Noah

Noah
Menuju Perang I



Markas pusat Komando hari ini lebih ramai dari sebelumnya, Didalam sebuah ruangan latihan khusus sedang di jalani beberapa anggota tim satuan Elit. Seorang gadis Muda memperhatikan Tim itu dari balik ruang yang dibatasi sekat kaca yang cukup tebal, didampingi seorang Prajurit satuan Elit.


Tok tok tok, Pintu diketuk


"Permisi, ini pesanannya bu." kata seorang pelayan sambil masuk kedalam ruangan itu setelah mengetuk pintu.


"Iya, terima kasih. letakkan saja diatas meja." jawab Gadis muda, sambil memperhatikan latihan yang sedang dilaksanakan tim.


"Rama, Setelah sesi latihan ini arahkan mereka untuk mengambil latihan tanding bebas." sambung gadis muda itu, Ia memberi arahan untuk prajurit yang berdiri dengannya.


"Baik Bu, saya permisi" jawab prajurit yang dipanggil Rama itu, lalu melangkah menuju tempat prajurit Elit sedang berlatih.


Gadis muda itu menuju mejanya, kemudian duduk dikursinya, lalu mengambil secangkir kopi susu panas yang tadi dipesannya. Ia menghirup aroma minuman itu, lalu menyeruputnya. Rasanya begitu nikmat, Ia lalu bersandar dikursi empuk itu.


Dari luar ruangan terdengar suara langkah, gadis itu merasakan Aura yang mencekam dan Sedikit Familiar. Ia menaruh kopi nikmatnya lalu berdiri dan memberi hormat pada sesorang yang sudah berdiri didalam ruangan itu.


"Selamat pagi Tetua Onix" Sapa gadis muda itu, masih memberi hormat.


"Ruby, jangan terlalu resmi, Aku hanya datang untuk melihat-lihat latihan anggotamu." Jawab Orang tua yang dipanggil tetua Onix.


"Berapa banyak anggota pasukanmu yang kau siap?" sambung Onix lagi.


"Aku punya sepuluh anggota pasukan tetua" jawab Ruby tegas


"Hm, menarik juga, sepuluh anggota, melawan mantan pasukan komando kerajaan. Apa tidak salah perhitungan?" tanya Onix yang terkejut.


"Apa kau tau seberapa kuat Viland? Singa tua itu jika tidak keluar dari satuan, Dia mungkin akan duduk satu ruangan denganku." sambung Onix lagi.


"Maaf sebelumnya tetua, Anggota pasukan Elit akan dibantu tiga tim pendukung. tiga tim itu masing-masing diisi pasukan level Dua" jawab Ruby


"Jangan meremehkan orang itu, Kau sudah membaca profil kekuatan Viland?" Tanya Onix


"Sudah tetua" jawab Ruby


"Sebagai Seorang keponakan, Aku tahu kau sudah pasti lebih tahu kondisi Dia saat ini. Sudah lama Aku tidak bertemu dengannya." kata Onix sambil memperhatikan satuan yang sedang berlatih.


Ruby sedikit terkejut, karna Onix mengungkit masalah Hubungan Dia dan Viland.


"Selain pasukan yang tadi kau sebutkan, Aku telah tugaskan satuan khusus untuk memberi Sinyal darurat jika tim mu kewalahan menghadapi viland." kata Onix lagi.


"Terima kasih Tetua untuk bantuannya." Kami akan berjuang semampu yang kami bisa.


"Buktikan kesetiaanmu bagi Kerajaan" kata Onix pelan, tapi dengan nada yang tajam, kemudian berlalu dari hadapan Ruby.


Ruby sedikit terpaku, Hanya menatap lantai yang Ia pijak.


Sementara jauh didalam pegunungan, Kimora dan yang lain masih giat berlatih.


"Noah dan Kimora tetap lah berlatih" Kata Viland


"Tiara, kemari ada yang harus kita bahas" sambung Viland, sambil memberi isyarat bagi Tiara untuk mendekat.


Tiara berjalan ke arah Viland, Ia tahu ini sepertinya hal yang serius.


"Tiara, Kau masih ingat orang-orang ini?" tanya Viland sambil menujukan beberapa Foto yang lengkap dengan detail nama dan alamat masing-masing orang di tiap foto.


