkan latihanmu." jawab Ayahnya, sambil melangkah menuju bukit disebelah Goa itu. sementara itu, Noah mengikutinya dari belakang dengan nafas yang masih tidak beraturan.


"jadi kita keatas untuk latihan?" tanya Noah


"Bukannya Aku sudah berjanji, dan Kaupun mengiyakan." jawab Ayah kimora.


"Apa harus secepat ini? maksudku, apa kau tidak letih? tidak inginkah kau beristirahat sejenak?" Noah coba berkata, dengan harapan mendapat waktu istirahat sebelum berlatih.


"waktu kita tidak banyak Noah...." Jawab Orang tua itu singkat.


Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba diatas bukit. Tanah diatas bukit itu cukup datar dan lapang. tempat yang cukup bagus untuk berlatih.


"kita sudah cukup pemanasan, daritadi kita berjalan, itu termasuk pemanasan yang cukup baik. sekarang buka kuda-kudamu." kata Ayah Kimora


"Seperti ini?"


"Bukan.... itu terlalu lebar"


"ini?"


"itu terlalu sempit"


"Nah seperti itu, tahan kuda-kudamu. lakukan gerakan seperti ini...."


"Apakah Begini?"


"Bukan.... yang seperti ini..."


Waktu mulai berlalu, terasa begitu cepat.... suasana dibukit yang gelap, dingin, mencekam, suara binatang liar dimana-mana, deru angin menambah kesan seram daerah tersebut.


"Kimora, mereka belum turun dari bukit? mereka belatih dari siang, dan ini sudah tengah malam." Tiara berkata kepada kimora.


"hmhm.... Ayah sedang menyiksa Noah.... Aku takut memotong latihan mereka, bisa jadi aku ikut bergabung dengan mereka jika mengusik latihan." jawab kimora.


"Biarkan Bibi yang memanggil mereka." Tiara berkata demikian lalu melangkah dari dalam Goa ke bukit disebelahnya.


"Noah! kakak Viland! makanan sudah siap!" teriak Tiara.


Dari kejauhan bayangan dua orang turun dari atas bukit.


"Maafkan kami, Kami terlalu sibuk latihan." kata Ayah kimora ketika sampai didekat Goa, dia berjalan sambil menggendong Noah.


"Apa yang terjadi dengan Noah Ayah?" tanya kimora.


"kelelahan......, kesakitan..... bukan..... maksudku... kelaparan...." jawab Noah pelan.


Kelompok kecil itu kemudian makan malam bersama, meskipun sudah terlambat dikatakan sebagai makan malam, karena mereka makan di tengah malam.


Sementara itu, di dalam sebuah barak pusat komando, Seorang gadis masih berlatih dengan keras. Ia terlihat melakukan gerakan pushup.


"Empat ratus.... sembilan... puluh sembilan...


li...ma.... ra.....tus....."


Sambil berbaring Ia berkata:" Akhirnya..... tembus lima ratus."


Masih dalam keadaan berbaring, Ruby bergumam...


"Besok.... pertunjukan didepan tetua.... hari yang ditakuti semakin dekat... paman Viland.... Kimora... inikah saatnya....."


Bersambung.....