Noah

Noah
Ketegangan Ayah dan Putrinya



Semenjak Tiara pergi ke kota, Viland jarang berbicara dengan Kimora. Kimora lebih memilih menghindar ketika Viland ada di sekitarnya.


Sementara Noah harus melakukan pekerjaan memasak dan bersih-bersih. Ayah dan anak itu tidak peduli dengan urusan makanan.


"Hei pak tua, kau sudah seharian tidak makan. apa kau ingin bunuh diri sebelum berperang?" Noah terlihat kesal, Dia sejak kemarin memasak, tetapi tidak ada yang peduli dengan hasil masakannya.


Noah meletakan Jatah makan Viland didekat orang tua itu. Lalu mengambil makanan yang sudah Ia pisahkan, kemudian menuju ke arah Kimora,


"Hei cengeng, mau sampai kapan kau menyiksa dirimu sendiri? kau belum makan seharian juga" kata Noah


"Bukan urusanmu" sahut Kimora lalu balik mengacuhkan Noah.


"Apa kalian sedang berlomba menahan Lapar? Hei Aku memasak sejak kemarin dan tidak ada satupun dari kalian yang mencicipi makanan ini!" Noah mulai kesal dan bergumam keras tak jelas.


"Mulai hari ini Aku pensiun jadi Koki kalian! apa kalian tahu, Sulitnya memasak? ini tidak seperti kau memasak makanan instant dari toko." teriak Noah lagi


"Jika kalian mati kelaparan Aku tidak akan mengurusi mayat kalian!" tambahnya lagi


"Dan satu lagi, mayat kalian mungkin akan dimakan binatang liar yang lewat disini!" Noah teriak lagi, kali ini lebih keras


Noah melihat kearah kanan, dimana Viland duduk, tidak ada respon dari Viland. Dia menoleh lagi ke kiri, dimana Kimora berdiam diri, sama seperti Viland, Kimora tidak memberi respon sedikitpun.


Noah memasang wajah malasnya, datar, dan tidak peduli.


Dia berjalan keluar Gua tanpa semangat, bergumam tak jelas, ketika Ia melewati Viland, Viland bertanya pelan,


"Mau kemana bocah kurang ajar?"


"Kembali ke sungai dimana aku seharusnya Mati" jawab Noah singkat tanpa menoleh ke arah orang tua itu.


"Kau bukannya kutugaskan menjaga Kimora?" tanya Viland.


"Hmmm. bagaimana yah? Aku sulit menjaga sebongkah batu yang dipahat menyerupai seorang gadis." jawab Noah


Prang!


Piring jatah makanan Kimora hancur berantakan. Noah dan Viland terkejut.


"Bocah tolol, jangan menambah minyak di api yang panas. jangan sampai dia membenci kau. Minta maaf sana" Bisik Viland ketelinga Noah.


"Hei orang tua aneh, Bukankah kau yang harus minta maaf pada putrimu?" jawab Noah


Wuss!


Sebuah dinding Es tiba-tiba sudah membuat Gua itu memiliki sekat dari Es. Kimora mengurung Dirinya sendiri.


Noah dan Viland saling melihat antara satu dengan yang lainnya.


Viland lalu menarik Noah keluar goa.


"Dengar Noah. Aku sedang serius. Tempat ini tidak aman lagi. Aku mohon, bawa putriku keluar dari batas kerajaan" pinta Viland.


"Mengapa tidak membiarkan kami membantumu berperang?" tanya Noah


"Kalian sama sekali belum siap. Prajurit komando yang akan Aku hadapi bukan sebongkah batu, atau sebatang pohon yang hanya diam ketika diserang." jelas Viland.


"Lalu? Setelah kami keluar perbatasan? apa yang harus kami lakukan? Akan sangat tidak baik jika kami mati kelaparan di tengah Hutan dan menjadi buronan wilayah kerajaan lain." potong Noah.


"Pergi ke alamat ini, Disini kalian akan mendapat perlindungan." sambung Viland.


"itu jika Kimora setuju. Jika putrimu keberatan? bagaimana?" tanya Noah


"Berusahalah untuk meyakinkan Dia" sahut Viland.


"Meyakinkan Dia untuk meninggalkan orang tuanya? Dengar pak tua. Aku bahkan tidak bisa meyakinkan Dia untuk makan disaat dia kelaparan. Dan kini kau memintaku agar meyakinkan Dia kalau meninggalkan Seorang Ayah adalah hal yang benar? Apa kita sedang di acara komedi?" tanya Noah dengan ekspresinya yang merasa benar.


