
Hari masih gelap, bintang bertaburan, diufuk timur belum terlihat cahaya. Sosok itu mencoba mendekat ke arah rumah sederhana itu, langkahnya pelan, tanpa sedikutpun bunyi, Ia benar-benar berhati-hati.
Langkahnya tiba-tiba berhenti, "posisiku ketahuan" gumamnya pelan. "Orang tua! keluarlah!" Orang itu sedikit menaikan nadanya.
"Hahahaha, kau sepertinya punya persiapan." jawab Ayah kimora, orang tua itu dari tadi sudah mengamati pergerakan sosok yang mencurigakan itu.
"Tentu saja punya persiapan, aku datang jauh-jauh ke sarang singa tua. Hanya orang bodoh yang datang tanpa persiapan!" sesudah menjawab demikian tubuhnya langsung dibungkus zirah mantra.
"Pasukan pemerintah memang selalu menggunakan cangkang untuk bertarung" jawab orang tua itu sinis.
"kau yakin bertarung tanpa zirah denganku?" kata sosok itu sambil memasang kuda-kuda seakan-akan siap bertarung.
"Hanya orang lemah yang membalut tubuhnya dengan cangkang! Aku tidak memerlukannya untuk melawan pasukan level tiga sepertimu!" jawab Ayah kimora.
Sosok itu sedikit terkejut, Ia tahu hanya orang dengan level lebih tinggi darinya yang bisa mendeteksi seberapa kuat Ia. Seingat Dia, orang tua itu pensiun dengan level yang sama dengan Dia. tidak mungkin orang itu berkembang lebih cepat darinya.
"Huh.... tanpa zirah? sekalipun levelmu lebih tinggi kau bukan halangan bagiku!" Teriaknya sambil menyerang ayah kimora.
Gerakannya meliuk- liuk begitu cepat. wus....wus....wus...
Ayah kimora bergerak lebih lincah, pukulan demi pukulan dihindarinya. gerakan mereka menimbulkan angin disekitar mereka, tiga jurus berlalu, belum ada yang terkena serangan diantara mereka. Nafas keduanya masih stabil, Orang itu melompat kebelakang untuk mengambil jarak, tapi Ayah kimora tidak membiarkannya. Ayah kimora mengambil siasat untuk menyerang balik, gerakannya kali ini lebih cepat dan lebih bertenaga, tangannya terlihat seperti mengeluarkan uap.
"Teknik pengerasan?" gumam prajurit itu, Matanya sedikit membelalak, Ia terkejut. Teknik itu hanya digunakan orang dengan level tinggi, sekalipun menggunakan Zirah mantra, teknik itu bisa menembus Zirah. Ia mencoba melompat, mau tidak mau Dia harus menjaga jarak.
Tapi sayang, sepertinya Ayah kimora tidak mengizinkan Dia untuk kabur.
"Kau takut dengan singa tua?" Ayah kimora berhenti menyerang.
"Aku terkejut, Kau begitu mahir dengan teknik itu." jawabnya.
"Pantas saja, saat itu kau yang digadang-gadang menjadi kepala satuan. Ternyata karna ini rupanya. sepertinya Aku juga harus serius." Habis berkata demikian mulutnya merapal mantra. Zirahnya seperti menyala, memancarkan cahaya gelap yang membuat Ayah kimora sedikit merinding.
"Zirah kegelapan? orang ini cukup berbakat" gumam ayah kimora dalam hati.
"Majulah, sekalipun cangkangmu makin keras, itu tidak akan menyelamatkanmu!" kata Ayah kimora.
Wus.... orang itu menyerang Ayah kimora, gerakannya lebih lincah dan lebih bertenaga. Benturan demi berturan terjadi. jurus demi jurus berlalu, Ayah kimora terlihat lebih direpotkan dengan serangan kali ini.
Sebuah tinju mendarat telak di wajah Ayah kimora, Ia langsung kehilangan keseimbangan, tanpa pikir panjang Prajurit itu mencoba menyerang lagi dengan tinjunya.
"Tertipu kau...." Ayah kimora menghindari tinju itu, lalu bergerak secepat kilat. Buk....! kali ini Sebuah tendangan telak mendarat di dada prajurit itu, getaran keras didada prajurit itu membuatnya terlempar beberapa meter dari ayah kimora.
"Akh..." prajurit itu langsung memegang dadanya, darah segar keluar dari mulutnya. "semengerikan ini kah teknik pengerasan? bahkan dengan zirah inipun, aku harus mengalami luka dalam" gumamnya dalam hati.
"Bagaimana? Apakah aku masih lumayan?" tanya Ayah kimora, wajahnya memasang senyum hinaan.
"Sialan kau orang tua!" jawab prajurit itu.
"Apa yang kau cari disini? Apa tujuanmu datang kerumahku?" tanya Ayah kimora
"Itu bukan urusanmu!" Jawabnya, sambil mencoba bangkit.
Sementara itu, dari dalam rumah Noah mengintip keluar. Ia mencoba melangkah untuk melihat lebih jelas, apa yang terjadi diluar.