"Tentu saja Viland" jawab Tiara


"Aku ingin kau temui mereka. tunjukan Lencana ini, dan katakan pada mereka bahwa waktu sudah tiba." jelas Viland


"Lalu?" tanya Tiara singkat


"Seharusnya mereka akan langsung ikut bersamamu kesini." sambung Viland lagi,


Viland lalu menyerahkan potongan foto tersebut dan sebuah lencana pengenal kepada Tiara, Tiara yang menerimanya kemudian menuruni bukit tersebut.


"Ayah? ini masih pagi. kenapa hari ini istirahatnya terlalu cepat?" tanya kimora.


"Mungkin orang tua ini sudah sadar, Bahwa menyiksa orang itu sangat tidak baik." jawab Noah santai.


"Serius Noah? disaat seperti ini? Apa mulutmu mau ku bekukan?" bentak kimora dengan wajah emosi.


"Bukankah kita akhir-akhir ini selalu disiksa?" Noah berkata seperti mau membela dirinya.


"Sudahlah. Bisa kah sekali ini saja tidak perlu berdebat?" Viland mulai kesal.


Kedua bocah itu diam. Kimora menatap Ayahnya, sementara Noah menunduk tetapi memasang wajah tak peduli.


"Kimora, Noah, aku harus jujur kepada kalian." kata Viland pelan


"Apa itu Ayah.? Apa itu tentang perang yang pernah kau bilang Ayah?" tanya kimora


"Benar kimora. Aku menyesal tidak mengatakan dari jauh hari." sambung Viland.


"Apa-apaan ini? kalian bawa aku tinggal disini untuk berperang? Boleh aku pulang ke sungai dimana Aku kalian temukan?" Potong Noah dengan wajah takut dan panik.


"Maaf jika kau terlibat" Jawab Viland pelan


"Aku tidak takut Ayah, Aku sudah latihan dan Aku yakin bahwa Aku ini sudah siap." sambar kimora dengan penuh percaya diri, tapi suaranya terdengar parau.


"Maaf, kau mungkin siap, tetapi aku tidak" sambung Noah yang blak-blakan.


"Kau boleh pergi kemana pun kau suka! Aku akan tetap berdiri disini! demi dendam Ibu." kimora berkata dengan suara bergetar.


"Bukan begitu kimora. Aku dan Bibimu yang akan hadapi mereka. kalian berdua pergilah sejauh mungkin." jawab viland, matanya mulai berkaca- kaca.


"Ayah? bukankah ayah sudah berjanji? Aku tidak mau lari lagi!" kimora mulai membentak Ayahnya.


"Apa kau ingin mati? Kau belum siap kimora!" Viland mulai berbicara tegas


"Lalu apa? Apa Ayah akan bertahan melawan pasukan komando kerajaan? Bertarung sendirian? merasa menjadi seorang pahlawan? Jika ayah adalah pahlawan, Mengapa Ayah hanya menjadi penonton disaat mereka membunuh Ibu?" teriak Kimora makin menjadi-jadi.


"Hentikan kimora! Ayah sudah tidak kuat! Jika kau bertarung sekarang, dendam ibumu tidak akan pernah terbalaskan!" Sahut viland dengan nada yang lebih tinggi lagi.


Sementara Ayah dan anak itu bertengkar, Noah duduk dengan begitu santai, menikmati angin yang berhembus.


"Kau dan Noah, Aku perintahkan untuk pergi! keluar dari batas kerajaan jika bisa. itu perintah!" tegas Viland.


"Aku tidak peduli! biarkan pengecut itu pergi! Aku akan bertarung disini!" sahut Kimora dengan mata yang telah basah.


PRAK!


Viland menampar keras putrinya.


Noah melihat kejadian itu dan melongo tidak percaya.


Sementara Kimora memegang pipinya dan mengerang pelan..


"Ibu, ibu, mengapa Ibu pergi?


Ayah, sampai hati kau memukul putrimu?" kimora menangis, air matanya membanjiri pipinya. Dia terduduk menutup matanya, isak tangisnya membuat suasana menjadi sedih.


Viland tidak peduli dengan tangisan putrinya, Dia menuruni bukit, berjalan ke arah Goa.


"Minggu depan Noah! bawalah Kimora menuju batas kerajaan!" Jawab viland sambil melihat Noah yang hanya terdiam melihat kejadian itu.


Bersambung.