"ini demi keselamatan kalian berdua. tolonglah Noah." Viland memohon


"Aku memang ingin selamat, tapi apakah putrimu ingin selamat?"


"Dengar Noah. Hanya Dia warisan yang aku punya. hanya Dia harta yang aku punya. Aku mohon jaga Dia untuk ku"


"Dengan senang hati, Aku akan menjaganya, tapi memaksanya lari dari peperangan bukanlah tugasku." sahut Noah.


Noah hanya diam, Lalu Dia mengadah ke langit, melihat awan-awan yang terbang bebas.


"Bantu Aku Noah." Pinta Viland matanya penuh harap dan berkaca-kaca.


"Apa kau ingin menangis pak tua?" tanya Noah


Viland masih menatap Noah dengan penuh harap, tangannya memegang kedua bahu Noah.


"Baiklah. Aku janji akan menjaga nya untukmu pak tua." Kata Noah


"Terima kasih Noah. Aku legah" Viland mengusap air matanya.


"Makanlah pak tua. Aku akan membujuk putrimu untuk makan" Noah berkata sambil berlalu meninggalkan Viland, menuju Gua dimana Kimora masih disana.


Noah masuk kedalam Gua, Masih ada tembok Es yang membatasi, walaupun sudah sedikit mencair.


"Kimora, Kimora. dengarkan Aku... Ada yang ingin ku sampaikan." Teriak Noah, Dia berusaha membangun komunikasi dengan Kimora.


"Pergilah jika kau hanya ingin membujuk ku makan!" teriak Kimora.


"Bukan. ini rencana kita agar bisa membantu Ayahmu saat perang tiba!" jawab Noah


"Benarkah?" Kimora girang.


Sesaat kemudian Dia kembali pasang wajah sedih.


"Kau ingin menipu ku kan?" sambung kimora lagi.


"Aku serius. Hilangkan dulu Es ini. kita perlu bicara empat mata." tambah Noah.


Perlahan Lapisan Es itu mulai mencair, sepertinya Kimora mau mendengarkan Noah.


Beberapa saat kemudian Gua itu sudah tidak punya sekat Es.


"Jadi? kau ingin bicara apa.?" tanya Kimora setelah Noah ada didekatnya.


"Dengarkan ini."


Noah mulai menyampaikan rencananya untuk mengelabui orang tua itu, demi agar mereka bisa ikut berperang. Kimora yang mendengar penjelasan Noah, mengangguk-angguk, sepertinya masuk di akal kimora.


"Hm. kau yakin Ini bukan akal-akalan kau dan Ayahku kan?" tanya Kimora.


"Tenang saja. Aku jamin tidak berbohong." sahut Noah.


"Janji? kau akan melakukan nya untukku?" tanya kimora, sambil menyorong jari kelingkingnya mendekati wajah Noah.


"Iya. aku berjanji" Noah mengaitkan jari kelingkingnya di kelingking Kimora, sebagai tanda bahwa Ia akan menepati janjinya.


"Lalu sekarang bagaimana?" tanya kimora.


"Apa bekal tarungmu sudah cukup untuk berperang?" Noah balik bertanya


"Sepertinya masih jauh dari kata cukup" sahut kimora.


"Kalau begitu mari latihan lagi agar kita bisa punya bekal yang cukup dalam menghadapi perang." kata Noah


"Ayo Noah.... !! " Teriak Kimora yang tiba-tiba saja semangat


"Eits, Eits, Eits, Habiskan dulu makananmu. Aku tidak ingin menggendongmu jika kau pingsan saat latihan" Potong Noah.


Kimora tersenyum lalu meringis ke arah Noah kemudian bergegas mengambil makanan dan berusaha mengisi perutnya sebelum kembali berlatih.


Kimora menghabiskan makanannya lalu menarik tangan Noah untuk latihan bersama diatas bukit.


Viland sedikit tersontak, Ia terkejut, Noah berhasil membujuk Putrinya dan Putrinya kelihatan sangat bersemangat.


"Jika ini mimpi, maka jangan bangunkan Aku" kata Viland yang melongo melihat Noah dan putrinya Naik ke atas bukit bersama, dengan senyum dan tawa lepas dari putrinya.


Bersambung.