"Ku sarankan kau pergi dari sini!" kata Ayah kimora
"Tidak, sebelum kau menyerahkan Noah padaku!" teriak orang itu, kali ini Dia mencoba menyerang Ayah kimora dengan lebih brutal. Desingan Angin menderuh setiap dia membuat gerakan, Langkahnya lebih cepat dari sebelumnya.
"Jurus yang sama? kau bercanda?" kata Ayah kimora, dengan mudah Ayah kimora menghindari serangan dari orang itu.
Tinjunya mengarah ke wajah, dada, dan perut, namun dengan enteng Ayah kimora menghindar.
Kemudian sebuah pukulan dari prajurit itu, Diayunkan dengan sekuat tenaga, Zirahnya memancarkan kegelapan. Tidak ingin kalah, Ayah kimora meninju dengan teknik pengerasannya. Tinju mereka saling beraduh... dan... Bum.....!!!
Bunyi yang begitu keras... gelombang angin tercipta karna tinju mereka yang saling beraduh.
Ayah kimora masih berdiri tegap, berbeda dengan prajurit itu yang terhempas dan jatuh. Zirahnya tiba-tiba hilang dengan sendirinya, menandakan Dia kehilangan banyak energinya.
"Ayah? Ayah bertarung dengan siapa?" teriak kimora sambil berlari dari dalam rumah.
"Jangan kesini dulu kimora! Orang ini cukup berbahaya." jawab Orang tua itu.
"Kimora kesini!" kata Bibi tiara sambil merangkul kimora.
"Uhuk...uhuk...uhuk... Ayah kimora batuk lagi, kali ini Ia sampai harus berjongkok karena dadanya mulai sakit.
"Ini kesempatanku" Kata prajurit itu, Ia kemudian bangkit, Aneh... tenaganya tiba-tiba pulih, Zirahnya langsung membalut tubuhnya, tanpa berkata lagi, Ia langsung menyerang Ayah kimora.
Wus....... Tiba-tiba angin dingin menghempaskan prajurit itu. sebuah serangan telak dari kimora, walaupun tidak bertenaga tetapi mampu membuat orang itu terlempar beberapa meter.
"Sihir Es? sialan.... kenapa harus ada penyihir disini!" orang itu berteriak, wajahnya pucat karna dampak dari serangan kimora, tapi anehnya Dia tidak patah semangat sedikitpun, Dia mencoba menerjang ke arah kimora dengan tinjunya.
Bum..... sebuah serangan cepat dariNya nyaris mencelakakan kimora, untung saja Ayah kimora cepat membantu.
"hahaha... bagus... kalian berdua.... Ini membuatku makin bersemangat! hahahahaha" semangat orang itu makin menggebu, Zirahnya makin memancarkan kegelapan.
Kali ini Dia menyerang Kimora dan Ayahnya sekaligus, dan tentu saja serangannya begitu brutal.
"Rasakan ini.....! ini......! ini......!
Beberapa tinjunya mengenai Ayah kimora.
"Uhuk..... uhuk...." Batuk ayah kimora kali ini lebih parah, Asmanya sepertinya kambuh disaat yang tidak tepat.
"Kali ini Habis kau!" teriak prajurit itu, sebuah tinju penuh tenaga di arahkan kewajah Ayah kimora, sesaat sebelum mengenai Ayah kimora sebuah teriakan membuat serangan itu terhenti.
"Hentikan!"
"Aku mohon Hentikan" Noah berteriak
"Ini yang kau mau bukan?" lanjut Noah lagi, sambil mengangkat beberapa carik kertas kuno
"Noah....? kau benar disini?" kata orang itu sambil melangkah ke arah Noah.
"Berhenti disitu, kau mau benda ini kan? aku bisa memberinya untukmu", kata Noah dengan sedikit gemetar.
"Kau benar-benar pengertian Noah, tidak sia-sia kau kutembak dijurang saat itu" Katanya lagi
"Jadi.... kau yang menyelamatkan ku saat itu?" tanya Noah
"Tentu saja... Aku yang menembak bahumu, jadi balas budilah dengan memberikan mantra itu" Kata orang itu, Langkahnya pelan mendekati Noah.
"Noah!!! Jangan serahkan mantra itu! teriak kimora
"Diam kau!" Potong prajurit itu
"Jika kau mau, Ambil ini!" Kata Noah keras, sambil melempar mantra itu keatas
Orang itu melihat kertas usang melayang diatasnya,
"Kau terlalu sibuk dengan kertas tua, sampai lupa, kalau singa tua harus mati lebih dahulu" kata Ayah kimora yang sudah siap dengan serangannya.
Sebuah tinju telak diwajah prajurit itu. Tubuhnya terhempas jauh. kali ini wajahnya penuh darah akhibat serangan dari Ayah Kimora.
"Orang tua, kau curang....." kata prajurit itu sambil mencoba bangkit. Ia sedikit terseok-seok.
"Kau menang kali ini.... Noah..... harusnya kau tidak main-main denganku...."
orang itu melempar sesuatu, lalu benda itu meledak, mengeluarkan asap putih yang menutup pandangan, Kemudian Dia menghilang.
Bersambung.....